
Hari pertama dan kedua berjalan cukup baik karena situasi yang memudahkan Bella membiasakan diri untuk lebih rajin. Hingga memasuki hari ketiga pun nampaknya sesuatu yang aneh telah terjadi menurut pandangan Bella.
“Bella tolong ambilkan beberapa piring di dalam! (kata relawan lain)
“Baik...!
Bella yang masuk kedalam dapur untuk mengambil piring itu sempat tekejut dan hampir terpeleset karena licinnya lantai ruangan. Untunglah Ran kebetulan mampir untuk membantu sedikit karena sedang tidak sibuk bekerja hari itu dan ketika ingin mengejutkan Bella, Bella yang malah hampir terpeleset tapi Ran dengan sigap menolongnya hingga jatuh ke sisi Ran. Beberapa saat mereka saling memandang dan perasaan berdebar-debar sedikit muncul dihati mereka.
“Apa kau tidak apa-apa?
“Tidak...aku tidak apa-apa. Terimakasih telah menolongku!
“Hm...lain kali lebih berhati-hatilah dalam melangkah, bagaimana jika kau jatuh dan piringnya pecah? Itu akan merugikan sekaligus membahayakan.
“Iya maaf...., lagipula kenapa kau datang kesini? Bukankah kau itu harusnya melaksanakan tugasmu?
“Ya...kebetulan hari ini aku juga punya tugas kecil mengawas disini jadi sekalian aku ikut membantu. Lalu bagaimana denganmu apakakah kau sudah merasa terbiasa disini?
“Yah...begitulah setidaknya tinggal beberapa hari lagi aku sudah bisa melunasi hutangku dan setelah itu urusan kita selesai bukan?
“Hmm...ya. Aku harap kau bisa lebih bersemangat lagi dalam bekerja! (ucap Ran,tersenyum kecil)
“Bella...apakah kau sudah mendapatkan piringnya?
“Iya...tunggu..., aku akan kembali bekerja...(ucap bella lalu pergi)
“Kertas apa ini?
Ran menemukan sebuah kertas yang jatuh, ia kemudian membuka kertas tersebut.
“ini kan daftar impian Bella? Tapi kenapa ia mencoretnya? Apakah itu tanda bahwa impiannya itu tidak bisa terlaksana?
Ran mulai menyadari bahwa gadis malang itu, sangat mengharapkan mimpi-mimpi kecilnya itu terwujud oleh karenanya Ran pun memiliki ide untuk membantu Bella sesuai kemampuannya.
[Malam harinya]
“Kau mau mengajakku kemana Ran?
“Sudah ikut aku sebentar, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan!
“Tapi aku belum meminta izin ke madam Zoya? Bagaimana kalau ia mencariku dan membutuhkan bantuanku?
__ADS_1
“Kau tenang saja aku sudah memberitahu sebelumnya lagipula katanya, kau selama tiga hari berturut-turut sangat bekerja keras untuk membantu jadi anggap saja ini termasuk hadiah untuk kerjakeras mu!
“Hmm...begitukah? Tapi rasanya itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan, malah aku sangat senang bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka, aku pikir aku selama ini telah salah menilai orang-orang Zuma.
“Maksudnya?
“Eh itu...maksudku kau juga orangnya baik sama seperti mereka. Tapi sekarang katakan? Untuk apa kau membawaku ditempat seperti ini malam hari? Jangan bilang...
“Jangan berpikir yang buruk dulu, aku mengajakmu kesini dengan maksud baik! Coba lihat ke sana! (Sambil menunjuk ke arah bulan)
“Wah...bulannya indah sekali! Kau membawaku kesini untuk melihat bulan purnama? Tapi bukankah bulan purnama hanya muncul satu kali setahun ya?
“Hahaha...siapa yang bilang? Bulan purnama selalu muncul disini setiap saat dijam seperti ini.
“Benarkah? Aku baru tahu soal itu.
“Hmm...kau ini terdengar tidak pernah pergi keluar saja, padahal kamu bilang tidak punya rumah. Aneh!
“Hehehe...ya..itu karena...karena...aku....
“Kau tidak perlu mencari alasan untuk itu, aku tahu...itu hari-hari yang sulit untukmu. Aku bisa merasakan hal yang sama, karena aku juga pernah kehilangan seseorang yang aku sayangi.
“Hmm...maaf soal itu, aku mengingatkanmu dengan kenangan buruk masa lalumu?
“Kemana lagi?
Ran kemudian mengajak Bella ke sebuah padang rumput yang mana banyak kunang-kunang yang bersinar beterbangan. Bella sangat senang sampai menari-nari di atasnya.
“Aku merasa sangat senang hari ini, terima kasih karena telah mengajakku ke sini. Jujur saja ini adalah moment harapanku yang belum tercapai di hari ulang tahunku kemarin tapi kau mewujudkannya untukku malam ini. Hmm...sebaiknya aku menandainya sebelum...eh...kertasku mana? Ya ampun pasti terjatuh lagi?
“Ini...aku sudah mengganti kertasmu itu! (ucap Ran sambil memberikan sebuah buku catatan keci) Tadi siang di dapur kau menjatuhkannya dan kertasnya agak basah terkena air dilantai jadi aku pikir aku bisa...
