
[Malam pun tiba]
Hugo yang tengah menempuh perjalan jauh, bukannya kembali ke istana melainkan pergi berkelana untuk menenangkan pikiran yang ada dikepala dan hatinya. Ia sadar jika keputusannya itu tidak sepenuhnya benar untukknya, pergi dan meninggalkan tugas yang diberikan Ratu Ludo merupaka konsekuensi yang berat jika saja diketahui. Sehingga ia juga ragu untuk kembali ke istana, ia hanya memberi alasan-alasan untuk menghindari pertanyaan setiap orang termasuk Leona.
“Ku harap putri Bella baik-baik saja. Hmm...tapi kenapa aku sekarang jadi kepikiran dengan Putri Leona?!” ucapnya sambil mengingat sifat cerewet dan keakank-kanakan Leona ketika berlatih bersama. “Apa anak itu akan merindukanku juga....ah apa yang aku pikirkan, dia mungkin sedang berlatih dengan Ran sekarang. Orang itu selalu mendapatkan perhatian semua orang hah!” ucapnya sedikit cemburu.
Dibawah api unggun, sambil menatap bintang ia merenung tentang apa yang diperbuat dan apa yang sebenarnya terjadi sehingga ia memutuskan pergi seperti ini.
“Hmm...seharusnya aku tidak menjadi pengecut seperti ini bukan? Aku ini seorang Panglima yang berani dan jujur...tapi kenapa Putri mengira aku ini berbohong?” gumamnya menyadari sesuatu yang tidak beres. “Benar juga..., aku hari itu tidak melakukannya. Pasti ada orang lain yang menggunakan panahku dan menjebak agar seolah aku yang bersalah!”ucapnya. “Aish...kenapa aku baru terpikirkan itu sekarang...semoga aku tak terlambat!” ucapnya sudah curiga tentang keberadaan musuh dalam selimut.
Hugo yang sudah tersadar itu kemudian berencana untuk segera kembali setalah pagi, meski sudah terlanjur jauh ia berusaha pulang lebih cepat dari saat ia pergi.
[Ke esokan harinya]
“Hei apa maksudmu mengatakan itu...!
“Hei Putri...jangan karena kau mau balas dendam kepada sikap kami waktu itu, kau memfitnah kakakku dan menuduhnya yang bukan-bukan ya!”
“Leona adikku...apa yang sedang kau lakukan ini, bukan sudah kuperingatkan kepadamu?
“Maafkan aku kak, tapi demi kebenaran dan keadilan orang-orang yang menjadi korban mereka maka aku tidak harus diam begitu saja bukan!”
“Dasar bocah, Ayah...jangan percaya katanya. Aku adalah calon penerus kerajaan Zuma dan dia...dia tidak lebih dari orang luar yang mencari masalah dan sok tahu!”
“Yang Mulia...maafkan saya, saya akui ini mungkin diluar yang sewajarnya untuk saya ucapkan namun saya dengan jujur mengatakan apa yang saya liat sendiri dengan mata telinga kalau Pangeran bersaudara telah berbuat, semena-mena dan berbohong selama ini!”
“Cukup kau anak kecil...!” teriak Moorim tidak terima. “Hei...bocah, apa kau sudah kehilangan akal. Kau sudah lupa bagaimana cara menghargai tuan rumah? Ucapnya dengan nada emosi. “Anakku...dia tidak pernah melakukan hal serendah itu kau tahu? Terangnya Moorim.
“Yang Mulia mohon maafkan kelancangan adikku. Leona kita perlu bicara sebentar, kemarin!
“Tidak kak...kali ini aku tidak akan menurut kepadamu, tolong biarkan aku menyelesaikan dan meluruskan semua ini!”
“Ya tuhan...adikku. Ingatlah posisi kita disini adalah sebagai tamu, tolong jangan membuat kita semua menjadi terhina disini adikku!” ucapnya.
“Yang Mulia Raja...sebaiknya kita kirim mereka kembali ke istananya itu, atau jika tidak kita hukum saja penyusup kecil ini!” saran Penyihir.
“Ibu Ratu benar...Pengawal bawa mereka!” perintah Moorim.
“Tunggu!” Raja pun angkat bicara. “Siapa yang memerintahkan mereka untuk dihusir dari sini?!” ucap Raja tegas.
__ADS_1
“Rajaku...apa kau percaya dengan ucapan mereka? ucap Moorim.
“Aku tidak bisa percaya juga tidak bisa mengatakan tidak, karena aku harus mendengarkan langsung buktinya. Putri Leona...apa kau memiliki bukti kalau Pangeran Jozen melakukannya?!” ucap Raja Zedan.
