
"Raja kenapa kau diam saja! (teriak Moorim)
"Zen! Hentikanlah semua ini anakku. Apakah kau ingin ibumu menderita disana melihatmu seperti ini? (kata Raja)
Mendengar perkataan Raja Zedan membuat Pangeran Zen kembali menjadi manusia normal, mata merah, kuku tajam dan tubuhnya mulai kembali menjadi normal.
"Oh putraku, Jozen!
"Ibu...! Sakit...
"Tenanglah, kita akan mengobati lukamu. Dasar anak Monster! Beraninya kau menyakiti anakku. (Marah Ratu Moorim sambil mengangkat tangannya)
"Ratu! (Menggelengkan kepala sambil menahan Ratu Moorim) Dia masih anak kecil.
"Tapi dia telah melakukan kesalahan dan dia pantas di hukum untuk semua ini!
"Aku tahu, tapi tidak begini caranya!
"Maaf, aku tidak tahu apa yang barusan aku lakukan! (kata Zen, Sambil berlari kecil kamarnya)
"Zen! (teriak Raja)
Pesta yang tadinya dibuka dengan sangat meriah kini ditutup dengan sangat buruk.
[Di Kamar Jozen]
"Bagaimana, apakah masih sakit?
"Iya Bu, perih..!
"Kalau begitu kau istirahatlah dulu! Pelayan tolong urus Jozen.
"Baik Ratu!
Ratu kemudian pergi bertemu dengan Raja Zedan.
[Di Ruangan Raja]
"Apa yang barusan kau katakan Ratu!
"Iya Raja, Jika dia kita asingkan dulu untuk sementara waktu, mungkin dia akan bisa belajar untuk mengendalikan dirinya!
"Tidak, aku tidak setuju dengan itu!
"Tapi kenapa Raja?
"Aku tidak ingin melihat anakku diperlakukan seperti seorang tahanan dan membiarkannya tumbuh sendiri disana. Aku juga sudah berjanji kepada Ratu Rubi untuk selalu menjaga dan melindunginya!
"Lalu bagaimana? Apakah kita hanya akan tinggal diam melihat kejadian seperti tadi terjadi lagi nantinya!
"Panglima, dia pasti tahu dan bisa mengajari Zen untuk mengendalikan kekuatannya itu!
"Apa!
"Ya'. Aku akan memintanya untuk mengawasi dan melatih Zen.
"Raja kau mau kemana? Gawat...! Raja sepertinya lebih peduli pada putranya itu. Ini tidak boleh dibiarkan. (gumam Moorim)
[Raja kemudian pergi ke kamar Zen]
"Ayah! Aku sungguh tidak tahu apapun, aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukan itu pada Jozen.
"Iya, Ayah mengerti!
"Apakah Ibu masih marah padaku? Ayah juga?
__ADS_1
(Tersenyum Raja) Kemarilah! (Kata Raja sambil memangku Zen) Dengar, kau adalah Zen si pemberani sekaligus putra kesayangan Ayah. Jadi bagaimana bisa Ayah marah terlalu lama padamu!
"Lalu apa Ayah akan menghukumku?
"Tentu saja tidak, tapi Ayah minta satu hal!
"Apa itu?
"Ayah ingin kamu bermain dan berlatih dulu untuk sementara waktu bersama Panglima!
"Kenapa harus Panglima, Ayah?
"Karena Ayah yakin, panglima bisa melatih kamu untuk mengendalikan kekuatanmu itu! Bagaimana, apakah kau keberatan?
"Tentu tidak Ayah, aku tidak keberatan jika itu membantuku mengendalikan kutukan ini. (Kata zen kecil itu) Oh iya, Ayah apakah aku boleh menanyakan sesuatu?
"Kenapa tidak?
"Apakah Ibu, meninggal karena melahirkan anak Monster sepertiku?
(Terdiam sejenak) "Hmm..., kemarilah Nak! (Panggil Raja sambil memangku Zen kecil) Memangnya siapa yang mengatakan itu kepadamu, Hm?
"Ibu Moorim!
"Hah...,(membuang nafas dalam) Dengarlah anakku! Ibumu meninggal karena seorang penyihir jahat sesaat setelah melahirkanmu, jadi kamu jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Ya!
"Tapi ayah, semua orang mengatakan kalau aku ini..
"Sudah jangan dipikirkan, mereka mengatakan itu karena mereka tidak tahu apa-apa tentang kebenarannya. Yang terpenting kamu berjanji tidak akan melukai siapapun terutama saudara-saudaramu sendiri!
"Hmm.., aku berjanji!
Setelah kejadian itu, Zen kecil pun perlahan belajar untuk mengendalikan emosinya itu. Masa-masa kecilnya kini ia lewati dengan sangat berat tak seperti teman seusianya yang sepantasnya bermain. Namun, menyadari kekuatan kutukannya itu semakin besar, membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu dikamarnya dan membuat pangeran sulit bergaul.
