Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 62


__ADS_3

[Situasi Leona]


“Kakak...kau sudah kembali...apa Pangeran Zen sudah sadar?!” ucap Leona sedang merapikan kamarnya.


“Hm...iya.


“Syukurlah kalau begitu..., kakak pasti ketiduran sampai tidak kembali ke kamar. Apa semalam tidak ada yang terjadi...? ucap Bella penasaran merayu kakaknya.


Beauty sedikit mengingat semalam, saat dikamar Pangeran ia dipeluknya. Wajahnya langsung memerah dan sedikit gugup untuk mengatakan yang sebenarnya. “Kau...kau ini bicara apa? Memangnya apa yang bisa terjadi semalam. Jangan berpikir macam-macam ya!”


“Iya...iya maaf.” ucap Bella. “Hehehe...kakak sampai malu begitu, padahal dia tidak mengatakannya juga aku sudah tahu!” gumam Leona.


[Situasi Leona semalam]


“Terimakasih telah mengantarku Panglima....!” ucap Leona.


“Sama-sama Putri..., kalau begitu aku pergi dulu!” jawab Ran.


Leona yang baru pulang, kemudian pergi ke kamarnya dan menemukan kakaknya masih belum kembali. Ia pun pergi ke kamar Pangeran untuk mengecek apakah kakaknya masih ada disana. Dengan beberapa pengawal yang berjaga, dia pun membuka pintu sedikit dan benar saja ia melihat kakaknya dipeluk Pangeran. Sungguh pemandangan yang tak diduga Leona, namun mengerti dengan situasi ia juga mendukung kakaknya.


“Upss...hehehe” gelitiknya dalam hati lalu menutup pintu kembali. “Ehem...Pengawal tolong tetaplah berjaga disini dan jangan biarkan siapapun masuk. Ini perintah Raja!”


“Baik Putri...!”


[Kembali ke situasi]


“Oh ya kak, setelah ini aku akan pergi keluar bersama Panglima Ran!”


“Mau kemana? Jangan bilang kalau kalian pergi memata-matai Pangeran bersaudara...!?”


“Hm...kalau ku beritahu pasti dilarang dan rencana hari ini akan gagal.” Gumam Leona. “Hahaha...kakak ini, tentu saja tidak...aku ingin belajar memanah bersama Panglima diluar hanya itu!” ucapnya.


“Tapi bukannya kau berlatih bersama Hugo?


“Panglima Hugo sekarang sudah kembali ke istana Ludo jadi aku berlatih dengan Ran sekarang. Boleh kan?


“Benarkah? Sejak kapan?


“Dia pergi pagi-pagi sekali, katanya sih ada urusan penting sehingga harus kembali!”


“Lalu Putri Bella juga?


“Hmm...sepertinya dia tidak ikut!”


“Hmm...kalau begitu aku akan menemuinya!”


“Eh...jadi aku diizinkan pergi nih?”


“Iya...tapi jangan membuat masalah ya!”


“Kali ini maafkan aku kak tapi ini demi keadilan!” batinnya.


[Situasi Ran]


“Syukurlah kau tidak apa-apa Pangeran, aku sangat terkejut saat mendengar kau diserang kemarin. Maaf tidak sempat menolongmu!”


“Jangan meminta maaf padaku, ini bukan apa-apa!”


“Lalu apakah Pangeran melihat orang yang menyerang waktu itu?!”

__ADS_1


“Tidak...aku tidak sempat karena setelah menyelamatkan Bella aku tak sadarkan diri. Tapi aku yakin, orang itu berniat buruk pada kami dan sepertinya dia juga mengincar Bella!”


“Benarkah? Kalau begitu dia pasti tahu sesuatu dari kalian!”


“Hm...aku juga berpikir begitu, itulah sebabnya aku menemuimu kemari untuk mengusutnya!”


“Tentu saja Pangeran. Aku akan segera mengusutnya sekarang, Pangeran sebaiknya beristirahatlah dan serahkan tugasnya kepadaku!”


“Hmm....terimakasih. Jika kau mendapatkan informasi segera beritahu aku ya!”


“Siap!” ucapnya tegas lalu pergi.


[Situasi Bella]


“Aku tidak bisa...aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana sekarang...haruskah aku pergi agar...!” ucap Bella.


“Kau mau pergi kemana...Putri!” tanya Beauty.


“Panglima Beauty...kau...sudah berapa lama kau berdiri disitu?!”


“Hm...sejak kau mengatakan ingin pergi mungkin? Ada apa, kenapa kau terlihat tegang begitu? Ucap Beauty.


