Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 90. Ide Alfio


__ADS_3

“Masalah apa lagi ini, Alfio?” Air muka Mami Fhanie mulai menampakkan ketidaksukaannya. Bukan tidak suka dengan pria yang sudah banyak membantu keluarganya selama tiga hari terakhir, tapi beberapa kejadian mengejutkan akhir-akhir ini membuatnya lebih mudah panik. Ia tidak suka seandainya apa yang akan Alfio sampaikan akan menjadi masalah baru lagi.


“Kamu tahu kan bagaimana keruhnya situasi saat ini. Kamu juga menjadi saksi apa yang terjadi. Tolong, jika yang akan kamu bicarakan itu hanya akan memperkeruh keadaan … tolong jangan katakan,” pinta Mami Fhanie.


Cukup Bu Damira saja yang menderita penyakit jantung. Mami Fhanie berdoa semoga dia dijauhkan dari penyakit tersebut. Tapi, jika terus-terusan menerima kabar mengejutkan seperti ini, ia jadi khawatir juga pada kondisi kesehatan jantungnya.


Alfio bungkam dan menundukkan kepalanya. Ah, kenapa aku jadi ragu ya, gerutunya dalam hati. Dia mencari-cari ke mana perginya keyakinan dan kepercayaan dirinya tadi.


“Baiklah, karena sepertinya kamu juga ragu maka aku anggap pembicaraan pagi ini tidak pernah terjadi,” putus Mami Fhanie. Ia sudah bersiap-siap akan beranjak dari tempatnya.


“Tessa dan Aya sedang tak di rumah. Kamu bisa kembali lagi nanti. Akan kuminta Tessa menghubungimu jika mereka sudah pulang,” ucapnya.


“Bibi … tunggu sebentar,” Alfio menghentikan Mami Fhanie.


“Sungguh aku tak punya niat buruk setelah menyampaikan ini. Jujur, melihat ikatan di antara Tessa, Aya, juga Owen, aku pun tahu tak akan bisa memisahkan mereka,” ucap Alfio dengan hati-hati.


“Memisahkan?” Mami Fhanie mulai meradang.


“Memisahkan satu keluarga kamu bilang bukan niat buruk?!”


Alfio mendadak panik. Sepertinya dia sudah salah bicara. Si*l! Mami Fhanie marah. Apa aku salah bicara? Bukankah aku sudah memilih baik-baik, kata-kata ini dari semalam, batin Alfio.


“Maaf, Bibi. Maafkan aku, aku salah. Aku sadar, aku salah Bibi. Tapi, bukan tanpa alasan aku berniat melakukan itu,” jelas Alfio.


Mami Fhanie kembali duduk di sofa. Alasan apa yang membuat pria di hadapannya ini nekat menjadi calon perusak rumah tangga putrinya. Lalu, alasan apa pula yang membuat dia begitu berani mengakui niatnya.


“Apa alasan yang akan membenarkan niat burukmu itu?” desak Mami Fhanie.


Sikap Mami Fhanie yang berubah menjadi dingin membuat Alfio semakin ragu. Bagaimana respon Mami Fhanie nantinya, ya? Tanyanya dalam hati.


“A-a-aku hanya ingin dekat dengan putriku,” aku Alfio pada akhirnya.


“Dekat dengan putrimu?” Kening Mami Fhanie mengernyit. Apakah itu artinya ….

__ADS_1


“Ya. Aku adalah Ayah kandung Ayasya.” Rasanya beban berat yang ia pikul selama ini sedikit berkurang. Dia tidak akan dibayangi lagi rasa sesal karena telah membohongi Mami Fhanie.


“Kamu jangan bercanda?”


“Aku serius, Bibi. Aku berani bersumpah. Tessa dan Owen pun mengetahui hal ini,” ungkapnya.


Benar saja dugaan Alfio. Ada kilatan amarah dari sorot mata Mami Fhanie saat menatapnya. Ah, pria itu memang tak berharap Mami Fhanie akan menerima fakta ini dengan baik. Dirinya hanya berani berharap Mami Fhanie mau membantunya.


“Untuk apa kamu mengakuinya sekarang? Tidak ada gunanya! Kehadiranmu juga kan yang menjadi penyebab semua ini terjadi pada putri dan cucuku.” Mami Fhanie meluapkan semua amarahnya.


“Ke mana kamu saat Tessa hamil? Enak saja! Kamu meninggalkannya saat dia membutuhkanmu, lalu sekarang kamu datang dengan niat merusak kehidupan milik putriku!”


Alfio tak bisa membantah ucapan Mami Fhanie. Semua ucapan wanita itu benar. Pria itu hanya bisa menunduk, menyesali kesalahannya dahulu. Sibuk mengejar sesuatu yang tak bisa ia miliki hingga melupakan sesuatu yang lebih berharga untuk ia kejar kala itu.


