
[Ke esokan harinya]
Pangeran mengajak Bella ke tempat favorit mereka waktu kecil. Didepannya ada pemandangan ladang kosong dengan penuh rumput dan bunga liar. Bella hanya berpura-pura mengingat sedikit demi sedikit agar Pangeran tidak curiga kalau ia masih belum mengerti apapun.
“Maafkan aku Pangeran...,aku tidak ingin menipumu tapi aku tidak memiliki cara lain.”gumamnya. “Iya...aku ingat kalau ini adalah tempat favoritku.” jawabnya.
“Oh iya...satu hal lagi yang ingin ku tunjukkan padamu. Kau tunggu disini sebentar!”
“Apa..., eh Pangeran mau kemana!”
Pangeran kemudian pergi ke pedagang untuk membeli perlengkapan lukis terbaru, mengingat dahulu Ella sangat suka dan bermimpi membeli perlengkapannya dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Namun kali ini, Pangeran Zen tidak ingin menundanya sehingga ia memutuskan untuk membelinya untuk Bella dengan harapan Bella mengingat hobby lamanya itu.
Bella hanya berdiri dibawah pohon sambil menatap pemandangan yang indah, bernafas dengan sangat damai menunggu Pangeran Zen kembali.
“Pangeran Zen kau....,” berbalik dan menemukan orang lain. “Ibu Ratu....”
Senyum Penyihir, “Kita ketemu lagi Putri....!”
“Salamku untukmu...kenapa Yang Mulia ada disini?
“Hehehe....salam juga, aku sengaja kesini untuk berbincang denganmu. Dan aku melihat kalian berdua sudah dekat kembali seperti dulu..., apakah itu artinya Putri Bella sudah melupakan Ran sekarang?”
“Soal itu...aku tidak....!”
“Aku tahu...kau terpaksa berpura-pura seperti ini bukan?”
“Apa?”
“Benar...aku sudah tahu tentang rencanamu dan Ratu Ludo itu.”
“Apakah kau dan Ibuku saling kenal?”
“Hmm...dia barusaja mengatakan Ibu, apa dia masih belum mengetahui yang sebenarnya?” gumam Penyihir, “Hahaha...tentu saja tidak Putri..., tapi siapapun bisa mengetahui siasatmu jika kau membiarkan sebuah bukti seperti ini!” lalu menunjukkan surat peringatan tugas Bella.
“Sial...aku lupa membakarnya kemarin!” gumamnya, “Itu aku...aku meminta maaf Yang Mulia...aku tidak bermaksud melakuakannya kepada Pangeran...” kemudian berlutut. “Aku mengakui kalau Ibuku memintaku untuk balas dendam ke kerajaan Zuma melalui Pangeran, tapi sungguh aku tidak pernah berniat melakukannya...”
“Sstt.....sudah cukup, bangkitlah. Aku tahu kau terpaksa melakukannya atas perintah ibumu, dan sekarang aku berdiri untuk memberimu solusi,”
“Solusi?”
“Benar, kau mencintai Ran Bukan!? Dan kau sangat ingin bersamanya tanpa ada penghalang!”
“Maksudnya? Penghalang....”
__ADS_1
Penyihir pun membisikkan kepada Bella bahwa, Penghalang utamanya bersama Ran adalah Pangeran Zen dan sesuai dengan misi Bella untuk balas dendam itu membuat Penyihir sedikit memanfaatkan situasi tersebut. Ia memberikan sebuah pisau kecil untuk digunakan Bella membunuh Pangeran Zen saat itu juga.
“Apa, Pisau ini ada kontak Racunnya?’
“Benar, jika kau ingin membuat Penghalang itu hancur maka kau harus melakukannya. Racunnya akan bekerja setelah 3 jam dan kau akan mendapatkan Ran kembali!”
“Tapi kenapa kau membantuku. Bukankah kau harusnya....!”
“Ini adalah urusan Politik, dan aku mengira kau tidak menyukai Pangeran...bukan begitu?”
Pikir Bella termenung sesaat, “Iya....namun aku...”
“Sudahlah Putri...aku membantumu karena aku kasihan padamu dan lagi kau tidak ingin terus berpura-pura dengan hatimu yang terluka..., Pikirkanlah baik-baik...ambil dan gunakan ini kapanpun kau siap!”
Bella hanya menerima pisau yang diberikan penyihir, dia tidak menyadari bahwa Penyihir memanfaatkan dirinya karena ia lebih terarah ke perasaanya yang memang sangat ingin bersama Ran.
“Kau melangkah dengan benar, semoga berhasil anak muda!” ucap Penyihir lalu pergi dengan senyum kejahatan yang membelakangi punggungnya.
