
“Pergilah!” ucap Owen seraya menghela napasnya.
Owen pun terpaksa mengalah. Ia tahu bagaimana sifat keras kepala istrinya. Percuma saja jika ia memaksakan kehendaknya, hal itu malah akan membuat Tessa uring-uringan.
“Jika memang itu adalah keinginanmu, maka pergilah!” suruhnya sekali lagi.
Seandainya Owen bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini, maka ia akan memberitahu Tessa. Momen seperti ini telah menghantuinya sejak pertama kali ia mendekap Ayasya. Saat itu adalah kali pertama ia berjanji untuk selalu melindungi putri kecilnya, dari apa pun. Tak akan ia biarkan seseorang pun membawanya jauh dari dirinya. Begitu besar hati Owen yang telah berhasil dimiliki Ayasya, sejak bayi itu pertama kali menatap ke dalam matanya.
Owen tahu jika suatu saat, seorang pria akan datang dan mengaku sebagai ayah kandung Owen. Momen seperti ini yang selalu Owen takutkan. Tapi, ia mengingat kembali janjinya dulu.
Untuk satu hal ini, bolehkah Owen bersikap egois? Pintanya dalam hati.
Genggaman tangan Tessa, membawa Owen kembali dari gejolak pikirannya. “Bang, aku tahu besar kemungkinannya aku tak mampu mengatasi pria itu,” aku Tessa.
“Tapi, kumohon … biarkan aku lakukan satu hal. Biarkan aku melakukan hal paling berani di hidupku, aku akan menghadapinya. Aku tak ingin lari lagi, Bang.”
Tessa mulai terisak, “Aku tahu jika kamu selalu bisa kuandalkan. Maka, saat aku tak sanggup lagi, maukah kamu datang dan membantuku?”
Tangis Tessa pecah. Dalam dekapan Owen, Tessa terus menangis membuat hati Owen makin perih. Pria itu akhirnya mengangguk.
“Ya, tentu saja. Bukankah kita keluarga? Aku rumahmu. Sudah seharusnya kamu kembali ke rumah saat butuh bantuan, bukan? Jangan kamu tanggung sendiri susahmu.”
Ucapan Owen semakin membuat Tessa menangis haru. Beruntung sekali dia memiliki Owen. Entah kebaikan apa yang dulu pernah ia lakukan, hingga Tuhan membiarkan pria setulus Owen yang menjadi pendamping hidupnya.
Owen mengecup kening Tessa. “Kamu akan pergi sendiri menemuinya, atau mau aku antar? Bicaralah dengannya, selesaikan kesalah pahaman kalian.”
“Aku akan pergi sendiri. Aku tak ingin dia bertemu Ayasya dan mengatakan hal yang tidak-tidak. Aya masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan ini,” ujar Tessa.
“Hem, baiklah. Aku dan Aya akan menunggumu di rumah.” Owen kecup kening Tessa cukup lama sebelum ia beranjak, mengambil kunci mobil yang akan digunakan oleh Tessa.
“Hati-hati.”
...…...
Brak!
Pintu ruang kerja Alfio didorong dengan kasar oleh Tessa. “Hei, kau!” teriaknya ketika melihat Alfio menyambutnya dengan senyuman.
__ADS_1
“Wow, kejutan apa ini?!” seru Alfio. “Tessa … Ibu dari anakku datang mengunjungiku.”
Meski mendapat tatapan tajam, tetap saja tak mengurungkan Alfio untuk beranjak dari kursi kebesarannya. Ia hendak menyambut kehadiran Tessa.
Sengaja ia rentangkan tangannya lebar-lebar, berharap Tessa juga menyambutnya. “Aku memang sudah menanti kehadiranmu, sayang,” ucapnya.
“Kamu pasti sudah terima paket yang kukirimkan?”
Belum juga langkah Alfio terhenti, Tessa sudah mundur beberapa langkah. “Stop! Jangan dekat-dekat denganku! Aku tak sudi!”
Kening Alfio mengernyit. “Mengapa, Tes?”
“Kenapa kamu tak ingin berdekatan denganku, sementara akulah yang ayah kandung Ayasya?!” tanya Alfio.
“Ayah Ayasya adalah suamiku! Bagaimana bisa dirimu disebut sebagai ayah jika tak pernah sedetikpun kau bersamanya, hah?!”
Kedua bola mata Alfio membola. Ia menatap Tessa, dari sorot matanya Tessa bisa melihat kekecewaan juga amarah di sana. “Benar. Kau benar, Tessa!”
“Sedetikpun aku tak pernah ada untuk Ayasya,” ungkapnya.
“Tapi, tanyakan pada dirimu, mengapa hal itu bisa terjadi? Siapa penyebabnya, hah?!” Serangan pertanyaan Alfio membungkam Tessa.
