Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 71


__ADS_3

[Kembali ke situasi]


Kondisi kerajaan Zuma sangat memperihatinkan selama itu, Raja Zedan bahkan diperlakukan layaknya sebuah tahanan dikerajaannya sendiri, Ran yang juga dalam pengaruh sihir juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melindungi diri maupun Raja.


Disisi lain semua Prajurit pihak Pangeran Zen, sudah siap menunggu aba-aba. Mereka melakukan strategi Pengalihan dan penyamaran untuk bisa menembus penjagaan luar kerajaan.


“Baiklah...sekarang waktunya. Semua Tim berpencar sesuai strategi dan jangan lupa taktik kita adalah mengepung musuh jadi bekerjasamalah dengan baik!” Ucap Pangeran.


“Baik!” serentak para pasukan lalu menyebar.


“Hmm...Bella...kau ikutlah denganku!”


“Tapi bagaimana dengan Madam?!”


“Tenang saja Putri...aku bisa melindungi diriku. Pergilah!” ucap Zeyya.


“Hmm...kalau begitu berhati-hatilah!” ucap Bella lalu pergi bersama Zen.


Madam Zeyya tahu bagaimana yang seharusnya ia lakukan, karena selama ini dia sudah dekat dengan Pasukan Penyihir itu. Sehingga ia bisa masuk dengan mudah, tanpa ada perlawanan dari musuh itu sendiri.


Disaat musuh mulai diserang untuk pengalihan, Pangeran Zen dan Bella beserta Pasukan yang tersisa mengambil kesempatan untuk lolos melewati gerbang kerajaan dan melewati setiap desa-desa yang ada. Suara pedang pun terdengar dimana-mana, Bella dan Zen juga ikut bertarung melawan setiap musuh yang menghalangi.


“Putri tetaplah dibelakangku!”


“Baik...!”


Disisi lain dalam istana, ketua pasukan melaporkan tentang perlawan itu kepada Penyihir. Penyihir saat itu tengah menikmati kejayaannya di ruang harta kerajaan. Dia hanya menanggapi tanpa kekhawatiran karena ia sudah sangat yakin tidak akan ada yang bisa sampai ke istana hidup-hidup. Ia pun memerintahkan ketua itu untuk menggunakan rakyat desa sebagai pasukan tambahan jika saja diperlukan.


“Tancapkan ini ke leher mereka dan mereka akan menuruti apapun yang kau perintahkan. Aku yakin mereka tidak akan mau menyerang warganya sendiri..!”


“Baik Penyihir...! ucapnya lalu pergi.


“Heh...sekarang mari kita bermain-main sejenak. Hahaha...hahahah! tertawa kejam sambil melihat Ran dan Raja Zedan yang dikendalikan.


Semua bertarung dengan sekuat tenaga, dan pertarungan juga akan semakin sengit. Semua Tim yang tersebar mencoba menerapkan strategi yaitu dengan menyerang kelemahan para musuh. Dimana kelemahan itu ada dibelakang rambut mereka yang tertanam sebuah tusuk jarum yang menjadi sumber kekuatan mereka dari penyihir.


Pangeran Zen juga melakukan hal yang sama saat menyerang musuh dan ia menyadari kalau tusuk itu sama persis dengan tusuk yang dulu digunakan para musuh pemberontak yang berhasil ia kalahkan bersama Beauty. Dan ia pun semakin marah dan berniat menghabisi Penyihir segera, namun ia sadar jika ia menggunakan kekuatan monster tanpa bisa mengendalikannya itu sama saja menghancurkan kerajaan sendiri jadi ia berusaha tetap tenang agar tidak emosi dan menjadi monster penghancur.

__ADS_1


Singkat cerita Zen dan Bella bisa lolos meski harus meninggalkan para pasukan melawan rakyatnya sendiri. Sebelum itu ia memang sudah memperingatkan pasukannya agar tidak sampai melukai dan membunuh Rakyat Zuma.


Sekarang tinggal melawan musuh dalam istana, siapa sangka musuh kali ini juga adalah orang yang paling dekat dengan Pangeran tentu saja siapa lagi kalau bukan Ran sahabat kecilnya.


“Ran...sadarlah. Ini aku Zen...!” ucapnya sambil menangkis serangan Ran.


“Pangeran!”


