
Kondisi kesehatan Bu Damira mulai membaik. Beliau pun sudah diizinkan untuk menjalani rawat jalan. Dengan alasan masih ada beberapa pemeriksaan kesehatan yang harus dilakukan, maka Bu Damira untuk sementara akan tinggal di rumah Owen selama berada di kota.
“Aku akan kosongkan jadwalku akhir pekan ini. Aku yang akan mengantarkan Ibu pulang setelah pemeriksaan terakhir selesai,”ucap Owen saat ia, Ibu dan Adiknya menikmati sarapan pagi ini.
Beberapa minggu terakhir adalah masa-masa yang sulit untuk dilalui Owen. Dirinya begitu merindukan kehadiran istri dan putrinya. Owen sudah tak sabar ingin segera menjemput Tessa dan Aya.
“Kamu mengusir Ibu?” tanya Bu Damira tak percaya. Walau tak mengatakan secara gamblang, tapi Bu Damira cukup paham dengan maksud putranya yang ingin mengantarnya pulang. Itu sama saja dengan mengusirnya secara halus.
“Aku tidak mengusir, Ibu,” elak Owen. “Hanya saja aku akan kembali sibuk dengan pekerjaanku. Qanita juga harus kembali kuliah. Tak mungkin aku akan membiarkan Ibu sendiri di rumah tanpa ada yang mengawasi.”
Bu Damira berdecak. Dia tahu itu adalah alasan yang sengaja dibuat Owen agar ia cepat pergi. Lalu secepatnya Tessa dan Ayasya akan kembali lagi ke rumah itu.
“Harusnya yang kau khawatirkan dirimu sendiri. Ibu sudah baik-baik saja,” ucap Bu Damira.
Benar kata Bu Damira. Keadaan Owen cukup memprihatinkan. Sejak Ibunya keluar dari rumah sakit, Owen lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Dia hanya pulang untuk membawa makanan dan memastikan Ibunya meminum obat tepat waktu. Selebihnya, dia hanya akan berada di rumah hingga malam telah larut.
Selain untuk menghindari perdebatan dengan Ibunya, semua itu Owen lakukan untuk menghindari Nawra. Semenjak mendapat dukungan dari Bu Damira, Nawra lebih leluasa keluar dan masuk rumah Owen.
Kurangnya waktu istirahat, membuat kondisi kesehatan Owen menurun. Namun, sebisa mungkin ia berusaha menahannya. Ia berusaha untuk tak menunjukkan hal itu di depan orang lain.
Jadwal makan yang tak teratur semakin memperburuk keadaan Owen. Bagaimana bisa ia makan dengan lahap jika pikirannya terus tertuju pada istri dan putrinya yang jauh di sana. Alhasil, berat badan pria itu pun ikut berkurang.
“Aku? Aku kenapa, Bu?”Owen menghentikan aktivitasnya yang sedang mengoles selai pada roti.
“Apa kamu tak pernah bercermin? Kamu tampak sangat menyedihkan, Nak.” Dari lubuk hatinya, jujur Bu Damira sangat mengkhawatirkan putranya.
“Ibu yang paling tahu mengapa aku seperti ini,” jawab Owen.
Bu Damira menghela napasnya. Itulah mengapa dia memilih untuk bersikap tak acuh pada kondisi putranya selama ini. Sebab ia tahu pasti seperti apa jawaban Owen seandainya ia mulai membahas hal ini.
“Sampai kapan kamu akan memikirkan wanita itu dan anaknya, hah?!”
Owen mengepalkan tangannya guna menahan amarahnya yang siap meletup kapan saja. “Bu, sadarlah. Wanita itu adalah istriku yang sedang mengandung calon anakku. Lalu anak itu adalah putriku yang dulu sangat Ibu sayangi sebagai cucu Ibu.”
__ADS_1
Sementata Qanita hanya bungkam. Dia kesulitan untuk memilih harus berada di pihak mana. Seandainya bukan Nawra wanita yang Ibunya dukung, mungkin dia tak akan ragu untuk memihak Ibunya. Tapi, kini Qanita mulai bimbang. Entah mengapa menurut Qanita, Tessa jauh lebih baik dibandingkan Nawra si wanita angkuh itu.
“Untuk apa kamu memikirkan dia lagi? Pikirkan saja Nawra. Dia juga sedang hamil anakmu, kan?!”
“Bu!!!” Owen berdiri dengan kasar dari kursinya.
“Aku tak peduli Ibu percaya atau tidak. Tapi, aku tak pernah menyentuh apalagi menghamili Nawra.”
“Jika Ibu masih tak percaya, tunggu saja sampai usia kandungan wanita gila itu sepuluh minggu. Aku dengan senang hati melakukan tes DNA!”
“Cih!” Bu Damira berdecih. “Ibu tak peduli dengan tes DNA atau apa pun itu. Ibu akan lebih sudih jika Nawra yang menjadi menantu Ibu.”
