
“Bagaimana keadaan Putraku Tabib? Apa dia baik-baik saja? Ucap Raja Zedan.
“Hmm...anak itu, apakah Penyihir yang merancanakannya juga?” gumam Moorim.
“Pangeran..., Kumohon sadarlah!” gumam Beauty cemas.
“Panglima Ran tidak ada disini, itu berarti ia belum mengerahui soal keadaan Pangeran, sebaiknya aku mencari dia dan memberitahunya!” gumam Leona.
“Bagaimana jika Pangeran benar-benar mati ditanganku...tidak, aku yakin Ibu Ratu pasti memiliki penawarnya. Ya...aku harus segera memintanya sebelum obatnya bekerja!” gumam Bella, tidak tega.
Belum sempat Bella melangkah Pergi ia pun mendengar sebuah pernyataan yang melegakan namun juga mengherankannya.
“Pangeran Baik-baik saja!”
“Apa? Gumam Bella sedikit terkejut.
“Syukurlah...!” kata semua orang.
“Iya...dia hanya sedikit terkena bius tidur. kalian tidak perlu cemas!” terang Tabib.
“Apa kau yakin!” ucap Bella spontan. “Maksudku...kami tadi diserang, mungkin saja ada luka lainnya!” tambahnya.
“Gadis ini..., apa dia benar tidak memiliki perasaan kepada Zen? Gumam Moorim mulai ragu kepada pernyataan Penyihir. ”Apa kau meragukan tenaga medis ahli kami...Putri!”
“Bukan itu maksudku Ratu...hanya saja...!”
“Maafkan aku Putri Bella...tapi saya sudah memeriksanya dengan teliti dan hanya ada luka goresan dipungguggunya yang terkontaminasi obat bius. Biasanya obat bius tingkat menengah seperti ini akan hilang dalam satu hari pemulihan.
“Sudah dengar kan, jadi sekarang sebaiknya kita biarkan Pangeran beristirahat. Rajaku...sebaiknya kau juga beristirahatlah, ayo!”
“Hmm...baiklah. Panglima Elang...untuk berjaga-jaga tolong kau temani dia sebentar untukku!” pesan Raja.
“Baik Yang Mulia...!” jawab Beauty.
“Kalau begitu saya juga permisi...” ucap Tabib sambil membawa peralatan medisnya
“Mari saya bantu...!” acap Bella.
“Kak...aku ingin menemui Panglima Ran, dia mungkin belum tahu soal ini!”
“Hmm...kau berhati-hati ya!”
[Situasi Bella]
Bella masih belum bisa mempercayai yang ia dengar dari tabib, ia masih belum tenang jika ia tidak bertanya langsung ke Ibu Ratu mengenai efek racunnya.
“Saya yakin Putri...itu hanya goresan kecil tidak ada racun sama sekali!”
“Memangnya ada apa sehingga Putri mengira seperti itu?”
“Ah...tidak. Aku hanya ingin memastikannya sekali lagi. Mm....kalau begitu saya permisi!”
“Iya...terimakasih ya Putri!”
“Sama-sama...!” jawabnya kemudian pergi.
“Hm...cinta masa muda!” gumam Tabib tersenyum.
[Situasi Leona]
“Aduh...Pangeran sekarang ada dimana ya?” kemudian melihat Hugo. “Panglima...apa kau melihat...!”
Hugo ternyata sudah mengetahuinya, ia sekarang terlalu cemas memikirkan keadaan Bella dan tergesa-gesa untuk menemuinya sehingga ia berlalu tanpa merespon Leona.
“Hm...padahal Tuan Putrinya baik-baik saja...sakit tau dikacangin!” celetuk Leona kemudian kembali mencari Ran.
__ADS_1
Ran memang belum mengetahui apapun mengenai keadaan sahabatnya Pangeran Zen saat ini, sebab ia ternyata sedang mengintai Pangeran Bersaudara yang mencurigakan.
Singkat cerita Leona pun mengetahui bahwa Panglima Ran sedang bertugas disekitaran perbatasan hutan dari Pengawal lainnya. Tanoa buang waktu, ia pun segera menyusulnya.
“Panglima kau...umm!”
Leona setelah melihat Ran yang berdiri di tembok perbatasan Hutan itu, sedikit heran dan juga penasaran jadi ia pun mendekat lalu memanggilnya tapi belum sempat berkata, ia pun dibekap mulutnya oleh Ran karena ia khawatir Pangeran bersaudara menyadari keberadaannya.
“Ssst....diamlah!”
“umm...!”
“Itu...lihatlah disana!” ucap Ran memberi kode.
“Pangeran bersaudara. Kenapa mereka keluar dari perbatasan?” bisik Leona.
“Aku juga tidak tahu tapi kau lihat wanita yang bicara dengan mereka itu?” jawabnya bisik. “Dia bukan orang desa kami, aku curiga ada sesuatu yang terjadi!”
“Hah...benarkah?”
“Aku belum mendapat info atau bukti apapun tapi yang jelas wanita itu tadi mencoba meminta sesuatu kepada Pangeran tapi aku tidak bisa mendengar jelas ucapan mereka!”
“Hmm...kalau begitu kita mendekat saja!”
“Tidak, kita bisa saja ketahuan. Kita tunggu disini saja sambil memantau gerak-gerik mereka,” sarannya. “Lalu katakan Putri...bagaimana bisa kau bisa sampai ke sini!?”
“Ah...itu. Aduh aku sampai lupa, tadi aku mencarimu kemari untuk memberitahu kalau Pangeran tadi habis diserang!”
“Hah...!”
