
“Heh...hahaha...hahaha...sungguh kau memang sudah dibutakan oleh cinta Raja yang bahkan sebentar lagi akan sekarat itu. Tapi itu bagus...bagaimana pun aku akan mengusai takhta ini dan kau...kau tidak lebih dari bonekaku saja Moorim...!” ucap Moorim licik.
“Apa...jadi selama ini kau...aahk...” tiba-tiba tercekik akibat sihir dari tongkatnya. “Kau ternyata memiliki kekuatan sihir....dasar Penyihir...licik. ucap Moorim dengan leher yang tercekik tangannya sendiri.
“Hahaha...aku suka mendengar gelar itu. Terimakasih karena sudah membantuku mempermudah tujuanku!” ucapnya Penyihir.
“Ibu...!” ucap Rollen. “Ibu Ratu lepaskan Ibuku...apa yang kau lakukan...!” teriak Moorim.
“Dasar berisik...haa!” kemudian menyihir Jozen dan mengendalikan tubuhnya dibawah pengaruh sihir. Sedangkan Moorim ia jatuhkan dengan keadaan tidak sadarkan diri.
“Ada apa ini...Ibu...Rollen. Ibu Ratu...kau!”
“Berhenti memanggilku Ibu Ratu...karena aku adalah Penyihir kejam tak terkalahkan sekarang Hwahaha...” ucapnya.
“Penghianat....mati kau...haa! Kemudian menyerang namun malah mengenai adiknya. “Akh...ka..ka..” ucapnya Rollen lalu terjatuh bersama pedang yang sudah menembus tubuhnya itu. “Rollen...apa yang aku lakukan...huhuhu...” ucapnya merangkul adiknya yang sudah tidak bernyawa itu. “Tidak....!” histerisnya dengan teriakan disertai tangisan penyesalan.
“Hahaha...bagaimana rasanya membunuh saudaramu sendiri? Bukankah itu menyenangkan? Ucap Penyihir.
“Kenapa...kenapa kau melakukan ini pada kami...! ucapnya dengan air mata yang bercucuran. “Haa....! kemudian mencoba menyerang lagi. Namun dengan sekali sentakan, tubuh Jozen terpelanting hingga terbentur tak sadarkan diri ditembok. “Akh....kena...pa. Padahal kami sangat menghormatimu. ucap Jozen setengah sadar dengan tubuh yang sangat lemah.
“Heh...aku tidak perlu hormat dari kalian.” Ucapnya lalu meninggalkan Jozen yang sudah benar-benar tidak sadarkan diri.
Diluar istana, Penyihir menyambut Pasukannya...semua prajurit bayarannya telah selesai melakukan tugas mereka dan berbaris menunggu perintah selanjutnya.
“Semuanya sudah kami atasi, sekarang semua orang didesa telah dikendalikan.
“Heh...bagus. Sekarang kalian bersiaplah untuk berperang!” ucapnya.
Seluruh pasukan yang dipimpin oleh Penyihir jahat itu, kemudian memakai sebuah jarum yang dibuat Penyihir untuk menjadikan kekuatan mereka berlipat ganda dan tidak tertandingi.
“Semuanya berpencarlah ke setiap sudut dikerajaan ini, jika ada musuh langsung habisi mereka!” aba-aba ketua komplotan itu.
Semuanya berjalan sesuai keinginan penyihir, kini tidak akan ada lagi yang bisa menandingi kekuatan dan kekuasaannya bahkan ia bisa mengambil alih dan mengendalikan dunia ditanganya saat ini.
“Kau lihatkan Raja...betapa mudahnya kerajaanmu tunduk padaku hahaha....sekarang nikmatilah sisa hidupmu dengan penderitaan dan kesedihan!” ucapnya penyihir tidak punya hati.
Raja Zedan dibuat sadar namun tubuhnya menjadi patung didepan pintu lebar istana. Penyihir sengaja melakukannya, agar Raja Zedan melihat dan menyaksikan sendiri seberapa hebat kekuasaanya.
