
"Siapa pelakunya?
"Iya benar, katakan. Jangan berpura-pura bisu begitu! (tegas)
Entah mengapa tiba-tiba mulut pembunuh bayaran itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata layaknya gembok yang terkunci rapat tanpa suara selain kode tangan yang mengatakan ia tidak berbohong tentang keadaannya saat itu.
"Hei apakah kau ingin disiksa lebih keras baru ingin berhenti pura-pura hah?
"Prajurit!
"Baik panglima!
"Aku tidak tahu hukuman yang pantas untuk penjahat sepertimu tapi yang pasti kau akan memperoleh hukuman yang setimpal jadi bersiaplah!
[Di dalam Penjara Bawah Tanah]
Setelah Panglima keluar, Ibu kerajaan pun masuk dan memerintahkan semua penjaga keluar.
"Heh..., aku tahu kau pasti sangat heran kenapa mulutmu tiba-tiba tidak bisa bicara bukan? Yah..., tidak usah menduga begitu karena kau sudah tahu siapa orangnya! kau ingat makanan yang kau makan barusan? aku telah menambahkan ramuan di dalamnya, agar kau tidak dapat mengatakan apapun! Tapi kau tenang saja, karena hidupmu akan berakhir setelah ini. Namun, kali ini bukan aku yang akan melakukannya.
[Keesokan Harinya-Di Ruang Sidang]
"Yang Mulia, dia sudah mengakui bahwa orangnya ada di dalam istana ini dan kemungkinan yang ia maksud itu adalah orang yang dekat dengan kita!
"Ayo masuk! (tegas Prajurit)
"Katakan dengan sejujurnya wahai penjahat, siapa yang memerintahkanmu untuk kemari!
"Lagi...lagi dia berpura-pura bisu! (kata para Pengawal sambil menghukum cambuk si penjahat)
Melihat sikap Penjahat yang tidak kunjung memberitahunya membuat Pangeran marah dan hampir menyerangnya.
"Tenanglah Pangeran! (kata penasehat)
"Hahaha...., kalian semua akan mati hahaha...., tunggu....itu...aku...bukan aku yang mengatakannya!
"Apa maksudmu, kau mencoba bermain-main dengan kami hah!
"Hahaha...., matilah kalian semua! dia...dia telah mengendalikanku...
"Dia siapa maksudmu hah? Cepat katakan dengan jelas (tegas Panglima sambil mencambuk)
"Penyihir...cepat lakukan sesuatu atau semuanya akan terbongkar! (kata Moorim, berbisik)
"Kau tenang saja, aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan! jadi kau diam dan lihat.
Seperti orang kerasukan namun sebenarnya dia telah terpengaruh mantra dari penyihir. Sehingga seketika ia menarik sebuah pedang dari salah satu prajurit dalam sidang kerajaan tersebut dan tanpa di duga ia menusuk dirinya sendiri.
"Apa-apaan ini! Mengapa sekarang dia mencoba mengakhiri dirinya? (kata Pangeran Zen)
"Cepat panggil tabib!
__ADS_1
Setelah tabib datang dan melaksanakan tugasnya dan menyatakan bahwa si penjahat itu sudah tiada membuat perasaannya campur aduk.
"Apa yang tabib katakan? dia tidak boleh mati dengan mudahnya setelah semua yang ia dilakukan seperti ini. Hei bangunlah! Aku tahu kau sedang berbohong, bangun dan cepat katakan yang sebenarnya. Kau masih harus menerima hukuman dari ku...karena kalian aku kehilangan sahabat baikku...(kata Pangeran dengan cara kasar kepada tubuh si Penjahat yang sudah terbaring kaku)
"Hentikanlah Pangeran, tidak ada gunanya! dia sudah meninggal dunia.
"Tidak....(teriak Pangeran lalu pergi dari persidangan begitu saja)
Masa-masa remaja adalah masa dimana cinta mulai bersemi. Namun, kini Pangeran merasakan hal yang lebih buruk dari masa kanak-kanaknya yaitu kehilangan Sahabat sekaligus cinta pertamanya.
[Beberapa tahun pun berlalu, Pangeran sudah Dewasa]
"Aku sudah mengatakan kepadamu, aku tak akan menikahi siapapun jika itu bukan kau. Ella! (kata Pangeran sambil memegang gelang pemberian Ella di taman)
Untuk kedua kalinya Pangeran merasa kehilangan wanita yang ia sayangi setelah Ratu Rubi, kini Ella yang sudah menjadi bagian hidupnya itu pun juga telah pergi. Rasanya luka lama kembali dan menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Namun, demi mewujudkan keinginan terakhir Ella ia berusaha bangkit meski sikapnya tidak akan sama lagi.
