Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 42. Negatif


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, Tessa menangis seraya memegang benda berbentuk pipih di tangannya. Tangannya bergetar saat benda pipih itu hanya menampilkan satu garis merah saja.


Ia usap buliran-buliran air mata yang membasahi pipinya. Beberapa kali ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, namun sayangnya hal itu tak cukup untuk mengurangi sesak di dadanya.


Sembari menatap pantulan dirinya di cermin, Tessa berkata dalam hati. Apa yang kau tangisi, huh! Bukannya kau sudah tahu jika hasil tesnya tentu saja akan negatif.


Yang ia tangisi saat ini, bukanlah hasil dari tes kehamilannya. Tessa sudah memprediksi hasilnya. Tetapi, yang ia tangisi saat ini adalah bagaimana kecewanya suaminya saat tahu jika selama ini ia mengonsumsi pil pencegah kehamilan.


“Benar, pil itu!” seru Tessa sembari merogoh ke dalam lemari kecil tempat penyimpanan di bawah wastafel.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, segera Tessa membuang butiran-butiran pil tersebut ke dalam kloset hingga tak bersisa. Kemasannya pun tak lupa ia buang ke dalam tempat sampah.


Air matanya tak kunjung berhenti berlinang. Ia merasa marah, kesal, kecewa pada dirinya sendiri. Begitu bodohnya dia, hingga melakukan lagi hal yang akan mengecewakan suaminya, seandainya pria itu tahu.


Selagi Tessa sedang menangis di dalam kamar mandi, di luar, di balik pintu ada Owen yang setia menunggu. Sembari menggendong putri kesayangannya, doa Owen tak pernah putus.


“Aya, semoga Bunda beneran hamil ya …” ucapnya bersemangat pada putrinya.


Entah paham atau tidak dengan kata hamil yang diucapkan oleh sang Ayah, Aya hanya mengangguk saja tanpa merespon. Paham dengan raut wajah bingung putrinya, Owen lantas tertawa lalu menjawil puncak hidung putrinya.


“Maksud Ayah, semoga Aya beneran akan jadi kakak ya,” jelas Owen pada putrinya.


“Aya jadi tata?” tanyanya dengan kedua matanya yang berkedip-kedip. Membuat sang Ayah merasa gemas melihatnya.


“Iya jadi kakak. Aya mau kan?”


“Mau, Yah … mau anget,” jawab Aya dengan bertepuk tangan.


“Ya sudah, kita tungguin Bunda dulu ya,” ucap Owen.


Sejak terjaga dari tidurnya, senyum di bibir Owen tak pernah luntur. Memiliki Aya sebagai putrinya adalah hal luar biasa yang terjadi dalam hidupnya. Apalagi jika Tuhan kembali mempercayakan seorang anak untuknya. Entah bagaimana Owen harus bersyukur untuk rezeki dan karunia dari Sang Ilahi.


Sembari menunggu, samar-samar dari dalam kamar mandi Owen mendengar suara isakan tangis. Apa Tessa menangis? Batinnya.


Ada dua hal yang terpikirkan olehnya saat ini. Apakah istrinya menangis karena terlampau bahagia atau istrinya menangis karena kecewa? Owen masih enggan untuk menerka-nerka.


Namun, sekian lama menanti Tessa di depan pintu kamar mandi, istrinya itu tak kunjung membuka pintu. Ia mulai cemas, sebab tangis Tessa terdengar timbul tenggelam. Sekali-kali akan terdengar jelas lalu tiba-tiba suara tangisan itu mereda. Kemudian tak lama, suara tangis istrinya terdengar lagi.

__ADS_1


Tok … tok … tok …. Owen pun akhirnya mengetuk pintu kamar mandi.


“Bun, kamu masih di dalam?” Owen bertanya seolah-olah ia tak pernah menunggu lama di depan pintu kamar mandi.


Tok … tok … tok …. Diketuknya pintu sekali lagi sebab setelah beberapa detik berlalu, Tessa tak kunjung menjawab.


“Iya, Bang. Aku baik-baik saja,” teriak Tessa dari dalam.


“Sebentar lagi aku keluar, ya.”


Senyum di wajah Owen yang sempat menghilang, kembali lagi. Jantungnya kembali berdetak dua kali lebih cepat. Tak sabar … ya, dia sudah tak sabar ingin tahu hasil tes kehamilan yang sedang dilakukan istrinya.


Klik, bunyi kunci pintu kamar mandi yang dibuka oleh Tessa rupanya mampu membuat Owen semakin berdebar. Ia menelan salivanya ketika melihat kedua netra Tessa yang tampak sembab. Wajah istrinya tampak kacau. Tessa tak hanya terlihat sedih, istrinya itu lebih terlihat seperti seseorang yang sedang menanggung beban berat.