Dengan rintihan air mata, Raja Zedan tidak bisa bicara karena mulutnya seakan terkunci rapat sama seperti tahanan kasus kematian Ella dahulu. Raja Zedan pun mulai menyadari segalanya yang terjadi karena ulah Penyihir. Ia hanya bisa menangis dalam hatinya dan berharap agar anaknya Zen segera kembali dan menyelamatkan masa depan kerajaan dan dunia dari kekejaman Penyihir biadap itu.
[Situasi Zen]
“Sekarang apa yang harus kita lakukan Pangeran!” ucap Bella cemas.
“Aku tidak boleh tinggal diam lagi, kita harus kembali ke istana sekarang juga!” ucapnya Zen. “Tolong bukakan gembok ini dan bebaskan aku...cepatlah!” kata Zen.
“Baik...Pengawal apa kau punya kau memiliki kunci untuk membuka kurungan ini?!”
“Eh...Nona apa yang kau lakukan!” cegah Pengawal itu. “Nona kondisi Pangeran belum stabil, jika Nona melepaskannya maka akan sangat berbahaya.”
“Hei...ini sedang darurat berikan segera kuncinya padaku!” ucap Bella.
__ADS_1
“Tidak Nona, saya sudah diberikan kepercayaan oleh Yang Mulia Ibu Ratu...saya tidak bisa...akh!” seketika Prajurit itu terjatuh.
“Eh...Prajurit...Prajurit bangun!” Kemudian memeriksa. “Dia pingsan...?!”
“Maafkan aku dia terlalu banyak celoteh tadi...!” tiba-tiba terdengar suara wanita dari kejauhan.
“Siapa itu, lalu menari pedang si Prajurit!” ucap Bella berjaga-jaga.
Kemudian muncullah seorang wanita Paruh baya, dengan melepaskan penutup wajahnya. “Maaf aku baru muncul sekarang, apa kabarmu Pangeran!” ucapnya akrab.
“Tunggu dulu dari mana kau tahu kalau dia adalah Pangeran!” ucap Bella.
“Hm...soal itu biarkan Pangeran yang memberitahumu!” ucapnya Zeyya.
“Pangeran...apa kau mengenal orang ini?!” ucap Bella memastikan.
“Kau....” kemudian mencoba mengingatnya.
[Flash Back On]
“Bailklah kalau begitu besok aku akan keluar lagi mencari teman yang persis seperti ibuku!” ucap Rollen
“Hahaha...bagus. Semangat itulah yang ayah tunggu darimu Nak!” ucap Raja tersenyum.
“Eh...tapi bolehkah aku bertanya satu hal lagi Ayah?!”
“Hmm...boleh, mau tanya apa?!” ucap Raja.
“Wanita yang ada disamping Ibu ini siapa?!” ucap Jozen kecil yang polos.
“Benarkah? Tapi kenapa aku tidak pernah melihat dia disekitar sini?! Ucapnya lagi polos.
“Tentu saja anakku, dia sudah tiada saat mengawal ibumu untuk persalinan. Tidak ada yang tahu dimana jasadnya tapi setelah kejadian itu memang tidak ada satupun orang yang selamat kecuali Ratu Moorim dan dirimu jadi kau jangan pernah membencinya ya karena kita berhutang padanya.!”
“Oh begitu ya, jadi aku ini diselamatkan oleh Ibu Moorim. Hmm...sayang sekali ya dia harus mati, ini semua karena penyihir itu. Ayah...aku berjanji padamu. Suatu hari nanti jika aku sudah dewasa dan kuat, aku akan menemukan Penyihir itu dan membuatnya menyesal!”
“Hahaha...semoga niat baikmu itu terwujud anakku. Tapi pertama-tama temukan dulu sahabatmu sana!” ucap Raja.
“Eh iya ya...aku hampir saja lupa...baiklah kalau begitu aku pergi dulu Ayah... Panglima Ayo! Ucapnya kemudian berlari lincah.
“Hati-hati...!” teriaknya.
“Yang Mulia kalau begitu aku permisi dulu!” ucapnya lalu menyusul Pangeran Zen kecil. “Eh Pangeran tunggu!” kemudian berlari mengejar.
