
Raja yang tengah duduk itu sontak kaget mendengar Sang Pengawal. Ia kemudian beranjak dari ruangan meninggalkan rapat dan segera menemui Sang Ratu.
"Pertemuannya kita akhiri sampai disini saja. (kata Raja)
"Baik Yang Mulia.
[Di Dalam Ruang Kamar]
"Ada apa, apa yang terjadi pada Ratuku? Mengapa ia bisa pingsan seperti ini? (tanya Raja, cemas)
Tabib kerajaan (Madam Zeyya) saat itu masih tengah memeriksa kondisi Sang Ratu dan bayinya.
"Tabib tolong katakan sesuatu, apa bayi kami tidak apa-apa?
"Syukurlah Yang Mulia, semuanya baik-baik saja. Tak ada yang perlu dicemaskan.
"Sebenarnya apa yang terjadi Tabib? (kata Raja bingung)
"Maaf Yang Mulia.... (potong Moorim) Tadi pagi Ratu hampir saja terpeleset karena tumpahan minyak di depab pintu kamarnya. Beruntung saya saat itu masih sempat menolong sang ratu, namun Ratu Rubi kaget lalu pingsan.
"Apa...., memangnya siapa yang menumpahkan minyak di depan pintu?
"Saya juga tidak tahu Yang Mulia, karena saya kebetulan hanya lewat saat itu.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu soal ini, bukankah kalian bertiga yang berjanji akan melayani dan menjaga Ratu meskipun dengan nyawa kalian sendiri?
"Ya Yang Mulia tapi saya benar-benar tidak mengetahui apapun. Justru saya bekerja untuk melaksanakan perintah dari Ratu sendiri, yang saat itu ditugaskan kepada saya (bela Moorim)
"Lalu dimana Yumina dan Simo sekarang?
"Mungkin mereka masih bekerja Yang Mulia!
"Tugas apakah yang Ratu berikan, sehingga mereka begitu lama?
"Maaf Yang mulia tapi saya juga tidak tahu...
"Ya sudah kalau begitu, cepat cari dan panggil mereka berdua kemari! (perintah Raja)
"Baik Yang Mulia. (kata Moorim)
Sesaat sesudah Moorim pergi, Ratu Rubi kemudian sadar kembali.
"Ahh... (terdengar kesakitan)
"Ratu..., Kau seharusnya tetap berbaring. (kata Raja)
"Pelan-pelan Ratu.... (kata Madam Zeyya)
Ratu perlahan mengangkat tubuhnya untuk beralih ke posisi duduk bersandar di kasurnya.
"Apa Ratu merasa pusing? Bagaimana perasaan Ratu saat ini?
"Aku sudah tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit sakit kepala! (kata Ratu Rubi)
"Apa sebenarnya yang telah terjadi Ratuku. Mengapa kau bisa terpeleset dan tak sadarkan diri seperti ini? (tanya Raja kepada Ratu dengan wajah khawatir)
"Aku juga tidak tahu Yang Mulia, aku hanya ingat kalau pagi tadi aku ingin mengambil sesuatu di kamar lalu tepeleset.
"Kau seharusnya menyuruh orang lain mengambilkannya untukmu, atau paling tidak berhati-hatilah saat melangkah. Untung Moorim masih bisa sempat menolongmu, kalau tidak kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi padamu dan bayi kita yang belum lahir ini.
"Maafkan aku Rajaku, aku berjanji akan lebih berhati-hari lagi.
"Salam Yang Mulia. (kata Simo)
__ADS_1
"Ada apa Yang Mulia memanggi kami datang kemari? (Tanya Yumina)
"Kau bertanya ada apa? Apa kalian tidak tahu hal buruk apa yang baru saja menimpa Sang Ratu?
"Ampun Yang Mulia, kami benar-benar tidak mengetahui apapun. (kata Simo)
"Itu benar Yang Mulia, kami baru saja kembali setelah melaksanakan pekerjaan yang di perintahkan Ratu, jadi kami sama sekali tidak mengetahuinya! (jujur Yumina)
"Moorim, beritahu mereka apa yang terjadi! (perintah Raja)
"Ada apa Moorim, apa yang telah terjadi pada Ratu? (Tanya Yumina)
"Iya Moorim cepat katakan apa yang terjadi? (kata Simo)
"Ratu baru saja pingsan karena terpeleset.
