
Dari dalam sebuah mobil jeep mewah, Alfio tak henti-hentinya tersenyum menatap pada sosok dua wanita beda usai yang kini sedang bersiap-siap hendak pergi. Roy yang duduk di balik kemudi, menoleh pada Bosnya seraya menggelengkan kepalanya. Selama ia mengenal pria yang ia hormati itu, ini adalah kali kedua Bosnya tampak aneh karena cinta pada wanita yang salah.
“Lihatlah, Roy! Putriku begitu menggemaskan, bukan?” tanya Alfio tanpa menatap lawan bicaranya.
Mau tak mau Roy pun akhirnya melihat ke arah yang sama. “Semua anak-anak memang menggemaskan, Bos.”
Sekilas Alfio melirik sinis ke arah Roy. Hanya beberapa detik sebelum ia kembali memusatkan perhatiannya pada dua wanita tadi.
”Cih! Kau memang tidak tahu apa-apa soal anak-anak. Asal kau tahu, di antara semua anak perempuan yang pernah kulihat … putrikulah yang paling cantik,” pujinya.
Roy berdecih dan menggeleng. “Anda berlebihan, Bos. Semua anak perempuan yang kulihat sama saja. Mereka semua suka mengenakan baju warna merah muda dengan hiasan rambut yang memenuhi kepala mereka. Aku kok, melihatnya malah seperti kue ulang tahun,” komentar Roy disusul tawanya.
“Apa kau bilang?!” Alfio kini menatap Roy seperti hendak memakannya. “Putriku seperti kue ulang tahun? Berani sekali, kau! Kau mau memakan putriku, hah?!”
“Bu-bukan begitu, Bos. Maksudku, anak perempuan lain,” sanggah Roy buru-buru.
“Lah, kalau anak Bos mana berani kumakan. Kucolek dikit saja, bisa-bisa aku babak belur,” gumamnya lirih seperti berbisik.
“Kulihat, Anda sangat merindukannya. Temui saja, Bos. Sapa dia,” usul Roy.
Alfio menggeleng. “Kita di sini bukan untuk tujuan itu, kan? Jadi, mari fokus,”
“Urusan wanita ular itu, biarkan aku yang mengurusnya,” tawar Roy.
Alfio diam, dia tampak sedang berpikir. “Oh … tidak lagi, Roy! Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan wanita ular itu sendiri. Aku tak ingin yang terjadi antara kau dan Alesandra kembali terulang.”
Mendengar nama Alesandra, Roy mendadak bungkam. Ah, dia jadi merindukan wanitanya itu.
Sedang apa ya dia di penjara saat ini? Mengingat Alesandra, tubuh Roy mendadak gerah. Pasalnya segala hal yang dia ingat tentang wanita itu adalah kebersamaan mereka di atas ranjang.
“Tak akan lagi, Bos. Aku akan berusaha yang terbaik. Lagian, sepertinya cukup dia saja di hidupku,” ungkap Roy.
Alfio berdecak. “Kau aneh, Roy. Kau mau menunggu hingga Alesandra keluar dari penjara?” Meski sedang bicara dengan Roy, namun pandangan Alfio terus tertuju pada dua wanita yang jauh dari jangkauannya.
“Entahlah. Tapi, untuk saat ini, aku yakin akan mampu menantinya,” ucap Roy.
Alfio mengangguk. Senyum yang terbit di wajahnya mendadak luntur saat sosok pria dari dalam rumah muncul.
“Si*l!” gerutunya.
__ADS_1
Melihat itu, Roy ikut memandang ke arah rumah yang sejak tadi diamati Bosnya. Potret sebuah keluarga kecil yang bahagia, batinnya.
“Harusnya aku yang merasakan kebahagiaan itu, kan?” tanya Alfio.
“Ya. Seandainya Anda tidak menghabiskan waktu bertahun-tahun di penjara,” jawab Roy membungkam Alfio.
Apa yang dikatakan Roy tak bisa ia sanggah. Alhasil, dia hanya bisa menahan kekesalannya saat melihat interaksi Owen, Tessa, dan Ayasya.
Hatinya merasa sangat iri, saat ia melihat Tessa dan Ayasya bergantian mencium punggung tangan Owen. Lalu di balas dengan kecupan di kening oleh Owen.
Belum lagi pelukan erat yang dilakukan Owen dan Tessa. Sebesar apa cinta Tessa pada Owen yang harus ia rebut? Tanya Alfio dalam hati.
Tak lama setelah adegan penuh kehangatan itu, Alfio bisa melihat Owen pergi lebih dulu disusul Tessa dan Aya dengan menggunakan mobil yang berbeda.
Melihat semua itu, Alfio jadi membayangkan jika dirinya berada di posisi Owen. Rasanya tak ada lagi yang harus ia cari, semuanya sudah lengkap, pikirnya.
“Huh, pantas saja dia berkeras mempertahankan Tessa dan Ayasya!” gumam Alfio lirih.
...…...
Masih di tempat yang sama, rasa bosan mulai melanda Alfio. Jika, Roy sudah terbiasa melakukan pengintaian seperti ini, berbeda dengan Alfio yang selama ini hanya mahir memerintah saja.
“Apa yang dilakukan wanita itu di dalam rumahnya?! Lihat, sudah jam berapa! Katamu, dia selalu pergi ke tokonya di jam-jam sekarang?!”
