Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 105. Hukuman Owen dan Alfio


__ADS_3

“Kenapa memandangku begitu?” tanya Tessa dengan tak acuh. Ia hanya menoleh sekilas pada kedua pria yang kini berdiri mematung memandangnya.


Tessa bersikap biasa saja. Seolah tak ada yang terjadi, hingga membuat kedua pria itu semakin was-was. Dinginnya sikap Tessa bagai sebuah bom yang bisa saja meledak kapan saja.


“Kok malah diam di situ?!” tegur Tessa lagi. Wanita itu tampak sibuk mondar-mandir dari dapur ke meja makan. Ia sedang menata hidangan, menyiapkan makan malam. Lebih tepatnya pesta makan malam, sebab akan ada banyak hidangan makanan.


Suasana canggung bagi Owen dan Alfio itu akhirnya berakhir saat Aya berlari menghampiri keduanya. Tentu saja, yang pertama Aya akan berhambur ke pelukan Owen. Pria itu menyambut dengan hangat putrinya. Ia sengaja berdiri dengan lututnya agar bisa menyamakan tinggi dengan Aya.


“Anak Ayah cantik banget sih!” puji Owen. Malam ini rambut Aya penuh dengan pita berwarna-warni, sudah mirip seperti mahasiswi baru yang mengikuti ospek.


“Pastinya dong! Ciapa dulu Ayahnya,” balas Aya ikut memuji.


Saat Owen mengecupi kening dan kedua pipi Aya, gadis kecil itu turut membalas dengan megecup kedua pipi Owen. Sebuah pemandangan yang sejujurnya membuat hati Alfio tertampar. Iri, sudah pasti. Bukan iri dalam tanda kutip berarti buruk, namun dia juga berharap suatu saat Aya akan menyayanginya seperti ia menyayangi Owen.


“Aya curang, ih!” celetuk Alfio dengan gaya merajuk yang dibuat-buat.


“Paman kan juga mau peyuk dan tium,” lanjutnya. Owen dan Tessa kompak berdecak lalu menggeleng bersamaan. Alfio … pria angkuh itu bisa-bisanya memasang tampang sok menggemaskan.


“Salim aja ya, Paman. Kata Bunda dan Ayah enggak boleh cium-cium orang lain sembarangan,” jawab Aya jujur.


Jedeerrr!!! Rasanya nano-nano. Bangga, senang, namun juga sedih kini Alfio rasakan. Dia bangga pada putrinya yang menurut perkataan orang tuanya. Senang, karena dengan sikap Aya yang seperti itu, besar kemungkinannya dia akan terhindar dari orang jahat. Tapi, Alfio juga sedih sebab dirinya masih dianggap sebagai orang lain oleh putrinya sendiri.


“Sudah-sudah, ngapain juga masih berdiri di situ! Sana mandi gih, bersih-bersih dulu, ganti baju,” suruh Tessa menyela. “Alfio, kamu bisa gunakan kamar Aya,” lanjutnya.


Aya berjalan lebih dulu untuk menunjukkan letak kamarnya yang posisinya bersebelahan dengan kamar Tessa dan Owen. Sementara Owen ia menyempatkan untuk mendekat pada istrinya lalu memeluknya dari belakang.


“Bunda … aku sangat merindukanmu,” bisiknya tanpa peduli jika yang dipeluk terus menggeliat ingin melepaskan diri.


Tessa tetap diam, tak membalas ucapan Owen. Dia terus melap piring, sendok, dan gelas sebelum ia tata di meja makan. Tak ingin meyerah, Owen melancarkan aksi kecup-kecup di pipi dan bibir Tessa. Tapi masih saja Tessa tak acuh dengan yang dilakukannya.

__ADS_1


Hingga Bu Damira datang menepuk punggung Owen tiba-tiba. Plak!!! “Sana mandi gih!” suruhnya.


“Iya sebentar lagi, Bu!”


“Emang susah dibilangin ya, anak ini,” gerutu Bu Damira. “Enggak mandi, enggak dapat jatah makan malam loh,” ancamnya.


“Iya Bu, sebentar lagi. Masih sempat kok,” elak Owen lagi. Ia masih betah memeluk Tessa. Mengikuti kemana langkah kaki istrinya pergi.


Tessa menghela napas. Ruang geraknya terbatas jika Owen tak melepaskan pelukannya. “Mandi sekarang, Bang!” suruhnya.


“Dikit lagi, Bun,” Owen semakin gencar mengecupi pundak Tessa.


“Mandi sekarang atau kamu enggak dapat jatah malam ini!” ancaman Tessa berhasil membuat Owen melerai pelukannya.


“Kejam amat, Bun. Baiklah, aku mandi sekarang.” Fix, Owen kalah telak. Pria itu tak bisa berkutik jika ancaman Tessa soal jatah malam.


