Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 71. Ngidam


__ADS_3

“Hueeek … hueeek ….”


Suara yang berasal dari kamar mandi itu, telah berhasil mengusik lelapnya tidur Owen. Dengan mata terpejam, ia meraba-raba bagian sisi tempat tidur di sebelahnya. Tessa sudah bangun, gumamnya dalam hati.


“Hueeek … hueeek ….”


Lagi-lagi, suara itu samar-samar kembali didengar oleh Owen. “Aku masih di rumah kan? Kenapa sudah ada suara orang yang sedang mun-“


Owen terlonjak. Muntah?! Apa mungkin Tessa?


Seketika Owen bangun dan melangkah cepat ke kamar mandi. Pintunya terbuka sebab ia bisa melihat ada bias cahaya lampu dari dalam sana.


“Astaga, Bunda!” pekik Owen.


Betapa terkejutnya Owen, ia mendapati istrinya duduk bersimpuh di lantai kamar mandi, tepat di depan toilet sedang mengeluarkan isi perutnya. Saat Owen mendekat, segera ia rangkul pundak Tessa. Ia rapikan ikatan rambut Tessa agar tak mengganggu saat wanita itu menunduk.


“Kamu enggak apa-apa, Bun?” Dengan lembut Owen memijat tengkuk Tessa. Sesekali ia mengusap-usap lembut punggung istrinya. Owen tak sepanik calon ayah lainnya saat istrinya muntah-muntah. Owen tahu, ini murni pengaruh kehamilan.


“Tolong ambilkan tisu, Bang!” pinta Tessa lirih.


Dengan sigap Owen melakukan yang diminta Tessa. Tak hanya mengambilkan tisu saja, dia pula yang membantu Tessa menyeka sudut-sudut bibirnya.


“Ih … Bang, biar aku saja. Jorok, tahu!” seru Tessa ingin menolak bantuan Owen.


“Aku sudah biasa, Bun. Apa kamu lupa pekerjaan suamimu ini?!”


“Orang lain saja aku perhatiin, Bun. Apalagi istri sendiri. Istri yang aku cintai pula,” lanjutnya menggoda Tessa.


Satu pukulan lembut mendarat tepat di dada suaminya. “Kamu ya, Bang. Sempat-sempatnya menggombal di saat seperti ini,” ucap Tessa.


Rona kemerah-merahan sudah tak dapat lagi ia cegah untuk tak menghiasi pipinya. “Mana ngegombalnya di kamar mandi pula lagi,” celetuk Tessa pura-pura kesal.


“Baiklah, ayo keluar jika kamu sudah merasa lebih baik,” ajak Owen.


Owen membantu Tessa agar kembali berbaring di tempat tidur. Ia melirik jam yang menempel di dinding, “Pukul lima pagi,” gumamnya.


“Tidurlah lagi, ini masih terlalu pagi.”


Tessa menggeleng. Saat berbaring, perutnya kembali terasa mual dan ingin muntah. “Enggak, Bang. Aku duduk saja,” tolaknya lembut.

__ADS_1


“Rasanya perutku kembali mual jika aku berbaring,” jelasnya.


“Oh, baiklah.” Owen membantu Tessa bersandar pada head board, meletakkan bantal di sana agar punggung Tessa terasa nyaman saat bersandar.


“Sekarang, kamu minum dulu, ya.”


Tanpa banyak bicara lagi, Tessa melakukan yang suaminya katakan. Sepertinya kehamilannya yang sekarang akan berbeda seperti saat ia mengandung Ayasya dulu, pikir Tessa.


Owen pun kini sudah ikut duduk bersandar di head board, tepat di sisi Tessa. Semakin ia kikis jarak diantara ia dan istrinya, hingga kini tubuh Tessa sudah berada dalam pelukannya. Ia sandarkan kepala Tessa di dada bidangnya.


Lucu, Owen menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Entah mengapa sekarang memeluk Tessa menjadi hal yang paling ia sukai.


“Bagaimana? Apa sudah mendingan?” Owen membelai lembut surai istrinya. Satu hal lain yang menjadi kegemarannya yang baru.


“Ya. Rasanya lebih nyaman bersandar di sini.” Tessa meraba-raba dada bidang Owen. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya. Ah, kok nyaman sekali, ya. Rasanya mualnya sudah hilang, batin Tessa.


Apa yang dilakukan Tessa baru saja membuat Owen menelan saliva berkali-kali. Tak tahu saja istrinya itu, jika yang dia lakukan membangunkan sesuatu yang tadinya terlelap.


