
[Situasi Zen dan Bella]
“Kenapa kau mengajakku ke makam?
“Hm...kau liat dua makam didepan kita ini?
“Iya...memangnya mereka siapa?
“Mereka adalah makan Ayah dan Ibumu!
“Apa?
“Mereka meninggal seminggu setelah kau dinyatakan meninggal, mereka shok dan jatuh sakit..
“Ayah dan Ibuku? (kemudian jongkok untuk melihat dari dekat) meski aku belum bisa mengingat apapun...tapi aku menghargai jasa kalian yang telah merawatku dengan kasih sayang...terimakasih...(mengelus batu nisan)
“Baiklah...sekarang ayo kita ke tempat selanjutnya?
“Hah...kemana lagi?
[Disisi lainnya]
“Selamat datang Ketua....(sambut seorang Pria kekar) sudah lama tidak bertemu...bagaimana kabar anda?
“Jangan terlalu banyak basa-basi...katakan dimana Roger...
“Dia ada didalam...
Tanpa berbincang lama, ia langsung masuk ke dalam rumah kosong tua yang merupakan markas besar para pemberontak dan pembunuh bayaran.
“Hei...hei...siapakah yang masuk tanpa izin...eh...rekan bisnis lama rupanya...wah, sungguh mengejutkan kau bisa sampai kemari, kau pasti sudah melewati perjalanan yang sangat melelahkan...ayo duduklah...hahaha. Sekarang katakan, bantuan apakah yang kau butuhkan kali ini...(sambut Roger, ketua markas)
“Aku minta kau mengumpulkan seluruh anggotamu dari setiap kerajaan mulai sekarang...karena kita akan melakukan perlawanan yang sesugguhnya.
“Apakah kau yakin kita akan berhasil mengalahkan mereka?
“Tidak sekarang tapi akan...oleh karenanya kita harus mempersiapkan segalanya. Aku juga masih membutuhkan beberapa waktu untuk memulihkan tenaga dan mengumpulkan kekuatan untuk membantu pasukan kita nantinya..
“Hmm....ku kira kau cukup kuat melakukannya sendiri...tapi tidak apa, karena kita sudah bekerjasama sejak lama.
“Heh...kau tidak usah sok baik. Ini...ambillah...(melemparkan sekantung besar koin emas) Sisanya ada dipeti itu...
Dua orang temannya pun mengangkut sebuah peti yang didalamnya terdapat banyak benda berharga bahkan berlian termahal pun juga tertimbun.
“Hehehe...baiklah...aku akan mengumpulkan mereka dalam seminggu.Tapi untuk melatih mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama bagi mereka kecuali para petarung yang memang sudah mahir....
“Kau tidak perlu terburu-buru, karena kita punya banyak waktu untuk itu, sementara aku akan mempermudahnya dengan melumpuhkan musuh dari dalam. Kau hanya perlu mempersiapkan segalanya dan menunggu aba-abaku...
“Setuju...senang berbisnis denganmu Penyihir...
[Kembali ke situasi]
“Rumah kosong? Kau membawaku kemari untuk apa? Jangan-jangan kau beniat untuk...ah...aku tahu kau kesal karena aku tidak bisa mengingatmu tapi bukan begini caranya Pangeran....
“Hahaha...Kau jangan salah sangka, aku bukan pria yang suka bermain-main dengan wanita.
“Lalu niatmu membawaku kesini untuk apa?
“Aku membawamu ke sini untuk melihat kembali kenangan masa kecilmu dulu...
__ADS_1
“Kenangan masa kecilku? Berarti rumah ini...
“Ya...ini adalah rumahmu.
“Hah? Hahaha....apa kau sedang bercanda Pangeran?
“Tidak...aku tidak sedang bercanda, ini adalah rumah yang dulu ditempati oleh keluarga kecil yang harmonis dan hangat...itulah kesan pertama aku kemari...
“Aku masih tidak mengerti, ibu Ludo bilang kalau aku adalah anak kandungnya...jadi mustahil kalau aku pernah hidup miskin ditempat kumuh seperti ini?
“Bagaimana jika untuk menghilangkan rasa penasaranmu kita masuk saja kedalam...
Pangeran Zen dan Bella pun masuk kedalam rumah tersebut, dan benar saja di dalamnya ada berbagai macam barang-barang yang masih tertata rapih ditempatnya. Bahkan lukisan keluarga Bella masih terpajang jelas di atas meja belajarnya..
“Aku kira didalamnya akan semakin buruk...tenyata tak seperti yang terlihat dari luar...
