
“Pergi!!!”
“Jangan pernah tampakkan wajahmu di hadapanku!”
Tessa tak bisa lagi menahan untuk tak berteriak. Lelah … tidak hanya tubuhnya tapi benaknya pun penat memikirkan masalah bersama Alfio.
Seandainya tak mengingat jika kini dia sedang mengandung, Tessa tak akan ragu untuk mendorong tubuh pria di hadapannya dengan segenap kekuatan yang ia punya. Tak sudi rasanya membiarkan Alfio menginjakkan kaki di rumahnya.
“Dan kau, Nawra! Apa sih maumu? Jangan terlalu murahan sebagai wanita! Apa kau tak malu terus menerus mengejar suami orang?! Kau cantik, tapi kelakuanmu ….”
Akhirnya, Tessa memandang Nawra dengan tatapan meremehkan. Setelah menikah, terlebih setelah memiliki Aya, Tessa sudah berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih sabar. Ia selalu berusaha untuk mencegah mulutnya untuk tak berkata kasar atau menghina lagi. Ia tak ingin perbuatannya sekarang, suatu saat nanti akan berbalik pada putrinya.
“Apa katamu?! Aku wanita murahan?!” Nawra pun tak terima dengan ucapan Tessa. Kedua tangannya berkacak di pinggang, seolah ia sedang menantang si empunya rumah.
“Lalu, apa sebutannya jika bukan wanita murahan. Apa perlu kuperjelas lagi? Kamu pasti sengaja kan membawa dia ke sini?!” Jari telunjuk Tessa mengarah pada Alfio.
“Kalian berdua sengaja kan? Kalian bersekongkol kan?”
Teriakan demi teriakan Tessa akhirnya terdengar oleh Mami Fhanie. Takut sesuatu yang buruk sedang terjadi di luar, ia pun menyusul Tessa.
“Tessa, siapa yang datang, Nak?” Kening Mami Fhanie mengernyit saat merasakan ketegangan di depan matanya.
“Keputusan ada padamu, Tessa. Silakan bersikap keras kepala dan Ibumu, juga semua orang akan tahu,” Alfio berucap lirih. Tanpa perlu penjelasan, hanya dengan lirikan mata Alfio pada Mami Fhanie lalu pada Nawra, Tessa sudah bisa mengerti maksud pria itu.
Usapan lembut tangan sang Ibu di punggungnya, mampu menenangkan Tessa. Ia menarik napas agar dadanya tak sesak, memejamkan kedua netranya sesaat untuk menahan emosinya yang membuncah.
“Loh, ada tamu. Kenapa enggak diajak masuk, Tes?”
“Mereka datang hanya menyapa, sekarang sudah mau per-“ ucapan Tessa menggantung sebab di sela Alfio.
“Mungkin Tessa sangat terkejut hingga lupa mengajak kami masuk. Maklum, sudah bertahun-tahun kami baru ketemu,” jelas Alfio membual tanpa diminta. Tessa melotot saat Nawra menahan senyum karena merasa menang. Sedang Alfio hanya mengedikkan bahunya.
“Benarkah? Berarti kalian teman lama dong. Kamu berasal dari Kota P juga?” Mami Fhani mencoba menebak, dan dijawab Alfio dengan anggukan.
__ADS_1
“Ya sudah, ngobrol di dalam saja. Ajakin masuk dong, Tes!”
Tessa mengangguk dan memaksakan senyumnya. Kakinya terasa sangat berat meski hanya untuk menggeser sedikit tubuhnya. Dengan berat hati Tessa membuka pintu lebih lebar. Mempersilakan dua tamu yang tak diharapkan kedatangannya, masuk ke dalam rumah.
Tak ingin Ibunya curiga, Tessa terpaksa menyuguhkan minuman untuk keduanya. Tak henti pula Tessa mengirimkan pesan pada Owen, memberitahu suaminya jika mereka kedatangan tamu yang tak diundang.
Setelah Alfio memperkenalkan diri, Mami Fhanie mulai membuka obrolan. “Apa kamu sudah kenal lama dengan putri saya?” tanya Mami Fhanie pada Alfio. “Rasa-rasanya wajahmu tak asing. Seperti aku pernah melihatnya ….”
“Entahlah, Tante. Walau kami sudah kenal lama bahkan hubungan kami cukup dekat, tapi, aku belum pernah dikenalkan dengan keluarganya,” jawab Alfio berlebihan.
Wajah Tessa sudah merah padam. Ingin rasanya ia membungkam mulut Alfio dengan nampan di pangkuannya. Apa-apaan dia?! Selain saat one night stand si*l*n itu, sejak kapan aku dekat dengannya!
Tessa berhenti memelototi Alfio saat ia merasa seperti sedang di awasi seseorang. Benar saja, Mami Fhanie kini menatap dirinya dan Alfio secara bergantian. Tatapan Mami Fhanie seolah bertanya mengenai sedekat apa hubungan keduanya hingga Alfio merasa perlu dikenalkan dengan keluarga Tessa.
