Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 61


__ADS_3

Macan itupun langsung melompat keluar dari semak-semak, Wanita itu hanya terjatuh lemas seketika melihat gigi dan kuku panjang macan tersebut. Beruntunglah sebelum ia benar-benar dimangsa sebuah panah dengan cepat dan tepat menembus mulutnya dan seketika itu hewan terganas hutan rimba mati seketika.


“Wow...langsung tepat sasaran...hebat juga kau Panglima!” puji Leona.


“Hehehe...benarkah? Terimakasih!” ucap Zen sedikit tersanjung.


Mereka pun berlari mendekati Wanita yang tengah hamil 6 bulan itu, masih dalam ketakutan si Wanita mencoba bertanya.


“Si...siapa...siapa kalian!?”


“Tenang kak...kami bukan orang jahat. Ini Ran calon Panglima kerajaan Zuma dan aku...aku adalah putri dari kerajaan selatan!”


“Mereka adalah orang-orang kerajaan!” gumamnya. “Maafkan aku...aku harus pergi, terimakasih telah menolong ku!”


“Eh kak mau kemana...tunggu! ucap Leona.


“Bu...jika kau kesana maka kau akan menemui hewan yang lebih buas lagi dari pada macan ini...kau tidak mau kan jika sampai terjadi apa-apa dengan dirimu dan anak dalam kandunganmu itu!?” ucap Ran menghentikan Wanita itu.


“Kak Ran...kenapa langsung mengatakannya!?”


“Kau tenang saja,” bisiknya. “Ya...kami sudah tahu semuanya dan kami kesini datang baik-baik untuk menolongmu!”


Singkatnya, Wanita itupun mengikut dengan Ran dan Leona. Dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan, wanita itu menjawab yang sebenarnya tentang perbuatan Pangeran Jozen terhadapanya. Leona dan Ran cukup mendapat banyak informasi darinya yang mana dengan segala keterpaksaan ia harus membayar hutan orangtuanya yang sudah tiada kepada Jozen dan Rollen.


"Oh kakak ini rupanya yang dimaksud Pangeran saat mabuk itu! gumam Leona.


"Jadi bolehkah kami tahu, siapa namamu? Dan asalmu? ucap Ran.


"Kau bisa memanggilku Julia..., aku berasal dari desa terpencil kerajaan Drone.


"Kerajaan Drone adalah salah satu kerajaan besar yang bersahabat dengan kerajaan kami, dan salah satu anggota organisasi perdamaian! terangnya.


"Betul...itu sebabnya Pangeran Jozen ingin aku pergi jauh agar tidak ada yang curiga.


“Benar-benar kelewatan, Pangeran bersaudara itu memanfaatkan kekuasaannya untuk perbuatan tak pantas seperti ini!” ucap Leona.


“ Kumohon jangan beritahu tentang ini kepada siapapun atau aku dan bayi ini akan dibunuh olehnya!” ucap Wanita itu menyatukan kedua tangannya.


“Tenanglah kak...kami tidak akan membiarkan itu terjadi padamu!”


“Putri benar, hanya saja...kau harus bekerjasama dengan kami!”


“Bekerjasama apa Panglima?”

__ADS_1


“Kami akan membantumu mendapat keadilan dan kau harus membantu kami mencari bukti yang kuat untuk membongkar kebusukan Pangeran bersaudara itu!”


“Tapi bagaimana jika....”


“Kakak hanya perlu mengatkan yang sebenarnya, aku tahu kakak mungkin tidak berani tapi kak...apa kakak tega membiarkan anaknya lahir tanpa seorang Ayah?


“Hmm....” sambil mengelus perutnya. “Baiklah aku setuju....!”


“Kalau begitu untuk sementara kau akan tinggal dirumah penampungan kerajaan kami...setidaknya kau aman disana!” ucap Ran.


“Baik...terimakasih Putri...Panglima!”


“Sama-sama!” balas keduanya.


Ran dan Leona pun mengantarkan Wanita itu ke rumah penampungan, semua orang menyambutnya dengan baik meski mereka tidak tahu alasan yang sebenarnya. Kalau Julia bukanlah orang terlantar melainkan seorang korban bejat Pangeran Jozen.


Malam pun tiba, Ran dan Leona keluar lagi dengan penyamaran yang berbeda, kali ini Leona sepertinya tidak harus meminta izin karena kakaknya Beauty sibuk menjaga Pangeran Zen. Putri Beauty cukup berjaga seharian untuk melaksanakan tugas dari Pangeran Zen ditemani para penjaga istana yang siap sedia diluar pintu.


“Hmm....Ella....Ella...kumohon jangan sakiti dia...!” ucap Pangeran yang masih terlelap dan sepertinya sedang bermimpi.