“Hahaha...hmm..” senyum Raja menatap tingkah Zen kecil lalu memajang kembali lukisan Ratu Rubi.
[Flash Back Off]
“Madam Zeyya...! ucap Zen setelah mengingatnya. “Kau ternyata masih hidup!” ucapnya.
“Ya...aku masih hidup!” ucap Zeyya.
__ADS_1
“Tapi...tapi begaimana? Bukankah waktu itu kau...!” ucap Zen bingung.
“Hmm...ceritanya akan sangat panjang, tapi aku akan mengatakannya setelah kau keluar dari sana terlebih dulu. Benar begitu kan Bella?!” ucap Zeyya lalu mengambil kunci dari tubuh Prajurit dengan perkataannya membuat Bella juga penasaran akan kebenarannya.
“Dia juga tahu namaku...!? gumam Bella.
“Hei Putri...kenapa kau tinggal diam disana. Ayo bantu aku, setelah itu kau juga akan menemukan jawabanmu!” ucap Zeyya.
“Ah itu...baiklah! ucap Bella lalu segera membantu Zen untuk dipapah karena masih lemah.
Kini tiba saat-saat dimana semua pertanyaan terjawab. Layaknya teka teki yang sulit untuk dipecahkan selama ini seketika menemukan jalurnya sendiri, Zeyya yang sudah menampakkan diri setelah sekian lama akhirnya menceritakan semua informasi kebenaran yang ia alami dan selidiki sendiri. Semua pertanyaan satu per satu menemukan jawabannya, kini tidak ada lagi pertanyaan yang tidak bisa dijawab Zeyya. Zen dan Bella yang sejak tadi menyimak sambil bertanya-tanya itu hanya bisa terdiam sejenak sambil mengambil nafas dalam setelah mendengar semua fakta yang terkuak.
“Apa! jadi aku ini benar Ella dan Ayah dan Ibuku bukanlah Ratu dan Raja Ludo?! Terkejut Bella tak sanggup berkata apa-apa lagi.
“Benar...aku tahu karena aku melihatmu saat itu diselamatkan atas perintah Moorim, dan Pengawal yang membawamu ke hutan larangan. Aku mengikutinya dan membawamu ketempat yang aman dan saat itu kebetulan aku melihat Ratu Ludo!” ucap Zeyya. “Maafkan aku, mungkin kau tidak bisa menerimanya. Tapi aku saat itu tidak punya pilihan lain, aku tidak bisa membawamu dan kau juga sudah kehilangan ingatan dan kupikir Ratu Ludo adalah orang yang tepat mengingat dia sangat menginginkan seorang anak!” tambahnya.
“Terimakasih...telah menyelamatkan hidupku saat itu, aku tidak tahu jika kau tidak datang menolongku mungkin saja waktu itu aku sudah...!
“Tolong jangan katakan itu lagi Bella, bagaimana pun aku tetap tidak ingin kehilanganmu lagi...!
“Pangeran....! ucap Bella. “Hmm...Aku berhutang budi kalian...tapi aku masih ingin memastikannya dengan mendengar langsung dari mulut Ibuku terlebih dulu sebelum memutuskan hubungan kami kedepannya!”
“Tidak Putri...apapun yang akan dikatakan Ratu Ludo nanti, kalian tetaplah anak dan Ibu meski tidak sedarah tapi ikatan kalian sangat kuat bahkan lebih dari itu!”
“Hmm...terimakasih sekali lagi karena mengingatkanku, aku akan memikirkanya dengan baik-baik!” ucap Bella.
“Sama-sama Putri...!” jawab Moorim.
“Hmm...jadi Penyihir yang jahat yang selama ini ku cari adalah orang kepercayaan kerajaan Zuma sendiri!
“Benar, dia menyamar menjadi Ibu Ratu dengan bantuan Moorim!”
“Jadi Ratu Moorim juga bersekongkol? Ucap Bella.
“lebih tepatnya Moorim dijadikannya boneka untuk mempermudah tujuannya!”
“Hmm...aku sudah curiga tentang itu sebelumnya!” ungkap Bella.
“Kau Juga sudah tahu Putri...kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?!”
....Bersambung....
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas:)