
“Entahlah, dia hanya mengatakan kalau dia melihat Ella yang sebenarnya dalam dirimu bahkan ia mengatakan ia juga merasa nyaman dan tenang setiap kali kau ada...tapi untuk yang pasti kau bisa menanyakannya sendiri...
“Begitu ya? (jawabnya) Hmm...jadi itukah alasannya dia membantuku menang dan membuatku tetap tinggal di istana sampai-sampai dia juga meminta Leona membujukku? Tapi kalau tahu seperti itu, kenapa ia tidak mengatakannya dari awal? Apakah karena mengira aku ini Ella? (gumamnya)
“Oh iya satu lagi, aku hanya ingin berterimakasih karena kau tetap mau berada disini. Aku juga tahu itu mungkin sulit untukmu tapi jika kau memang benar-benar masih menyukai Pangeran, menurutku tidak ada salahnya mengungkapkannya lebih dulu...sebelum terlambat karena Pangeran Zen juga cukup tidak peka dengan perasaaannya sendir, yah siapa tahu setelah mengetahuinya dia bisa menyadari perasaanya juga? Untuk masalah Bella, pangeran juga tidak pasti masih memiliki perasaan itu...dia hanya mengatakan padaku ia tidak ingin Ella melupakan persahabatannya dan kehilangan dirinya...jadi jangan merndahkan diri karena mengira hal yang belum pasti. (saran Zen)
“Mengenai hal itu, apakah kau sudah pasti dengan perasaanmu sendiri?
“Kalau soal itu, aku juga berusaha mencari jawabannya. Ku harap ketika menemukan jawbanku, aku masih tidak terlambat melakukan yang seharusnya.
“Hmm...kalau begitu semangat untuk kita berdua...
[Kembali ke situasi]
“Iya...mungkin perasaan seperti itulah yang kurasakan selama ini bahkan sekarang saat kita berbincang rasanya aku bisa menghilangkan semua beban yang ku pendam selama ini...ketakutanku dan kesedihanku...menghilang...
“Seperti saat kau bersama Bella?
“....hmm...kau tahu dari mana?
“Hehehe...aku hanya menebak saja! Dari ceritamu barusan membuatku merasa kalau kau sedang membandingkan diriku...apakah kau pernah mengira kalau aku ini Bella sehingga kau berisi keras membuatku berada di istana Zuma?
“Tebakanmu mungkin benar karena aku memang sempat berpikir begitu...tapi setelah mengenalmu justru ini lebih kuat...Ella yang dulu dan Bella yang sekarang mungkin saja memang sama namun sedikit berubah seiring berjalannya waktu, perasaanku juga mulai sedikit berubah sekarang...
“Dan alasanmu membawanya kembali itu apakah untuk membantumu mengembalikan perasaan itu lagi?
“Tidak...meski itu benar tapi aku tahu aku tidak bisa memaksa perasaannya karena Bella mencintai Ran meski Ran mengatakan tidak memiliki perasaan apapun tapi tetap saja perasaan itu tidak bisa kita kendalikan begitu saja...jadi soal itu aku belum terlalu mementingkannya karena sekarang bagiku membuat Bella mengingat kembali persahabatan kami itu sudah cukup untuk aku syukuri...
“Berarti aku masih memiliki kesempatan untuk itu? (gumamnya) Begitu ya...jadi bagaimana perasaanmu terhadapku?
“Hah?
“Eh...mm...maksudku jadi kau membujukku kemari karena ingin aku membantumu mengendalikan kutukan itu?
“Tidak jika kau merasa terpaksa...
“Haruskah aku mengungkapkannya sekarang? (gumamnya) Pangeran...aku sebenarnya....
Belum sempat mengungkapkan perasaannya, sekumpulan anak-anak yang datang bermain-main mengiringi kemeriahan pesta bunga keliling yang diadakan rakyat desa Zuma dihari-hari tertentu dimasa Panen mereka. Dengan membawa rangkaian bunga, anak-anak tersebut mengitari Pangeran Zen dan Beauty, mengalungkan bunga dan mengajak kedua Panglima hebat tersebut menari bersama rakyak desa setempat. Kemeriahan semakin terasa, dan rakyat desa sangat bergembira melihat kedua Panglima tersebut juga ikut bergembira. Dan saat menari, Pangeran Zen dan Beauty juga mendapatkan moment yang sangat dekat dan membuat Baper tentunya...
“Eh maaf...(katanya karena tidak sengaja menyenggol)
“Heheh...tidak apa-apa...apakah kau senang?
“Hmm...(angguknya)
Tiba-tiba seorang anak memberikan ikat bunga yang kemudian pintanya untuk memasangkannya dikepala Beauty.
__ADS_1
“Ah tidak usah...tidak perlu...
“Kenapa tidak?
Ucap pangeran tidak ingin membuat anak itu kecewa meski ia merasa saat-saat itu membuatnya mengenang Ella dahulu saat memasangkan bunga yang sama, Bella mengerti itu jadi ia semoat menolak namun akhirnya itu tetap dipakaikan juga. Sekan tidak ada masalah maupun beban, Pangeran mengajaknya untuk menari dan begitu terlihat serasi menurut orang-orang desa.
