Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 68


__ADS_3

“Apa...tidak!” ucap Moorim. “


“Yang Mulia tolong ijinkan saya untuk menjadi pelayan Pangeran selama dikarantina!” ucap Bella kepada Raja.


“Apa kau yakin Nak! Uhuk...uhuk...


“Baiklah kau boleh ikut!” ucap Ibu Ratu.


“Tapi...” ucap Moorim.


“Tapi statusmu sebagai tamu terhormat kami akan dihapus. Bagaimana?!”


“Maaf Yang Mulia tapi...!”


“Panglima Ran...yang aku tanya adalah Bella, sesuai dengan peraturan istana kami apa kau menerimanya?!” ucap Penyihir.


“Tidak apa Ran..., Baiklah aku menerimanya!”


“Baiklah...kalau begitu ikutlah dengan kami!” ucap Penyihir mengajak.


“Apa yang dipikirkan Penyihir, seharusnya ia mencegahnya!?” gumam Moorim.


“Ratu...tolong bawa aku ke kamar Jozen, aku harus berbicara denganya soal kejadian ini!” pinta Raja.


“Ah baik Rajaku...!” kemudian masuk ke dalam istana diikuti oleh Rollen.


“Bella...jaga dirimu!” gumam Ran cemas mengiringi kepergian gadis itu.


[Dikamar Jozen]


“Apa! Uhuk...uhuk...


“Rajaku...” ucap Moorim. “Jozen...sebenarnya apa alasan Putri Beauty melakukan ini padamu Nak?” ucap Moorim.


“Dia tidak terima Ibu, karena adiknya kalah dan dihukum!” bohongnya Jozen.


“Jadi begitu...heh. Memang kakak dan adik sama saja!” ucap Moorim. “Inilah sebabnya kenapa kita harus tetap berhati-hati dengan akal busuk orang luar...dan sekarang lihatlah dia pergi setelah melukai Penerus kerajaan. Benar-benar tidak tahu diri!” tambahnya marah.


“Sudah...sudah, setidaknya Jozen tidak apa-apa. Kita akan membicarakan ini dengan kerajaan selatan!” kata Raja berpikir dingin.


“Yah kalau perlu...kita cabut saja kerjasama antara kerajaan kita dengan kerajaan selatan itu...sungguh membuat malu!” ucap Rollen.


[Situasi Bella]


Bella yang cukup kecewa dan juga sedih itu tidak bisa menahan tangisnya, ia pergi ke sisi tebing dan meluapkan emosinya disana.


“Haaa....! teriaknya dengan pantulan suara yang bergema. “Kenapa Pangeran...kenapa kau tidak mempercayaiku padahal aku sangat...sangat mencintainya hiks...”


Sungguh hal yang menyedihkan untuk ia pikirkan, Bella kini harus menjadi kuat dan menerima semuanya. Ia pun kembali ke istana selatan dan menjelaskan semuanya kepada orangtuanya, meski ia tahu tidak akan mudah untuk ia ceritakan karena akan mengecewakan mereka. Namun, kasih sayang kedua orangtua mereka lebih besar dan bahkan kedua orang tua Beauty itu bangga kepada kedua anak gadisnya yang sudah berjuang melawan keadilan meski sekarang hubungan dua kerajaan itu akan putus setelah kejadian ini.


Dan begitulah, semenjak itu. Beauty dan Leona tidak pernah berkunjung lagi setelah perwakilan kerajaan Zuma datang dan memberikan klarifikasi mengenai hubungan diantara kerajaan kedepannya. Ia juga sempat menitip maaf kepada perwakilan Raja Zedan itu.


[Dua hari kemudian]

__ADS_1


“Pangeran Jozen masih belum berubah, sepertinya kutukannya menjadi permanen sekarang!” gumam Bella. “Pangeran sebaiknya kau makanlah dulu...!” ucap Bella.


“Maafkan aku..., karena menyusahkanmu Putri bahkan kau sampai harus...!” ucap Zen.


“Kau tidak perlu meminta maaf Pangeran, anggap saja ini balas budiku kepadamu!” ucap Bella tulus.


“Hmm...terimakasih, ahh....!”


“Pangeran apa kau tidak apa-apa?” ucap Bella.


“Grr...auu....! Lolongan itu beserta tatapanya membuat Bella mengerti sekarang. Pangeran masih teringat dengan Beauty. “Kenapa...kenapa kau melakukan ini padaku...aarrr...” meronta didalam kurungan besi itu dengan kaki dan tangan diikat dengan rantai baja.


Melihat Pangeran Zen memberontak lagi, Pengawal langsung membius Pangeran lagi dan membuat Pangeran seketika tak sadarkan diri.


“Hei...apa yang kalian lakukan!” ucap Bella.


“Maaf Putri, sesuai perintah kami harus melakukannya setiap Pangeran memberontak!”. Jawab seorang Pengawal.


