
“Wanita gila. Masih berani kau menunjukkan wajahmu!”
Pekikan itu asalnya bukan dari Owen. Pria yang namanya baru saja dipanggil oleh seorang wanita yang sangat tak diharapkan kedatangannya. Pekikan itu berasal dari Qanita, gadis yang tidak menyukai Nawra sejak pertama kali Nawra menginjakkan kaki di rumahnya beberapa hari yang lalu.
“Aku sudah menduga kau memang wanita pembawa si*l. Lihat saja bagaimana akhirnya kau mengacaukan semuanya!” Qanita rasanya belum puas memaki Nawra.
Sementara yang dimaki berpura-pura tak mendengarkan. Tak acuh dengan semua hinaan yang ia terima. Ada hal lain yang lebih penting bagi Nawra, yaitu Owen. Lebih tepatnya bagaimana dia bisa meminta pertanggungjawaban pria itu.
“Terserah kau mau bicara apa. Aku ke sini bukan untuk mendengar ocehanmu,” balas Nawra tak acuh.
Qanita semakin kesal. Nawra benar-benar sudah memancing amarahnya. Bukannya merasa bersalah dan menyesal, wanita tak tahu diri seperti Nawra beraninya datang dan menampakkan wajah tak berdosanya, pikir Qanita.
“Sudah. Hentikan perdebatan kalian!” sentak Owen pada dua orang wanita di hadapannya.
Qanita juga Nawra terkejut dibuatnya. Begitulah jika seseorang yang lebih banyak diam tiba-tiba membentak. Tak akan ada yang mengira Owen akan memberi respon seperti itu.
“Kau sebaiknya pergi Nawra. Asal kau tahu, aku belum bisa memaafkanmu karena telah berbohong mengenai kehamilanmu,” ucap Owen.
Walau tak lagi membentak, ucapannya pelan, datar, dan terkesan sangat tegas. Nawra sampai menelan salivanya karena mulai dilanda perasaan takut.
“Aku tidak berbohong mengenai kehamilanku,” balas Nawra menantang dengan sisa-sisa keberaniannya.
“Aku tak peduli. Kau hamil atau tidak bukan urusanku!” Untuk meredam amarahnya, Owen mengepalkan kedua tangannya. Wanita ini benar-benar gila. Harusnya dari dulu aku bertindak tegas padanya! Batin Owen menyesal.
“Tentu jadi urusanmu, Owen. Kamu harus membantuku. Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa Ayah. Kau harus menikahiku!” Pinta Nawra namun terdengar seperti paksaan.
Wanita itu bahkan dengan liciknya sengaja menaikkan volume suaranya. Ia tahu, jika Owen sejak tadi menahan diri karena mereka saat ini sedang berada di rumah sakit. Banyak perawat dan rekan sejawat Owen yang berlalu lalang. Aku harus memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin, batin Nawra bertekad.
Semakin erat kepalan tangan Owen. Ia sedikit banyak merasa frustasi menghadapi Nawra. Haruskah ia bersikap sedikit kasar untuk menghadapi Nawra, pikirnya.
“Jaga mulutmu, wanita j*l*ng!” Umpatan itu datangnya dari Qanita.
Setelah sekian lama, baru kali ini Owen tak menegur adiknya yang mengumpati seseorang. Ia bahkan terkesan mendukung gadis itu. “Kau boleh saja membodohi Ibuku, tapi tidak denganku. Jangan kau kira aku percaya dengan ucapanmu yang mengakui jika janin yang ada di rahimmu itu adalah milik Kakakku!”
__ADS_1
“Aku tahu siapa Kakakku, aku percaya padanya.” Qanita menoleh pada Owen. Ia tersenyum pada satu-satunya Kakak laki-lakinya itu saat kedua netra mereka bertemu.
Senyuman itu sebagai bentuk dukungannya. Owen yang paham maksud adiknya itu membalas dengan senyuman tipis. Ia senang jika akhirnya sosok adiknya telah kembali. Sosok adik yang selalu percaya dan mendukungnya.
Begitulah memang adanya Qanita. Dari dulu ia tak pernah meragukan ucapan Kakaknya. Ia yakin dan percaya jika Kakaknya adalah pria yang bertanggung jawab. Buktinya adalah Kakak Iparnya. Terlepas jika benar atau tidak jika Ayasya adalah anak kandungnya atau bukan, Owen tetap bertanggung jawab pada Tessa. Bahkan, pernikahan mereka bertahan cukup lama. Kakaknya itu juga bahkan rela menjauh dari keluarganya demi menjaga keutuhan rumah tangganya.
Nawra masih akan membalas ucapan Qanita, namun ketegangan yang terjadi di antara ketiganya harus terjeda saat salah seorang perawat muncul di tengah-tengah mereka.
“Maaf, Dokter Owen,” selanya.
“Eh, ya … ada apa, Sus?”
“Ibu Anda akan segera di pindahkan ke ruang perawatan,” ucap si Perawat.
“Baiklah, aku akan ikut denganmu,” balas Owen lalu berjalan lebih dulu dan segera disusul oleh perawat tersebut.
Dalam hati Owen mengucap syukur sebab operasi Ibunya berjalan lancar. Owen tak pernah berhenti berdoa agar Ibunya bisa kembali sehat seperti sedia kala. Semakin cepat kesehatan Ibunya pulih, maka semakin cepat Ia bisa menjemput istri dan putrinya kembali.
Sementara Qanita, ia bergegas menuju ruang perawatan Ibunya. Ia sedikit berbenah, merapikan ruang perawatan itu agar kembali bersih dan rapi saat Ibu dan Kakaknya tiba.