"Apa...? (terkejut Simo dan Yumina)
"Benarkah itu Yang Mulia... (tanya Yumina)
"Apa Ratu baik-baik saja (Tanya Simo)
"Ya itu benar dan kalian tahu penyebabnya? Tumpahan minyak... (jelas Raja)
"Kami mohon ampun Yang Mulia (Simo dan Yumina seketika bertekuk lutut di hadapan Raja dan Ratu) Sungguh kami tidak mengetahuinya, hukumlah kami jika kami memang bersalah! (katanya pasrah)
"Sudah cukup berdiri Kalian (perintah Raja). Aku memanggil kalian kemari hanya untuk memastikan jika di antara kalian ada yang sengaja menumpahkan minyak tersebut...(tanya Raja masih curiga) Sebab diantara semua Pelayan di istana Zuma ini, hanya kalian bertigalah yang paling sering memasuki kamar kami.
"Ampun Yang Mulia, bagaimana kami bisa berniat untuk mencelakakan Ratu, sedangkan kami sangat patuh akan perintahnya? (kata Simo)
"Itu benar Yang Mulia, bahkan berfikir untuk melakukannya saja kami tidak berani. (Kata Yumina)
"Tapi jika memang benar di antara kami ada yang melakukannya, maka mungkin itu bisa jadi Moorim sendiri Yang Mulia. Karena tadi pagi saya sempat melihat Moorim memegang sebotol minyak di tangannya. (kata Simo)
"Hei! apa kau baru saja menuduhku Simo?
" Apakah yang dikatakan Simo itu benar Moorim? (Tanya Raja memastikan)
"Memang benar Yang Mulia saya tadi pagi memang membawa minyak bekas, namun itu untuk dibuang, sedangkan yang dilantai tempat Ratu terpeleset adalah minyak yang masih baru. Dan saya sempat berpapasan dengan Yumina yang saat itu juga tengah membawa minyak baru dari pedagang. Saya tidak suka menuduh, namun Yang Mulia bisa tanya sendiri. (kata Moorim)
"Yumina..., jadi kau yang melakukannya? Aku tidak percaya ini?
"Tapi Yang Mulia bukan saya yang melakukan itu!
"Bagaimana bisa kami mengetahui bahwa kau sedang tidak berbohong pada kami? Bisakah kau membuktikan perkataanmu itu? (kata Moorim)
Yumina yang tertuduh itu pun, hanya bisa menangis tertunduk sambil memohon kepada Ratu Rubi, agar bisa menceritakan kebenarannya.
"Hentikan perdebatan ini! Kalian bertiga..,seharusnya kalian tidak saling menuduh seperti ini, terutama kau Simo. Tuduhanmu terhadap Moorim itu sungguh tidak baik, bagaimana jika kau di posisi tertuduh seperti kau menuduhnya tadi? apakah kau dapat menerimanya begitu saja? Tidak bukan?
"Maafkan saya Yang Mulia, saya tadi hanya secara spontan menjawab karena tegang saya tidak memikirkannya!
"Moorim kau membela dirimu itu sudah sangat bagus namun kau juga tahu aku sudah mempercayai dirimu seperti aku mempercayai Madam Zeyya. Jadi sebaiknya kau juga bisa menjaga kepercayaanku itu!
"Terimakasih Yang Mulia. (kata Moorim)
"Raja Zedan yang bijaksana..., aku memang menyuruh Yumina membeli minyak baru tadi pagi di pedagang minyak. Dan aku juga melihatnya pergi setelah aku memerintahkannya kembali. (kata Ratu mulai mengingat)
<<[Ingatan Ratu tentang kejadian tadi pagi] "Tunggu....! Mina apa itu minyak yang aku pesan? (tanya Ratu Rubi)"Ya, Yang Mulia. Sesuai pesanan Yang Mulia, saya telah mengambilnya dari pedagang minyak!"Kalau begitu segeralah buatkan aku cemilan beserta minumannya, aku akan menunggumu di taman."Baik Ratu. (Yumina kemudian segera ke dapur)Ratu yang masih sempat memperhatikan Yumina berjalan menuju ruang dapur, Sebelum menuju ke taman. Namun belum jauh dari kamarnya, Ia harus kembali lagi untuk mengambil antingnya."Antingku..., aku lupa mengenakannya. (sambil memutar arah)"Ratu awas... (kata Moorim dari jauh) >>>Kembali ke situasi<<< "Tapi Ratuku, jika benar yang kau katakan itu, lalu bagaimana bisa ada tumpahan minyak di lantai kamar?"Itu bisa saja karena minyak rambut yang ku gunakan terlalu