“Lalu, apa dia kekasihmu?” Mami Fhani menggantungkan ucapannya. “Kamu … kamu wanita yang waktu itu kan? Wanita yang di rumah sakit. Saat Aya sakit?!”
Pertanyaan Mami Fhanie membuat Tessa, Alfio, dan Nawra saling pandang. Ya, Mami Fhanie ingat sekarang. Walaupun Nawra sudah mengubah model dan warna rambutnya, namun wajah menyebalkan itu tak bisa Mami Fhanie lupakan dengan mudah.
“I-iya, Tante,” jawab Nawra terbata-bata.
“Sebenarnya, kami baru saja kenal. Aku mampir ke toko kuenya untuk menanyakan alamat Tessa. Lalu, nona Nawra menawarkan untuk mengantar ke sini,” jelas Alfio.
Tessa berdecak. Gil*! Pria ini memang jago berbohong!
Tak berselang berapa lama, dari jendela mereka bisa melihat mobil milik Owen tampak memasuki carpot. Tessa semakin gugup, dia sudah memberitahu Owen mengenai kedatangan Alfio dan Nawra.
Sempat terpikir untuk meminta Owen berlama-lama di luar, dan kembali setelah Alfio dan Nawra pergi. Tapi, Tessa tak berani melakukannya. Kali ini ia membiarkan Owen memutuskan. Harus bagaimana mereka menghadapi Alfio. Ia akan mempercayakan keputusannya pada Owen. Tapi tetap saja, dia merasa gugup saat tahu Alfio akan kembali bertemu dengan Ayasya.
Awas saja jika mulut embernya bicara sembarangan di depan Ayasya. Kupastikan kali ini aku tak akan menahan diri, untuk tak memulul wajahnya dengan nampan ini!
Dengan Aya di gendongannya, Owen masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam. “Oh, rumah ramai, ya!” serunya.
“Owen sudah mengenal Alfio?” tanya Mami Fhanie.
__ADS_1
“Ya, kami sudah beberapa kali bertemu.”
Tessa menatap suaminya penuh tanda tanya. Ia meminta penjelasan atas jawaban suaminya barusan. “Benar kan? Kita bertemu beberapa kali saat masih di Kota P. Lalu, kita bertemu lagi di sini.”
Owen tak menurunkan Ayasya dari gendongannya. Bahkan saat dia ikut duduk di sofa, Aya tetap berada dalam pangkuannya. “Kami bertemu di rumah Mami, ketika Papi Stephen-“
Mami menyela ucapan menantunya, saat ia mengingat sesuatu hal tentang Alfio. “Oh ya, Mami ingat sekarang. Benar kata Owen, kamu yang datang mengunjungi Sea di rumah kami, benar kan?”
“Ayah, boleh makan es krimnya sekarang?” tanya Aya polos di tengah perbincangan.
Benar juga. Tak suka dengan kehadiran Alfio dan Nawra di rumahnya, Owen jadi melupakan es krim yang dia beli bersama Ayasya.
“Aya makan malam dulu, ya. Setelah itu baru boleh makan es krim,” jawab Owen.
“Aya makan ditemani Oma, ya. Ayah dan Bunda sedang ada tamu,” lanjutnya. Sayangnya, Aya menggeleng.
“Ya sudah. Alfio dan kamu, ikut makan malam saja di sini. Kebetulan tadi Mami dan Tessa memasak cukup banyak,” usul Mami Fhanie. Dalam hatinya, ia hanya ingin menawarkan makan malam pada Alfio saja. Mami Fhanie tak suka dengan kehadiran Nawra. Namun, apa daya. Rasanya tak mungkin jika dia melakukan hal itu.
Belum juga Tessa dan Owen setuju, Alfio sudah berterima kasih dengan tak tahu malunya. Tak ingin terlihat mencurigakan, terpaksa suami istri itu setuju.
Makan malam kali ini, hanya diisi dengan celoteh Aya saat menjawab banyak pertanyaan dari Alfio. Jelas sekali jika Alfio memanfaatkan makan malam kali ini untuk mengenal lebih jauh putrinya.
Tak lama setelah makan malam, Alfio dan Nawra pun pamit. Sebelum pulang, Alfio masih sempatnya meluncurkan serangannya lagi.
“Terima kasih atas makan malamnya,” ucapnya dengan riang.
“Sebagai ucapan terima kasihku, aku mengundang kalian untuk makan malam di restoranku besok,” lanjutnya.
“Maaf, kami sibuk!” jawab Tessa tanpa menatap Alfio.
“Sayang sekali kalau begitu. Padahal aku punya sesuatu yang ingin sekali kutunjukkan pada kalian berdua. Aku yakin kalian akan suka.”
“Terutama untuk kamu, Tessa!”
__ADS_1
...———————...