Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 63


__ADS_3

Pangeran pun mengajak Putri Beauty berjalan-jalan ke ladang para pertani setempat, Beauty cukup senang karena bisa lebih dekat dengan Pangeran meski hanya sebatas sahabat.


“Nah ini dia ladang kami!”


“Wah...indah sekali...” ucap Beauty kemudian melihat buah-buahan segar. “Subur...tidak heran pedagang minumannya segar-segar!”


“Benar...itu karena tanah tersubur kami ada di dataran tinggi sehingga kita tidak hanya menikmati buah dan sayur segar namun juga karena pemandangannya!”


“Hah...benar...udaranya juga tetap sejuk meski sudah siang hari. Rasanya tidak bosan jika seperti ini...!


“Baiklah karena kita sudah ada disini...bagaimana kalau kita sedikit memetik sebelum pulang!”


“Benarkah...apa boleh?


“Hahaha...tentu saja, aku juga harus makan yang sehat. Sekalian membawa stok untuk makan malam hari ini!”


Mereka pun sangan menikmati aktivitas berkebun mereka bersama beberapa petani yang kebetulan memang sedang memanen, tidak lupa momen romantis ketika Beauty sedikit kelilipan.


“Ah...aww...!”


“Eh...ada apa?


“Ini...mataku sepertinya kemasukan sesuatu. Aduh...!”


“Benarkah...coba ku lihat?!” ucap Pangeran lalu meniup mata Beauty.


Mereka berdua sedikit lebih dekat lagi dan beberapa detik saling mentap sebelum akhirnya Beauty sedikit berjauh setelah tersadar.


“Ada apa ini...kenapa hatiku berdebar seperti ini, ini tidak seperti biasanya. Hm...apa ini efek pemulihan obatnya?!” gumam Pangeran.


“Aku baru sadar kalau Pangeran sangat tampan dari sini” gumamnya kemudian wajahnya memerah.


“Eh...m...terimakasih...mataku tidak apa-apa sekarang hehehe...” ucapnya lalu berlalu.


“Hmm...apa dia barusan marah sampai wajahnya memerah?” ucapnya dalam batin lalu menyusul Beauty yang sudah jauh didepan. “Eh...Putri tunggu!” panggilnya. “Hei...apakah kau marah padaku? Kata Pangeran sambil mengimbangi langkah Beauty.


“Marah karena apa? Ucapnya tanpa menatap mata Zen.


“Lalu kenapa kau menghindariku tadi?


“Aku kan bilang, mataku sudah tidak apa-apa!


“Kalau begitu coba tatap aku...!”


“Kenapa dengan matamu, sakit juga?!”


“Tidak...tapi!” kemudian menarik lengan Beauty.


Beauty yang sambil membawa keranjang buah dan sayur itu, hanya terdiam melotot melihat Zen yang matanya sedang memandang seakan sedang memeriksa sesuatu. Beberapa kali Beauty mengalihkan matanya agar tidak terlihat gugup meski hatinya sekarang hampir mau copot karenanya.


“Pangeran kau...apa yang...!”


Belum selesai cerita, Pangeran pun menempelkan telapak tangannya ke dahi Beauty yang menurutnya sangat tegang dan setelah membandingkan suhu tubuh Pangeran pun berkata.


“Pantas saja wajahmu memerah, kau demam ya?”


“Hah...demam? ucapnya langsung memeriksa dirinya dan melepaskan keranjang ditangannya dan jatuh gepat diatas kaki Pangeran.


“Ah...!” ucap Pangeran terdengar kesakitan.


“Pangeran kau tidak apa-apa...ya ampun maaf...aku...aku tidak...!”


“Hahahaha....!” ucap Pangeran tertawa.

__ADS_1


“Kenapa kau tertawa...?


“Tidak...hanya saja aku suka dengan ekspresimu yang ketakutan itu...!”


“Apa...jadi kau..., Hmm...!” ucapnya langsung bangkit dan memalingkan wajah jengkelnya.