“Pangeran kau..!!” ucapnya. “Dia bahkan masih menyebut nama itu...sepertinya aku memang sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk dekat denganmu Pangeran...!


“Jangan....jangan tinggalkan aku...!”


“Dia sedang bermimpi ya...hmm” gumam Beauty. “Pangeran aku akan pergi mencari Bella...kau istirahatlah....!”


“Pangeran tenanglah....Ella...dia baik-baik saja!” kemudian mencoba keluar dari rangkulan erat Pangeran.


“Kumohon jangan pergi...jangan tinggalkan aku lagi!”ucap Pangeran.


Beauty terpaksa diam tanpa melawan lagi, ia sangat tidak tega mendengar Pangeran Zen yang begitu menyedihkan itu.


Keesokan harinya Beauty terbangun dan seketika terkejut melihat Pangeran tidak ada diatas kasurnya, Pangeran sudah sadar dan ketika ia terbangun ia melihat Beauty begitu kelelahan dipinggir kasur karena tidak tega membangunkan Beauty ia pun memberikannya sebuah selimut untuknya sebelum beranjak menemui Bella.


“Selimut?” ucapnya melihat tubuhnya. “Apakah dia sudah pulih...lalau kemana dia?” gumamnnya. “Hmm....pasti dia menemui Putri Bella sekarang...syukurlah setidaknya dia sudah baikan sekarang!” ucapnya.


[situasi Bella]


Bella sendiri menemukan sebuah surat dipintunya, ia membaca surat tersebut dan cukup terkejut karena ternyata surat tersebut dari Hugo yang isinya mengatakan kalau ia menyesali perbuatannya dan memutuskan kembali ke istana Ludo. Hugo dalam suratnya juga berjanji akan kembali secepatnya setelah ia benar-benar bisa mengendalikan pikiran dan emosinya.


[Ingatan kemarin]


“Apa kau sedang mengancamku Yang Mulia...!” tanya Bella.

__ADS_1


“Tidak juga..., aku hanya ingin membantumu melakukannya jadi aku memberimu sedikit tekanan saja. Jika kau tidak mengatakannya sendiri maka aku akan memberitahunya dan tentu saja mengatakan yang sebenarnya tentang niatmu!” ucap Penyihir.


“Tapi aku perlu waktu untuk melakukannya...!”


“Tenang saja..., aku juga tidak memintanya sekarang. Tapi ingat, waktunya hanya seminggu setelah Pangeran sadar besok!” ucapnya. “Jadi cari waktu yang tepat dan siapkan dirimu...Putri.” lalu berlalu dengan senyuman liciknya.


[Kembali ke situasi]


“Kenapa harus seperti ini...., sekarang bagaimana caraku menghadapi Pangeran Zen!” ucap Bella sedang merenung di taman kerajaan.


“Sedang apa kau disini sendiri Putri?” ucap Zen.


Bella sedikit terkejut lalu berbalik, “Pangeran....kau sudah pulih? Kenapa kau kemari...seharusnya kau beristirahat dikamarmu...mari aku antar!” ucapnya.


“Tidak perlu...aku sudah sembuh. Bagaimana dengan keadaanmu sendiri?” ucapnya cemas.


Bella semakin tidak tega mendengar orang yang ia hampir celakai itu masih peduli padanya, ia kini semakin bersalah dengan perbuatannya. “Pangeran....kenapa kau masih saja peduli pada keadaanku sedangkan keadaanmu sendiri....kau hampir saja dalam bahaya karena menyelamatkanku. Aku sangat takut dan....aku benar-benar tidak bisa membayangkan kalau kau akan...!”


“Mati karenamu!?” sambungnya lalu tersenyum. “Kau tidak perlu merasa seperti itu...lagipula itu hanya serangan kecil. Bahkan jika itu racun mematikan sekalipun aku akan menerimanya untukkmu!”


“Pangeran....” ucapnya menatap dengan mata yang berkaca. “Terimakasih....!”


“Hmm...kehormatan untukmu Putri....,” ucapnya dengan tersenyum.


“Dia tersenyum padaku karena belum mengetahui yang sebenarnya, aku jadi semakin tidak tega mengatakan yang sebenarnya!” gumam Bella.


“Oh iya...kalau kau baik-baik saja, aku akan pergi menemui Ran. Aku akan membicarakan tentang musuh yang kemarin menyerang kita, kau sebaiknya jangan keluar istana dulu tapi jika terpaksa kau harus bersama Pengawal terbaik kami!” saran Pangeran.


“Hmm....baik. Tapi kau jangan terlalu memikirkannya...kau juga perlu banyak istirahat sekarang setidaknya efek biusnya benar-benar hilang!”


“Pasti...terimakasih atas perhatianmu!” ucap Zen tersenyum lalu pergi menemui Ran.


***Bersambung....


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***:)


__ADS_2