Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 49. Kehilangan Untuk Selamanya


__ADS_3

Isak tangis menggema, memenuhi salah satu ruang perawatan VVIP Rumah Sakit Pelita Harapan. Mami Fhanie dan Tessa, memeluk dan membaringkan kepalanya di atas dada sosok pria yang mereka cintai. Pria yang juga mencintai mereka hingga akhir hayatnya.


Papi Stephen, mengembuskan napas untuk terakhir kalinya pagi tadi, sekitar pukul tujuh pagi. Setelah empat hari menjalani perawatan di rumah sakit.


Rezeki, maut, jodoh, dan usia, semuanya adalah rahasia Ilahi. Tak ada yang tahu kapan kita harus dihadapkan pada hal itu. Begitu pun dengan yang terjadi pada Papi Stephen. Beliau menjalani perawatan di ICU selama dua hari, kemudian kondisinya membaik hingga dokter mengizinkan untuk memindahkan Papi Stephen ke ruang perawatan VVIP.


Satu hari berselang, tepatnya dua hari yang lalu Papi Stephen tampak lebih bugar dari hari sebelumnya. Ia masih sempat bercanda dengan putri semata wayangnya, juga pada menantunya, dan para sahabat putrinya. Tak hanya itu, Papi Stephen juga tak henti-hentinya meladeni Aya yang selalu ingin bermain bersama Opa-nya. Meski semua itu dilakukannya di tempat tidur rumah sakit.


Tak ada lagi kekhawatiran yang berlebihan, dalam benak keluarga Papi Stephen. Owen pun begitu. Semalam, sebelum pulang ke rumah, Owen berpamitan pada Papi Stephen. Namun tanpa ada angin ataupun hujan, Owen dibuat gusar, saat Ayah mertuanya itu menitipkan Tessa padanya.


“Owen, bisakah kamu berjanji untuk menjaga putriku?” pinta Papi Stephen.


“Tentu saja, Pi. Aku berjanji,” jawab Owen dengan yakin.


“Wen, kamu tahu jika dulu Tessa selalu protes karena tak memiliki saudara?” Papi Stephen tertawa mengingat momen-momen bersama putrinya. Owen sampai harus membantunya minum, karena beliau terbatuk-batuk setelah tertawa.


Owen menggeleng. “Benarkah, Pi? Aku bisa membayangkan bagaimana lucu dan menggemaskannya wajah Tessa ketika merajuk?”


Owen pun ikut tertawa, membayangkan wajah menggemaskan istrinya ketika sedang kesal. Kulitnya yang putih, biasanya akan semerah tomat saat ia kesal, marah, atau malu. Namun, hal itulah yang membuat dua pria beda usia ini sangat suka menjahili dan menggoda Tessa.


“Benar, ini fakta. Tessa bahkan pernah meminta kami untuk mengadopsi seorang anak lagi dari panti asuhan,” ungkap Papi Stephen.


“Namun, setelah bertemu dan bersahabat dengan Sea dan Phyla, Tessa akhirnya berhenti meminta adik,” lanjut Papi Stephen.


Owen cukup terkejut saat Papi Stephen menggenggam tangannya secara tiba-tiba. Selain karena tangan Papi Stephen yang terasa sangat dingin, raut wajah pucat Papi Stephen tampak sangat serius.


“Aku percayakan putriku padamu, Nak. Milikilah putri atau putra lagi. Yang banyak, agar Aya tak akan kesepian seperti Bundanya,” pinta Papi Stephen.


“Juga, agar Ibu Mertuamu tak akan merasa sendiri di dunia ini,” imbuhnya lirih sebelum Beliau memalingkan wajahnya dan mengusap air mata yang menggenangi pelupuk mata.


Melihat Papi Stephen yang diam-diam menangis, tanpa Owen sadari, ada buliran air mata yang turut membasahi pipinya. Sejak kapan ada air mata yang menggenani pelupuk matanya pun, Owen tak tahu. Segera ia usap buliran tersebut. Ia tak ingin Ayah mertuanya juga tahu, jika Owen merasa sedih setelah mendengar semua ucapan beliau.

__ADS_1


“Doakan ya, Pi. Aku dan Tessa memang berencana memiliki banyak anak,” ungkap Owen. Saat mengatakan ini, ia pun sedang membayangkan rumah sederhana mereka saat ini mungkin akan terasa makin sempit dengan kehadiran banyak anak.


Papi Stephen melepaskan genggaman tanganannya. Ia menepuk lengan Owen. Tepukannya terasa lemah, makin mengiris hati Owen. Kembali teringat di benak Owen bagaimana dulu tangan itu memukul wajahnya hingga lebam, saat ia datang melamar Tessa.


“Tanpa perlu kamu minta, Nak. Di mana pun Papi berada, kalian semua akan selalu berada dalam doa Papi.”


“Terima kasih, Pi. Aku percaya Tuhan akan mendengar doa kita. Jadi, Papi harus semangat untuk sembuh, ya. Aya sudah tak sabar ingin bermain lagi bersama Opanya,” ucap Owen yang dibalas senyuman saja oleh Papi Stephen.


...…...


