Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 103. Permintaan Alfio


__ADS_3

“Kenapa kau seterkejut itu?” tanya Bu Damira. “Mengapa tak mungkin Aya pulang ke rumahnya?” lanjut Bu Damira semakin membuat Tessa tercengang.


Apa maksud Alfio membawa Aya ke sana? Tessa bertanya dalam hati. Jika mengingat tingkah aneh Owen beberapa hari ini, Tessa bisa menduga jika suaminya itu tentulah terlibat.


“Ti-tidak Bu, hanya saja Alfio berkata akan membawa Aya bertemu dengan Neneknya,” jawab Tessa apa adanya.


“Lalu?”


Tessa bungkam, pertanyaan Ibu mertuanya membingungkan. “Lalu … hem, aku tak menyangka jika dia malah membawa Aya ada ke sana,” lanjut Tessa ragu.


“Salah?!” tanya Bu Damira penuh penekanan.


Tessa gugup, mungkinkah dia baru saja salah bicara. “Tentu saja tidak, Bu.”


“Ya memang enggak salah. Pria itu berkata jujur, dia memang membawa Aya bertemu dengan neneknya,” balas Bu Damira.


“Aku masih neneknya Aya, kan?”


Seketika Tessa membeku. Ingatan akan malam itu kembali terbayang di benaknya. Malam terakhir sebelum ia akhirnya memilih pergi dari rumahnya. Malam di mana Ibu mertuanya mengusirnya. Jelas pula di ingatan Tessa bagaimana Ibu mertuanya menghina dirinya dan juga Aya. Sakit hati Tessa saat terbayang itu semua.


Ingin mendendam, namun Tessa sadar jika itu bukanlah pilihan yang terbaik. Mendendam tak akan menyelesaikan permasalahan. Tessa meyakinkan dirinya untuk tak bersikap egois. Dia harus ingat pada bayi yang masih berada dalam kandungannya. Bukankah setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah?


“Ten-tentu saja, Bu. Ibu akan selalu menjadi nenek yang disayangi oleh cucu-cucu Ibu.” Tessa mengatakan itu dengan ragu. Dalam hati ia berdoa semoga Ibu mertuanya tak hanya akan menerima Aya, tapi juga menerima bayi di dalam rahimnya.


“Semoga saja,” balas Bu Damira lirih namun masih dapat didengar oleh Tessa.


“Baiklah, aku akan mencari boneka lala dulu,” lanjutnya.


“Iya Bu, dan maaf jika Aya sudah rewel dan merepotkan Ibu.”


“Kamu benar, suamimu dan pria itu memang sangat merepotkanku. Seenaknya saja mereka membawa Aya dan mereka pergi begitu saja. Aku tahu mereka memang sengaja!” ucap Bu Damira disusul tawanya.


Tessa terseyum lalu berusaha menahan tangis harunya. Walau terdengar seperti keluhan, namun Tessa tahu Ibu mertuanya itu sedang bercanda. Hal yang tak pernah Ibu mertuanya lakukan sejak pertama kali mereka bertemu.


Panggilan telepon pun akhirnya berakhir. Yang dilakukan Tessa setelah itu tentunya adalah menghubungi sang suami tercinta.


Setelah tiga kali panggilannya tak dijawab oleh Owen, Tessa pun beralih untuk menghubungi Alfio. Sama saja, meski sudah berkali-kali mencoba namun panggilannya tetap tak dijawab sama sekali.


“Jadi, ternyata mereka berdua benar-benar bersekongkol,” gumam Tessa.


“Awas saja!” gumamnya seraya mengetikkan pesan singkat kepada dua pria yang telah berhasil membohonginya.

__ADS_1


...…...


Sementara di Kota P, sesuai janjinya hari ini Owen akan menjadi sopir pribadi Alfio. Tujuan pertama mereka adalah restoran milik Alfio yang saat ini dikelola oleh Roy.


“Kita makan siang di sini saja ya, Bro,” ucap Alfio.


Kening Owen mengernyit. “Bro? Sejak kapan kita menjadi sedekat itu?”


Alfio menepuk lengan Owen cukup keras. “Si*lan! Aku sudah berbaik hati loh merencanakan ini semua. Awas saja jika rencanaku berhasil, aku akan meminta bayaran darimu.”


“Sebutkan saja berapa nominalnya, aku akan membayarmu,” balas Owen disusul tawanya.


“Kau tak akan bisa membayarku. Aku tak butuh uang,” ucap Alfio. “Kau lihat restoran itu, restoran itu hanya seujung kuku dari harta yang kumiliki,” lanjutnya.


Owen menghentikan laju mobilnya dan memarkir di tempat yang telah disediakan. “Aku tak akan iri dengan seluruh harta yang kau miliki. Aku sudah memiliki harta yang lebih berharga dari apa yang kau punya,” balas Owen.


“Aku tahu. Makanya aku tak ingin uangmu.” Alfio dan Owen berjalan beriringan memasuki restoran. Keduanya disambut dengan hormat oleh para pelayan. Mereka pun memilih duduk pada salah satu meja di sudut ruangan.


“Lalu kau mau apa?” tanya Owen.


“Aya. Aku ingin Aya,” jawab Alfio.


Kening Owen mengernyit. “Apa?! Kau gila? Bukankah kita sudah bicarakan semuanya.”


“Aku hanya ingin Aya tahu siapa aku sebenarnya,” lanjut Alfio meminta dengan bersungguh-sungguh.


