
“Paman!”
Seruan Aya membuat Tessa dan Owen ikut menoleh. Respon keduanya sama, mereka sama-sama terkejut saat melihat Alfio berdiri dengan percaya diri.
Dalam hati Tessa merutuk, sudah kuduga kami pasti akan bertemu lagi!
“Kau! Sedang apa kau di sini?!” Jelas sekali raut wajah tak suka Owen.
Baginya, Alfio bukanlah pria baik. Dahulu pria itu mengacaukan rumah tangga sahabatnya, bukan tak mungkin kini rumah tangganya jadi sasaran, pikir Owen.
“Juga, Pa-Paman?! Bagaimana bisa Aya ….”
Tessa menunduk! Yang ia khawatirkan benar terjadi. “Tadi, kami tak sengaja bertemu di depan sekolah Aya.” Tessa berusaha memberi alibi yang akan dipercaya Owen.
“Ayah, dia Paman penjual boneta kelinci,” celetuk Aya. “Aya mau boneta kelincinya, Ayah,” lanjut Aya merengek pada Owen.
“Bang, biar aku jelaskan,” sela Tessa.
Owen menggeleng, ia menatap istrinya seraya menggenggam tangan Tessa. “Nanti saja, Bun,” ucapnya lembut.
Anehnya, Tessa merasa takut dengan kelembutan sikap suaminya. Owen memang selalu bersikap lembut padanya, tapi, rasanya kali ini sangat berbeda.
Akhirnya Tessa diam. Setelah itu barulah Owen berdiri menyambut kehadiran Alfio. “Kita bertemu lagi!” ucapnya.
“Ya, kau benar, dan sepertinya kita akan sering bertemu,” balas Alfio.
“Terakhir kali aku melihatmu di depan rumah mertuaku. Saat itu kau sedang menemui Sea, bukan?” ucap Owen.
“Ya, kau benar. Ingatanmu cukup baik,” jawab Alfio.
“Lalu, apa yang kau lakukan di sini?” Masih dengan pertanyaan yang sama. Owen tak berpikir jika pertemuan mereka adalah sebuah kebetulan.
“Aku ingin mencari seseorang di kota ini,” ungkap Alfio. Ia melirik sekali pada Tessa yang menunduk.
“Oh, sungguh kebetulan orang yang kau cari juga ada di kota ini. Aku dan keluargaku pun tinggal di kota ini.” Owen pun melakukan hal yang sama, ia juga melirik pada istrinya. Owen semakin curiga sebab Tessa langsung memalingkan wajahnya saat tatapan mereka bertemu.
“Ya, kebetulan yang luar biasa, bukan. Aku bisa menemukan kalian,” balas Alfio.
Owen mengernyit. Ucapan-ucapan Alfio bagai sebuah teka-teki baginya. Semoga nanti Tessa bisa memberi penjelasan yang bisa menjawab semua tanya dalam benaknya.
“Semoga kau segera menemukan orang yang kau cari,” ucap Owen seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alfio.
“Ya, semoga. Maka, sering-seringlah ke mari. Aku akan sangat senang jika kalian sering datang ke restoranku ini,” ucap Alfio menyambut jabat tangan Owen.
“Apa?! Restoran ini milikmu?” Kening Owen kembali mengernyit. Mungkinkah karena itu Tessa enggan makan di restoran ini? tanyanya dalam hati.
__ADS_1
“Ya. Apa Tessa tak memberitahumu?”
Owen menggeleng. “Istriku, mungkin lupa,” jawabnya. Meski tak yakin, namun Owen tetap membela istrinya.
“Alfio, cukup!” seru Tessa tiba-tiba.
Sejak tadi dia diam karena tak ingin menarik perhatian pengunjung restoran yang lain. Namun, lama-kelamaan Alfio semakin bertingkah dan menjengkelkan. Tessa juga tersiksa dengan rasa cemas yang menghantuinya. Akhirnya, ia putuskan untuk bicara empat mata dengan Alfio.
“Bang, aku izin bicara dengannya,” pinta Tessa.
“Bicaralah di sini.”
“Bang … kumohon!” pinta Tessa sekali lagi.
Tak lagi menjawab, Owen hanya mengangguk dan setelahnya ia hanya bisa melihat punggung Tessa berjalan menjauh diikuti oleh Alfio.
“Ayah, Paman yang menjual boneta kelinci itu temannya Bunda?” tanya Aya menyadarkan Owen dari lamunannya.
“I-iya, mereka berteman. Tak hanya dengan Bunda, tapi Paman itu juga berteman dengan Bibi Sea dan Bibi Phila,” jelas Owen.
Dari raut wajahnya, walaupun kini Aya mengangguk, Owen bisa menebak jika putrinya sedang bingung. “Sudah, sekarang Aya habiskan makananmu!” suruhnya.
“Ayah yakin, Bunda pasti senang. Saat dia kembali dan melihat makanan Aya sudah habis,” bujuk Owen.
“Ayah janji, sebelum pulang kita akan membeli boneka yang kamu mau lebih dulu. Jadi, sekarang Aya harus makan. Oke?”