“Tetaplah berada dibelakangku Putri...! ucapnya. “Ia bahkan menggunakan orang terdekatku agar aku bisa lemah...tapi aku tidak akan menyerah begitu saja..haa!


“Ran...kau juga...!” kemudian membayangkan kenangannya bersama Ran itu. Bella sampai tidak sadar kalau dirinya menjadi sasaran serangan dari dua arah.


“Bella...! teriak Pangeran Zen.


Seketika sebuah tangkisan pedang dan anak panah menyelamatkan Bella. Untunglah bala bantuan ternyata datang tapat waktu, siapa sangka mereka adalah Hugo dan Leona.


[Kejadian sebelumnya]


Hugo diperjalanannya cukup banyak mendapat kabar tentang masalah dikerajaan Zuma, ia pun menjadi semakin khawatir dengan keadaan Bella, Leona dan semua orang istana. Karena menyadari untuk melawan ia butuh sebuah bantuan, ia pun memberanikan diri untuk kembali ke istana Ludo. Permintaanya tentu tidak diterima begitu saja oleh Ratu Ludo, karena Hugo dianggapnya tidak bertanggung jawab dan lalai dalam melaksanakan tugasnya. Namun setelah ia menjelaskan apa yang terjadi sekarang. Ratu Ludo pun memberikan kepercayaan lagi kepada Hugo untuk pergi menyelamatkan Bella.


“Leona!


“Panglima!


“Kau...!” ucap mereka bersamaan.


Mereka pun sedikit berbincang sambil mengintai musuh digerbang istana.


“Hmm...itu mungkin adalah Pasukan gabungan kerajaan. Sepertinya semua Raja sudah mengetahui yang sebenarnya tentang situasi kerajaan Zuma sekarang!” ucap Leona.


“Hmm...kau benar, sebaiknya kita tunggu waktu yang tepat untuk bisa menyerang. Aku yakin musuh kita ini bukanlah musuh biasa! Duga Hugo.


“Bagaimana kau bisa tahu Panglima?


“Hmm...kau lihat tubuh mereka dan cara mereka bertarung. Mereka seperti mendapatkan sebuah energi yang tidak ada habis-habisnya, kita harus berhati-hati dan mencari kelemahannya!” ucap Hugo.


“Hmm...benar juga! Ucap Leona serius.

__ADS_1


Hugo sebenarnya sangat senang melihat perubahan Leona yang begitu derastis. Dimatanya, Leona yang sekarang sedang disampingnya itu terlihat sangat dewasa dan lebih imut dari terakhir kali.


“Panglima sepertinya kelemahannya ada dibelakang kepalanya!” Leona sejak tadi mencoba fokus pada gerak-gerik musuh sampai tidak sadar kalau Hugo sejak tadi memandangnya dengan senyuman tipis. “Ke...kenapa kau memandangiku seperti itu Panglima?” ucap Leona.


Leona seketika kebingungan, ia berpikir Hugo sekarang memperhatikannya seperti karena bajunya yang aneh dan wajahnya yang dibalut dengan make-up penyamaran ala-ala tentara yang sedang melakukan misi penyamaran.


Hugo yang merasa kesemsem dengan wajah Leona itu dengan spontan mengankat tangan kananya hingga menyentuh topi pengaman dikepalanya seperti pose ala drama korea.


“Aku bangga kepadamu...!” ucapnya sambil mengusap kepala Leona.


“Hah?


“Eh...mm...maksudku kau sekarang seberani ini. Pasti karena kau sudah berlati keras bukan?”


“Oh...hehehe...iya. Ini juga berkat Panglima Hugo dan Ran!” ucapnya polos. “Kenapa aku jadi gugup begini, Panglima Hugo...dia tampan juga!” gumamnya.


“Ehem...” batuk seorang Pengawal dibelakangnya. Membuat Hugo dan Leona kembali fokus kepada tujuan mereka kemari.


“Baiklah...sekarang waktunya. Serang!” teriak Hugo dan mulailah peperangan mereka.


Pasukan gabungan yang lebih awal bertarung dengan musuh itu cukup terbantu. Mengingat memang tidak mudah untuk menyerang kelemahan musuh karena musuh juga tahu kelemahan mereka sendiri saat ini.


....Bersambung....


*


*


*


*


*


*


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas:)

__ADS_1


__ADS_2