
“Pe-permisi, saya mau lewat!”
Siapa pun bisa melihat jika saat ini Tessa sedang gugup. Wajahnya pucat, tangannya bergetar, dan untuk berucap pun ia tergagap.
“Kamu sengaja enggak ngenalin aku?!”
“Atau kamu mau aku kenalin diri aku lagi? Kamu mau aku ingatkan, apa yang sudah terjadi di antara kita? Begitu maumu, hah?”
Dibentak seperti itu Tessa merasa takut. Suara dan raut wajah pria di hadapannya ini membuatnya gemetaran. Tak hanya itu, hal yang paling Tessa khawatirkan adalah kehadiran Owen dan Aya. Ia tak ingin kebahagiaan keluarga kecilnya kembali terusik dengan munculnya pria di hadapannya.
“Ha … ha … ha …. Kamu beneran mau main-main sama aku!” bentak pria itu lagi dengan intonasi suara yang semakin meninggi.
Tessa menyerah! Tak ingin menimbulkan kegaduhan yang berakibat merugikan dirinya, Tessa akhirnya menarik lengan pria itu ke tempat yang lebih sepi.
“Oke, aku nyerah! Semua yang kamu katakan benar. Aku memang sengaja enggak mengenalimu. Aku bahkan sengaja ingin lupakan kamu. Lupakan semua yang telah terjadi di antara kita,” ucap Tessa dengan napas yang memburu.
“Gila! Lupakan katamu?”
“Terus, mau kamu apa, hah? Kamu pikir aku enggak tahu bagaimana kelakuanmu selama di luar negeri?! Alfio, pelukis yang terkenal gemar bergonta-ganti wanita!” Emosi Tessa semakin terpancing saja. Jika terus seperti ini, ia yakin akan memulai suatu keributan.
“Kenapa kamu enggak lupain saja apa yang terjadi malam itu? Bukannya kamu sudah sering sama wanita lain, hah? Kenapa kamu terus-terusan mengusik hidupku?!”
Alfio, pria yang baru saja menghirup udara bebas setelah hampir lima tahun di balik jeruji, menatap tak percaya pada wanita di hadapannya. Sejak dulu, wanita ini memang berbeda, begitu pikirnya.
“Bukan cuma aku yang mengusik hidupmu. Kamu pikir aku begini karena apa, hah? Semua karena sejak malam itu aku enggak bisa lupain kamu,” aku Alfio.
“Kamu benar! Aku memang bukan pria yang baik. Tapi padamu, aku janji akan berubah. Aku janji,” pinta Alfio.
Melihat Tessa bergeming, Alfio menyadari jika tak akan semudah itu membuat Tessa percaya padanya. Wanita itu tahu, sebagai seorang pria bagaimana buruknya dia di masa lalu. Belum lagi, keterkaitannya dalam masalah yang menimpa Sea, sahabat Tessa. Sudah pasti, Tessa akan semakin sulit ia taklukkan.
“Aku sudah coba lupain kamu. Lima tahun … lima tahun aku mencoba, namun, tetap saja bayanganmu selalu hadir dalam benakku,” ungkap Alfio.
“Kamu gila! Sana pergi, aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku!” ancam Tessa.
Didorongnya tubuh Alfio yang sejak tadi menghalanginya untuk pergi. Saat mendapat celah, ia pun mulai melangkahkan kakinya pergi. Namun, baru berapa langkah, Alfio kembali menahan lengan Tessa.
“Kumohon beri aku kesempatan,” pintanya.
“Tak ada kesempatan bagi kita berdua. Jauh sebelum kejadian malam itu hingga saat ini, aku telah mencintai pria lain. Tak ada tempat untukmu di hidupku. Jadi, kumohon berhentilah,” tegas Tessa.
Genggaman Alfio pada lengan Tessa, perlahan mulai melemah. Begitu dirasa ia bisa melepaskannya, Tessa segera menarik lengannya.
__ADS_1
“Kumohon, jangan ganggu hidupku. Jangan muncul di hadapanku lagi. Kumohon, jangan merusak kebahagiaanku,” ucap Tessa sebelum berlalu pergi meninggalkan Alfio yang masih bergeming setelah mendengar pengakuan Tessa.
Tessa mempercepat langkahnya. Dalam benaknya, ia harus segera mengajak Owen dan Aya pergi dari restoran itu. Alfio tak boleh mengetahui siapa pria yang dirinya maksud. Apalagi sampai tahu keberadaan Ayasya.
Sesampainya di meja, Tessa dibuat kalut saat tak menemukan Ayasya di sana. Tiba-tiba saja ia merasa takut, bagaimana jika Aya direbut oleh Alfio.
“Bang, di mana Aya?!” tanyanya.
“Itu … Aya sedang bermain di sana,” jawab Owen dan menunjuk ke arah play ground.
“Ayo pulang!” ajak Tessa dengan tergesa-gesa.
“Pulang? Sekarang?” Sikap istrinya sangat aneh, Owen mulai curiga.
“Tapi, kamu belum makan kue strawberi itu.” Owen menatap sepotong kue yang belum disentuh Tessa sama sekali.
