Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 56


__ADS_3

Ran bergumam, “Kata itu, yang selalu aku tunggu terucap dari bibirmu Putri...., tapi kenapa kau baru mengatakannya sekarang?


“Maaf aku baru mengatakan ini, aku tahu ini mungkin terlambat bagiku mengatakannya tapi sungguh aku benar-benar mencintaimu Ran....,aku tidak ingin membuatmu kecewa sehingga aku memutuskan untuk menutupi identitasku sebagai Putri kerajaan Ludo."


“Putri...tolong lepaskan...kita tidak sepantasnya melakukan ini...!"


“Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya...aku benar-benar ingin kita bersama seperti dulu lagi."


“Bagaimana sekarang? Jika orang-orang melihat maka masahnya akan gawat...," gumamnya. " Putri ini tidak benar....aku..."


“Hei kalian berdua....apa kalian tidak punya rasa malu?!


Suara seorang wanita dengan nada serak terdengar dari belakang mereka, sepertinya orang tersebut telah melihat apa yang barusan terjadi


“Ibu Ratu...!"


Ran cukup terkejut melihat orang tersebut yang tidak lain adalah Penyihir sendiri. Penyihir telah kembali lebih awal atas permintaan Ratu Moorim, karena sempat mendapat surat darinya yang dikirimkan melalui burung pembawa surat terlatih. Ratu dalam suratnya menginfokan segala kecemasannya mengenai hal-hal yang barusaja terjadi di istana terutama soal kembalinya Ella, karena itu Penyihir memutuskan untuk kembali.


“Kenapa Panglima? Kau terkejut aku kembali dan melihatmu disini bersama kekasih sahabatmu sendiri?"


“Ampun Yang Mulia...ini adalah sebuah kesalahpahaman, mohon tidak menghukum kami...," berlutut Ran didean Ibu Ratu.


“Maaf...kau ini siapa?" ucap Bella, belum mengenal.


“Hmm...salam untuk Putri kerajaan Ludo...aku adalah Ibu kerajaan Zuma kepercayaan Raja yang setia..."


“Ibu Ratu...?! Aah...maaf...aku tidak tahu! Senang bertemu dengan anda..."


“Tentu saja kau tidak tahu...karena kita tidak pernah bertemu sebelumnya bukan? Tapi aku tahu...


“Hah?


“Heh...benar, aku mendengar semuanya barusan. Dan sungguh memalukan melihat seorang Putri cantik sepertimu memohon kepada seorang Panglima biasa sepertinya..."


“Hmm....itu..."


“Ran...aku masih tidak percaya kau yang begitu patuh terhadap Zen ternyata dibelakang hanyalah seorang penghianat...bagaimana jika Pangeran Zen mengetahui ini...sahabatnya yang sangat ia percaya tidak lebih dari seorang..."


“Kumohon Ibu Ratu....saya tidak ada maksud untuk menghianati Pangeran Zen...kami memang pernah memiliki hubungan dekat tapi itu hanya sebatas sahabat tidak lebih...”


“Hm...benarkah? Hahaha...hei! jangan tegang begitu, aku tidak akan memberitahukan siapapun tentang hal ini...,jadi jangan khawatir..."


“Terimakasih atas kebaikan Yang Mulia...," ucap Ran.


“Baiklah..., Putri Bella...,bolehkah kita berbincang sebentar sambil kembali ke istana bersama?"


“Ah...itu...," sambil melihat Ran yang masih tertunduk.


“Tidak keberatan kan? Kau tenang saja aku tidak akan menghukum Ran...mari..."


“Hmm...tentu. Terimakasih...."


[Situasi Beauty]


“Benarkah! Kakak diajak makan malam oleh Pangeran Zen?"


“Hmm...," angguknya sambil tersenyum.


“Wahh...pantasan saja kakak terlihat bahagia, berarti usaha kita tidak sia-sia...,buktinya Pangeran juga memujimu."


