Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 67


__ADS_3

[Kembali ke situasi]


“Jadi begitu ceritanya...mereka benar-benar licik!” kesal Ran.


“Hiks...sekarang katakan apa aku salah jika harus melindungi keluarga yang aku sayangi Panglima!” ucap Julia.


“Hmm...kau tidak salah Nona, tapi aku kecewa karena kau tidak mengatakan hal ini dari awal!” ucapnya menenangkan wanita hamil itu. “Sekarang semuanya sudah terjadi, yang aku akan sesali adalah mungkin nanti bukan hanya dirimu yang menjadi korban saat ini. Diluar sana ada banyak wanita yang akan menjadi incaran bejat Pangeran yang semena-mena itu! Terimakasih telah mau membuat kami dalam masalah. Sekarang kau bisa pergi kemanapun yang kau inginkan!” ucapnya Ran lalu pergi dengan perasaan campur aduk itu.


Julia hanya tinggal diam dan merenungkan perbuatannya yang ia sebenarnya juga sadari telah berpikir egois. Ia juga sebenarnya sudah merasa nyaman tinggal di penampungan dengan orang-orang ramah dan relawan yang baik hati, ia sekarang ragu tentang keputusannya kali ini.


[situasi Beauty]


Beauty saat itu tengah keluar dan melewati tempat yang mana disitu ia melihat kecurigaan terhadap Pangeran bersaudara yang tengah berbincang akrab dengan saksi yang dilibatkan adikknya Leona barusan. Ia sedikit menguping untuk mencari tahu, kebenaran dari semua yang adiknya selama ini katakan.


“Jadi benar...yang selama ini adikku katakan, kalian lah yang bersalah!”


“Hah...kak!” kaget Rollen.


“Hahaha...ya. Memang benar, adikmu itu...aku cukup mengakui kalau ia pintar dan berani tapi sayang dia meragukan apa yang kami bisa lakukan!” ucap Jozen. “Hahaha...dan sekarang ia sudah tahu posisinya!”


“Cepat kalian ikut dan katakan yang sebenarnya kepada Pangeran jika tidak...!” ucap Beauty.


“Jika tidak apa? Kau akan melaporkan kami begitu? Hahaha...percuma, itu tidak akan membuat Zen percaya dengan orang luar sepertimu!” ucapnya. “Bahkan jika kau sahabat dekatnya sekalipun hahaha....”


Mendengarnya Beauty berpikir dua kali mengingat Pangeran saat ini masih kecewa dan mungkin ia tidak akan percaya bahkan untuk mendengarnya pun tidak. Sehingga Beauty memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya sambil mencari bukti juga. Namun ketika ingin pergi, Beauty pun dihalangi oleh kedua Pangeran bersaudara itu.


“Eitss...mau kemana!”


“Minggir kau...!”


“Hehehe...tidak semudah itu kau bisa lolos begitusaja setelah rahasia kami kau ketahui!” ucapnya Jozen.


“Jangan menghalangi langkahku Pangeran...atau aku tidak segan lagi melawanmu!”


“Wah...wah rupanya kau lancang juga, tak heran kau dan Leona bersaudara heh!” ucapnya lalu memberi kode ke Rollen.


Rollen dibelakangnya ternyata diam-diam ingin membius Beauty, namun Beauty segera sadar lalu menghindar dan menjatuhkan Rollen dengan serangan mengunci lengan.


“Ah...!” teriak Rollen kesakitan.


“Dasar gadis sialan, beraninya kau menyakiti adikku....haa!” mengeluarkan pedangnya lalu menyerang.


Beauty tidak punya cara lain, karena terancam ia pun melawannya juga untuk membela dirinya. Pertarungan sengit diantara Panglima selatan dan Pangeran Zuma itu pun terjadi beberapa menit sebelum akhirnya berakhir kesalahpahaman. Hal itu terjadi karena Pangeran Jozen melihat Pangeran Zen menuju kemari dan ia lagi-lagi memiliki cara untuk memanfaatkan situasi. Ketika hendak menodongkan senjata masing-masing Pangeran Zen berpura-pura pasrah dan sengaja melukai dirinya melalui senjata Beauty.


“Ah...!” teriak Zen kesakitan.

__ADS_1


“Kakak!” teriak Rollen


“Panglima Elang!!” Teriak Zen dari belakang membuat Beauty terkejut.


“Pangeran...” ucapnya kemudian melepaskan senjatanya. “Ini...ini bukan seperti yang kau lihat Pangeran, aku...mereka...” ucap Beauty kesulitan untuk menjelaskannya.


“Kak Zen...Putri Beauty sengaja melukai kami karena tidak terima adiknya dihukum...huhuhu...dia...dia benar-benar wanita licik!” ucap Rollen berpura-pura sedih dan menyalahkan Beauty.


“Bohong...merekalah yang lebih dulu menyerangku dan mereka juga yang sebenarnya berpura-pura...!”


“Cukup Putri...semuanya sudah jelas sekarang. Aku tidak mau mendengarkan alasanmu karena sekarang kepercayaanku benar-benar kau hancurkan. Aku kecewa dengan sikapmu ini...!” ucap Zen.


