Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 62. Hadiah kejutan


__ADS_3

“Man-tan?”


“Coba ulangi lagi! Siapa wanita yang kamu sebut sebagai mantanmu?” Dengan tak sabar Nawra menarik kursi di hadapan Alfio lalu duduk di sana.


Jika ia tak salah dengar, pria di hadapannya baru saja menyebut mantan diikuti nama Tessa setelahnya. Seandainya Tessa yang dimaksud oleh pria bernama Alfio adalah orang yang sama dengan yang dikenalnya, maka Nawra yakin sesuatu yang besar akan segera terjadi.


“Tessa,” jawab Alfio. “Namanya Tessa Stephanie,” imbuhnya semakin memperjelas.


Nawra berusaha menahan senyumnya. “Katamu, kamu adalah mantannya?” Pertanyaan Nawra lalu di jawab anggukan oleh Alfio.


“Kutebak … kamu juga pasti sudah tahu jika kini Tessa sudah menikah? Dia kini seorang istri juga seorang ibu.”


“Ya, aku tahu,” jawab Alfio santai.


“Lalu, tujuanmu menemuinya?”


“Ada sesuatu yang belum kami selesaikan. Aku ingin mengambil kembali milikku,” jawab Alfio terlihat tetap tenang.


Kening Nawra mengernyit. Dalam benaknya ia memikirkan pertemuannya dengan Alfio saat ini. Apakah memang suatu kebetulan? Atau pertemuan mereka memang disengaja?


“Entah kamu akan berpikir ini suatu kebetulan atau mungkin takdir, sepertinya kita memiliki kesamaan,” ucap Nawra.


“Kesamaan?”


“Ya, kita sama!” seru Nawra. “Jika, kamu adalah mantan kekasih Tessa. Maka, aku adalah mantan kekasih suaminya.”


Salah satu sudut bibir Alfio ikut tertarik ke samping, saat melihat senyuman licik dari wanita yang baru ia kenal beberapa saat lalu. Segila apa orang ini?! Sepertinya dia punya tekad yang kuat, batin Alfio menilai Nawra.


“Waw! Pasti ada alasan kita dipertemukan, setuju?” ucap Alfio.


“Benar. Kita akan tahu alasannya setelah kamu beri tahu aku, apa yang ingin kamu ambil kembali dari mereka.” Dengan kelicikannya, Nawra mencoba untuk mencari tahu, barangkali hal itu bisa membawa keberuntungan unutknya.


“Sesuatu yang sangat penting,” jawab Alfio.


“Detailnya tak dapat kuceritakan. Meski kamu sangat cantik, tapi, tetap saja aku tak bisa mudah percaya pada orang lain.”


Nawra tetawa mendengar pujian Alfio. Dia sudah banyak mengenal pria, dia tahu pujian Alfio padanya bukan karena pria itu tertarik. “Terima kasih atas pujianmu. Lantas, bagaimana membuatmu mempercayaiku? Hem … asal kamu tahu, selain cantik aku juga pandai melakukan banyak hal.”


“Benarkah? Waw, sepertinya hari ini akan jadi hari yang baik untukku,” ungkap Alfio.


“Karena kamu memaksa, maka bisakah kamu lakukan hal ini untukku ….”

__ADS_1


...…...


Tok … tok … tok ….


Membawa sekotak berisi kue tart berwarna-warni, Nawra berdiri dengan tak sabar di depan pintu rumah Owen. Ia sudah menekan bel beberapa kali, memberi salam, mengetuk pintu, hingga berteriak memanggil-manggil si empunya rumah. Namun, setelah beberapa menit berlalu pintu rumah tak kunjung dibuka.


Nawra tak tahu saja, jika dari dalam rumah Tessa mengintip melalui celah horden. Saat tahu jika yang datang adalah Nawra, ia sengaja berdiri di balik pintu seraya menutup mulutnya menahan tawa.


“Lama banget sih?!” gerutu Nawra dari balik pintu yang masih bisa didengar oleh Tessa.


“Enggak tahu apa, kue ini kan berat. Bawa-bawa ginian buat tangan aku pegal,” lanjutnya menggerutu.


Ingin sekali Tessa tertawa. Dia tahu, jika apa yang dilakukannya ini bukanlah perbuatan yang baik. Tapi, menjahili Nawra seperti sekarang, terasa sangat menyenangkan.


“Lagian dia itu mau apa sih?! Malam-malam gini bertamu ke rumah orang.”


Tanpa Tessa sadari, tak jauh darinya Owen berdiri dan menatap heran pada istrinya. “Bun, ngapain kamu?”


“Sssttt ….” Tessa yang terkejut sontak menoleh pada Owen. Satu jari telunjuknya berada di depan bibirnya, memnberi tanda pada suaminya agar tak berisik.