Sebenarnya Owen masih ingin mendebat Ibunya. Namun, melihat Ibunya yang menenggak air dari gelas dengan terburu-buru disusul tarikan napas panjangnya, Owen memutuskan untuk mengakhiri perdebatan pagi itu. Ia cemas kesehatan Ibunya kembali memburuk karena perdebatan mereka.
Owen pun mulai melangkah pergi. Namun, ia sempat berhenti dan menoleh kembali pada Ibunya yang masih duduk bergeming di meja makan.
“Jika Ibu sangat ingin Nawra menjadi menantu Ibu, mungkin Ibu juga harus mulai memikirkan bagaimana caranya memiliki seorang putra lain lagi yang akan menikahinya demi Ibu. Sebab sampai mati pun aku tak akan mau menikahi wanita itu!”
Sementara di Kota X juga sedang terjadi perdebatan sengit antara Tessa, Alfio, juga Mami Fhanie.
“Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!” Tessa teguh pada keputusannya. Ia tak akan goyah meski Alfio meminta bantuan Mami Fhanie untuk membujuknya.
“Kenapa tidak? Ayasya juga putriku. Keluargaku juga berhak untuk menemuinya. Apalagi yang ingin bertemu dengannya ini adalah Ayah dan Ibuku.” Alfio terus berusaha membujuk Tessa. Bisa gagal semua rencananya jika Tessa tak mengizinkan dirinya membawa Ayasya.
“Bibi, bantu aku ….” Alfio menatap Mami Fhanie dengan wajah memelasnya.
Terdengar helaan napas Mami Fhanie. “Tes … Mami pikir tak ada salahnya membiarkan Alfio membawa Aya,” ucap Mami Fhanie.
Mendengar Mami-nya yang juga kini berpihak pada Alfio, Tessa sontak membulatkan mata. “Apa? Sekarang Mami pun memihak dia?” Tessa menunjuk Alfio.
“Aku heran, sebenarnya apa yang sudah kau katakan pada semua orang. Mengapa mereka semua begitu mudahnya percaya padamu!”
Alfio tersenyum bangga. Bolehkah dia menganggap ucapan Tessa barusan sebagai pujian, pikirnya.
__ADS_1
“Karena memang tak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap Alfio santai. Toh dia tak mungkin juga membawa Ayasya-putri kandungnya ke dalam bahaya, pikir Alfio.
Tessa menggeleng. Lebih baik dia kembali membaringkan dirinya di ranjang. Kepalanya terasa semakin pusing.
Sudah beberapa hari ini dirinya merasa kurang sehat. Pusing, mual, hingga muntah, akhir-akhir ini tak hanya ia alami di pagi hari. Dalam sehari Tessa bisa mengalami itu sebanyak 4 – 5 kali. Alhasil, tubuhnya terasa lemas hingga Tessa lebih banyak menghabiskan waktu berbaring di tempat tidur.
“Tetap tidak!” Tessa tetap kukuh. Sebenarnya dia bingung, mengapa tiba-tiba saja Alfio meminta izin membawa Ayasya untuk menemui kedua orang tuanya.
“Mengapa kau tak mengajak orang tuamu saja ke sini? Aku dengan senang hati menyambut kedatangan mereka.” Tessa memberi solusi lain.
“Hem …” Alfio berdeham cukup lama. Pria itu memutar otaknya berpikir mencari-cari alasan.
“Ibuku sakit, Tes. Beliau tak bisa bepergian jauh,” lanjutnya. Dalam hati Alfio memohon maaf pada Almarhumah Ibunya karena telah membawa-bawa dirinya dalam permasalahan ini.
Tessa kembali duduk. Ia lipat kedua tangannya di depan dada. “Baiklah, kalau begitu aku akan ikut dengan kalian,” putusnya.
Kini gantian Alfio yang membulatkan kedua netranya. “A-apa? Kau tidak perlu sampai melakukan itu,” tolaknya.
“Kau sedang tak sehat, Tes. Aku tak mau nanti disalahkan jika terjadi sesuatu pada kandunganmu. Aku pun tak yakin jika suamimu akan setuju jika kau ikut denganku,” jelas Alfio.
Tessa berdecih. “Cih!” Ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
“Lalu kau pikir suamiku juga akan setuju kau membawa Ayasya pergi?”
Alfio mengedikkan bahunya. “Kau tanyakan saja padanya sendiri.”
Melihat Alfio yang begitu yakin, Tessa khawatir. Ragu-ragu ia hubungi Owen. Saat panggilan telah terhubung, Tessa menceritakan secara singkat inti dari perdebatannya dengan Alfio.
“Tak apa, Bun. Izinkan saja Alfio membawa Aya. Tak mungkin juga dia menyakiti putrinya sendiri,” ucap Owen dengan tenang.
“Apa? Kamu pun setuju, Bang?” Tessa sampai menggeleng berkali-kali tak menduga jawaban Owen akan seperti itu.
...————————...
__ADS_1