Tessa menggeleng. “Enggak, Bang! Aku ingin kita pulang sekarang. Aku enggak mau kue itu!”
“Kamu sakit?” Owen berniat meletakkan telapak tangannya di dahi Tessa guna mengecek suhu tubuhnya. Namun, sebelum itu Tessa lebih dulu menepis tangan suaminya.
“Bang! Apaan sih?! Iya, aku sakit!” jawab Tessa. “Jadi, bisa kita pulang sekarang?!”
Terpaksa Owen mengikuti keinginan istirnya. Segera ia menyelesaikan pembayarannya di kasir, kemudian berlalu menjemput putrinya di arena play ground.
Apa yang terjadi? Siapa yang ditemui Tessa di sana? Tanya Owen dalam hati.
...…...
Setelah kejadian tadi di restoran, Tessa memilih bungkam. Tak ada penjelasan yang diberikan olehnya pada Owen. Tak ada percintaan penuh hasrat atau pillow talk yang keduanya lakukan malam ini.
Saat Owen mencoba memulai pembicaraan pun, Tessa berusaha menghindar. Owen memeluk Tessa yang memunggunginya. Menarik tubuh istrinya perlahan agar tak ada jarak di antara mereka.
“Bun, jika terjadi sesuatu, katakan padaku,” ucap Owen.
“Kita berdua seringkali mengalaminya, salah paham karena kurangnya komunikasi. Aku tak ingin hal itu terjadi lagi, Bun. Aku ingin kamu percaya padaku.”
“Tetapi, aku tak ingin memaksamu. Kuharap kamu memberitahuku lebih cepat. Namun, untuk malam ini tidurlah. Aku tak ingin kamu sakit lagi,” ujar Owen.
Saat pelukannya semakin ia eratkan, Owen bisa merasakan pundak istrinya yang bergetar. Tessa menangis, Owen bisa menebak hal itu. Tak ingin tangisan Tessa menjadi-jadi, Owen berhenti bicara. Ia memilih untuk mengecupi bahu Tessa dan mengeratkan pelukannya hingga akhirnya keduanya terlelap.
Sementara di restoran, di dalam sebuah ruangan tampak Alfio duduk dengan gusar di balik sebuah meja kerja.
__ADS_1
“Apa katanya? Dia mencintai pria lain?!” Gerutu Alfio. “Dia mencintai pria lain, tapi, tidur denganku?!”
Alfio menggebrak meja kerjanya. Dia merasa sia-sia saja, selama berada di balik jeruji besi tak sehari pun ia lewati dengan mengkhawatirkan Tessa.
“Ke ruanganku, sekarang!” Perintahnya melalui sambungan telepon. Tak lama berselang, masuklah Roy ke dalam ruangan bosnya.
“Aku bertemu dengannya?!” ucap Alfio.
“Bertemu siapa, Bos?”
Alfio mengerutkan keningnya. “Kau lupa mengapa kita berada di sini?”
“Non Tessa? Anda menemukannya? Kapan? Di mana?” Roy adalah salah satu orang yang berbahagia jika Alfio akhirnya menemukan Tessa. Tugasnya berkurang. Mencari seseorang tanpa informasi yang jelas sungguh melelahkan baginya.
“Di sini, di restoranku. Sepertinya dia baru saja pergi!” ucap Alfio tak bersemangat.
“Loh, kenapa Bos biarkan dia pergi?” tanya Rot tak habis pikir dengan yang baru saja Bosnya lakukan.
“Memangnya aku harus apa, hah? Mencegahnya pergi? Menawannya di sini? Kamu ingin aku berurusan lagi dengan pihak berwajib?!”
Roy menunduk. Dari gelagat Bosnya, Roy bisa menduga jika pertemuan Bos dan wanita yang ia cari-cari tak membuahkan hasil yang baik.
“Yang pasti dia benar ada di Kota ini,” ungkap Alfio.
“Cari dia sampai ketemu! Cari tahu juga bagaimana kehidupannya selama dia di sini. Di mana dia tinggal, bersama siapa, apa yang dia kerjakan, juga apa dia memiliki hubungan dengan seorang pria. Aku ingin informasi yang lengkap tentangnya!”
Roy bergeming di tempatnya. Bukannya memang hal itu yang sedang ia kerjakan selama sepekan ini, pikirnya. Namun, belum ada hasil sebab tak ada petunjuk sama sekali.
“Hem, apa Bos memiliki sedikit informasi tentangnya?”
Alfio terdiam beberapa saat. “Ada! Semoga yang kupikirkan benar. Kita bisa dengan mudah menemukannya!”
Alfio tampak mengutak-atik komputer di hadapannya dan sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. ”Jika benar, maka kita bisa melihat Tessa dari rekaman CCTV. Kita bisa melihat plat kendara-“
Ucapan Alfio tiba-tiba saja terhenti. Kedua netranya membelalak melihat rekaman CCTV di hadapannya. Salah satu tangannya mengepal erat.
“Si*lan! Jadi pria itu adalah sahabat Noah?!” geramnya.
Belum hilang kemarahan Alfio, sesuatu yang tampak di layar komputer membuatnya diam membeku.
“Si-siapa di-dia?!”
__ADS_1
...————...