“Kamu membuatku menjadi pria paling bej*t, Tes! Saat kamu mengandung darah dagingku, mengapa tak kamu biarkan aku tahu hal itu?!” Alfio menggeram.
“Mengapa kamu meminta pertanggung jawaban pada pria lain?!”
“Jawab aku, Tes. Jawab!” Bentak Alfio.
Tessa tak mampu menjawab ceceran pertanyaan dari Alfio. Tubuhnya mendadak lemas. Luruh, hingga jatuh terduduk ke lantai. “Kau menghakimiku! Kau tak tahu bagaimana hancurnya aku saat itu!”
“Kau tak tahu bagaimana bingungnya saat tahu aku hamil setelah one night stand denganmu?!”
“Sekarang kau menyalahkanku. Kau bertanya mengapa aku tak memberitahumu? Kau pikir, kau di mana saat itu, hah? Kau sibuk mengejar cintamu pada sahabatku !”
“Saat aku butuh pertanggung jawabanmu, kau sudah pasti tak bisa, karena harus mendekam di balik jeruji. Sekarang apa kau masih menyalahkanku, hah?!”
Mendengar semua ungkapan hati Tessa, Alfio mengusap kasar wajahnya. Ya, semua yang dikatakan Tessa benar.
__ADS_1
Dulu, pandangannya hanya tertuju pada satu wanita, dan wanita itu bukan Tessa. Bahkan, saat sadar telah melakukan one night stand dengan Tessa, bukannya memikirkan tanggung jawab, dirinya malah sibuk dengan urusan lain.
Alfio menunduk, ia ingin membantu Tessa berdiri. Namun sayang, lagi-lagi Tessa menolak. Tessa menepis tangan Alfio dan memperingati pria itu agar tak menyentuhnya.
Ingin rasanya Alfio marah, namun, ia urungkan setelah lirih ia mendengar isak tangis Tessa. Walau sudah bertahun-tahun berlalu, sepertinya rasa sakit yang dulu ia alami masih tersimpan di benaknya.
“Baiklah Tessa, maafkan aku. Aku berjanji tak akan menyalahkanmu lagi,” ucap Alfio.
“Seandainya dulu aku tahu jika kamu hamil, aku pasti akan bertanggung jawab. Begitupun sekarang,” lanjutnya.
“Apa maksudmu? Dulu dan sekarang, aku tak butuh tanggung jawabmu!”
“Jangan menolakku, Tessa! Sekeras apa pun usahamu untuk menutupi fakta ini, Ayasya tetaplah anak kandungku. Ayasya adalah darah dagingku,” ujar Alfio.
“Aku tak ingin lagi menyakitimu, Tessa. Kali ini aku akan mengikuti keinginanmu. Katakanlah, akan kulakukan selama kamu tak memintaku untuk menyerah dengan kalian lagi.”
Masih dalam posisi terduduk di lantai, Tessa mengusap bulir air mata di kedua sudut matanya. Akhirnya, ia mengangkat wajahnya hingga berhadapan dengan Alfio. Ia bungkam untuk beberapa saat sembari menatap wajah Alfio. Tessa bisa melihat kesungguhan dan ketulusan dari sorot mata Alfio. Namun, itu saja tak cukup untuk menebus banyak hal yang telah ia lalui bersama Owen.
Seketika Tessa tertawa, membuat Alfio mengernyitkan keningnya. “Kamu sungguh tak ingin menyakitiku lagi?” tanyanya.
“Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?” Tessa bertanya sekali lagi dan dijawab Alfio dengan anggukan kepala.
“Sayangnya, aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Tak ada hal lain yang kuinginkan selain ketenangan dalan hidupku. Jadi kumohon pengertianmu, pergilah!” Pinta Tessa.
Alfio menggeleng, “Tidak, Tessa. Mintalah hal lain,” tolak Alfio.
“Menjauhlah dari kehidupanku dan Aya. Jangan jadikan aku alasan, jika kau tak mampu. Cukup pikirkan Ayasha,” pinta Tessa
“Dia masih terlalu kecil untuk memahami keadaan ini,” imbuh Tessa.
Alfio masih menjawab dengan gelengan kapalanya. “Yang bisa aku janjikan adalah aku tak akan memisahkanmu dengan Ayasya.”
Owen memegang kedua lengan Tessa, berniat membantu agar wanita itu berdiri. Tessa tampak sangat menyedihkan ketika terduduk di lantai seperti saat ini.
“Ayo, kubantu. Bangunlah,” suruh Alfio.
Tessa masih berusaha menghalau tangan Alfio. Namun, Alfio memaksa. Baru saja Tessa ingin berdiri, bunyi memekik pintu yang dibuka dari luar mengejutkan keduanya.
__ADS_1
“Hei! Kau jauhkan tanganmu dari istriku!”
...—————————...