Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 44. Pertengkaran


__ADS_3

“Bu, bukankah ini terlalu berlebihan?”


Begitulah komentar Tessa saat melihat Ibu mertuanya tengah pusing memilih-milih hadiah ulang tahun yang akan diberikan pada Nawra.


Mendengar komentar Tessa, sontak saja Bu Damira memberikan tatapan sinisnya pada menantunya. Meskipun ia tampak tak suka dengan kehadiran Tessa yang menurutnya mengganggu. Namun, ia cukup puas sebab niatnya untuk memanas-manasi menantunya itu berhasil.


“Berlebihan apanya?! Kamu mau buat Owen malu , ya!” tuding Bu Damira.


“Kamu yang seleranya buruk, penampilan pas-pasan mana paham dengan barang mewah seperti ini?l”


Dihina seperti itu membuat Tessa malu. Pasalnya, Bu Damira seolah tak peduli dengan para pegawai toko yang kini saling berbisik di sekitar mereka. Tessa tak tahu saja jika memang itulah rencana Ibu mertuanya mengajaknya ke pusat perbelanjaan untuk membeli hadiah.


Rasain tuh, memangnya enak diomongin sama karyawan toko?! Bu Damira tertawa dalam hati.


Siapa suruh, malu-maluin sih! Lanjutnya menggerutu dalam hati.


Para pegawai tersebut kini membicarakan tas mewah yang tersampir di pundak kanan Tessa. Awalnya para karyawan toko perhiasan itu memuji penampilan Tessa. Namun, saat mendengar hinaan dari Bu Damira, mereka jadi membicarakan penampilan Tessa yang katanya pas-pasan. Mereka jadi berpikir, mungkin saja tas mewah yang dipakai Tessa itu adalah barang tiruan.


Tessa menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan melihat ke stroller di mana putrinya kini duduk dan melihat-lihat sekitarnya.


Sabar Tes, sabar! Ingat, kamu kini seorang Ibu. Berilah contoh yang baik pada putrimu, batin Tessa.


“Apa yang akan membuat Bang Owen malu jika memberi hadiah yang lain?” tanya Tessa.


“Menurutku, lebih baik jika kita memberinya sesuatu yang akan lebih bermanfaat baginya,” lanjut Tessa.


Walau Tessa berusaha bersikap ramah, Bu Damira masih saja merespon Tessa dengan buruk. “Cih, sok tahu!”


Meski begitu, Tessa belum ingin menyerah. Benar, jika Owen telah mengizinkan Ibunya untuk memilih hadiah yang akan diberikan pada Nawra. Tapi, bukankah sangat disayangkan jika hasil kerja keras suaminya itu digunakan untuk membeli kalung dengan harga yang cukup fantastis, pikir Tessa.


“Menurutmu hadiah apa yang lebih bagus dari kalung cantik ini untuk Nawra?” tantang Bu Damira.


“Karena hobinya membuat kue, bagaimanaa jika kita memberinya perlatan membuat kue?” usul Tessa bersemangat. Lebih bermanfaat dan mungkin tak akan semahal hadiah pilihan Ibu mertuanya, pikirnya.


Bu Damira tertawa mengejek. “Kau ini enggak pernah dapat hadiah dari pria, ya?”


“Di mana-mana wanita itu akan tersentuh saat pria memberikan perhiasan di hari ulang tahunnya. Bukannya peralatan memasak seperti katamu!” sanggah Bu Damira.


Tessa menggeleng, ia masih tak setuju dengan pilihan Ibu mertuanya. “Ibu benar, semua wanita pasti akan menyukai hal itu. Tapi jika pria yang memberikannya, bukanlah pria beristri,” ungkap Tessa dengan lirih.

__ADS_1


Meski lirih, namun Bu Damira masih bisa mendengar ucapan Tessa. Salah satu sudut bibirnya terangkat, baginya putranya tak memiliki istri. Ia tak pernah suka dan tak pernah menyetujui pernikahan putranya dan Tessa.


“Ah, berisik!” pekik Bu Damira.


“Diam saja! Kau jangan ikut campur,” ancam Bu Damira


Tessa akhirnya menghela napas panjang. Ia mengalah! Tak lucu jika dia menantang dan berdebat dengan Ibu mertuanya di toko perhiasan tersebut. Itu pasti akan sangat memalukan, pikirnya.


Tessa pun mendorong stroller Aya untuk berkeliling toko perhiasan tersebut. Dalam hati ia menyesali keputusannya ikut saat diajak oleh Ibu mertuanya ke tempat itu.