“Ah...itu, aku hanya sedikit kaget karena tiba-tiba kau muncul disitu hehehe!”


“Oh maaf kalau begitu, mm...jadi apa kau benar akan pergi?!”


“Pergi? Memangnya aku mau pergi kemana!”


“Hm...dengar Putri, aku tidak tahu seberapa baik dan terpercayanya kau tapi bagi Pangeran Zen, kau sangat berharga!”


“Maaf...sebenarnya apa yang sedang kau coba katakan?


“Aku hanya ingin mengatakan sebagai seorang sahabat yang peduli padanya, tolong tetaplah disini...disamping Pangeran Zen!”


“Kau tidak perlu mengetahui soal perasaanku, yang perlu kau pedulikan sekarang adalah perasaan Zen...!”


“Hmm...aku mengerti sekarang, tapi jika boleh jujur. Bahkan meski ingat atau tidak ingatpun perasaanku kepadanya masih tetap sama yaitu perasaan hutang budi dan mungkin tidak akan pernah lebih dari itu!” terang Bella.


“Soal itu...aku tidak...”


“Permisi Putri...!” ucap seorang pelayan.


“Ada apa Bibi...!” tanya Bella.


“Maaf...Putri Beauty...Pangeran meminta saya memanggil anda!”


“Aku...? ada apa?


“Benar Putri...katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan!”


“Hmm...baiklah, aku akan ke sana. Terimakasih! ucapnya. Pelayan tersebut pun pergi dan sebelum mengikut, Beauty menyempatkan mengatakan harapannya. “Oh iya mengenai tadi itu, aku tidak bermaksud untuk memohon ya!”


“Hmm...aku tahu!”


“Hmm...terimakasih...!”


“Terimakasih? Untuk apa?


“Terimakasih karena tetap mau berada disamping Pangeran!

__ADS_1


“Hmm...iya!”


Beauty pun pergi menyusul Pangeran yang sedang beristirahat dikamarnya. Sedangkan Bella, masih tetap di tempatnya. Sambil memikirkan segala kemungkinan dan resiko atas semua kebimbangannya yang justru semakin bertambah hari ini.


“Huff...rasanya kebingunganku semakin bertambah. ini seperti tanggung jawab hidup dan mati saja. Dan Panglima...dia bahkan meningalkanku sendiri dengan semua masalah ini. Hah...ku harap Pangeran tidak menemukan buktinya jika sampai itu terjadi maka tamatlah sudah!” gumam Bella semakin cemas.


[Situasi Leona]


“Loh...kok ditunda? Kenapa...bukankah kita sudah mengumpulkan semua bukti-buktinya?” ucap Leona.


“Maaf Putri...tapi sesuai dengan perintah Pangeran. Aku harus melakukannya...dan sebaiknya kita tunggu waktu yang lebih tepat untuk ini ya!”


“Panglima hari ini adalah hari yang tepat untuk membongkar semuanya. Apa kau mau menunggu sampai semua rencana kita terbongkar dulu begitu?


“Tentu saja tidak...ini sudah melanggar tapi sebaiknya tidak sekarang ya!”


“Hmm...baiklah Panglima tapi setelah tugasmu itu selesai kita akan melakukannya!”


“Hmm...aku berjanji, kalau begitu aku akan pergi dulu. Sebaiknya kau kembalilah takutnya diluar tidak aman untukmu!”


“Baik...!”


[Situasi Beauty]


“Tok...tok...tok...


“Masuklah...!” ucap Pangeran Zen.


“Selamat siang...Pangeran. ada apa Pangeran memanggilku? Ucap Beauty bersikap Formal.


Pangeran Zen saat itu sedang diperiksa ulang oleh Tabib. Setelah Beauty masuk, Tabib istana itu menyatakan kalau Pangeran Zen sudah pulih dan bisa kembali beraktifitas sekarang. B


“Hmm...terimakasih Tabib, sekarang kau bisa pergi!” perintah Zen.


“Baik Yang Mulia...Putri saya permisi!” jawabnya si Tabib.


“Jadi apa yang ingin kau katakan...Pangeran!”


“Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu karena telah merawatku semalam...terimakasih!”


“Ya ampun...hahaha...jadi hanya itu. Pangeran...kita ini sahabat jadi tak perlu berterimakasih lagipula, menjagamu juga adalah tugasku dari Raja!”


“Hmm...kau benar, jadi bagaimana untuk hari ini sebagai ucapan terimakasih kita berkunjung ke perkebunan kerajaan!”


“Hah?!”


“Yah sekalian menepati janjiku untuk mengajakmu kesana!” ucapnya.


....***Bersambung....


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***:)


__ADS_2