
Leona pun kembali ke ruang kamar ,namun ditengah langkah kakinya ia merasa sedikit haus.
“Aduh...tiba-tiba aku merasa haus ya? Ini mungkin karena kebanyakan bercerita hari ini....huff...tapi mau cari air kemana, aku belum sempat nanya ke Panglima dapur disini dimana! Hm...coba aku lihat kesana...
Karena tidak bisa menahan rasa hausnya, ia pun mencoba mencari sendiri ruang dapur istana.
“Aduh...kok malah sampai ke sini ya? Istananya terlalu luas sih jadi tersesat kan...disini tidak ada pelayan lagi...dimana ya?
“Nona...(sambil menepuk pundaknya)
“Hah....huff...lagi-lagi Bibi mengagetkanku..
“Maaf Nona tapi Nona kenapa ada disini? Kan kamarnya ada disana...
“Iya aku lagi haus bibi...dan aku lupa tanya soal jalan ke dapur jadinya kesasar...kebetulan Bibi ada disini boleh tidak ambilkan aku segelas air. Tolong!
“Tentu boleh Nona, tapi dapurnya ada disebelah sana.
“Oh ada disana rupanya pantas saja dari tadi keliling tidak ketemu hehehe..
“Hmm...iya, eh...Nona sebaiknya tunggu di kamar saja, saya akan membawakannya ke kamar Nona.
“Baik...maaf merepotkan!
“Ini sudah tugas saya melayani tamu Nona jadi kalau Nona membutuhkan sesuatu Nona bisa memanggil saya.
“Mm...iya, terimakasih Bibi kalau begitu saya ke kamar sekarang!
“Sama-sama Nona!
Belum sempat melangkah jauh dari tempatnya berdiri, ia kemudian mendengar suara beberapa orang yang sedang berbincang-bincang. Karena penasaran Leona kemudian sedikit menguping pembicaraan tersebut.
“Sepertinya Ratu dan beberapa penasehatnya masih rapat. Mungkin permasalahannya sangat penting sampai-sampai semalam ini mereka berbincang. Tapi aku sangat penasaran...haruskah aku menguping sebentar....ah...tidak Leona ingat jaga sikap dan perilaku...(kemudian Leona berlalu sejenak namun rasa penasaannya lebih besar setelah sempat mendengar nama yang tak asing ditelinganya sehingga ia benar-benar menguping) Hmm...menguping sedikit tidak masalah toh aku juga tidak telalu paham aku kan masih polos hehehe...(lalu mengendap menempelkan telinganya dibalik pintu lebar ruang pertemuan itu)
Leona mendengar sebagian percakapan yang membuatnya terkejut setelah mendengar bahwa Ran calon Panglima kerajaan Zuma ternyata ditangkap dan akan kena hukuman besok.
“Apa...jadi Ran itu sekarang ada disini dan besok akan dihukum mati? Tapi bukankah ini melanggar karena tanpa persetujuan dua pihak...
Leona mencoba mengkorek lebih dalam namun melihat Pelayan yang barusaja keluar dari dapur membawa segelas air minum itu membuat ia harus menghentikan niatnya dan segera kembali ke kamar sebelum orang lain melihatnya.
“Gawat Bibi sudah keluar...aku harus ada dikamar lebih dulu sebelum aku ketahuan!
Sakin terburu-buru ia bahkan sempat terjatuh karena sepatu yang tidak nyaman ia kenakan akhirnya terlepas dan mengharuskan ia membuang dan meninggalkan sepatunya di lantai.
“Aduh...aww...(katanya mencoba menahan suara teriakan) dasar sepatu...(kemudian melempar sepatunya lalu berlari kembali)
[Sesampai didalam ruang kamar)
“Huff...akhirnya sampai juga!
Tok...tok....(suara ketukan diluar pintu kamarnya)
__ADS_1
“Masuk! Eh Bibi...
“Ini air minumnya Nona!
“Oh iya...terimakasih ya Bibi!
“Sama-sama Nona...kalau begitu saya permisi!
“Iya....selamat malam Bibi...
“Malam Nona!
“Huff....hampir saja aku ketahuan! Tapi maksud pembicaraan mereka barusan membuatku bingung...apa yang Panglima Ran lakukan sehingga ia harus dihukum mati? Hmm..sepertinya ada sedikit kesalahpahaman disini...aku harus cari tahu!
[Keesokan harinya]
Leona yang bangun pagi itu kemudian bergegas mandi dan bersiap-siap.
“Baiklah Leona...hari ini kau harus berbuat sesuatu untuk menolong Ran! Aku sangat yakin Panglima Ran tidak mungkin melakukan kesalahan besar sampai harus dhukum mati seperti itu....