“Iya tapi jika seperti itu terus caranya. Bagaimana Pangeran bisa pulih?!” ucap Bella dan membungkam mulut Pengawal itu. “Apa karena Pangeran Zen sekarang adalah monster jadi kalian memperlakukannya seperti hewan buas juga?!” tambahnya emosi.


“Tidak Putri...maafkan atas perilaku kami. Kami hanya mengikuti perintah Ibu Ratu!”. Jawabnya berlutut.


“Ibu Ratu...aku mulai curiga dengan orang itu!” gumamnya. “Ya sudah, aku hanya mencoba membuat Pangeran pulih disini jadi tolong jangan lakukan itu lagi kalian juga tidak mau kan Pangeran terus-terusan seoerti ini?!” ucapnya.


“Baik Putri...sekali lagi maafkan kami!” ucap Pengawal itu lalu pergi.


“Pangeran...apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?!” gumam Beauty.


“Hei...siapa kau. Apa yang kau lakukan disini hah?! Ucap dari kejauhan seorang Prajurit itu.


“Tidak bisa...apa kau tahu ini daerah berbahaya. Kembalilah sebelum kami mengusirmu dengan cara paksa!”


“Saya Mohon, ini sangat penting...”


“Ada apa lagi ini Pengawal?! ucap Bella.


“Ini Putri, seorang wanita hamil memaksa untuk masuk. Katanya ia ingin bertemu denganmu!” jawab Prajurit itu.


“Kau...” ucap Bella terkejut melihat Julia. “Aku mengenalnya...biarkan dia lewat...!”


“Baik...!” ucapnya Pengawal.


“Sekarang apa yang ingin kau bicarakan hingga nekat masuk kedalam hutan larangan ini?!” ucapnya Bella.


“Sebenarnya saya ingin mengatakan kebenaran yang saya tutupi kemari kepada Pangeran Zen!” kata Julia.


“Kebenaran apa lagi yang ingin kau katakan Nona?!” ucap Zen dengan nada tak stabil.


Dengus nafas Zen terdengar tersadar. Sepertinya efek kerja bius lebih lemah terhadap kekebalan tubuh Pangeran Zen saat berubah, sehingga tak heran ia bisa lebih cepat pulih.


“Pangeran...Pangeran syukurlah kau sudah sadar!” ucap Bella.


“Bukankah kau bilang tidak memiliki masalah apapun dengan anggota kerajaan kami?!” ucapnya berusaha bangkit.

__ADS_1


“Maafkan saya Pangeran...saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi selain menuruti keinginan mereka saat itu!” ucap Julia.


“Nona...bisakah kau mengatakannya lebih jelas lagi. Kami bahkan tidak tahu apa yang sedang coba kau ungkapkan ini! Mereka...mereka siapa maksudmu?!”


“Iya...sebenarnya saya telah berbohong dengan mengatakan Pangeran bersaudara tidak bertanggung jawab atas kehamilan saya ini!”


Julia kemudian menceritakan kebenarannya dengan jelas dan detail, Pangeran benar-benar tidak menduganya. Marah dan juga rasa bersalah kini bercampur aduk dihati Pangeran.


“Jadi yang dikatakan Leona kemarin itu benar!” kata Bella memastikan.


“Hmm...” angguknya. “Sekali lagi maafkan aku Pangeran...aku benar-benar menyesal tidak mengatakannya saat itu!” tambahnya.


“Kau tidak perlu meminta maaf, aku juga bersalah. Putri Beauty juga sudah memberitahuku tapi aku tidak mempercayainya...sekarang dia pasti tidak akan memaafkanku!” ucapnya.


“Pangeran...”


“Ahh...!” kesakitan Julia sambil memegang perutnya.


“Ada apa...?!


“Perutku sakit..uh...sepertinya...aku...aku akan melahirkan!”


“Benarkah...kalau begitu kau harus secepatnya mendapat pertolongan. Pengawal tolong kau bawa Nona ini ke rumah persalinan terdekat sini, dia akan segera melahirkan...cepatlah!”


“Baik Putri...hei kalian tolong bantu aku!” panggil beberapa temannya yang lain.


“Pastikan mereka aman sampai melahirkan ya!” peringatnya. “Huff...


[kerajaan Zuma]


“Kau tenang saja Ratu. Aku punya rencana lain untuk itu!” ucap Penyihir. “Lagipula, Jozen akan semakin dekat dengan tujuannya sekarang bukan?!”


“Iya tapi...”


“Sekarang untuk menyelesaikannya bagaimana kalau kita sedikit nekat saja? Ucapnya.


“Apa maksudmu!?”


“Yah...kemarilah!” kemudian membisikkan rencana pembunuhan untuk Raja Zedan yang sebenarnya sudah kurang sehat itu akibat usia.


“Plak...seketika tamparan pun mendarat ke pipi Penyihir. “Beraninya kau merencanakan itu, apa kau sudah lupa kalau kau disini karena siapa?


....Bersambung....


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas:)


__ADS_2