[Beberapa Tahun kemudian]
"Tidak ayah, aku masih takut jika sewaktu-waktu aku bisa saja melukai mereka! Lagi pula, siapa yang ingin bermain dengan Monster sepertiku?
"Sst..., bukankah, Ayah sudah berulang kali mengatakan ini? kau bukanlah Monster anakku, kau harus lebih terbuka mulai sekarang. Bagaimana kalau kamu mencari teman baru! Ayah akan memerintahkan Panglima untuk mengawalmu dan mengawasimu selama diluar?
"Benarkah ayah?
"Iya!
Sebelum itu, Raja Zedan sempat berdiskusi kecil mengenai kondisi Pangeran bersama Panglima, dan berdasarkan pengamatan Panglima, Pangeran Zen belum sepenuhnya menguasai emosinya karena mengingat umur yang belum cukup matang menjadi faktor utama, dan juga ia harus tetap terus diawasi sebisa mungkin.
"Baiklah kalau begitu aku akan keluar istana mencari teman baru! (kata Zen)
Pangeran Zen sangat senang bisa keluar istana lagi setelah sekian lama.
[Di sisi Lain]
"Rajaku, Raja Zedan. Mengapa kau membiarkan Zen keluar istana? Ia bisa saja berubah lagi dan menyerang warga!
"Aku akan lebih khawatir jika Pangeran menjadi anak yang tertutup. Moorim ingatlah! dia bukan tahanan yang harus mengurung diri di kamar, sepanjang hidupnya. Lagi pula anak-anak seusianya memang semestinya lebih banyak bergaul. Dan ingatlah satu hal lagi! Tolonglah berhenti bersikap seakan ia itu adalah seekor burung peliharaan! (Marah Raja sambil pergi)
"Raja mulai semakin tidak mempedulikanku, ini semua karena anak itu! (gumam Moorim)
Diluar kerajaan zuma, pangeran zen pergi jalan-jalan ke sebuah desa yang sedang ramai.
[Di perayaan atau Pasar Rakyat]
"Wah..., kelihatannya enak!
"Apakah Pangeran menginginkan makanan itu? (Tanya panglima)
__ADS_1
"Aku ingin satu!
"Baiklah, kalau begitu pangeran tunggu disini, saya akan membelinya!
Sementara panglima sibuk memesan makanan, Pangeran Zen melihat segerombolan anak desa berkumpul mengelilingi seorang anak perempuan.
"Hei! Lihatlah wajahnya itu, jelek sekali!
"Iya! Bau lagi.
"Hei! ada apa ini? Kenapa kalian mengejekanya seperti itu? (Tanya Pangeran Zen kepada mereka)
"Hei! Siapa kau? Apa kau temannya?
"Iya, memangnya kenapa kalau aku berteman dengannya? Kalian jangan mengatakan hal itu kepadanya, cepat minta maaf!
"Apa? Minta maaf, untuk apa?
"Lihatlah! Kalian sudah membuatnya menangis.
"Kalau kami tidak mau, memangnya kenapa?
karena emosi, Pangeran Zen tidak dapat menahan amarahnya. Dan akhirnya membuat ia kembali berubah menjadi manusia serigala. Matanya memerah, telinga, gigi dan kukunya perlahan memanjang yang bisa menyerang siapa saja.
"Monster! dia anak Monster..., lari..! (kata anak-anak itu berteriak membuat penduduk desa ketakutan)
Berlari anak-anak itu bahkan belum sempat menjauh namun Pangeran Zen yang kala itu tidak menyadari dirinya dengan cepat menghalangi langkah mereka.
Semua warga ketakutan, Panglima yang mendengarnya kemudian segera menghentikan Pangeran Zen yang tak terkendali itu.
"Pangeran, hentikan! ingatlah janji Pangeran, tidak akan menyakiti siapapun! juga Ibu Pangeran yang akan sedih melihat semua ini.
Mendengarnya Pangeran seketika berubah kembali menjadi manusia normal.
"Para warga semua tenang! tidak apa-apa, tidak ada yang terluka. Pangeran ayo kita pergi!
"Lihatlah Pangeran ternyata anak Monster!
"Iya..., sebaiknya kita jauhkan anak kita darinya!
Semua warga diluar istana kini mulai mengetahui bahwa pangeran telah terkena kutukan manusia serigala. Panglima kemudian segera membawa Pangeran Zen pulang ke istana.
"Apa! Pangeran Zen berubah lagi!
"Iya Yang Mulia, untunglah saya segera melihatnya sehingga tidak ada yang sempat terluka. hanya saja...
"Hanya saja apa Pengawal?
"Warga kini mengetahui yang sebenarnya, dan mereka merasa takut untuk membiarkan Pangeran bergaul dengan anak-anak mereka!
"Hmm..., syukurlah tidak ada yang terluka! sekarang kau boleh pergi, terimakasih telah menjaganya.
"Baik Raja! kalau begitu saya pergi dulu. (kata Panglima, kembali bertugas)
....***Bersambung....
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***:)