
“Kamu menanyakan Ben dan Nawra secara tiba-tiba. Tak mungkin jika tak terjadi sesuatu, Bang,” komentar Tessa saat suaminya berusaha menghindar dari pertanyaannya.
“Percayalah Bun, tak terjadi apa pun. Hanya saja, itu … hem … aku sempat melihat mereka bertemu,” elak Owen.
Tessa menggeleng. Jawaban suaminya semakin membuatnya bingung. “Di mana kamu melihat mereka?” Tessa tak semudah itu untuk percaya.
“Di sana, di-di-di dekat rumah sakit,” jawab Owen terbata.
Tessa ikut beranjak dari tempat tidur. Ia membantu Owen melepas kancing kemejanya. “Bang, aku tahu loh kalau kamu nyembunyiin sesuatu,” lirih Tessa berucap.
“Enggak ada apa-apa, Bun.” Owen tetap bertahan untuk menyembunyikan hal ini dari Tessa.
Saat melihat Tessa selesai melepas kancing kemejanya yang terakhir, Owen meraih kedua tangan Tessa dan menggenggamnya. Keduanya berdiri saling berhadapan. Bertukar pandangan, seraya mengutarakan isi hati masing-masing melalui sorotan mata.
“Yang terpenting saat ini adalah kesehatan kamu dan calon bayi kita. Jadi, kumohon kamu berhenti memikirkan apa pun yang membebanimu,” pinta Owen.
Tak lupa Owen mengusap lembut perut Tessa. Ia berikan kecupan beberapa kali di sana, membuat Tessa sempat meremang. Tessa sedikit menggeliat karena geli.
“Apa yang dilakukan Aya hari ini? Ah, aku sangat merindukannya.”
Tessa tersenyum bahagia. Dalam keadaan apa pun, Owen tak pernah lupa untuk menanyakan kabar putrinya. “Seperti biasa, dia tetap menjadi anak yang paling aktif selama pembelajaran di kelasnya,” ungkap Tessa.
“Hari ini Aya belajar melipat kertas origami. Bahkan, siang ini dia terus saja meminta Mami mengajarinya melipat berbagai macam bentuk. Dia sangat ingin menunjukkannya padamu, tapi dia malah tertidur saat menunggu,” lanjutnya.
Hal seperti ini yang selalu membuat Owen merindukan rumah. Tahu jika ada istri dan putrinya yang menanti, Owen selalu tak sabar untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah.
“Kasihan sekali putriku, menunggu sampai dia tertidur,” gumam Owen merasa bersalah.
__ADS_1
“Jangan seperti itu, Bang. Kamu kan pulang terlambat karena bekerja. Juga sebagai dokter, siapa yang bisa tahu kapan keadaan darurat akan terjadi. Aku paham, Bang. Aya pun begitu,” ungkap Tessa.
Tanpa Tessa sadari jika dia sudah memeluk Owen lebih dulu. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Tessa bisa merasakan kehangatan dan ketenangan saat melakukan itu. Detak jantung suaminya bagai sebuah melodi indah, membuatnya betah berlama-lama memeluk Owen.
Sementara Tessa semakin mengeratkan pelukannya, Owen sendiri berusaha menahan senyumnya. Ah, jika dipikir-pikir … semenjak hamil anak kedua, Tessa semakin sering menunjukkan perasaannya. Dia tak berusaha menahan diri lagi. Tak lagi sama seperti saat keduanya belum mengungkapkan isi hati masing-masing.
Hingga Owen pun tak ingin kalah. Ia balas pelukan istrinya seraya mengusap-usap punggung Tessa dari balik baju tidur tipisnya. Saat merasakan tubuh Tessa menggeliat, Owen semakin kesulitan menahan gejolak yang timbul. Dengan memegang lembut dagu Tessa, ia pun akhirnya berhasil mendaratkan satu kecupan di bibir lembut sang istri.
Kecupan yang awalnya lembut, semakin menuntut saat keduanya saling menerima dan membalas. Napas keduanya terengah-engah. Jantung berdetak dua kali lebih cepat. Saling memburu dengan sesuatu yang bergejolak dari dalam diri masing-masing.
Ciuman keduanya pun terhenti. Kening mereka menyatu dan kedua netra sepasang suami istri itu bertemu. “Bun, aku mencintaimu. Aku menyayangi Aya dan calon bayi kita,” aku Owen.
Satu tangan Tessa terangkat, ia membelai lengan kekar Owen yang merangkul pinggangnya. “Aku juga mencintaimu, Bang. Semakin hari, hem … tidak. Maksudku, setiap detik cintaku padamu semakin bertambah dan bertambah,” balas Tessa.