Bayangan kejadian semalam dan apa yang ia bicarakan dengan Almarhum Papi Stephen jelas sekali dalam benak Owen. Pagi ini, jika sesuai rencana, harusnya Owen akan berpamitan untuk kembali ke Kota X. Sedangkan Tessa dan Aya masih akan tinggal hingga Papi Stephen benar-benar pulih.


Siapa sangka, jika obrolan Owen dan Papi Stephen semalam adalah obrolan terakhir mereka. Bolehkah kukatakan jika apa yang Papi ucapkan semalam adalah amanat? Batin Owen.


Owen memeluk Istri dan Ibu mertunya di sisi kiri dan kanannya. Beruntungnya mereka, memiliki sahabat yang setia dan siap membantu di saat-saat seperti ini.


Sea dan putranya membantu menjaga Ayasya. Sedang Phila membantu membereskan dan mengemas barang-barang untuk di bawa pulang. Kepulangan jenazah Papi Stephen dari rumah sakit, diurus oleh Noah, Sandy dan sekretaris Almarhum Papi Stephen.


Bunyi sirine ambulans yang memekikkan telinga terdengar. Para pelayat menyambut rombongan yang membawa jenazah Almarhum Papi Stephen. Melihat kondisi Ibu mertua dan istrinya yang begitu terpukul, Owen mengambil alih tugas untuk menerima ucapan bela sungkawa dari para pelayat.


Setelah semua urusan selesai, hari itu juga Papi Stephen dikebumikan. Owen merasa sangat sedih melihat istrinya yang sejak tadi duduk bersimpuh di samping pusara ayahnya. Istrinya itu seakan tak peduli dengan pakaiannya yang menjadi kotor terkena tanah yang masih basah.


“Papi, maafin Tessa!” Tessa menangis, ia meraung-raung seraya memohon maaf pada Ayahnya.


Banyak kenangan bersama Papinya yang kini terbayang di benak Tessa bagai sebuah film. Dimulai ketika dirinya lulus SMA dengan predikat peraih nilai tertinggi. Raut wajah bahagia juga bangga Papinya saat itu kembali terbayang.


Selain itu, Tessa juga ingat saat dulu pengumuman kelulusan tes masuk Universitas. Kal itu, kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri. Namun, mereka memutuskan untuk langsung kembali, ketika tahu jika Tessa lulus tes masuk Universitas.


Mengingat semua kenangan itu, Tessa duduk bergeming di samping pusara Papinya. Meski tak lagi meraung-raung, namun air mata terus berlinang tanpa henti, seakan tak ada habisnya.


Bukannya tak peka dengan keadaan sekitarnya, namun Tessa butuh waktu untuk merelakan. Tessa tahu, sebagai wanita dewasa, terlebih ia telah memiliki anak, seharusnya ia bisa lebih kuat dan tegar.

__ADS_1


Namun, ia tak bisa membohongi perasaannya. Kepergian Papinya sangatlah tiba-tiba. Jujur saja, Tessa masih sulit untuk ikhlas sepenuh hatinya.


“Papi, aku bahkan belum bisa membahagiakanmu. Aku belum membanggakanmu. Yang kulakukan hanya terus mengecewakanmu,” gumam Tessa lirih.


Keadaan di sekitarnya semakin hening. Tak ada lagi suara derap langkah kaki dari para pelayat. Bahkan hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi, namun Tessa masih betah duduk di tempatnya.


Owen yang senantiasa menunggu Tessa, bisa melihat tubuh istrinya mulai menggigil. Ia khawatir jika istrinya itu akan jatuh sakit.


Owen yang tadinya berdiri cukup jauh, kini berjalan mendekati Tessa. Ia ikut duduk di sisi Tessa lalu memeluknya.


“Bun, ayo!” bujuknya. “Mami Fhanie, Aya, dan yang lain menunggu kita di rumah,” lanjutnya.


“Ta-pi, Bang,” Tessa menggeleng. Ia masih ingin di sana.


“Aya dan Mami butuh kamu, Bun,” bujuk Owen. “Aku yakin, Papi juga akan sedih melihat kamu seperti ini,” lanjutnya.


Walau sempat bungkam beberapa saat, akhirnya Tessa setuju untuk ikut pulang bersama suaminya.


...…...


Sesampainya mereka di rumah, dilihatnya keadaan rumah sudah mulai sepi, tak seramai sebelumnya. Hanya beberapa mobil, salah satunya milik Owen dan Sandy yang terparkir di halaman rumah.


“Semoga Aya tak membuat Sea repot,” ucap Tessa.


“Aku yakin tidak, Bun. Putri kita itu sangat menyukai bermain bersama Izzan,” ungkap Owen.


Ketika keduanya tiba dan menginjakkan kaki di dalam rumah, langkah Owen dan Tessa terhenti saat melihat sosok yang telah menanti mereka. Sosok itu duduk di ruang tamu yang sebelumnya telah digunakan sebagai tempat menerima para pelayat.


Melihat kehadiran Tessa dan Owen, senyumnya merekah. “Kalian dari mana saja? Kami sudah lama menunggu.”


...————————...

__ADS_1


__ADS_2