Owen menghela napas. Bukannya ingin menyembunyikan fakta ini, Owen hanya tak ingin membuat putri kecilnya bingung. Ia pikir saat Aya tumbuh dewasa dan mulai bisa mengerti, dia pasti akan mengungkap semuanya.


“Aku tahu Aya anak yang cerdas, tapi ….” Owen kelihatan sangat ragu.


“Tolong aku Bro, tolong. Hanya itu yang kuinginkan. Aku ingin Aya tahu jika aku juga ayah yang sangat menyayanginya,” pinta Alfio.


Jika sudah seperi ini, Owen tentunya kesulitan untuk menolak. Ia coba mengerti posisi Alfio. Pria itu beberapa kali mencintai wanita dan semuanya tak ada yang berakhir lancar. Satu-satunya cinta yang Alfio bisa dapatkan tulus, ya … tentunya hanya dari Ayasya, putrinya.


Owen akhirnya mengangguk. “Baiklah, aku tak berjanji. Tapi, akan kucoba yang terbaik.”


Membayangkan jika mereka akan mengobrol santai seperti saat ini tak pernah terbayangkan oleh Alfio dan Owen. Keduanya bahkan makan siang bersama sambil mengobrol banyak hal, termasuk soal percintaan juga bisnis tentunya. Keduanya bahkan kompak mengabaikan panggilan Tessa. Walau takut-takut Ibu dari Ayasya itu akan marah, namun demi kelancaran misi mereka terpaksa melakukan itu.


Hingga ponsel Owen berdering, ada panggilan masuk dari rumah sakit. Wajah Owen berubah tegang saat bicara di telepon.


“Aku harus ke rumah sakit. Ini soal Nawra,” ucapnya terburu-buru.

__ADS_1


Tanpa pamit dan penjelasan lebih lanjut, Owen bergegas pergi dari restoran. Ia bahkan tak menghabiskan makan siangnya.


Betapa terkejutnya Owen saat Alfio juga ikut masuk ke dalam mobil. “Kau?”


“Aku ikut. Soal Nawra kan? Aku ingin tahu apa yang terjadi dengannnya,” ucap Alfio.


Owen tak menjawab, ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setibanya di sana, ia bisa melihat Nawra yang duduk dengan pandangan kosong di atas ranjang pasien. Wanita itu sudah berpakaian rapi. Walau terlihat masih lemah, sekilas ia tampak baik-baik saja.


“Oh, kau datang!” seru Ben ketika menyadari kehadiran Owen.


“Kau mau membawanya ke mana?”


“Pulang,” jawab Ben singkat.


“Pulang ke mana? Kau tahu kondisinya belum benar-benar pulih kan?” Sebagai dokter Owen tak akan biarkan pasiennya pergi dalam kondisi seperti itu.


“Aku tahu. Makanya aku ingin membawanya pulang,” jawab Ben masih teguh dengan keputusannya.


“Aku sudah bicara dengan dokter. Kondisi mental Nawra terganggu, kemungkinan dia akan dirujuk ke rumah sakit jiwa. Tentu saja aku tak akan biarkan hal itu terjadi,” jelas Ben.


Ben duduk di sofa, diikuti oleh Owen dan Alfio. “Walau bukan aku yang melakukannya, aku tetap merasa bertanggung jawab atas semua yang menimpa Nawra. Biarlah aku menebus dengan merawatnya hingga sembuh.”


“Aku sudah menyewa perawat yang akan merawatnya di rumahku. Kau tenang saja, aku pasti akan bertanggung jawab padanya,” lanjut Ben.


Owen menatap Ben cukup lama. Ia bisa melihat kesungguhan Ben. “Baiklah, aku percaya padamu.”


Setelah itu Owen dan Alfio pun pergi meninggalkan ruang perawatan Nawra. Alfio mengajukan banyak pertanyaan pada Owen seputar apa yang telah terjadi pada wanita itu. Mendengar cerita Owen, ada rasa iba pada Nawra. Namun, Alfio pikir semua itu adalah peringatan untuk Nawra. Semoga, wanita itu bisa sadar dan berhenti berbuat jahat.


Selagi di rumah sakit, Owen menyempatkan untuk memeriksa beberapa pasiennya sementara Alfio setia menunggu di kedai kopi kecil yang ada di lobi rumah sakit. Hari ini cukup melelahkan bagi kedunya. Hingga hari semakin sore, sudah waktunya mereka kembali ke rumah.


Padatnya jalan raya menghambat perjalanan pulang kedua pria itu. Selama perjalanan, mereka mengobrol banyak hal. Alfio banyak bertanya seputar Aya. Bagaimana tumbuh kembang Aya sejak bayi hingga dia sebesar ini dan menjadi gadis kecil yang pandai dan menggemaskan.


Langit yang awalnya biru terang, berubah warna menjadi jingga yang mampu menghangatkan hati siapa saja yang melihatnya. Bertepatan dengan itu, mobil Owen pun mulai memasuki car port di rumahnya.


Pintu rumah tak terkunci, saat baru masuk Owen dan Alfio bisa mendengar suara cekikikan Aya hingga membuat keduanya tersenyum.


“Aya … Ayah pulang,” teriak Owen.


“Oh baguslah, kalian sudah pulang rupanya?”


Alfio dan Owen terbelalak. Keduanya menelan saliva bersamaan.

__ADS_1


“Kenapa? Terkejut?”


...—————————...


__ADS_2