Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 54. Dia putriku!


__ADS_3

“Si-siapa di-dia?”


Melihat perubahan raut wajah Bosnya, Roy pun semakin mendekat. Keningnya mengernyit sembari mengamati rekaman CCTV yang tampak di layar monitor. Apanya yang aneh, batin Roy.


“Jangan-jangan di-dia a-“


“Dia adalah Non Tessa, Bos,” sela Roy.


“Aku juga tahu dia Tessa. Tapi, yang bersamanya ini.” Alfio kembali menggantungkan ucapannya.


“Kekasihnya? Si Dokter itu, teman dari suaminya Non Sea,” jelas Roy.


Alfio mengangguk. “Atau … bisa jadi dia adalah suaminya,” tebaknya.


“Suami? Maksud Bos, Non Tessa sudah menikah?!”


Kasihan sekali Bosnya, pikir Roy. Lima tahun lalu, ia jatuh cinta pada istri orang dan berakhir tragis di penjara. Sekarang, saat ia membuka hatinya untuk wanita lain, wanita itu pun sama. Istri orang.


“Mana mungkin Non Tessa sudah menikah,” ucap Roy berniat menghibur hati Bosnya.


“Tidak perlu cemas, Bos. Sebelum ada informasi yang jelas, semuanya hanya sebuah kemungkinan,” ungkap Roy.


“Kau benar, Roy. Semuanya memang kemungkinan. Tapi, kemungkinan yang sangat besar,” sanggah Alfio.


“Lihatlah interaksi mereka. Seperti potret sebuah keluarga bahagia,” ungkap Alfio.


Setelah Roy perhatikan lagi, benar apa yang dikatakan Bosnya. Saat rekaman CCTV menampilkan sudut lain dari restoran, Roy segera mencatat nomor plat kendaraan yang ditumpangi Tessa.


“Tenanglah, Bos. Kali ini tak akan sulit mencari informasi mengenai Non Tessa,” ucap Roy.


“Ya, lakukan tugasmu dengan baik. Aku ingin hasilnya secepat mungkin,” titah Alfio.


...… ...


Tiga hari berselang, Roy kembali hendak menemui Alfio. Baru kali ini ada keraguan di benak pria bertubuh kekar itu. “Huh! Kenapa percintaanya serumit ini sih!” gumamnya di depan pintu ruang kerja Alfio.


“Masuk!” teriak Alfio dari dalam. Ia bisa melihat apa yang dilakukan Roy di depan ruangannya melalui CCTV.


Roy menghela napas panjang sebelum ia akhirnya masuk. “Pagi, Bos,” sapanya.


“Apa yang kau lakukan di depan? Kenapa tak langsung masuk saja?!”


“Hem, a-anu Bos … itu aku … eh, enggak ada apa-apa kok,” elak Roy.


Dua alis Alfio mengerut. Roy, asistennya sejak lama. Ia tahu jika pria itu sedang mengkhawatirkan sesuatu.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?”

__ADS_1


Roy menggleng menjawab pertanyaan Alfio. “Lalu?”


“Hem, lupakan! Yang penting sekarang, bagaimana hasil penyelidikanmu?” tanya Alfio tak sabar.


“I-ini, Bos.” Roy memberikan beberapa lembar kertas hasil penyelidikannya beberapa hari terakhir. Beberapa di antaranya berisi foto-foto.


Alfio mulai dari lembaran pertama. “Jadi mereka benar-benar telah menikah?!” geramnya.


Alfio berhenti membaca setelah masuk ke lembaran ke-tiga. Tepatnya lembaran yang berisikan informasi mengenai gadis kecil yang ia lihat tempo hari.


“Cih! Jadi, anak itu benar adalah anak Tessa!” Alfio menghempaskan berkas itu ke meja kerjanya. Beberapa lembar kertas dan foto berserakan. Roy menggeleng, sebelum ia akhirnya memungut selembar kertas.


“Harusnya Anda baca ini dulu, Bos,” ucapnya.


“Apa itu? Tak ada gunanya aku tahu tentang anak Tessa!” tolaknya.


“Anda salah, Bos,” ucap Roy. “Ini informasi paling penting untuk Anda ketahui,” imbuhnya.


“Maksudmu?” Alfio mulai membaca data diri gadis kecil yang dianggap Roy adalah hal penting untuknya.


“Ayasya, nama yang cantik,” gumamnya.


Ia mulai membaca, kapan dan di mana anak itu lahir. Hingga kini dia berusia empat tahun dan terdaftar sebagai siswi di sebuah Taman Kanak-Kanak.


“Sudah.” Alfio menatap tajam pada Roy. “Tak ada yang penting. Kau membuang waktuku!”


“Kau! Cepat katakan, jangan bertele-tele!”


“Tidakkah Anda sadari ada yang aneh dari tanggal lahir anak itu?” tanya Roy.