“Tentu Yang Mulia...!”
Seketika suasana menjadi sangat tegang, semua orang yang ada diistana yang mendengarnya antara percaya dan tidak percaya yang Pangeran Jozen lakukan bahkan Ratu Moorim yang jelas ibu kandungnya juga tidak tahu. Penyihir hanya menikmati, kehebohan yang sangat sangat ditunggu-tunggunya itu.
“Penyihir bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan sekarang?” bisik Moorim.
“Hmm...aku tidak bisa melakukan apapun sekarang, apalagi anak itu memang cukup yakin dengan bukti yang ia dapatkan!” jawab Ibu Ratu.
Leona dengan berani menunjukkan kostum penyamaran Pangeran Jozen dan Rollen yang ia berhasil dapatkan itu.
“Heh...kostum murahan seperti itu yang kau katakan adalah bukti!” remehkan Moorim.
“Benar Yang Mulia Ratu..., tapi lihatlah kostum ini. Ada bekas sobekan benda tajam dan itu juga sama dengan yang ada di dada Pangeran Jozen!”
“Pengawal coba kau periksa!” perintah Raja.
Setelah memerikasa ternyata memang benar ada goresan yang sama. Goresan tersebut ia ketahui dari pengakuan Julia yang saat itu sempat memberontak kepada Jozen, namun bukti ini masih menimbukan keraguan setelah Jozen memberi alasan lain.
“Ini...aku mendapatkannya saat aku berlatih pedang bersama Rollen dan kostum itu, mungkin saja hanya kebetulan sama. Lagipula aku tidak pernah mau memakai kostum rakyat desa yang kotor seperti itu!
“Itu benar Ayah...kami sering keluar bersama berlatih!” tambah Rollen.
“Nah sekarang sudah jelaskan. Bocah ini hanya mengarang cerita. Bisa saja memang benar itu hanya direkayasa hanya agar bisa membuat ulah kerajaan kita!” tambah Moorim.
“Putri Leona...apa hanya ini bukti yang kau ingin tunjukkan?” ucap Raja Zedan.
“Tentu saja tidak Yang Mulia, aku masih punya bukti lain yang lebih akurat!”
“Tentu saja tidak Yang Mulia, aku masih punya bukti lain yang lebih akurat!”
“Heh...bukti palsu apalagi yang akan ia tunjukkan kali ini?” desis Moorim.
“Panglima Ran...!” ucap Leona.
Ran pun masuk bersama tiga orang saksi, mereka membawa seorang Pria yang bekerja sebagai bartender disalah satu tempat hiburan malam yang sering Pangeran bersaudara kunjungi, saksi kedua adalah Julia dan yang ketiga adalah dirinya sendiri.
__ADS_1
“Ran kau juga...!” ucap Zen.
“Benar Pangeran...saya menjadi saksi atas kasus ini!”
“Sungguh tidak terduga, ternyata ada orang kepercayaan Zen juga ikut berkelompok dengan gadis ini...heh sungguh mengecewakan sekali!”
“Maafku kepada Yang Mulia Raja Zedan sebelumnya, aku ingin memberi kesaksian bahwa aku pernah melihat Pangeran Jozen dan Rollen masuk ke beberapa tempat hiburan malam.” Jujur Ran.
“Apa kau yakin Ran, yang kau lihat itu mereka?
“Benar Pangeran, aku mengatakan ini berdasarkan apa yang saya saksikan sendiri!”
“Sekarang katakan Jozen, apa kau benar melakukannya?” ucap Raja Zedan.
“Ayah aku...!”
“Eh...Raja, bukankah mendengarkan saksi secara sepihak itu tidak bijaksana. Sebaiknya kita harus mendengarkan kesaksian lain bukan?!”
“Ibuku benar Ayah..., ini tidak adil. Hanya karena Ran adalah sahabat Zen itu tidak bisa membuktikan begitu saja kalau aku ini bersalah!” ucap Jozen.
“Raja...saranku kita harus mendengarkan semua pengakuan para saksi terlebih dahulu sebelum memutuskan!” tambah Ibu Ratu. “Benarkan penasehat raja?” tambahnya.
Para penasehat juga berpikir begitu, sehingga Raja dan Zen menunggu dan mendengarkan pengakuan saksi lain untuk memberikan informasi yang sebenarnya.
“Sekarang katakan kepada kami semua dengan sejujur-jujurnya, apa yang kalian berdua ketahui tentang tuduhan ini?!” ucap penasehat Raja itu.
....***Bersambung....
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***:)