“Terimakasih....sampai jumpa! (teriak Beauty melambai)
Para rombongan pesta keliling itu pun berlalu, meninggalkan desa yang satu menuju desa-desa lainnya. Pangeran Zen dan Beauty kini hanya tertawa sesakali memikirkan kemeriahan yang baru saja mereka ikuti itu.
“Lalu katakan apa yang kau ingin ucapkan tadi? Aku...hahaha...tidak sempat mendengarmu menyelasaikannya...hah...sungguh menyenangkan...
“Hahaha...iya benar..., Mm...itu tadi aku hanya ingin mengatakan kalau aku sebenarnya juga ingin menjadi sahabatmu...
“Benarkah? Ku kira kau tidak akan menjawabku secepat itu...
“Yah...setelah kupikirkan lagi, kita memang seharusnya jadi sahabat lagipula kerajaan kita sudah bekerjasama dengan baik sekarang...
“Hmm...kalau begitu mari kita rayakan hari jadi persahabatan kita ini...dengan makan malam. Bagaimana?
Mendengar permintaan tersebut, membuat raut wajah Beauty seketika memerah, jantungnya kembali berdetak kencang dia tidak menyangka kalau Pangeran akan mengatakan hal yang romantis seperti berkencan meski itu tidak dimaksudkan Pangeran.
“T...tentu...mari kita rayakan!
“Wah lagi...lagi jawabanmu membuatku terkejut...hahaha...kupikir kau akan menolakku...
“Aku juga hehehe...kupikir seorang Pangeran dingin sepertimu tidak akan mau melakukannya...
“Sama-sama...mm...kalau begitu aku kembali ke istana lebih dulu.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu?
“Tidak...tidak perlu kau bilang masih harus berkeliling untuk mengawasi bukan? Aku bisa pulang sendir...
“Hmm...iya...baiklah Panglima pemberani...
“Heheh...sampai jumpa nanti malam!
“Eh...tunggu! (cegah Zen sebelum Beauty pergi menjauh)
(menghentikan langkah lalu berbalik)...hmmm? (ucapnya dengan senyuman karena sangat senang)
“Aku lupa bilang kalau tadi pagi kau terlihat sangat cantik bahkan tanpa make-up sekalipun...maaf baru mengatakannya...
“Hehehe....tidak masalah...terimakasih...(kemudian berbalik lalu berlari menuju ke istana)
“Iya sama-sama....eh...tadi itu wajahnya merah lagi ya? Apa dia benar baik-baik saja? Hmm...(lalu menaikkan sedikit pundaknya dengan bibir sedikit ditekuk lalu kembali bertugas)
__ADS_1
[Situasi Ran dan Leona]
Berbeda dengan perasaan Beauty yang sedang berbunga-bunga, lain halnya dengan Bella. Disepanjang perjalannya kembali setelah mengunjungi rumah penampungan, ia hanya merasakan situasi kaku yang sama sekali tidak diharapkannya dari Ran.
“Sudah cukup....hentikan semua sandiwara ini....(teriaknya terlihat kesal)
“Ada apa...Putri ingin sesuatu? (ucap Ran, seolah seperti pengawal)
“Aku muak terus seperti ini, Kau....kau tidak mengerti bagaimana perasaanku yang kau campakan begitu saja!”.
“Maaf tuan Putri, sebaiknya kita bicaranya nanti saja setelah berada di istana, ini sudah menjelang malam...dan Pangeran Zen akan kecewa jika saya tidak melaksanakan tugas yang diperintahakan dengan baik.”
“Tidak peduli...aku ingin meminta penjelasnmu sekarang juga. Kenapa kau begitu mudahnya melupakan semua tentang kita? Aku masih ingat pertama kali kau mengatakan menyukaiku dan ingin menjadi kekasihku...dan sekarang...kenapa...kenapa? (tangisnya)
“Putri maaf sekali lagi...kita harus segera pulang...mari ku antar...(sambil menarik Bella)
“Lepaskan! Aku tidak ingin kembali kesana, dan berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja...aku tahu kau juga merasakan hal yang sama bukan?
“Sudahlah Putri, sebaiknya Putri melupakan semua yang terjadi diantara kita...
“Melupakan? Mudah bagimu mengatakannya....aku tahu...kau pasti melakukan ini karena Pangeran bukan? Jawab aku...Panglima..
“Apapun alasannya, itu demi kabaikan kita semua Putri.. jadi tolong lupakanlah saya termasuk...janji kita!
“Demi kebaikan kita atau demi kebaikan Pangeran Zen, sahabatmu itu? Kau bersikap egois pada dirimu sendiri Ran...
“Jika ia memang kenapa Putri? Itu juga tidak akan mempengaruhi kenyataan kalau kita tidak pantas untuk bersama...
“Tapi kenapa? Kita bisa bersama....tak peduli apa kata orang, resiko atau apapun itu kita akan...
“Cukup Putri...maaf jika aku lancang tapi sekarang keadaannya berbeda, sebaiknya kita akhiri sampai disini...dan mulai sekarang mari kita sama-sama belajar untuk menerima takdir dimasa depan...
Ran yang kemudian mulai melangkahkan kaki meninggalkan Bella tanpa memalingkan wajahnya. Melihat orang yang dicintainya sangat berbeda itu, ia pun segera mengejar Ran dan memeluknya erat dari belakang dengan harapan ia akan luluh.
“Aku mencintaimu....Ran!
....Bersambung....
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas:)