Pertanyaan Roy membuat Alfio kembali membaca data diri Ayasya. “Kau benar! Anak ini lahir sebelum Tessa dan pria itu menikah,” ujar Alfio.


“Maksudmu, Tessa telah hamil dan melahirkan bahkah sebelum mereka menikah?!” Alfio sungguh terkejut dengan fakta yang ia temui.


Roy mengangguk. “Fakta itu masih belum ada apa-apanya, Bos,” ucap Roy.


“Ada fakta lain yang aku yakin akan lebih mengejutkan Anda.”


“Apa itu?” Alfio makin penasaran.


“Gadis kecil itu memang anak Tessa. Tapi, dia bukan anak Owen,” ungkap Roy.


“Apa?! Kau jangan mengada-ada! Lalu, siapa ayah anak itu?”


Gila! Hal itu yang ada dalam benak Alfio saat ini. Ia tahu dulu lingkungan pergaulan Tessa berbeda dengan Sea. Karena profesinya, Tessa juga bergaul di lingkungan yang cukup bebas.


Tapi, jika Tessa hamil sebelum menikah, apakah selain dirinya, Tessa juga tidur dengan pria lain? Pertanyaan itu kini bersarang dalam benaknya.

__ADS_1


“Atau, jangan-jangan dia anak Tessa de-dengan ….” Alfio tak sanggup melanjutkan ucapannya.


“Anda benar, Bos,” ucap Roy. “Anak itu adalah anak Non Tessa dan Anda.”


“Anda adalah ayah kandung dari Ayasya,” jelas Roy.


Alfio membeku. Napasnya terasa tercekat, tak ada kata yang dapat terucap. Ada godam besar yang menghantam dadanya.


Tangannya gemetaran. Air mata menggenangi pelupuk matanya saat membaca hasil tes DNA yang baru saja diberikan oleh Roy. Jadi, ini adalah alasan mengapa Tessa menghindariku! Batinnya.


“Kenapa dia merahasiakannya?” gumam Alfio lirih.


“Kenapa?!” Alfio menggebrak meja kerjanya hingga beberapa barang di atasnya ikut bergetar bahkan terjatuh.


“Dia pikir aku tak akan bertanggung jawab?! Dia pikir aku tak akan mengakui darah dagingku sendiri?! Sebej*t itukah aku baginya?!” pekik Alfio.


“Apa dia sudah gila! Menikahi pria yang bukan ayah kandung dari anak yang dikandungnya?!”


“Sh*t!” umpatnya.


Roy pun tak bisa berkata apa-apa. Baru kali ini ia melihat Bosnya itu marah dan sedih di saat yang sama.


Alfio mengambil selembar foto Ayasya yang berserakan di lantai karena ulahnya. Cukup lama ia pandangi foto itu. Ia usap wajah Ayasya yang sedang terseyum di foto itu. “Cantik,” gumamnya.


“Pantas saja dia sangat cantik,” pujinya. “Dia putriku,” ucapnya menatap Roy.


“Benar, Bos. Gadis kecil yang cantik itu adalah putri kandung Anda,” ucap Roy meyakinkan.


“Kamu benar, dia putriku. Itu artinya dia milikku, bukan?” tanya Alfio yang dijawab Roy dengan anggukan kepala.


“Jika, dia milikku, harusnya dia bersamaku bukan?!”


“Tunggu saja, Nak. Ayah akan segera menjemputmu. Menjemput kamu dan Ibumu,” gumam Alfio bertekad.


...…...


Hari yang cukup cerah, secerah senyum yang terukir di wajah Alfio. Setelah berhari-hari membuntuti, akhirnya ia tahu bagaimana rutinitas Tessa dan Ayasya setiap harinya.


Selama membuntuti mereka, kadang Alfio harus menahan kekesalan karena cemburu. Cemburu saat melihat bagaimana interaksi Owen, Tessa, juga putri kecilnya Ayasya. Mereka tampak seperti keluarga yang sangat harmonis. Saling menyayangi satu dengan yang lain. Belum lagi jika Alfio melihat kemesraan Tessa dan Owen, hatinya seperti hendak mendidih.


Namun hari ini, tibalah hari yang Alfio nantikan. Meski gugup, ia tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah Taman Kanak-Kanak seraya memeluk boneka berbentuk kelinci.


Kegugupannya seakan sirna, saat melihat gadis kecil yang sangat cantik dan menggemaskan sedang bermain papan jungkat-jungkit bersama seorang anak perempuan lain. Senyum Alfio mengembang, langkahnya ia percepat. Meski banyak anak lain yang tertarik dengan boneka yang ia bawa, namun, tatapan Alfio hanya tertuju pada satu anak dengan rambut yang dikuncir dua.


“Hai, Ayasya ….”


...--------------...

__ADS_1


__ADS_2