...…...
Seperti janjinya, sebelum kembali ke rumah Owen lebih dulu membawa Aya ke toko mainan untuk membeli boneka yang diinginkannya. Pastinya Aya sangat senang, akhirnya boneka kelici yang ia idam-idamkan pun jadi miliknya. Saking senangnya, di perjalanan menuju ke rumah, Aya akhirnya tertidur sembari tetap memeluk boneka kelincinya.
Berbeda dengan Aya yang begitu riang, suasana canggung menyelimuti Owen dan Tessa. Owen masih berharap Tessa memiliki inisiatif untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Sementara Tessa bertahan dalam diam, sebab tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Tessa pun mengira jika Owen diam karena marah padanya.
Laju mobil yang dikemudikan Owen berhenti tepat di car pot rumah mereka. Aya masih tertidur hingga Owen harus menggendongnya masuk ke dalam rumah. Suasana canggung sepasang suami istri itu belum juga hilang, kemudian datanglah Nawra membawa sebuah box yang cukup besar.
“Aku akan tidurkan Aya di kamarnya. Tolong kamu tangani orang itu,” ucap Owen tanpa menoleh ke arah datangnya Nawra. Tessa mengangguk dan bergegas untuk menutup pagar rumahnya.
“Eh … eh … Tes … Tessa, tunggu!” seru Nawra seraya mempercepat langkahnya.
Tanpa membuka kembali pagarnya, Tessa menanti datangnya Nawra. “Ada apa?” tanya Tessa.
“Kamu enggak sopan banget sih! Main nutup-nutup pagar saja.”
Tessa menghela napasnya. “Maaf ya, Nawra. Tapi, saat ini keluargaku sedang tidak ingin menerima tamu. Kami ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu,” jelas Tessa.
Bagi Tessa, kini dia tak perlu peduli pada perasaan Nawra. Masa bodoh jika Nawra akan tersinggung atau marah padanya. Tessa tak lagi bisa menghargai atau menghormati Nawra, setelah tahu jika wanita itu memiliki niat buruk untuk merusak rumah tangganya.
__ADS_1
“Dasar wanita sombong!” Nawra yang kesal malah menghina Tessa.
Tessa menggeram, dia berdiri berkacak pinggang. “Sebenarnya apa maumu, hah?! Berani sekali kau datang ke rumah orang dan menghina si pemilik rumah!”
“Eh, jika bukan karena seseorang menitipkan paket untuk Aya, mana mau aku datang ke rumahmu!” Balas Nawra tak mau kalah.
Tessa melirik ke box yang Nawra bawa. Seingatnya dia tak pernah memesan sesuatu untuk putrinya. Siapa yang mengirimi Aya paket? Mungkinkah Mami? batinnya.
Hendak mengambil box yang dibawa Nawra, Tessa terpaksa kembali membuka pagar. Setelah box berpindah padanya, Tessa kembali menutup rapat pintu pagarnya. Tak boleh ada celah bagi wanita itu untuk masuk ke dalam rumahnya, pikir Tessa.
“Cih! Siapa juga yang masuk ke rumahmu,” gerutu Nawra.
“Baguslah! Dengan begitu kau tak akan bisa menemui suami orang lagi,” balas Tessa.
Nawra tertawa. “Dasar bodoh! Dia pikir sulit bagiku untuk menemui Owen. Di rumah tak bisa, aku bisa menemuinya di luar!”
Apa?! dalam hati Tessa memekik.
Jika tak ingat malu, sudah pasti Tessa akan berteriak membalas ucapan Nawra. “Dasar, tak tahu malu!” gumam Tessa kemudian berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Saat Tessa masuk, rupanya Owen sudah menunggu. Suaminya itu tampak tenang, duduk di kursi ruang tamu. “Ada apa? Apa Nawra membuat keributan lagi?” tanyanya.
Tessa menggeleng. “Sudah kuatasi,” jawabnya.
“Namun, kudengar kalian sempat adu mulut?” tanya Owen lagi.
“Bukan apa-apa, jangan khawatir,” ucap Tessa menenangkan suaminya.
Owen melirik pada box yang dibawa Tessa. “Lalu, apa yang kamu bawa?”
Tessa mengedikkan bahunya. Ah, dia baru sadar jika cara suaminya bicara berbeda. Suaminya bersikap dingin, dan itu ia tunjukkan dari caranya bicara.
“Entahlah. Kata Nawra tadi kurir membawanya, karena tak ada orang maka dititipkan padanya,” jelas Tessa.
“Hati-hati menerima paket yang tak jelas pengirimnya.”
“Kemarikan, biar aku yang buka!” pinta Owen.
Perlahan dan hati-hati Owen membuka box tersebut. Benar jika paket itu ditujukan untuk putrinya. Tertera nama lengkap Aya dan alamat yang benar di atas box.
Sesaat setelah box berhasil ia buka, Owen menatap Tessa yang kini tampak pucat. “Apa maksudnya ini?”
“Jadi, ada sesuatu yang perlu aku tahu?”
...—————————...
__ADS_1