Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 70


__ADS_3

“Maafkan aku Pangeran karena saat itu aku tidak tahu pasti kebenarannya, buktipun tidak ada!” ucapnya. “Aku saat itu hanya curiga setelah ia dengan terang-terangan memberiku pisau yang katannya beracun untuk aku gunakan melukaimu Pangeran!”


“Apa melukaiku...jadi waktu itu..!?”


“Tolong jangan salah paham dulu, aku jujur kalau aku memang diperintahkan Ibuku untuk ikut agar bisa balas dendam atas kematian ayah. Tapi aku tahu kau orangnya baik dan menurutku kita ini tidak ada hubungannya dengan masalah yang dahulu antara kedua kerajaan dan seperti yang dikatakan Madam Zeyya kalau semua ini terjadi karena ulah Penyihir bahkan kematian Ibumu juga semuanya ulah dia. Aku saat itu memang tidak ingin melakukannya, penyihir yang menyamar itu mencoba memanfaatkanku tapi untunglah dia saat itu hanya mengetesku saja dengan mengatakan kalau pisau itu berancun mematikan.


“Jadi...kau tidak berniat untuk membunuhku?


“Sama sekali tidak...aku ikut saat itu karena dengan tujuan lain yaitu Ran. Setelah mengenalmu lebih jauh aku sadar dan berhutang budi kepadamu. Maafkan aku karena baru mengatakannya sekarang, aku mungkin telah memberimu harapan dengan berpura-pura mengingat semuanya saat itu!”


“Tidak...ini juga salahku. Aku juga minta maaf jika kau merasa terpaksa dan juga terimakasih karena masih mau melakukannya demi membahagiakanku!”


“Jangan ucapkan terimakasih kepadaku tapi kepada Putri Beauty. Dialah yang memintaku untuk tetap berada disampingmu, dia benar-benar tulus mencintaimu Pangeran!


“Beauty...jadi dia ternyata...ah...betapa bodohnya aku!” ucap Zen mengingat semua sikap Beauty saat itu yang ternyata sudah lebih dulu menyadari perasaanya. Pangeran cukup menyesali karena tidak menyadarinya saat itu juga.


Madam Zeyya pun menceritakan tentang niat Moorim menguasai dunia dan rencannya sekarang untuk mengendalikan kerajaan.


“Semuanya memang diluar dugaan kita, karena Penyihir licik itu sangat pandai dalam menguasai keadaan tapi tenang saja aku sekarang sudah mengetahui kelemahan dia yang sebenarnya!


“Hmm...kalau begitu mari kita ke istana dan membuat ia membayar semua perbuatan kejinya itu...dia sudah membunuh ibuku, membuat kesalahpahaman besar antara kerajaan kami dan membuatku seperti ini, dia tidak bisa diampuni”


“Tidak...jangan sekarang. Untuk melawannya kita juga harus memiliki strategi dan pasukan. Karena Pasukan Penyihir sangat sulit untuk kita lawan bertiga!”


“Tapi bagaimana cara kita mengumpulkan Pasukan sebanyak itu sekarang!”


“Hmm...ada!”


Mereka pun mencari bantuan ke semua kerajaan-kerajaan sahabat diberbagai tingkatan. Mereka juga melakukan persiapan perang, Bella juga ikut setalah berlatih dengan serius. Mereka dan pasukan yang ada membutuhkan waktu satu minggu lamanya untuk persiapan meski sudah mengetahui kelemahan musuh, sedangkan musuh sendiri masih tengah asyik merajalela dikerajaan Zuma. Musuh juga sudah membuat strateginya sendiri karena penyihir sudah menebak akan ada perlawanan dari luar.


[Situasi Beauty]


Lama tak terdengar kabar, setelah kepergiannya. Beauty tak hentinya merasa khawatir dan memikirkan Zen dengan banyaknya penghianat disekelilingnya itu. Meski ia tahu ia sudah tak ada hubungan lagi dengan itu namun ia tetap peduli karena perasaan cintanya yang tulus dan besar itu. Sedangkan Leona adikknya juga sering menguatkan kakaknya, namun tetap saja itu tidak mempan kepada Beauty.


Suatu hari bersamaan dengan kabar dari kerajaan tetangga yang mengeluhkan bahwa kerajaan Zuma telah menutup semua akses dan kerjasaama mereka tanpa persetujuan mereka itu sangat geram. Beauty disitu mulai curiga, apa yang terjadi terhadap sistem pemerintahan kerajaan Zuma sekarang? Sampai ia pun diberi informasi oleh burung kesayangannya itu mengenai kebenaran bahwa Kerajaan Zuma sekarang tengah dalam masa pemberontakan yang mana dilakukan oleh Ibu Ratunya sendiri.