“Hehehe...kau pikir segampang itu aku kesakitan, lihatlah sepatu khusus ini dirancang agar tahan banting jadi aman...!” ucapnya masih sedikit terkekeh.


“Dia tertawa barusan karena aku...? gumamnya. “Lain kali jangan bermain-main denganku, karena aku tidak suka!” ucapnya.


“Iya...iya maaf” kemudian bangkit, “ Tapi aku serius kamu sedang demam!”


“Huff itu bukan demam tapi itu suhu tubuhku yang meningkat gara-gara kau Pangeran...! gumamnya. “Tidak...aku merasa baik-baik saja tidak perlu pedulikan aku...!” ungkapnya.


“Hmm...keras kepala, bagaimana bisa aku tidak peduli dengan sahabatku. Ayo kita kembali ke istana dan beristirahat!” ucapnya lalu mengambil keranjang tadi.


“Eh...biar aku saja...!”


Pangeran pun mendahului Beauty, sedangkan Beauty masih dengan bibir sedikit tertekuk dibelakang sambil memeriksa suhu tubuhnya sendiri. Dan sesampainya di istana, Pangeran pun meminta Tabib untuk merawat Beauty. Beauty sudah malas berdebat jadi dia hanya mengikut saja.


Disisi lainnya, Leona memutuskan untuk memata-matai Pangeran bersaudara itu seorang diri. Sedangkan Ran tengah memeriksa setiap sudut tempat kejadian perkara sesuai perintah Zen.


“Hmm...tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan. Sepertinya hari ini memang tidak harus membongkarnya!” ucapnya lalu pergi.


Leona pun lekas mengunjungi rumah penampungan untuk mengecek keadaan Julia, yang mana Julia tengah membantu membersihkan kamar tidur setiap orang meski sempat disarankan untuk istirahat lebih banyak, ia tetap ingin membantu dengan alasan agar lebih sehat dan aktif.


“Tidak...tidak apa Putri...lagipula aku juga ingin membantu. Tidak enak juga jika menumpang dan tidak melaukan apapun yah setidaknya aku bisa lebih sehat dengan bekerja!”


“Hmm...ya sudah kak, hanya saja jangan melakukan pekerjaan yang berat!”


“Iya tahu...aku akan lebih sering beristirahat. Hm...jadi bagaimana rencana hari ini? Ucap Julia.


“Soal itu...kami memutuskan untuk menundanya!”


“Benar, karena Panglima sibuk dengan tugasnya jadi kita terpaksa menundanya hari ini tapi kakak tenang saja, kami berjanji setelah itu. Kita akan membongkar semua kebusukan Pangeran itu...!”


“Hmm...terimakasih karena sudah mau peduli kepada kami” ucapnya sambil mengelus perut buncitnya. “Aku tidak tahu bagaimana lagi jika bukan karena bantuan kalian...!” tambahnya.


“Sama-sama kak, hal ini memang seharusnya kami lakukan apalagi ini menyangkut hak dan keadilan!” jawabnya.


[Situasi Ran]


“Bagaimana apa kalian menemukan sesuatu?


“Tidak Pengeran...”


“Kalau begitu coba kau cek disebalah sana juga. Siapa tahu disana ada petunjuk!” perintah Ran.


“Baik Panglima!”


Ran juga mengecek bagian yang lainnya dan ternyata ia menemukan sebuah botol kecil yang ternyata adalah bekas penggunaan obat biusnya. Dengan mendapatkan satu petunjuk, ia dan Prajurit pun kembali ke istana, Ran dengan segera pergi menginfokannya dan menunjukkan benda tersebut sesuai tugasnya.


“Hm...ini berarti bukan musuh sembarangan, dia pasti ahli dalam membuat oba-obat seperti ini!”


“Benarkah tuan, tapi siapa yang bisa membuatnya?