banyak sehingga menetes ke lantai dan karena terlalu terburu-buru aku tidak memperhatikan lantainya dan terpeleset. Lagi pula, jika tidak memiliki bukti yang kuat, kita tidak bisa menuduh siapapun begitu saja. (kata Ratu bijaksana) Ahh...Mendengar Ratu kesakitan membuat semua orang yang ada di kamar Ratu sontak kaget."Ratu...!"Sebaiknya Ratu tidak memaksakan diri dulu untuk berfikir terlalu keras dan tidak emosi agar tidak berpengaruh negatif bayinya nanti! (kata Tabib)"Apa kalian mendengar Tabib? aku tidak boleh emosi tetapi kalian membuatku merasa seperti itu sekarang ini. Dengan memperdebatkan hal yang tidak aku sukai. Rajaku..., aku benar-benar kecewa dengan sikapmu ini, Seharusnya kau yang lebih mengerti kondisiku! (Keluh Ratu)(Terdiam sejenak) "Baiklah kalian semua..., tolong keluarlah dulu. Aku ingin berbincang sebentar dengan Ratuku, hanya empat mata... (perintah Raja) >>SKIP BAGIAN>>>[Diluar Pintu Kamar] Mendengar perintahnya itu, semua orang di pun segera keluar meninggalkan Raja Zedan dan Ratu Rubi di kamar Mereka. Namun Moorim masih ingin mendengarkan pembicaraan mereka."Moorim maafkan aku, aku tadi hanya... (ajak Yumina)"Sudah tidak apa-apa aku bisa mengerti..."Kalau begitu ayo kita pergi! (kata Yumina)"Tidak usah kalian duluan saja, nanti aku menyusul. (kata Moorim)#***Bersambung....******Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas🥰***
[Ingatan Ratu tentang kejadian tadi pagi]
__ADS_1
"Tunggu....! Mina apa itu minyak yang aku pesan? (tanya Ratu Rubi)
"Ya, Yang Mulia. Sesuai pesanan Yang Mulia, saya telah mengambilnya dari pedagang minyak!
"Kalau begitu segeralah buatkan aku cemilan beserta minumannya, aku akan menunggumu di taman.
"Baik Ratu. (Yumina kemudian segera ke dapur)
Ratu yang masih sempat memperhatikan Yumina berjalan menuju ruang dapur, Sebelum menuju ke taman. Namun belum jauh dari kamarnya, Ia harus kembali lagi untuk mengambil antingnya.
"Antingku..., aku lupa mengenakannya. (sambil memutar arah)
"Ratu awas... (kata Moorim dari jauh)
>>>Kembali ke situasi<<<
"Tapi Ratuku, jika benar yang kau katakan itu, lalu bagaimana bisa ada tumpahan minyak di lantai kamar?
"Itu bisa saja karena minyak rambut yang ku gunakan terlalu banyak sehingga menetes ke lantai dan karena terlalu terburu-buru aku tidak memperhatikan lantainya dan terpeleset. Lagi pula, jika tidak memiliki bukti yang kuat, kita tidak bisa menuduh siapapun begitu saja. (kata Ratu bijaksana) Ahh...
Mendengar Ratu kesakitan membuat semua orang yang ada di kamar Ratu sontak kaget.
"Ratu...!
"Sebaiknya Ratu tidak memaksakan diri dulu untuk berfikir terlalu keras dan tidak emosi agar tidak berpengaruh negatif bayinya nanti! (kata Tabib)
"Apa kalian mendengar Tabib? aku tidak boleh emosi tetapi kalian membuatku merasa seperti itu sekarang ini. Dengan memperdebatkan hal yang tidak aku sukai. Rajaku..., aku benar-benar kecewa dengan sikapmu ini, Seharusnya kau yang lebih mengerti kondisiku! (Keluh Ratu)
(Terdiam sejenak) "Baiklah kalian semua..., tolong keluarlah dulu. Aku ingin berbincang sebentar dengan Ratuku, hanya empat mata... (perintah Raja)
>>SKIP BAGIAN>>>
[Diluar Pintu Kamar]
Mendengar perintahnya itu, semua orang di pun segera keluar meninggalkan Raja Zedan dan Ratu Rubi di kamar Mereka. Namun Moorim masih ingin mendengarkan pembicaraan mereka.
"Moorim maafkan aku, aku tadi hanya... (ajak Yumina)
"Sudah tidak apa-apa aku bisa mengerti...
"Kalau begitu ayo kita pergi! (kata Yumina)
"Tidak usah kalian duluan saja, nanti aku menyusul. (kata Moorim)
#***Bersambung....
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas🥰***