“Itu benar, karena sejak kepergian orangtuamu...aku memutuskan untuk menjaga setiap kenangan, membuat rumah ini bersih setiap hari hingga sekarang, termasuk rangkaian bunga buatanku ini...kau dulu sangat suka memakainya dan mengatakan akan menyimpannya dengan baik...
“Benarkah?
“Hm...tapi aku tidak yakin apakah kau masih ingat saat aku terakhir kali memasang ini di rambutmu.
“Bolehkah?
“Apakah kau mau memakainya? Tapi ini sudah tidak muat untukmu...
“Tidak masalah...yang terpenting adalah kenangan tak ternilai didalamnya, bukan?
“Ella....(membayangkan)
“Ayolah pangeran pasangkan itu untukku....hahaha...(suara kecil terngiang-ngiang dikepala Zen melihat Ella dimasa lalu Tengah berdiri dihadapannya) Cepatlah Pangeran....Pangeran....Pangeran! (Suara tersebut perlahan memudar menjadi Bella) Pangeran!
“Apakah ini cocok untukku?
“Iya...
“Hmm...(kemudian melihat ke arah lukisan orantuanya) mereka begitu tampak bahagia...aku bisa melihat itu dari senyum mereka..
“...bagimu, mereka adalah hal yang paling berharga bahkan saat itu kau mengatakan kalau kau akan belajar keras untuk membuat mereka bangga...hahaha...aku masih ingat ekspresi saat kau terkejut waktu itu.
[Kembali ke ingatan Masa kecil]
“Pangeran muda...
“Hai bibi...dimana Ella?
“Dia ada di dalam , ia sedang belajar...
“Oh begitu ya...aku sebenarnya ingin mengajaknya keluar hari ini, boleh kah?
“Tentu saja Pangeran...silahkan...
Pangeran muda Zen pun mengendap-endap masuk dan mengagetkan Ella yang dari tadi fokus belajar sampai-sampai ia tidak menyadari keberadaan Pangeran Zen.
“Huff...Pangeran, kau membuatku kaget saja!
“Hahaha...ekspresimu itu sangat lucu ketika terkejut...
“Hmm...
__ADS_1
“Emangnya kau sedang belajar apa?
“Aku belajar membuat gambar....Lihatlah ini...
“Wah gambarmu bagus...cukup berbakat bagi seorang pemula...
“Suatu saat nanti aku akan menjadi pelukis hebat dan membuat Ayah dan Ibuku bangga...
“Kenapa nanti kalau kau bisa melakukannya sekarang?
“Hah? Tapi bagaimana?
“Hal pertama yang harus dimilikioleh pelukis hebat adalah...alat dan bahannya. Apakah kau sudah punya?
“Belum...aku rasa itu akan sangat mahal. Jadi, mungkin lain kali saja aku akan....
“Hei...kau pikir apa gunaku sebagai seorang sahabat jika tidak bisa membantumu...ayo...(tarik tangannya)
“Tapi...eh...
“Bibi...kami keluar dulu...
“Ibu aku pergi....
“Oh iya...hati-hati...
Dua sahabat remaja itu sangat bahagia sepanjang hari, mereka pergi ke setiap tempat bersama dan belajar melukis dengan gembira ria.
“Disiini objeknya sangat indah...bagaimana kalau kau melukisku juga...
“Benar juga...aku belum pernah melukis objek manusia sebelumnya...ku pikir kau cocok menjadi modelku hari ini...
“Kau ini...aku bukan model....(sambil mencolek dengan cat) Tapi aku seorang Pangeran tampan yang berani...
“Uh...Pangeran....awas ya...
“Tangkap aku kalau bisa....hahaha...
Kenangan indah bersama selalu menjadi memori yang tak pernah ia lupakan, setiap sore tepat matahari akan terbenam mereka berdua bahkan bisa duduk bersama menikmati senja. Dan itulah moment yang sangat berarti buat Zen ketika ia bisa menyaksikan senyuman indah Bella.
Mereka layaknya pasangan muda yang terhanyut dalam cinta,bahkan Zen hampir saja mencium Bella namun dialihkannya karena Bella merasa itu terlalu cepat bagi mereka untuk saling jatuh cinta meski mereka sudah punya perasan satu sama lain.
Bella masih memilik banyak impian dan memiliki pasangan adalah hal yang paling terakhir di daftarnya lagipula persahabatan mereka dikhawatirkannya akan menghilang jika itu terjadi lebih awal. Zen sangat mengerti perasaan Bella yang belum siap waktu itu sehingga ia berusaha untuk menahan diri sampai Bella sendiri yang menginginkannya.
....Bersambung....
*
*
*
*
*
*
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas:)
__ADS_1