“Untuk apa kau di sini? Sana pergi?!” usir Qanita. Salah satu tindakannya yang ia sesali adalah membiarkan wanita itu menunggu di depan rumahnya. Harusnya saat itu aku mengusirnya! Geram Qanita dalam hati.
Membandingkan kakak iparnya dengan wanita tak tahu diri di hadapannya, Qanita jadi sadar jika Kakak Iparnya jauh lebih baik dari wanita yang didukung oleh Ibunya ini. Setidaknya Kakak Iparnya sudah memberinya banyak barang mewah, walaupun sebenarnya ia memintanya dengan paksa. Tapi, Kakak Iparnya itu tak pernah sekalipun mengadukannya pada Owen. Jangankan mengadu, meminta barang itu kembali pun tak pernah.
“Aku tak mau!” Nawra bersikap keras kepala. “Kau tidak punya hak mengusirku,” lanjutnya.
Meski mendapat tatapan tajam dari Qanita, Nawra tak akan takut. “Kau harusnya bersikap baik padaku. Jika nanti aku jadi Kakak Iparmu, akan kuadukan semua sikap burukmu itu pada Owen,” ancam Nawra.
Qanita melotot menatap Nawra. “Kau ini, hem!” pekik Qanita. “Jangan mimpi kau!!!”
Qanita sudah berjalan dua langkah ingin menyeret paksa Nawra agar keluar dari ruang perawatan Ibunya. Namun sayang, niatnya itu terpaksa dia urungkan setelah pintu terbuka lalu masuklah beberapa orang perawat yang mendorong ranjang pasien. Disusul Kakaknya yang berjalan masuk sembari berbincang dengan seorang dokter.
Qanita dan Nawra terpaksa menyingkir, keduanya bergeser dan berdiri ke salah satu sudut ruangan. Mereka mengamati dalam diam bagaimana Bu Damira dipindahkan ke ranjang pasien yang telah Qanita rapikan sebelumnya.
__ADS_1
“Bu, istirahat ya. Jangan khawatir lagi, kondisi kritis Ibu telah berlalu. Juga jangan memikirkan banyak hal jika ingin segera keluar dari rumah sakit,” pesan dokter sebelum meninggalkan ruang perawatan.
Setelah dokter dan para perawat pergi, kini tersisa Owen, Qanita, Nawra, juga Bu Damira yang terbaring lemah di ranjang pasien.
Qanita segera berhambur memeluk Ibunya dengan lembut. “Ibu, jangan sakit lagi. Aku sungguh cemas.” Gadis itu menyampaikan kekhawatirannya dengan gayanya yang manja.
Tangan lemah Bu Damira bergerak membelai puncak kepala putrinya. “Sudah, jangan menangis. Kamu sudah besar, jangan cengeng seperti itu.”
Tanpa sadar Owen tersenyum melihat interaksi Ibu dan Adiknya. Kehangatan yang sudah lama tak ia lihat. Ah, seandainya Ibu bisa menerima Tessa, kehangatan keluarga ini akan semakin lengkap, batinnya.
“Ekhem ….” Nawra berdeham menarik perhatian semua orang.
“Kau?!” Owen menunjuk ke arah Nawra. Tatapan tajam penuh amarah ia layangkan untuk wanita itu.
Nawra tampak tak acuh. Ia mendekat pada ranjang pasien tanpa khawatir jika Qanita yang berada di sana bisa saja menendangnya menjauh.
“Bu, maaf aku baru bisa datang hari ini. Setelah kejadian malam itu, kesehatanku ikut memburuk. Aku sedikit shock, jadi aku menenangkan diri dulu. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kandunganku,” ucapnya berbohong.
Bu Damira tak menjawab apa pun. Dalam hati terdalamnya pun ia belum percaya seratus persen pada apa yang diucapkan Nawra. Sedikit banyak ia tahu bagaimana liciknya seorang Nawra. Juga, dia tahu jika putranya adalah orang yang setia. Tak mungkin dia mengkhianati Tessa, wanita yang sangat ia bela selama ini.
Namun memikirkan bagaimana liciknya seorang Nawra, bukan tak mungkin jika wanita itu benar hamil anak Owen karena kelicikannya. Jadi, Bu Damira memutuskan apa pun alasannya Nawra bisa hamil tak masalah. Selama anak yang dikandungnya itu benar anak Owen, juga hal itu bisa memisahkan Owen dan Tessa.
“Omong kosong. Pergi kau dari sini!” usir Owen. Kali ini ia tak lagi menahan diri, toh tak ada orang lain selain mereka.
“Owen, hentikan!” tegur Bu Damira dengan suara lemahnya.
Kening Owen mengernyit saat Ibunya masih sempat-sempatnya membela Nawra. “Jangan perlakukan Nawra seperti itu.”
“Apa kau lupa jika Nawra sedang mengandung benihmu?!”
Hah? Ibu percaya dengan ucapan Nawra begitu mudahnya. Lalu, mengapa ia begitu sulit percaya dengan ucapan Tessa jika janin yang berada dalam rahimnya adalah darah dagingku, batin Owen tak habis pikir dengan pemikiran Ibunya.
“Tapi, Bu-“ Owen terpaksa menghentikan niatnya membantah sang Ibu saat melihat Ibunya meringis.
__ADS_1
“Hah ….” Hanya helaan napas Owen yang terdengar saat pria itu merasa ia tak berdaya saat ini.
...———————...