Saat pandangan matanya bertemu dengan Aya, putri kecilnya itu tersenyum sangat manis. “Bunda, tenapa Nenek malah-malah?” tanyanya.


Tessa menggeleng. “Nenek enggak marah, Sayang. Kan Bunda sudah pernah bilang, Nenek itu memang suaranya keras,” elak Tessa.


Aya mengangguk, namun Tessa bisa tahu jika putrinya itu masih memikirkan sesuatu. “Masih ada yang ingin Aya tanyakan?”


“Em, Bunda enggak papa? Enggak cedih kan?” tanyanya dan dijawab Tessa dengan gelengan kepala.


“Kenapa Nenek enggak cayang cama Bunda?” tanya Aya lagi yang mampu membungkam Tessa.


...…....


Lamunan Tessa terusik dengan suara deru mobil yang tak asing. Tessa baru saja berdiri hendak membuka pagar seperti yang biasa ia lakukan, namun rupanya Owen lebih dulu yang melakukannya. Langkah Tessa pun akhirnya terhenti.


Tak ingin berlarut-larut seperti ini, Tessa mengikuti Owen yang melangkah masuk ke dalam kamar. Ia biarkan Aya bermain di kamarnya sendiri, sebelum ia mengajak Owen bicara.


“Bang,” panggilnya.


“Hem,” jawab Owen.


“Ibu sudah membeli hadiah untuk Nawra. Apa Ibu sudah memberitahumu?” tanya Tessa.


“Hem, sudah,” jawab Owen singkat.


“Tapi, apa itu tak berlebihan menurutmu?” tanya Tessa.


Kening Owen mengernyit. Sesungguhnya ia pun belum tahu hadiah apa yang dibeli oleh Ibunya. Tapi, karena tak ingin lama-lama bicara dengan istrinya, Owen terpaksa berpura-pura.


“Aku percaya dengan pilihan Ibu. Itu akan menjadi hadiah yang terbaik,” ucap Owen.

__ADS_1


Tessa menunduk, ia sedang menahan air matanya agar tak berlinang. “Baiklah, terserah kamu saja,” pasrahnya.


Melihat istrinya bersedih, Owen jadi penasaran dengan hadiah apa yang dibeli oleh Ibunya. Ia hendak keluar kamar untuk mencari sang Ibu dan bertanya mengenai hal ini. Namun, langkahnya dihentikan oleh Tessa.


“Bang, boleh aku tahu mengapa kamu mendiamiku seharian ini?” tanya Tessa.


“Apa aku berbuat salah?” tanyanya lagi.


Owen berbalik menatap Tessa. “Apa kamu merasa telah melakukan kesalahan?” jawab Owen dengan pertanyaan pula.


“Bang, kumohon … beritahu aku apa salahku. Aku sungguh minta maaf jika memang telah bersalah.”


“Karena kamu tak tahu apa kesalahanmu, itu artinya kamu tak merasa bersalah telah melakukan hal itu,” ujar Owen.


“Itu apa, Bang?” tanya Tessa meminta penjelasan.


“Apa soal aku yang ternyata tak hamil? Apa akhirnya kamu mempermasalahkan itu?” Cecar Tessa.


Owen menggeleng. “Aku memang sangat berharap kamu hamil, tapi aku tak pernah menuntutmu,” ungkap Owen.


“Apa kamu lupa bagaimana aku yang menerima apa adanya kamu?” Lanjutnya.


“Apa kamu lupa dengan kita yang sudah sepakat untuk saling terbuka menjalani rumah tangga ini?”


Tessa semakin mengernyitkan alisnya. Ia semakin tak mengerti alasan suaminya marah.


“Tentu saja aku ingat, Bang. Aku sungguh berterima kasih karena kamu selalu menerimaku, dengan segala kekuranganku,” ucap Tessa.


“Mengenai saling terbuka, bukankah kita berdua seperti itu?” lanjutnya.


“Benarkah? Kamu yakin?” tantang Owen.


Tessa bungkam memikirkan apa yang dia sembunyikan dari Owen. Mungkinkah, pil itu? Tapi, aku sudah membuang semuanya, batin Tessa.


“Ba-Bang, a-apa yang ka-kamu maksud-“ ucapannya terhenti manakalaa Owen menyelanya.


“Pil KB! Jadi, kamu sudah tahu sekarang apa salahmu?”


...--------------...

__ADS_1


__ADS_2