Disisi lain Panglima Hugo yang baru saja masuk ke istana setelah semalaman bertugas itu berjalan dan tanpa sengaja melihat sepasang sepatu tergeletak dilantai yang tak jauh dari kamar Leona.
“Hmm...ini kan sepatu Leona? (gumam Hugo sambil mengambil sepatu itu) iya benar....tapi kenapa ada disini? Sebaiknya aku mengembalikannya...
Leona yang sudah selesai bersiap-siap itu kemudian keluar dan tiba-tiba terpeleset karena licinnya lantai dengan sepatu miliknya. Mungkin karena sepatu miliknya sempat menginjak sesuatu yang berminyak tapi dengan kebetulan dan tanpa sengaja Hugo yang juga baru tiba di depan pintu itu dengan sigap menangkap tubuh mungil Leona. Sama-sama terkejut itu pasti, tapi mereka cukup canggung dengan situasi yang menjadi sedikit berkesan romantis hehehe...
“Eh....mm..maaf Nona. (kemudian melepaskan gengamannya)
“Aku juga minta maaf...dan terimakasih! Sepatuku sedikit licin jadi kepelesat tadi...kau sedang apa didepan pintu kamar?
“Sepatu itu...hehehe...iya aku memang semalam sempat jatuh karena mengantuk jadi lupa...
“Apa?
“Iya tapi untunglah itu tidak terlalu sakit jadi...
“Kakimu kelihatannya bengkak...itu harus di obati jika tidak akan lama sembuhnya!
“Eh...tidak perlu. Ini hal yang biasa untukku...
“Iya tapi aku harus bertanggung jawab untuk ini...Ratu akan marah jika tahu. Ayo aku bantu obati!
“Eh tapi...
Hugo pun kemudian mengambil beberapa lembar obat daun tradisional yang biasa digunakan untukmengobati luka bengkak. Leona hanya bisa membiarkan itu meski sempat menolaknya namun Hugo tetap memaksa karena merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya.
“Coba aku lihat kakimu! (kemudian memeriksa)
“Tidak perlu itu hanya kecelakan kecil...Aww...
“Hmm...sepertinya Nona sedikit terkilir. Tahan nafas sebentar...
__ADS_1
“Hah kenapa harus tahan nafas!
Tanpa banyak bicara Hugo langsung memutar sedikit kaki Leona agar lebih baikan, namun Leona yang tak cepat tanggap mengikuti aba-aba Hugo seketika hanya bisa berteriak karena kesakitan.
“Sudah kubilang Nona harusnya tahan nafas tadi
“sss...iya...huff...makasih! Ini lebih baik dari sebelumnya...
“Daun obat itu akan mempercepat bengkak dikaki Nona membaik...sebaiknya Nona tidak kemana-mana dulu ya!
“Iya tapi aku harus...
“Tolonglah Nona...aku tidak ingin Ratu memarahiku karena ini.
“Hmm....baiklah. Tapi tolong juga...Jangan memangilku dengan sebutan Nona, kau kan masih lebih tua dariku....Panggil saja namaku L.E.O.N.A...Leona...ya Panglima!
“Hmm...seharusnya aku yang mengatakan itu Nona...maksudku Leona.
“Baiklah kalau begitu aku akan memanggilmu dengan nama juga. Dengan begitu kita kedengaran lebih akrab bagaimana?
“Kedengarannya impas...baiklah terserah kau saja!
“Bagus...hehehe...
“Hmm..., kalau begitu aku akan keluar. Mohon kau tetap diruangan ini hingga upacara selesai!
“Upacara? Kalau begitu aku ikut...
“Tidak...ini adalah upacara khusus yang hanya dihadiri beberapa anggota kerajaan.
“Benarkah? Apakah itu upacara penghukuman?
“Kau tahu?
“Eh...hahaha....kau ini aku tadi cuman menebak kok. Tapi kalau memang itu benar, siapa yang akan dihuku, sampai-sampai harus dibuat upacara khusus?
“Ceritanya panjang...kau tidak akan mudah mengerti. Yang jelas orang ini memiliki kesalahan besar jadi mesti diberi hukuman setimpal untuk itu. Sudahlah...ini bukan urusanmu jadi sebaiknya kau jangan ikut campur dalam masalah kerajaan kami ya! Ini juga demi kenyamanan tamu spesial Ratu...
“Iya baiklah...baiklah aku juga tidak ingin kepo dengan urusan kerajaanmu.
....***Bersambung....
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***:)