“Yah...,tapi aku masih ragu."


“Loh...kenapa? Bukannya itu bagus....artinya kakak sedikit lebih dekat dengannya meski hanya sekedar sahabat.."


“Tapi apakah tindakanku ini sudah benar? Dan Putri Bella, bagaimana jika ia ternyata menyukainya juga?"


“Hah kakak ini bicara apa? Tentu itu tidak akan terjadi, Putri Bella sangat mencintai Ran jadi kemungkinan ia berpaling itu sangat kecil...sudahlah, sekarang sebaiknya kakak mandi lalu bersiap-siap untuk bertemu Pangeran..."


“Hm...kau benar! Eh iya...aku lupa..."


“Hah?

__ADS_1


“Tadi kau bilang ingin meminta izin untuk berlatih bersama Panglima Hugo bukan?"


“Iya..., tapi kalau kakak melarang aku juga tidak akan..."


“Aku menginjinkan..."


“Benarkah?"


“Yah setidaknya kau bisa sedikit menjaga diri sendiri meski tanpa bantuanku..."


“Hm...terimakasih."


Disisi lain, setelah Ibu Ratu bersama Bella sampai di istana, Raja dan Ratu Moorim pun menyambut kedatangannya.


“Selamat datang kembali Ibu Ratu..."


“Terimakasih atas sambutannya Yang Mulia..."


“Kau sudah bertemu Bella?" ucap Moorim.


“Benar, kami tidak sengaja bertemu dijalan tadi. Seketika itu aku bisa mengenali ciri-ciri seperti yang kau katakan dan ternyata memang bebar dia tumbuh menjadi gadis yang cantik..., syukurlah kau masih hidup setelah insiden itu..."


“Terimakasih Yang Mulia..." ucap Bella.


“Hahaha....kau benar, bagaimana kalau aku mengantarmu ke kamar...kau pasti sudah lelah setelah perjalan jauh. Bukan? Mari..."


“Hmm...terimakasih Yang Mulia...,saya Permisi Raja..."


[Malam Hari]


Kini tiba saatnya Beauty dan Pangeran mempersiapkan diri masing-masing, meski ini hanya sebuah makan malam biasa, namun Putri Beauty cukup bersemangat.


“Bagaimana apakah ini sudah cocok?"


“Wah...sempurna! Kakak tampak anggun mengenakan gaun ini...tak salah Pangeran memberikannya."


“Benar....ukuran dan warnanya sangat pas. Ratu Rubi dulu pasti sangat cantik..."


“Hahaha...kau ini. Seakan aku sudah jadian saja dengan Pangeran..."


“Yah...apa salahnya berharap, siapa tahu Pangeran Zen memang jodoh kakak sekaligus calon kakak iparku hehehe..."


“Ih kamu..." cubit Beauty.


“Aww...sakit hmm...," mengelus pipinya.


“Ya sudah aku pergi sekarang..."


“Iya...semoga berhasil, hehehe..." kemudian bergumam, "Mm...sekarang kakak sudah pergi. Ini saatnya menjalankan misi!"


Sementara Beauty pergi menemui Pangeran Zen, Leona ternyata memiliki sebuah rencana untuk memata-matai Pangeran bersaudara itu. Ia masih yakin, yang ia lihat waktu itu adalah mereka dan malam ini ia sudah menemukan informasi tempat hiburan malam yang duganya akan dikunjungi Pangeran Jozen dan Rollen.


[Di situasi Lain]


“Hah...kau akhirnya kembali...aku benar-benar lega kau ada disini sekarang Penyihir!"


“Tentu...setelah mendapat pesanmu, aku langsung kembali kesini."


“Lalu bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan informasinya?"


“Hm....ya aku sudah mengetahuinya. Setelah mengirim mata-mata, aku menemukan informasi yang menjelaskan bahwa Putri Bella bukanlah anak kandung Ratu Ludo...melainkan anak angkatnya...”