Mendengar ucapan istrinya, Owen tergelak. Sementara Tessa menatapnya dengan cemberut sebab merasa Owen telah merusak suasana romantis mereka saat itu.
“Ye, siapa yang menggombal. Aku serius loh, Bang. Cintaku padamu memang terus bertambah, terus bertambah, dan terus bertambah,” ucap Tessa masih dengan bibirnya yang mengerucut.
Owen mengecup kening Tessa sekali. Ia semakin gemas dengan sikap istrinya yang seperti ini. Hormon kehamilan memang luar biasa, batinnya.
“Baiklah, baiklah, aku percaya. Karena itu, aku akan berterimakasih atas cintamu yang terus bertambah padaku.” Tanpa aba-aba, Owen menggendong tubuh Tessa dan membaringkannya di atas tempat tidur dengan lembut.
Cup. Cup. Cup. Cup. Kecupan dari Owen mendarat lagi di kening, di kedua pipi, dan terakhir di bibir Tessa. “Tunggu aku, sebentar saja. Aku akan mandi dan kembali secepatnya untukmu.”
Wajah Tessa yang sejak tadi merona, semakin memerah seperti tomat. “Menunggu? Memangnya Bang Owen mau apa?” tanyanya sok polos.
Owen berdecak. “Kamu yang pura-pura polos gini, makin gemesin ih ….”
__ADS_1
Owen menunduk, ia berbisik sesuatu pada Tessa. Sangat dekat hingga embusan napasnya membuat Tessa meremang. “Aku merindukan calon bayi kita,” ungkap Owen sebelum berlari ke kamar mandi meninggalkan Tessa yang bergeming di tempat tidur.
Di kepalanya kini terus terngiang ucapan suaminya barusan. Ah, dia yang rindu tapi kenapa aku yang gelisah, aku Tessa dalam hati sambil menahan senyumnya.
...…...
Sementara itu, Roy sedang menjalankan tugas yang diberikan Alfio, kini ia sedang mengumpulkan informasi mengenai keberadaan Nawra. Setelah mengunjungi toko kue milik wanita itu, Roy bergegas menuju rumah Nawra. Sayangnya, ia tak menemui wanita itu di kedua tempat.
Roy pun berusaha menghubungi nomor ponsel Nawra. Wanita itu sempat menerima panggilan Roy. Namun saat mendengar suara Roy, ia memutuskan sambungan telepon begitu saja. Namun, karena panggilan yang hanya beberapa detik itu, Roy pun akhirnya berhasil melacak keberadaan Nawra.
Mengikuti ke mana mesin penunjuk arah menuntunnya, kening Roy mengernyit saat ia berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang memiliki halaman yang cukup asri. Walaupun hari sudah gelap, di mana setiap orang biasanya akan berkumpul di rumah untuk beristirahat. Namun, rumah di hadapannya terlihat berbeda. Rumah itu seperti rumah tak berpenghuni. Gelap, tak ada lampu yang menyala. Tak tampak ada aktivitas apa pun yang dilakukan di rumah itu.
Roy berkeliling untuk mencari tahu, dan dari seorang pria ia mendapatkan informasi jika si pemilik rumah yang bernama Damira dan putrinya belum lama ini terlihat pergi dengan seorang wanita menggunakan mobil.
“Si*l!” umpat Roy ketika ia tiba di dalam mobil. Segera ia lajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap ia bisa menyusul mobil Nawra. Ia pun tak lupa mengabari Alfio.
Alfio yang masih betah tinggal di dalam ruang kantornya di restoran, terkejut saat mendengar semua laporan Roy. “Aku yakin wanita gila itu merencanakan sesuatu yang buruk!” geram Alfio.
Ia pun terus menghubungi ponsel Owen dan Tessa bergantian. Ia ingin mengabarkan hal ini, dan memperingati Owen agar bersiap dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Sayangnya setelah puluhan kali menelepon, tak ada satu pun panggilan teleponnya yang di jawab oleh sepasang suami istri itu. “Apa mereka sudah tidur?!” gumam Alfio.
Alfio melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. “Apa mereka benar-benar sudah tidur? Tapi, ponsel keduanya masih aktif. Apa yang mereka lakukan hingga tak menyadari ada panggilan telepon?!”
Ah, memikirkan apa yang mungkin sepasang suami istri itu lakukan hingga tak menjawab panggilannya, membuat dada Alfio terasa panas. “Ah! Masa bodoh! Aku harus segera memberitahu keduanya!” ucapnya lalu beranjak pergi dari ruangannya.
...———————...
__ADS_1