Saat masuk ke dalam kamar, Owen kembali terperangah. Kamar yang ia tinggalkan dalam keadaan seperti kapal pecah, kini kembali bersih dan rapi. Seprei bahkan sudah diganti. Tak ada lagi pakaian kotor berserakan.


Betapa hangat terasa dalam hati Owen, setelah mandi ia melihat pakaiannya sudah disiapkan oleh Tessa di atas tempat tidur. Perhatian kecil yang selalu membuatnya merindukan istrinya saat mereka berjauhan. Owen tak pernah merasa bersemangat seperti sekarang untuk makan malam.


Owen dan Alfio selesai bersamaan. Keduanya berjalan beriringan menuju meja makan. Berbagai macam hidangan sudah siap untuk di santap. Tessa, Aya, dan Bu Damira duduk bersisian. Sementara Qanita duduk di hadapan mereka.


Owen duduk di kursinya bagian ujung meja makan, sementara Alfio mau tak mau harus duduk bersampingan dengan Qanita. Ada sedikit rasa tak nyaman, sebab Qanita tak henti menatapnya.


Setelah membaca doa makan yang dipimpin oleh Aya, seperti biasa Tessa akan menyiapkan makanan untuk sang suami. Setelah menyendokkan nasi ke atas piring, Tessa menambahkan sayuran yang banyak, juga tempe dan tahu ke piring suaminya.


“Ini, Mas. Silakan dimakan,” ucapnya lembut namun penuh dengan penekanan.


Melihat itu Alfio menelan salivanya. Apakah mungkin hukuman untuk mereka sudah dimulai? Jika suaminya saja hanya diberi lauk sayur, tempe dan tahu, bagaimana dengan dirinya? Apakah hanya akan diberi nasi putih saja untuk makan malam kali ini, pikirnya.

__ADS_1


Syukurlah, Tessa tak setega itu. Ia memberi Alfio menu makanan yang sama dengan yang ia beri pada suaminya.


“Bunda, tolong ayamnya dong,” pinta Owen. Walau ragu ia tetap meminta, berharap Tessa tak sengaja lupa menambahkan lauk lainnya.


Tessa menggeleng, “Bang Owen dan Alfio makan itu saja. Hukuman karena sudah berbohong!”


“Tapi, Bunda … Sayang, aku bisa jelasin. I-“ Tessa menyela ucapan suaminya.


“Sssttt, nanti saja jelasinnya, Bang. Bayinya udah lapar ini,” elak Tessa.


“Sekarang makan dulu, ya. Jika Abang enggak suka, kalian berdua boleh kok makan di restoran Alfio. Kan di sana banyak makanan enak-enak.”


Sontak Owen dan Alfio menggeleng bersamaan. Ucapan Tessa barusan tak terdengar sebagai saran yang baik. Lebih seperti mereka sedang diusir, pikir Owen dan Alfio.


...…...


Setelah makan malam, semua orang berkumpul di ruang tengah untuk menonton TV sambil mengobrol. Ya, semua orang mengobrol kecuali Owen dan Alfio. Tiga wanita beda usia itu, mengobrol tanpa peduli dengan kehadiran keduanya.


Hingga malam semakin larut, malam ini Aya akan tidur bersama Bu Damira dan Qanita di kamar tamu. Alfio yang hendak pamit pulang dicegah oleh Tessa. Ibu hamil itu bersikeras menahan Alfio, ia menawarkan agar pria itu bermalam saja dan tidur di kamar Aya. Alfio tak bisa menolak, sebab Tessa sedikit memaksa dan mendapat dukungan dari si kecil Aya.


Di dalam kamar utama, Owen berbaring dengan gelisah. Ia sangat merindukan Tessa, tapi istrinya itu terus mengabaikannya. Ia tahu alasan Tessa bersikap dingin padanya karena kesalahannya yang telah berbohong. Tapi, tujuannya kan demi kebaikan bersama juga, pikir Owen membela diri.


Lama ia menanti Tessa yang sedang berganti pakaian di walkin closet. Owen bertekad akan memaksa Tessa untuk membahas masalah mereka. Ia tak sanggup didiamkan oleh istrinya lama-lama.


Sayang, sepertinya tekadnya itu hanya akan menjadi rencana belaka. Owen tak dapat berkata-kata saat melihat Tessa yang tampil begitu s*k-s* dan menawan dalam balutan baju tidur transparan berwarna merah.


Dengan langkah pelan Tessa berjalan menuju ranjang. Dengan mulut sedikit terbuka, Owen bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Kedua netranya tak bisa berkedip memandang kemolekan tubuh Tessa.


“Bu-Bu-Bunda,” panggilnya dengan bibir bergetar dan suara seraknya.

__ADS_1


...————————...


__ADS_2