Banyak hari yang ia lalui dengan berat tapi seiring berjalannya waktu ia mula berlatih dengan sangat keras agar menjadi lebih kuat untuk melindungi dan menjaga perdamaian dunia. Hingga tak terasa ia sudah menjadi dewasa dan memutuskan untuk menjadi Panglima perang menggantikan Panglima sebelumnya yang sudah pensiun karena usia.
[Di Ruangan Raja]
"Ayah tahu, tapi apakah kamu yakin tidak ingin menggantikan posisi Ayah dan lebih memilih menggantikan posisi Panglima?
"Iya Ayah, aku yakin!
"Ayah mengerti, ini semua karena janjimu pada Ella. Tapi ingatlah Nak, cepat atau lambat kau tetap harus menggantikan posisi Ayah sebagai Raja!
"Aku mengerti Ayah! Tapi untuk sekarang aku tidak ingin terburu-buru.
[Di Taman Kerajaan]
"Ella..., aku sekarang telah menepati janjiku. Aku sudah berlatih dengan keras dan menjadi kuat. Sekarang giliranmu menepati janji untuk tetap bersama dan menegakkan perdamaian dunia! (kata pangeran sambil tersenyum memegang gelang Ella)
[Dari kejauhan]
"Kasihan sekali Pangeran Zen, dia masih belum bisa menerima kepergian sahabatnya itu!
"Iya, sepertinya dia masih berharap kalau cinta pertamanya itu masih hidup dan akan datang menemuinya. Haah..., sungguh cinta pertama memang yang paling indah!
"Benar, aku harap bisa menemukan pria yang setia seperti Pangeran Zen!
"Apa kau bercanda!
"Maksudku, aku harap pangeran bisa menemukan cintanya lagi!
"Iya, aku juga!
"Hei! kalian bukannya bekerja malah bergosip disini.
"Yang Mulia Ratu! Maaf kan kami...
__ADS_1
"Sudah, sekarang kalian kembali bekerja!
"Baik Ratu!
"Zen..., kau ternyata disini!
"Ibu...
"Aku dengar kau memilih untuk menggantikan Panglima? mengapa?
"Ibu tidak usah berpura-pura seperti itu, aku tahu Ibu senang karena aku tidak memilih menggantikan posisi ayahku bukan?
"Kau ini, sejak Ella meninggal kau terlihat tidak menyukai Ibu!
"Bukankah Ibu sangat menginginkan kekayaan ayahku ya?
"Maksudnya?
"Ibu tidak usah berpura-pura lagi padaku, aku sudah mendengar pembicaraan Ibu waktu itu!
"Gawat! jangan-jangan ia sudah tahu siasatku selama ini bersama penyihir (gumam Ratu). Kau ini bercanda, mana mungkin Ibu mengiginkannya?
"Ibu tidak usah khawatir, aku tidak akan mengatakan ini kepada Ayah kalau Ibu sebenarnya sangat membenciku dan lebih menyayangi Jozen dan Rollen itu sebabnya Ibu sangat ingin mereka berdua yang mewarisi tahta Kerajaan!
"Huff..., untunglah! aku kira dia sudah sadar (gumamnya). Hmm..., iya Ibu mengakuinya sekarang tapi percayalah, Ibu benar-benar menyanyangi ayahmu!
"Yah setidaknya Ibu benar-benar masih tulus mencintai ayahku itu sudah cukup bagiku!
"Lalu, bagaimana denganmu? apakah kamu masih percaya bahwa temanmu itu akan hidup kembali dan menepati janjinya, begitu!
"Yah setidaknya hatiku masih yakin kalau itu akan terjadi!
"Bahkan setelah kamu melihat mayat tubuhnya di depan matamu sendiri?
"Entahlah, aku hanya masih ragu kalau itu benar-benar dia!
"Terserah kau saja!
"Ella tidak pernah berani mengutarakan perasaannya padaku meski aku tahu dia juga menyukaiku. Namun saat ia mengatakan kalau dia mencintaiku, rasanya itu bukan dia yang sesungguhnya. Bahkan saat itu dia memandangku dengan rasa takut, aku juga bisa merasakan itu dari aura tubuhnya (gumam Zen dalam pikirannya)
[Di Luar Pintu Istana]
"Hei Ibu! Aku sudah pulang!
"Jozen! Ada apa ini?
"Ibu! kakak sepertinya mabuk karena minum!
"Apa? Cepat bawa dia ke kamarnya!
"Baik Bu'!
__ADS_1