__ADS_1


Putri Beauty terkejut bukan main mengingat Ibu Ratu Zuma adalah orang yang juga sering terlibat dengan usulan perdamaian itu ternyata adalah musuh dalam selimut juga.


Ia pun segera ke istana Zuma untuk memastikannya, dan saat itu Penyihir sudah mulai memiliki rencana untuk menjalankan rencana besarnya.


“Eh...kak...kakak mau pergi kemana?! Penasaran Leona melihat kakaknya yang tergesa-gesa itu.


“Adikku...aku harus segera ke istana Zuma sekarang!”


“Apa...tapi untuk apa...bukankah kita sudah...!”


“Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Yang jelas aku merasa sesuatu hal buruk akan menimpa kerajaan Zuma!”


“Benarkah...Kalau begitu aku ikut!”


“Tidak...kau disinilah dan pastikan Ayah dan Ibu tidak mengetahui ini!”


“Tapi bagaimana jika memang benar ada sesuatu yang berbahaya disana...aku takut kakak akan...!”


“Hei...hei dengarlah adikku, kakak mempercayakan ini padamu. Jika memang aku belum kembali sebelum hari gelap maka kakak minta tolong, beritahu Ibu dan Ayah agar segera mengirim pasukan sebanyak-banyaknya ya!”


“Tapi kak...!”


“Kakak berhati-hatilah...” teriak Leona mulai khawatir juga.


Beauty saat itu sudah sampai tepat setelah Penyihir selesai membuat seluruh istana dalam kendalinya. Ia sempat berbincang-bincang dengan Ibu Ratu tentang apa yang ia lakukan ini. Setelah dijelaskan bahwa ia adalah Penyihir yang memiliki tujuan menguasai dunia, Beauty pun melawan namun lagi-lagi Penyihir dapat membuat siapapun tunduk. Dengan sihirnya ia membuat Beauty tak sadarkan diri dan dikurung layaknya burung dalam sangkar.


“Pangeran Zen...!”


“Ckckck...sungguh gadis yang malam hehehe!” kekehnya jahat.


Saat itu Penyihir telah menyadari bahwa sebenarnya yang menjadi kelemahan untuk menghilangkan kutukan Pangeran Zen bukanlah Bella tapi Beauty. Melihat kegigihan dan ketulusannya Beauty ia pun berniat untuk menjadikannya sebagai alat untuk berjaga-jaga ketika saja Pangeran bisa sampai kemari dan dengan kekuatan monsternya yang luar biasa itu.


“Hmm jika Beauty adalah kelemahan Zen maka aku bisa menggunakannya untuk membuat Zen kembali normal dan membunuhnya lebih mudah hehehe!” ucapnya.


Tiba-tiba Penyihir mengarahkan tongkat sihirnya ke atas langit-langit istana yang mana burung kesayangan Beauty hendak terbang keluar setelah mendengar rencana Penyihir.

__ADS_1


“Heh burung tidak berguna...!”


Ternyata penyihir sadar bahwa burung itu bukanlah burung biasa, melainkan burung yang bisa saja membongkar rahasianya juga sehingga ketika ia menyadarinya ia tak melewatkan kesempatan membiarkannya lolos.


[Kembali ke situasi]


Kondisi kerajaan Zuma sangat memperihatinkan selama itu, Raja Zedan bahkan diperlakukan layaknya sebuah tahanan dikerajaannya sendiri, Ran yang juga dalam pengaruh sihir juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melindungi diri maupun Raja.


Disisi lain semua Prajurit pihak Pangeran Zen, sudah siap menunggu aba-aba. Mereka melakukan strategi Pengalihan dan penyamaran untuk bisa menembus penjagaan luar kerajaan.


“Baiklah...sekarang waktunya. Semua Tim berpencar sesuai strategi dan jangan lupa taktik kita adalah mengepung musuh jadi bekerjasamalah dengan baik!” Ucap Pangeran.


“Baik!” serentak para pasukan lalu menyebar.


“Hmm...Bella...kau ikutlah denganku!”


“Tapi bagaimana dengan Madam?!”


“Tenang saja Putri...aku bisa melindungi diriku. Pergilah!” ucap Zeyya.


“Hmm...kalau begitu berhati-hatilah!” ucap Bella lalu pergi bersama Zen.


Madam Zeyya tahu bagaimana yang seharusnya ia lakukan, karena selama ini dia sudah dekat dengan Pasukan Penyihir itu. Sehingga ia bisa masuk dengan mudah, tanpa ada perlawanan dari musuh itu sendiri.


....Bersambung....


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas:)


__ADS_2