“Aku bersalah, Bibi. Aku akui itu,” sesalnya.


“Aku tak tahu diri, Bi. Bahkan setelah mengecewakan Tessa, aku masih ingin menghancurkan kebahagiaannya agar aku juga bisa bahagia. Aku egois,” akunya.


Mami Fhanie memalingkan wajahnya. Hatinya sedikit tercubit mendengar ucapan Alfio. Apa aku sudah kelewatan? Batinnya.


Alfio terdiam beberapa saat. “Dan, kebahagiaan itu adalah keluarga kecil mereka. Keluarga tanpa aku ada di sana,” lanjutnya.


Katakan Alfio adalah pria cengeng, ia akan terima itu. Air matanya tak bisa berkompromi. Menggenang di pelupuk mata lalu berlinang begitu saja. Saat menyadari itu, Alfio segera mengusap buliran yang sempat membasahi pipinya. Ia tertawa untuk menutupi jejak kesedihannya.


“Bibi pasti setuju kan? Mereka akan bahagia jika kembali bersama?” tanya Alfio.


Mami Fhanie mengangguk. “Kamu benar. Tapi kamu mungkin lupa, mereka tak berpisah. Tessa hanya memberi suaminya waktu untuk menyelesaikan masalah yang harus diselesaikan,” jelasnya.


“Sampai kapan, Bi?”


Pertanyaan Alfio membungkam Mami Fhanie. Sampai kapan? Dia pun tak dapat pastikan itu. Siapa yang bisa tahu isi hati seseorang. Siapa pula yang bisa mengendalikan hati seseorang. Maka dari itu, pertanyaan Alfio adalah pertanyaan yang akan sulit ditemukan jawabannya.


“Aku percaya pada menantuku. Dia akan menyelesaikan semua dengan cepat,” jawab Mami Fhanie.

__ADS_1


“Tapi tak ada salahnya kita membantunya, Bi,” usul Alfio.


“Siapa yang akan membantunya? Kamu? Kenapa aku tak yakin, ya?” Mami Fhanie menggeleng, jujur saja sulit mempercayai Alfio setelah pengakuan pria itu.


“Bibi, aku berani bersumpah. Sekarang tak ada yang lebih penting bagiku selain kebahagiaan Aya … juga Tessa.”


“Izinkan aku membantu Owen, aku memiliki ide. Tapi, untuk itu aku juga membutuhkan bantuan Bibi,” pintanya.


“Bantuanku?” Pertanyaan Mami Fhanie segera disambut dengan anggukan kepala Alfio yang tampak sangat yakin dengan ide miliknya.


...…...


Sementara itu di rumah sakit, Owen sedang menemui dokter yang baru saja selesai bertugas melakukan operasi pemasangan ring jantung pada Bu Damira.


“Aku akan menyampaikan ini karena sudah kewajibanku memberikan informasi lengkap pada keluarga pasien. Walaupun aku tahu, kamu sudah pasti tahu betul mengenai hal ini,” ucap Dokter itu.


“Operasi berjalan lancar. Namun, perlu dilakukan observasi beberapa hari lagi di rumah sakit sebelum pasien diizinkan untuk pulang,” lanjutnya.


“Tentunya, mulai sekarang banyak hal yang harus diperhatikan oleh pasien dan keluarganya. Pasien harus senantiasa menjaga kondisi tubuhnya. Keluarga juga punya peranan penting untuk ikut serta menjaga dan mengawasi pasien. Pastikan pasien menghindari aktivitas yang berat, menghindari hal-hal yang memicu stres, menjaga pola makan, dan pola hidup sehat lainnya,” jelasnya.


Layaknya keluarga pasien lainnya, Owen mendengarkan dengan cermat setiap perkataan dokter. Sesekali ia mengangguk sebagai tanda jika dia mengerti.


Setelah berbicara dengan dokter, saatnya Owen menemui Ibunya yang masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Ia dan Qanita berjalan beriringan tanpa ada pembicaraan sepatah kata pun. Pikirannya melayang memikirkan keadaan istri dan putrinya.


Peraturan rumah sakit yang tak mengizinkan pendamping pasien masuk ke dalam ruang pemulihan pasca operasi, menghalangi niat Qanita untuk menemui Ibunya. Beruntung Owen adalah salah satu dokter di sana, hingga ia bisa dengan mudah menemui Ibunya.


Qanita setia menanti di depan ruangan. Benar saja, tak lama Owen pun keluar dari sana.


“Bang, bagaimana keadaan, Ibu?” tanyanya.


“Syukurlah, Ibu-“


Owen tak melanjutkan ucapannya saat terdengar seseorang memanggil namanya.

__ADS_1


“Owen.”


...———————...


__ADS_2