“Itu … di luar ada tamu,” imbuhnya dengan suara berbisik. Jangan sampai Nawra bisa mendengar suaranya.


“Sssttt … pelankan sedikit suara kamu, Bang!” ucap Tessa masih berbisik. “Itu yang datang si Nawra, Bang.”


“Nawra? Pantas saja kamu enggak bukain pintunya,” balas Owen. “Mau apa lagi sih, dia?!” Lanjut Owen seraya sesekali ikut mengintip ke luar melalui celah horden.


Tessa menggeleng. “Yang kudengar, sepertinya dia membawa kue untuk kita,” jawab Tessa lirih. “Bukain saja ya, Bang. Lama-lama kok aku jadi kasihan juga,” usul Tessa yang diangguki Owen.


Pintu rumah pun akhirnya dibuka oleh Tessa. Biasanya, Nawra akan tersenyum semanis yang ia bisa saat bertemu Owen. Namun, kali ini wajahnya ia tekuk hingga Tessa dan Owen pun saling berpandangan.


“Kalian berdua tega banget sih!” keluh Nawra. “Jangan kira aku enggak dengar suara kalian ya dari tadi!”


“Pasti tadi kalian sengaja, lama-lamain buka pintunya. Aku dengar tau suara kekehan kalian!”


Selain tahu jika tadi si pemilik rumah ini menjahilinya, Nawra dibuat makin kesal sebab, saat pintu terbuka ia melihat Owen sedang merangkul Tessa.


Sok mesra! Gerutunya dalam hati.


Sementara itu, Tessa dan Owen kembali saling berpandangan. Mereka mengakui perbuatan tidak terpuji yang telah mereka lakukan. Ah, mereka jadi merasa bersalah pada Nawra.


“Nih, ambil!” Sebuah kotak besar warna merah muda kini telah berpindah tangan dari Nawra ke Tessa.

__ADS_1


“I-ini apa?” tanya Tessa. Ia merasa tak pernah meminta atau memesan kue dari toko kue milik Nawra.


“Tentu saja itu kue! Kamu enggak bisa baca, di box-nya itu ada tulisan Nawra Cake’s. Masa iya isinya nasi goreng?!” jawab Nawra dengan kesal.


“Ya aku juga tahu ini kue. Aku juga masih bisa baca,” balas Tessa kesal. Dalam hati dia menyesal. Andai saja tadi tak usah dia bukakan pintu untuk Nawra, maka dia tak akan dibuat kesal oleh wanita itu.


“Maksud pertanyaan aku itu, mengapa kamu tiba-tiba membawakan kami kue? Kan aku enggak pesan.”


“Yang bilang kamu yang pesan, siapa?!” jawab Nawra masih ketus.


Tak ingin keributan ini berlanjut, Owen pun akhirnya menengahi. “Sudah … sudah! Enggak enak sama tetangga yang lain kalau kalian ribut malam-malam gini,” ungkap Owen.


“Nawra, terima kasih atas kuenya.”


Seketika senyum Nawra kembali mengembang saat Owen bicara padanya. “Sama-sama. Hem … kalau kamu suka, aku bisa kok buatin lagi yang jauh lebih enak dari itu,” balas Nawra.


Sementara Owen akhirnya mendapat cubitan dari Tessa di pinggangnya, karena ucapan Nawra. “Kecentilan!” gumam Tessa lirih.


“Tapi, tadi katamu kue ini bukan dari kamu. Lalu siapa yang mengirimkannya?” kali ini gantian Owen yang bertanya pada Nawra. Sepertinya, Nawra akan merespon lebih baik jika Owen yang bicara padanya.


Nawra mengedikkan bahunya. “Entahlah!”


“Dia tak menyebutkan namanya. Hanya memintaku untuk mengantarkan langsung kue ini ke rumah kamu,” akunya.


“Siapa, ya? Perasaan aku dan istriku tak punya janji atau menunggu apa pun.”


“Memang bukan untuk kalian!” seru Nawra. ”Kata pria itu, aku harus mengantarkan kue ini langsung. Kue ini untuk Ayasya,” lanjutnya.


“Apa?! Pria?!” pekik Tessa. Sontak saja ia menoleh pada Owen. “U-untuk A-Aya, katamu?”


Nawra mengangguk. Dalam hati dia bersorak penuh kemenangan. Rasain, tuh! Terkejut, kan?!


“Apa kamu ingat ciri-ciri pria itu?” tanya Owen.


“Dia pria yang tampan,” jawab Nawra singkat.


“Hem, satu lagi, katanya dia minta maaf tidak bisa mengantar langsung hadiah ini,” ucap Nawra.


“Tunggu sebentar lagi. Dia akan datang membawa kejutan untuk kalian dan juga Aya,” lanjutnya.


...———————...

__ADS_1


__ADS_2