“Apa benar aku sudah mengambil langkah yang tepat?” gumam Bella.
“Putri...!”
Pangeran pun kembali dengan beberapa alat melukis terbaru termasuk cat yang paling mahal dan langkah ia belikan untuknya. Bella yang masih memegang pisau kecil tersebut hanya bisa menyembunyikannya dengan kedua tangan dibelakang punggungnya agar tidak ketahuan Zen.
“Ini alat melukis..., apa kau masih ingat? Kau dulu ingin sekali membeli model yang terbaru dan aku ingin membelikannya untukmu!”
“Benarkah? Tapi aku belum terlalu pandai dalam melukis!”
“Tidak apa-apa kau bisa belajar lagi...untuk menjadi pelukis hebat aku akan menyewa guru terbaik disini!” ucapnya sambil meletakkan alat-alat tersebut.
Pangeran yang sedang fokus itu tidak mengetahui apapun, namun Bella...,Bella menyadari kedatangan Hugo dibalik pohon sedang mengintai sambil membawa anak Panahnya.
“Hugo...bagaimana bisa ia ada disini?” gumamnya. “Apa jangan-jangan dia ingin..., Eh Pangeran...!”
“Iya...!” jawab Pangeran.
“Aku...” langsung melingkarkan kedua tangannya dengan pisau yang masih ada dipegang ke pinggang lebar berotot Zen. “Terimakasih atas segalanya...” ucapnya dalam pelukan.
Zen sedikit heran karena untuk pertama kalinya Bella memeluknya lebih dulu. Ia kembali bertanya untuk memastikan agar Putri memang sadar dengan apa yang dilakukan. Bella saat itu sempat memberi kode, agar Hugo tidak berbuat hal nekat namun Hugo sepertinya tidak menghiraukan.
“Putri...kau baru saja...apakah kau sa...,”
Belum sempat menyelesaikan katanya, Bella langsung memutar tubuhnya membelakangi Hugo agar membuat Hugo sadar dan memikir dua kali untuk tidak menyerang Pangeran Zen saat ini.
__ADS_1
“Aku sadar..., bisakah kita seperti ini untuk beberapa saat lagi?” ucap Bella masih dalam pelukan. “Setidaknya sampai Hugo pergi tanpa melakukan kecerobohan...!” gumamnya.
Tersenyum Pangeran mendengar Bella. “Hmm...sesuai keinginanmu...Putri...,” ucap Pangeran lalu membalas pelukan erat Bella. Belum lama seketika Pangeran menyadari sebuah anak panah dari kejauhan menuju arah mereka. “Putri...awas!” Desis Pangeran Zen lalu memutar kembali tubuhnya untuk melindungi Bella.
Mereka pun terjatuh dengan posisi Bella yang terbaring diatas tanah berumput hijau, sedangkan Zen yang diatasnya dengan kedua tangan diantara wajah indah Bella.
“Apa kau tidak apa-apa!?” ucap Zen dengan nada khawatir namun tetap lembut.
“Aku...aku tidak apa-apa? Bagaimana denganmu!”
Pangeran hanya sedikit berkata setelah mengelus rambut panjang Bella yang sedikit menutupi wajahnya. “Syukurlah....aku...,” kemudian mendekat kewajah Bella lalu tak sadarkan diri disamping Bella.
“Pangeran....Pangeran..., apa kau baik...ya ampun pisaunya!?”
Bella lalu menemukan pisau beracun tersebut yang ternyata sudah menggores punggung Pangeran Zen yang menyebabkan Racunnya perlahan bekerja membuat Pangeran Zen tak sadarkan diri.
“Ya tuhan apa yang aku lakukan...?”
Bella pun panik dan sempat meminta pertolongan namun tidak ada yang mendengar, Hugo juga sepertinya sudah pergi dan kini Bella harus menggendong tubuh Zen sekuat tenaga untuk mencari bantuan.
“Bertahanlah Pangeran...kumohon!” ucap Bella yang sudah kewalahan mengangkat tubuh kekar Zen.
Bella hampir sampai namun ia terjatuh karena sudah tidak sanggup beruntunglah Beauty kebetulan lewat dan menemukan mereka berdua.
“Pangeran Zen...Pangeran!” ucap Beauty. “Ada apa ini Putri...apa yang terjadi kepada Pangeran?” khawatirnya.
“Panglima Elang..., tolong bantu aku membawanya ke istana. Dia harus segera mendapat perawatan!?” ucap Bella.
Tanpa bertanya lagi, Beauty pun segera membantu dan tidak Lama Pengawal pun juga ikut membantu mereka.
***Bersambung....
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***:)