“Tapi Pangeran aku ini sahabatmu...aku tidak pernah...!”


“Lupakan persahabatan, karena sekarang itu tidak berlaku lagi diantara kita. Pergilah karena aku tidak mau lagi melihat wajahmu di istana ini!” ucap Zen emosi yang campur aduk. Akibatnya kutukan serigalanya pun kambuh dan hampir tidak bisa mengendalikan dirinya. Namun untunglah Bella yang kebetulan di istana itu bisa menenangkannya.


“Pangeran kutukannya...!”


“Pergi...!” teriak Zen mencoba mengendalikan dirinya. “Pergi sebelum aku melukaimu...!”


“Tidak...aku tidak bisa...!”


“Ahh...hah...Auuu....! lolongan pun mulai terdengar. “Tidak...aku harus menahannya...!”


“Bella tolong...aku tidak bisa mengendalikan diriku. Suruh orang itu pergi sekarang!” ucap Jozen masih mencoba mengendalikan diri agar monster serigala ganas dalam dirinya tidak mengambil alih kesadarannya.


“Panglima sebaiknya kau pergilah, agar Pangeran bisa tenang!”


“Tapi...!”


“Kumohon, dengarkan aku...ini akan berbahaya bagi keselamatan Pangeran dan semua orang...aku ada disini. Kau tidak perlu khawatir!” ucapnya. “Pangeran...ini aku...kendalikan dirimu!” peluk Bella menenangkan Pangeran.


“Maafkan aku...” ucap Beauty berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan istana dengan rintihan air mata tanpa berpamitan ia menunggangi kuda dan menjauh dari kerajaan. Suara lolongan pun kembali terdengar mengiringi kepergian Beauty itu, seperti mimpi buruk yang tak pernah ia harapkan akan menjadi kenyataan.


“Pangeran...Pangeran kendalikan dirimu, ingat ini aku...Ella!”


“Grrr...., Ella...Err...” Setengah sadar Pangeran.


“Ya ampun apa yang harus aku lakukan sekarang!” gumam Bella. “Haruskah aku melakukannya?” lalu mulai mendekatkan bibir merahnya itu ke dahi Zen.


Belum sempat menciumnya, anggota kerajaan pun muncul termasuk Moorim dan Penyihir.


“Gawat...jika mereka berciuman maka kutukannya...!” gumam Moorim lalu melirik Penyihir.


“Putri Bella...!” teriak Penyihir lalu memerintahkan Pengawal untuk menangkap Ran.

__ADS_1


“Eh...tidak...jangan!” peringatkan Bella.


Karena sudah terlanjur, malah Pangeran Zen semakin emosi dan benar-benar berubah menjadi ganas. Zen sebenarnya tadi hampir bisa mengendalikan diri namun insting serigalanya yang merasa terancam kemudian berusaha melawan sekaligus melindungi Bella. Bella sadar Pangeran Zen itu tidak bermaksud melukai dirinya, sehingga ia berusaha membela Zen yang sudah dapat ditangkap dengan cara dibius oleh para prajurit ahli.


“Putri apa kau terluka?!” ucap Ran khawatir.


“Tidak aku baik-baik saja. Ran...Pangeran dia...tolong jangan biarkan ia disakiti!” ucap Bella khawatir.


“Apa Bella sekarang sudah...!” gumam Ran.


“Ran...apa kau mendengar yang ku katakan!”


“Ah iya...baiklah. Kau jangan cemas, Pangeran akan baik-baik saja. Mereka tidak akan melukai Pangeran Zen!” ucap Ran menenangkan Bella yang panik.


Sedangkan Pangeran Zen dalam keadaan tak sadarkan diri dengan kutukannya itu kemudian diusulkan oleh Ibu Ratu untuk dikirim ke hutan untuk dikarantina.


“Apa...tidak. Aku tidak mengizinkannya! Tolak Raja. “Uhuk...uhuk...


“Rajaku...ini demi keselamatan orang-orang banyak. Untuk berjaga-jaga sebaiknya kita mengikuti saran Ibu Ratu!” ucapnya.


“Benar Ayah...tidak ada yang bisa menjamin Kak Zen tidak merusak desa lagi seperti dulu!” tambah Rollen.


“Rajaku kumohon...ini sangat berisiko jika dia tetap berada didalam istana, kau ingat betapa kuatnya ia dahulu lolos dari penjara bawah tanah. Setidaknya jika ia menjauh, tidak terlalu mengkhawatirkan!” tambahnya Moorim.


“Hmm...tapi pastikan ia tidak diperlakukan dengan buruk dan terbebas dari hewan buas lainnya. Ucap Raja kemudian mendekati tubuh Zen. Uhuk...uhuk...anakku maafkan ayah, tapi untuk sementara demi keamanan kerajaan kau harus dikarantina!”


“Kau tidak perlu khawatir Raja, kita akan memerintahkan Penjaga terlatih untuk mengawalnya selama dikarantina dihutan!” ucap Penyihir lalu pergi.


“Tunggu!” teriak Bella. “Aku ikut...!” ucap Bella.


....Bersambung....


*


*


*


*


*


*


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas:)

__ADS_1


__ADS_2