“Sst...! ucap Bella membekap mulut Ran. “Kau tenang dulu...dia baik-baik saja, hanya sedikit tergores obat bius dan kata Tabib ia akan kembali pulih besok!” ucap Leona. “Eh...m...maaf!” lalu melepaskan tangannya.
“Huff...syukurlah kalau begitu. Lalu Putri Bella bagaimana, apa dia...”
“Dia juga tidak terluka..., hmm...kau masih sempat mempertanyakan itu padahal karena melindunginya Pangeran bisa...”
“Diamlah...ssst....cup..cup..cup,” peluknya. “Jika kau menagis dan berteriak seperti itu akan mencurigakan penyamaran kami!” ucap Jozen. “Tenang ya...,” elusnya.
“Tidak...sebelum kau bertanggung jawab padaku...aku ini sedang ham...!”
Belum sempat menyelesaikannya, sebuah tamparan keras pun mendarat dipipi wanita desa luar tersebut. Ran dan Leona yang melihatnya sangat emosi melihat kelakuan Pangeran Jozen yang sangat tak pantas itu, namun mereka tetap harus diposisinya untuk menyelidiki lebih jauh sambil mencari bukti yang akurat.
“Dasar wanita jal**ng! Beraninya kau bersikap tidak sopn padaku!”
“Kak...sekarang bagaimana, haruskah kita bunuh saja dia?”
“Hmm...ide yang bagus!”
“Tidak...kumohon tolong jangan lakukan itu pada kami. Aku tidak akan memberi tahu ke siapapun asalkan kau membiarkan kami hidup!”
“Hahaha....wanitaku yang pintar. Baguslah kalau kau mengerti maksudku. Ambillah ini,...koin ini cukup untuk membiayai hidupmu dan anakmu nantinya dan ingat jangan pernah muncul lagi di hadapanku jika tidak kau tahu sendiri apa akibatnya!?”
“Huhuhu...kalian memang Pria Bren**k! Tangisnya tersedu.
“Apa katamu barusan...!”
“Sudahlah Rollen..., ayo!”
“Huhuhu...sekarang bagimana caraku kembali, semua orang didesa pasti tidak akan menerimaku lagi jika mereka tahu keadaanku sekarang....!”
[Situasi Bella]
Diruangan Pribadi Ibu Ratu, Bella meminta penjelasan yang sebenarnya terkait racun pisau yang diberikannya waktu itu.
“Apa? Jadi pisau itu benar tidak beracun!?” ucapnya.
__ADS_1
“Hahaha....memangnya kau berharap apa, bukankah kau senang itu bukan racun sungguhan!?” ucapnya. “Aku berbohong untuk menguji seberapa peduli kau terhadap Pangeran Zen”
“Hmm...Yang Mulia...apa yang kau inginkan dariku sebenarnya!?”
“Wah...kau sudah menyadari itu rupanya! Hmm....kau lebih cerdik dari dugaanku. Baiklah karena kau bertanya jadi aku akan mejawabnya!” ucapnya. “Aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya kepada Pangeran tentang perasaanmu itu...!”
“Apa!?
“Yah...aku mau kau mengatakan yang sejujurnya kepada Zen kalau kau hanya berpura-pura mengingat semuanya selama ini!”
Singkat cerita, Bella keluar dari ruangan Ibu Ratu dengan perasaan yang campur aduk. Dia tidak pernah mengira dia akan berada diposisi yang serumit, disisi lain dia harus melaksanakan perintah ibunya dengan tetap di istana untuk balas dendam meski ia masih ragu melakukannya karena merasa berhutang budi atas kejadian barusan namun disisi lain dia ditekan oleh Penyihir untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Zen dan tentunya jika itu terjadi malah akan membuatnya jauh bahkan dibenci oleh Ran sendiri.
“Putri...!” panggil Hugo lalu berlari mendekat. “Putri apa kau...”
Plakk....(sebuah tamparan keras mendarat dipipi Hugo)
“Putri apa yang...
“Itu balasan untukmu karena berani ikut campur urusanku Panglima...!”
“Apa maksudmu Putri...aku tidak mengerti!”
“Jangan berpura-pura seakan aku tidak melihat apapun. Kau lihat ini...”ucapnya sambil memperlihatkan anak panah Hugo.
“Itu kan....”
“Ya ini anak panah milikmu..., aku begitu percaya kepadamu...aku bahkan sudah menganggapmu sebagai seorang saudara tapi nyatanya kau menghianati kepercayaanku selama ini.”
“Aku benar-benar meminta maaf Putri...aku tidak bermaksud melukaimu, aku memang berniat melukakannya tapi tidak...!”
“Cukup Panglima...aku sudah cukup kecewa dengan ini, sebaiknya kau kembali ke istana Ludo karena aku tidak ingin melihatmu lagi dihadapanku!”
“Tapi Putri...Putri..., aish!!
[Situasi Ran dan Leona]
“Aku harus kemana sekarang...., hiks...anakku sungguh malang nasibmu. Maafkan Ibu karena tidak bisa membuat ayahmu mengakui kita huhuhu...” tangisnya wanita itu berjalan menelusuri hutan.
Tidak lama berjalan sendirian dihutan, ia tidak sadar kalau ada hewan buas yang tengah mengintainya.
“Suara apa itu...!” terkejut mendengar suara dibalik semak-semak.
Karena takut ia pun mengambil setangkai kayu lalu mendekat ke arah semak-semak tersebut, dan benar saja seekor macan liar yang baru saja menyantap makanan itu dengan lahap.
“Haumm....!” Rauman macan kelaparan itu terdengar ganas.
Menyadari dirinya dalam bahaya ia pun melangkah mundur dengan perasaan tegang dan tangang yang gemetar akibat ketakutan.
Krek....(injaknya sebuah ranting)
“Gawat!
***Bersambung....
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***:)