“Sudah kukatakan, wanita itu akan berangkat jam sembilan pagi. Bos saja yang memaksa datang ke tempat ini pukul delapan pagi!” ucap Roy membela diri.
Alfio hanya berdecak. Tak ia bantah ucapan Roy sebab apa yang dikatakan pria itu benar. Hingga akhirnya penantian mereka pun usai. Sesosok wanita cantik, berpenampilan modis, walau menurut Alfio berlebihan, akhirnya keluar dari sebuah rumah.
Wanita itu terlihat hanya menyalakan mesin mobilnya, namun ia tak langsung masuk. Ia berjalan membuka pagar rumahnya, dan berdiri berkacak pinggang menatap ke arah rumah Tessa.
Menyadari jika rumah yang ia pantau telah kosong, jelas sekali raut wajah kecewa wanita itu. Ia pun masuk ke mobilnya dan tak lama mobil itu pun mulai melaju.
Roy yang memang menunggu momen ini, tak ingin kehilangan jejak si wanita. Segera ia lajukan mobilnya perlahan. Menjaga jarak dari mobil si wanita agar ia tak sadar sedang di ikuti.
Tak cukup lima menit, mobil wanita itu berhenti di depan sebuah toko kue. “Benar kan, Bos?” Roy merasa bangga, sebab hasil laporan yang ia berikan pada Bosnya benar.
“Tiap pagi wanita itu akan pergi ke toko kue miliknya,” jelas Roy.
Sebelum masuk ke toko kuenya, wanita itu tampak masuk ke sebuah kedai kopi. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Roy dan Alfio pun menyusul.
__ADS_1
Di dalam kedai kopi, keduanya berdiri tepat di belakang wanita itu untuk mengantri. Tatapan mata wanita itu dan Alfio sempat bertemu. Keduanya saling memandang beberapa detik sebelum kasir di hadapan Alfio menyela.
Ketika Alfio sedang memesan kopi untuknya dan Roy, wanita tadi sudah pergi lebih dulu. Melihat respon wanita tadi, dalam hati Alfio bersorak. Rencananya hari ini sepertinya akan berjalan lancar.
Setelah dari kedai kopi, Alfio dan Roy lagi-lagi menyusul wanita itu ke toko kuenya. “Permisi, apa toko kue ini sudah buka?” tanyanya.
Wanita tadi tercengang, ada seulas senyum di bibirnya melihat dua pria dari kedai kopi di sebelah kini berada di tokonya. “Maaf, toko kami akan buka lima belas menit lagi,” ucapnya ramah.
“Tapi, jika kalian ingin menunggu, silakan,” imbuhnya.
Gayung bersambut, Roy dan Alfio tentu saja setuju. Keduanya duduk di salah satu kursi. Dengan sengaja Alfio tak pernah berhenti menatap ke arah wanita itu. Bahkan saat pandangan mereka bertemu, Alfio tak menghindar.
Lima menit menunggu, wanita itu menghampiri meja Alfio dan Roy dengan membawa dua piring berisi sepotong kue strawberi di atasnya.
”Silakan di nikmati, sambil menunggu,” ucapnya dengan manja.
“Terima kasih, kamu baik sekali,” balas Alfio. “Pemilik toko kue ini beruntung. Memiliki karyawan yang sangat cantik, ramah, juga … hem, seksi,” puji Alfio. Samar-samar Alfio bisa melihat ada rona merah muda pada pipi wanita yang berdiri di hadapannya.
Wanita itu menyambut pujian Alfio dengan tawa. “Ah, kamu terlalu memujiku. Tapi, sejujurnya akulah pemilik toko kue ini.”
“Apa?!” Alfio pura-pura terkejut. Segera ia berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan hendak berkenalan.
“Kalau begitu, sepertinya aku yang beruntung. Hari masih pagi, namun aku sudah bertemu wanita luar biasa sepertimu,” pujinya lagi.
“Kenalkan, Aku Alfio.”
Mendapat pujian bertubi-tubi, membuat wanita itu bersemangat menyambut uluran tangan Alfio. “Aku, Nawra. Aku juga senang, sepagi ini bisa berkenalan dengan pria setampan kamu,” balasnya memuji.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Dari penampilanmu yang sangat rapi, kutebak kamu bekerja di sekitar sini,” ucap Nawra.
“Tidak. Aku tak bekerja di sini. Aku pemilik sebuah restoran. Aku ke mari sebab ingin menemui seseorang di komplek perumahan yang di sana,” jawab Alfio seraya menunjuk ke arah perumahan Nawra.
“Tapi saat kusambangi ke sana, rumahnya sangat sepi. Sepertinya semua orang sudah pergi,” imbuhnya.
“Memangnya siapa yang ingin kamu temui di sana? Kebetulan sekali aku juga tinggal di perumahan itu.”
Dengan sengaja Alfio menampilkan raut wajah bahagianya. Ia pura-pura terkejut dengan ucapan Nawra. “Jadi, kamu tinggal di sana juga?” tanya Alfio sekali lagi dan Nawra menjawab dengan anggukan kepala.
“Aku ingin menemui mantanku,” ucap Alfio.
__ADS_1
“Namanya, Tessa. Apa kau mengenalnya?”
...—————————...