“Bun.” Senyuman Owen menyambut Tessa.


Tanpa bertanya lebih lanjut, Owen membawa Tessa ke dalam pelukannya. Dengan lembut ia membelai surai istrinya seraya menenangkannya. “Tak apa, Bun. Anak itu rahasia Ilahi, mungkin kita masih harus berusaha lagi,” ungkapnya.


Bukannya mereda, tangisan Tessa semakin menjadi-jadi. Walapun samar-samar, sesekali dapat Owen dengar istrinya menggumamkan kata maaf.


“Maaf untuk apa, Bun? Tak ada yang salah dalam hal ini,” ucap Owen menenangkan Tessa.


Tessa akhirnya menarik diri kemudian mengangguk lemah. Benda kecil berbentuk pipih yang sejak tadi ia genggam, perlahan ia tunjukkan pada Owen.


Walaupun jauh dalam lubuk hatinya, Owen merasa kecewa dengan satu garis di benda pipih tersebut. Namun, sebisa mungkin ia tak menampakkannya.


Senyum Owen mengembang di wajah tampannya seraya menatap Tessa. Ia usap puncak kepala istrinya. “Jangan terlalu bersedih, kita masih harus usaha,” bujuknya diiringi kedipan di salah satu matanya.


Benar saja, akhirnya Tessa dapat tersenyum. Walau Owen tahu senyuman itu masih kalah dengan kesedihan yang dirasakan istrinya, ia tetap bersyukur karena berhasil menghibur Tessa.


Pagi itu, suasana hati Tessa dan Owen tak secerah mentari di luar sana. Keduanya begitu terlarut dalam kekecewaan dan penyesalan. Hingga tak menyadari kehadiran Bu Damira yang masuk tanpa permisi ke dalam kamar keduanya.


“Ekhem!” Dehaman Bu Damira mengejutkan keluarga kecil yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


“Kalian ngapain ngumpul di situ?” tanya Bu Damira.


“Enggak ngapa-ngapain kok, Bu,” jawab Owen. Tangannya dengan lincah meraih alat tes kehamilan dari tangan Tessa dan menyimpannya di saku celana tidurnya.

__ADS_1


“Itu apa yang kamu masukkan ke saku? Kamu mau sembunyiin sesuatu dari Ibu?” cecar Bu Damira.


Tessa menghindari kontak mata dengan Ibu mertuanya.


“Tak ada yang kusembunyikan,” elak Owen. Ia merangkul pundak Tessa, kemudian mereka melangkah bersamaan mendekat ke Bu Damira.


“Ibu menemui kami, ingin mengatakan sesuatu?” tanya Owen mengalihkan pembicaraan.


Kedua netra Bu Damira memicing. Ia tak semudah itu percaya dengan ucapan Owen. Walau hanya melihat sekilas, ia bisa tahu benda apa yang disembunyikan putranya. Yang membuatnya penasaran adalah apa hasil dari tes yang baru dilakukan menantunya.


“Bu … Ibu!” panggil Owen.


“Eh, itu … hem … di depan ada Nawra,” ucap Bu Damira.


“Nawra?! Mau apa lagi dia kemari? Apa dia tak ada kerjaan lain selain datang ke rumah kita?!” kesal Owen.


“Huss! Jangan seperti itu, Wen,” peringat Ibunya.


“Bukannya Ibu selalu ngajarin kamu untuk sopan pada setiap tamu yang datang ke rumah kita,” lanjutnya.


Melihat wajah kesal suaminya, Tessa berusaha menengahi. “Benar kata Ibu, Bang,” ucap Tessa.


“Kita itu harus selalu sopan pada setiap tamu yang datang ke rumah kita,” ujar Tessa mengulang ucapan Ibu mertuanya. Kata rumah kita sengaja ia tekankan.


“Sekarang kamu mandi dan bersiap saja, Bang,” pintanya pada sang suami.


“Tamu kita, biar aku yang menemuinya,” imbuhnya.


“Ta-tapi, bukan kamu yang ingin ditemui Nawra,” cegah Bu Damira.


“Lalu siapa yang ingin dia temui, Bu?” tanya Owen.


“Pemilik rumah ini adalah aku dan istriku. Jika, aku tak bisa menemuinya, maka istriku akan menggantikanku,” tegas Owen.


Bu Damira berdecak kesal, sepertinya rencananya bersama Nawra tak akan berjalan sesuai dengan yang mereka harapkan. Mau tak mau ia tetap mengikuti langkah Tessa yang menggendong Aya untuk menemui Nawra.


Sementara itu Owen yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi tak sengaja menemukan potongan kemasan obat di lantai. “Kemasan obat milik siapa? Tessa?”

__ADS_1


...———————-...


__ADS_2