Belum sempat menyelesaikan kata, Ran sudah lebih dulu diucapkan terimakasih oleh Bella dengan pelukan hangatnya. Sungguh itu moment yang mendebarkan bagi Ran untuk pertama kalinya.
“Terimakasih..., aku tidak tahu berkata apalagi. Kau sering membantuku disaat aku benar-benar butuh, beruntung aku bisa memiliki teman sepertimu! (ungkap Bella lalu melepaskan pelukannya) Eh...hmm...maaf aku tadi tidak bermaksud...aku terlalu senang jadi..
“Hmm...tidak apa-apa, oh iya...satu lagi. Ini hadiah ulang tahunku untukmu. (sambil memberikan rangkaian bunga dikepalanya) ini mungkin tidak seberapa tapi aku membuatnya sendiri untukmu.
“Wah...indah sekali...terimakasih karena bersusah payah membuatnya! Apakah aku terlihat cantik memakai ini?
“Hmm...(Ran hanya bisa memandang Bella yang ternyata sangat cantik ketika tersenyum) kenapa perasaanku sangat gugup sekarang melihat dia tersenyum manis seperti itu...apakah aku? Tidak...tidak, aku ini hanya ingin membantunya jadi hilangkan perasaan seperti itu Ran.(gumamnya)
__ADS_1
“Hei...kenapa kau tersenyum seperti itu, hah?
“Eh...mmm...tidak, kamu sangat ingin mewujudkan semua keinginanmu di daftar itu?
“Iya...kalau bisa aku ingin melakukannya tapi entahlah apakah aku bisa?
“Kalau begitu mari kita wujudkan itu bersama?
“Benarkah? Kau ingin membantuku mewujudkannya?
“Tentu saja, lagipula keinginanmu itu cukup sederhana untuk dilakukan?
“Benarkah? Tapi aku kira ini adalah impianku yang paling sulit terwujud.
“Yah setiap orang memiliki impian dan kesulitannya sendiri kan?
“Hmm...iya, kau benar! Kalau begitu apa impian mu?
“Entahlah...aku masih belum memikirkannya! Aku terlalu sibuk untuk berlatih dan melaksanakan tugas sebagai calon Panglima, mungkin untuk sekarang itu bisa disebut sebagai impian.
“Kalau begitu begjuanglah untuk itu, kita sekarang adalah teman jadi aku juga akan mendukungmu meski tidak sebaik Pangeran Zen itu!
“Hmm...terimakasih!
Tak terasa hari demi hari mereka lalui dengan banyak sekali moment, termasuk moment ketika Bella bertemu dengan pasukan Ludo yang menyamar untuk menemui Bella setelah diperintahkan Ratu untuk mempetingatkan ia kembali ke istana. Namun Bella saat itu menolak lantaran ia masih ingin mewujudkan beberapa keinginannya yang belum terwujud. Karena menolak, ia pun dipaksa namun Ran yang kemudian melihatnya langsung melawan dan terlibat pertarungan kecil hingga Ran sempat terluka waktu itu.
“Bella...apakah kau baik-baik saja? Apakah mereka menyakitimu tadi?
“Tidak aku baik-baik saja, tapi tanganmu terluka karena menahan tangkisan pedang mereka.(kata Bella kemudian merobek kain bajunya lalu menutup luka Ran) ini hanya bisa menahan darahnya keluar, sebaiknya kita membeli obat untuk lukamu!
“Tidak perlu, bagiku ini hanya luka kecil! Sekarang katakan mereka yang barusan itu siapa?
“Aku juga tidak tahu, aku tadi berniat pergi membeli sayuran di pasar tapi mereka tiba-tiba datang dan memaksaku untuk ikut bersama mereka! Sudah jangan dipikirkan aku baik-baik saja.
“Iya tapi sebaiknya kau juga berhati-hati bagaimana jika mereka menyakitimu? Aku tidak bisa melihatmu terluka apalagi kau...ah sudahlah (kemudian duduk di sebuah papan kayu)
“Iya maaf aku tahu aku salah seharusnya aku mengajak seorang teman bukan pergi sendiri! Hmm...tunggu disini sebentar aku akan membeli obat.
Bella saat itu masih belum menyadari bahwa Ran mulai bersimpati kepadanya, hingga ketika Bella pergi ke festival yang masih berlangsung saat itu bersama Ran. Seorang nenek yang ternyata adalah Ratu Ludo sendiri yang menyamar sebagai gelandangan itu datang dan memperingati Bella.
“Hei ada apa itu disana, kenapa orang bergerombol? (tanya Bella)
__ADS_1
“Hmm...sepertinya aku harus memastikannya! Kau tunggu disini sebentar. (kata Ran)
Ran kemudian pergi memeriksa situasi disana, dan mendapati seorang pembeli yang marah dengan berbagai alasan mengenai barang dagangan seorang pedagang di festival tersebut. Yang mana pembeli tersebut sebenarnya adalah Panglima Hugo yang ternyata juga ikut menyamar bersama Ratu Ludo untuk bisa menyusup diam-diam. Sesuai perintah Ratu, Hugo diminta untuk mengalihakan Ran agar dapat menjauhkan Ran dari Bella untuk kemudian Ratu bisa mendekati Bella dan memberikan peringatan melalui perbincangan singkat.