“Apa kamu menyukainya, Bun?” tanya Owen.


“Suka, apa?”


“Ya, aku suka. Kenapa? Kamu enggak suka, Bang?”


“Bukan … bukannya aku enggak suka. Tapi … itu Bun, anu-“


Ucapan Owen terjeda. Tessa menyela. “Tapi, bukan aku yang mau Bang. Sepertinya anak kamu deh yang suka elus-elus gini.”


“Anak aku? Oh, oke. Jika itu kemauan bayi kita.” Owen harus apa lagi jika bayi yang dikandungan istrinya telah menjadi alasan.


Lakukan saja Bun yang anak kita mau. Urusan yang terbangun, biar aku saja yang mengurusnya, batin Owen.


...…...


Di kehamilan kali ini, Tessa benar-benar berbeda. Ia tak menyangka jika aroma tubuh suaminya menjadi candu. Aroma tubuh suaminya lah yang dapat mengobati mualnya. Jadi, setelah suaminya mandi dan bersiap-siap hendak berangkat ke rumah sakit, Tessa dilanda perasaan sedih dan kehilangan.


“Kenapa cemberut? Mual lagi?”


Tessa menggeleng. Ia masih menunduk. Tak mungkin kan dia mencegah atau bahkan melarang suaminya untuk bekerja. Owen kan bukan pemilik rumah sakit, yang bisa datang semaunya seperti yang Tessa baca di novel-novel.

__ADS_1


“Lalu, kenapa sedih?” tanya Owen sekali lagi.


”Mau peluk,” pinta Tessa dengan manja membuat Owen menahan senyumnya.


Owen segera merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Kemarilah,” ucapnya.


Tanpa menunggu lagi, setelah Owen memberikan isyarat lampu hijau. Tessa pun segera berhambur ke pelukan Owen. Ia eratkan pelukannya. Ia hirup dalam-dalam aroma yang menenangkannya itu. Jika boleh, Tessa tak ingin melepas pelukannya. Bolehkah?


Sepasang suami istri itu, sangat menikmati waktu mereka. Berpelukan, walau tak berucap sepatah kata pun namun sudah menunjukkan betapa keduanya saling mencintai. Terasa bagai dunia milik berdua saja. Hingga kehadiran gadis kecil yang menatap dengan wajah muramnya, tak mereka sadari.


“Ayah! Bunda!” pekik Aya. “Aya juga pengen peluk!” serunya setengah merengek.


Saat Ayah dan Bundanya merentangkan tangan, Aya segera berlari ke arah keduanya. Keluarga kecil itu berpelukan cukup lama.


Kebahagiaan besar yang mereka peroleh hanya karena melakukan hal sederhana. Begitulah arti kehadiran keluarga bagi Owen.


...…...


Jam istirahat makan siang masih lama, namun, Tessa sudah tampak uring-uringan. Dia merindukan suaminya. Rencananya dia akan mengunjungi Owen di rumah sakit dan makan siang bersama. Sesuai keinginan calon bayi, alasannya.


“Astaga, ada apa dengannku? Memikirkan Owen, aku semakin merindukannya. Jika tak memikirkannya, rasanya perutku mual,” keluh Tessa.


Entah sudah berapa kali dirinya berguling ke kiri dan kanan di atas tempat tidur. Bosan sekali rasanya, Tessa tak melakukan apa pun sejak Owen berangkat bekerja. Hari ini dia bebas tugas untuk mengantar Aya ke sekolah. Mami Fhanie dengan senang hati mengambil alih tugas itu.


“Masih jam sepuluh,” gumamnya. Dua jam lagi dari waktu janjiannya bersama sang suami.


“Apa aku pergi sekarang saja, ya?”


Tanpa perlu menjawab pertanyaannya sendiri, Tessa bergegas berganti pakaian, merias wajahnya, lalu berangkat ke rumah sakit menemui si calon ayah.


Dua puluh menit berlalu, taksi online yang ditumpanginya menepi di depan lobi rumah sakit. Tessa menyelesaikan pembayaran dan bergegas keluar dari mobil.


Langkahnya begitu bersemangat untuk segera bertemu dengan sang suami. Ia terus saja melebarkan senyumnya saat berpapasan dengan perawat atau karyawan rumah sakit yang mengenalnya.


Hingga senyum merekah itu akhirnya lenyap. Ia melihat suaminya sedang berbincang dengan seorang wanita yang tak ingin ia temui.


“Huh, dia lagi! Apa lagi maunya kali ini?!” gerutunya.


...——————...

__ADS_1


__ADS_2