“Apa! jadi dugaanku benar, dia memang Ella...?”


“Benar...aku juga sempat tidak percaya dia ditemukan dan diangkat menjadi seorang putri dan sampai kembali kemari...ini benar-benar diluar dugaanku!”


“Kau ini jangan menakutiku Penyihir..!.”


“Hm...Yang Mulia tidak usah khawatirkan tentang Bella, karena ingatannya sudah aku hapus sebelumnya. Dan dari yang aku lihat, Bella sejauh ini tidak memiliki rasa apapun kepada Pangeran Zen melainkan kepada Ran!"


“Jadi itu artinya...Bella tidak akan bisa menghapus kutakannya?"

__ADS_1


“Hmm....benar. Namun, aku sebenarnya masih mencurigai seseorang!”


“Selain Bella...ada siapa lagi?


Disisi lain, Beauty yang cukup gugup itu, melangkah perlahan menuju ruang makan malam yang khusus dibuat Pangeran Zen untuk merayakan pertemanan mereka.


“Hai...!" ucap Bella dengan suara gugup namun tetap ia lembutkan.


“Hai!" kemudian melihat dari ujung kaki ke ujung rambut. "kau benar-benar cantik malam ini."


“Benarkah? Mm....terimakasih."


“Silahkan duduk..."


“Oh iya...!" jawabnya tersenyum.


[Kembali ke situasi]


“Beauty? Hahaha....kalau dia hanya seorang panglima kerajaan biasa. Bahkan dia dan Pangeran Zen hanya sebatas hubungan kerja sama dan tidak lebih.” ucap Moorim


“Yah memang siapa yang mengatakan kalau itu benar..., aku hanya curiga saja karena sikap gadis yang satu itu memang cukup sulit untuk diprediksi.”


“Aku baru tahu, seorang penyihir juga bisa salah tebak seperti itu. Apa mungkin karena kau sekarang semakin bertambah tua hingga bahkan kecurigaanmu itu mulai tidak berdasar sekarang?”


“Jangan meledekku Ratu....” Celetuk Penyihir. “Hah...aku sebaiknya berendam sebentar.”


“Iya...segeralah berendam dan susun rencana selanjutnya...”


[Di taman samping istana]


Bella yang sendirian tengah menatap bintang-bintang, mengingat hal yang ia lakukan kepada Ran.


“Hah...seharusnya aku tidak memeluknya seperti itu tadi, untunglah Ibu Ratu-nya pengertian. Pufft....”


“Kau sedang memikirkan apa...Putri.” ucap Hugo.


“Eh...Panglima, sejak kapan kau ada disitu?


“Sejak Putri sendirian disini, hahaha....tentu saja aku ini sekarang menjalankan tugas untuk mejagamu!”


“Hmm...., Maaf karena membuatmu kerepotan.”


“Melundungimu sudah tugasku Putri.., mm...jadi apakah Putri telah memikirkan rencana untuk membalas dendam?”


“Soal tugas yang diberikan ibuku itu..., aku masih bingung bagaimana melakukannya..., kau tahu sendiri Pangeran Zen ternyata tak seburuk yang kita pikirkan selama ini. Aku hampir merasa tidak tega.”


Wajar saja jika Bella sedikit cemas, itu adalah sebuah kejahatan baginya untuk membunuh seseorang yang tidak berdosa. Namun sesuai janjinya kepada Ratu Ludo, ia harus melakukannya meski dengan caranya sendiri.


“Kalau begitu ijinkan aku yang melakukannya untuk Putri, agar Putri tidak mengotori tangannya dengan darah."


“Tidak...kau tidak perlu ikut campur dalam masalah ini, biar aku sendiri yang mengatasinya.”


“Apakah karena Ran?"


“Apa?"


“Aku tahu...Putri masih mencintainya bukan?"


***Bersambung....


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***.


__ADS_2