Pangeran Zen curiga kalau si musuh itu adalah orang dalam, ia pun mencoba mengkoreknya dari Tabib istana namun ia tidak menemukan jawaban pasti sehingga sulit untuk menebak siapa pelakunya yang menjadi musuh dibalik selimut. Ia pun mencoba berpikir keras dan sekilas mengingat Ratu Moorim yang sepertinya kurang suka dengannya tapi setelah berpikir dua kali, ia merasa mustahil bagi Ibu tirinya itu melakukan hal seperti itu dan untuk menghilangkan keraguanya ia pun menanyakannya langsung.


“Ada apa Zen, tumben kau datang ke kamarku?


“Maaf Ibu...bolehkah aku bertanya sedikit?” ijinnya.


“Apa yang mau kau tanyakan hah? Ucapnya sambil memasang anting.

__ADS_1


“Apa Ibu pernah menggunakan atau melihat obat ini sebelumnya? Sambil memperlihatkan obat bius bening dan kental tersebut.


“Hmm...memangnya ada apa dengan itu?


“Tidak ada...hanya saja aku sedang mengumpulkan informasi tentang orang yang kemarin hampir mencelakai Bella!”


“Oh benarkah, tapi kenapa Ibu merasa sedang di introgasi ya?


“Maaf jika Ibu merasa seperti itu, tapi aku tidak bermaksud menuduh siapapun terlebih jika itu Ibuku sendiri!”


“Jawabanku tidak...aku bahkan tidak pernah melihatnya bahkan menggunakannya!” ucapnya datar. “Kau sekarang sudah mendengarnya, sekarang pergilah karena aku tidak ingin di ganggu oleh anak sepertimu.


“Sekali lagi aku minta maaf...aku permisi!” ucapnya lalu pergi.


“Hmm...anak itu berani-beraninya mencurigaiku. Apa dia pikir aku yang melakukannya heh?” decitnya dalam batin.


[Situasi Julia]


“Eh...Putri sudah mau pergi? Kenapa cepat sekali?” ucapnya.


“Yah...sebaiknya. Aku takut kakakku curiga dan mengomel lagi...kau tahu dia itu sangat cerewet dan menyebalkan akhir-akhir ini!


“Hahaha...benarkah!”


“Hahaha...iya., gendang telingaku rasanya sampai sakit hari itu. Untung saja aku punya alasan yang tepat jika tidak mungkin akan seharian penuh dia mengomel hahaha....!”


“Hahaha...bisa saja kau Putri!”


Leoan sangat senang melihat wanita itu tertawa murni seperti itu, setidaknya Julia dan anaknya tidak menerima tekanan terus menerus karena memikirkan masalahnya. Dia juga berharap bisa segera menuntaskan misinya itu, agar Pangeran bersaudara bisa mendapat pelajaran setelah semua keburukannya terbongkar.


Disisi lainnya Moorim yang kesal karena merasa dituduh oleh Zen, menemui Penyihir di tempatnya.


“Benarkah? ucap Penyihir seolah tak tahu.


“Aku kesal dengan sikapnya, aku bahkan tidak tahu siapa yang mencoba melukai Bella dan dia...hah!” ucapnya.


“Hmm...dia mungkin menanyakannya padamu karena merasa kau memang tidak suka dengan kehadiran Bella di istana bukan?


“Iya...tapi aku juga tidak sepenting itu harus menyingkirkanya dengan membunuh!” terang Moorim. “Mm...apa kau yang melakukannya?” tebak Moorim.


“Aku? Heh...tentu saja tidak. Aku hanya akan melakukannya jika kau memerintahakanku, bukankah begitu?”


“Iya...benar juga. Kalau begitu siapa yang melakukannya? Moorim kebingungan.


“Aku juga tidak tahu, tapi kenapa kau terlihat peduli dengannya. Bukannya itu bagus karena orang lain yang melakukannya?” ucap Penyihir.


“Eh...siapa yang peduli, aku hanya penasaran siapa yang bisa masuk ke istana ini dan menyerang anak itu, padahal penjagaannya ketat sekali. Pasti dia bukan orang sembarangan!”


“Hmm...tentu saja karena orang itu adalah aku!” gumam licik Penyihir.


....Bersambung....


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas:)


__ADS_2