Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 12


__ADS_3

[Di Kamar Jozen]


"Seharusnya kalian tahu apa masalah yang akan kita hadapi jika Raja tahu kalian seperti ini!


"Aku sudah memperingati kak Jozen Ibu tapi dia tetap ingin masuk ke sana!


"Kau seharusnya sebagai saudara mencegahnya dengan cara apapun, kau tahu kan kakakmu Jozen sekarang masih seorang Raja sementara!


"Iya aku tahu, tapi itu bukan berarti aku yang di salahkan atas kesalahannya sendiri! Semejak penobatan itu, Ibu lebih sering memuji Jozen dan lebih memperhatikan dia dari pada aku kan! Hanya karena posisinya sekarang Ibu membandingkan aku. (marah Rollen)


"Sst..., tenanglah. Ibu tidak bermaksud membandingkanmu tapi Ibu hanya ingin kalian merubah sikap, agar menjadi lebih dewasa dalam berpikir untuk Zen tidak mengambil posisi Raja! Kita masih beruntung karena Zen sendiri yang menolak di nobatkan jika tidak, kita akan lebih sulit untuk memperoleh kesempatan itu!


"Tapi tetap saja, Ibu seharusnya bisa mengerti perasaanku saat ibu menyalahkanku atas perbuatan Kak Jozen!


"Kesalahan apa maksud kalian? (kata Raja tiba-tiba masuk)


"Raja! (kaget Moorim dan Rollen)


"Apa yang telah Jozen lakukan hingga aku tak mengetahuinya? Katakan Moorim (tegasnya)


"Rajaku Raja Zedan, Rollen telah mengajak Jozen untuk minum-minum hingga ia mabuk. (Kata Moorim sambil memberikan kode ke Rollen)


"Benarkah itu Rollen? (tanya Raja)


"Maaf Ibu, tapi untuk kali ini tidak lagi!...., Ayah aku minta, tapi aku sudah memperingatkan dia sebelumnya.


"Apa maksudmu?


"Ya Ayah..., yang di katakan Ibu itu salah. Kak Jozen sendiri yang memaksakan diri untuk minum terlalu banyak, jadi bukan aku yang mengajaknya!


Karena penasaran Raja kemudian berjalan mendekati tubuh Jozen yang tertutup selimut tebal dan membuka selimut tersebut.


"Raja..., aku bisa menjelaskan...


"Moorim, apa ini?.... Ini sama sekali tidak lucu, dimana Jozen?


"Apa...? (Terkejut Moorim dan Rollen)


"Ayah, ada apa memanggilku? (Kata Jozen tiba-tiba muncul di depan pintu kamar)


"Kakak..., kakak kenapa ada di situ? bukankah tadi kakak sedang....


"Iya, Maaf aku tadi ketiduran di kamarmu! Tapi jangan khawatir, itu tidak berantakan.


"Kalian..., seharusnya tidak perlu berbohong seperti ini padaku kalau Jozen tidur siang hari ini! Lagipula seorang Raja sementara tidak sesibuk Raja yang Resmi.


"Iya Ayah, aku juga sudah mengatakan itu pada iIbu. Tapi Ibu malah memarahiku, karena aku sudah terlalu mengantuk makanya aku pergi tidur saja ke kamar Rollen dengan diam-diam!


"Hahaha...., sudah Ayah mengerti tapi lain kali. Kau harus memberitahu Ibu dan adikmu, jadi mereka tidak perlu bersusah payah mencari alasan untukmu sampai-sampai mengatakan kalau kau itu mabuk diluar!


"Mabuk? hahaha..., mana mungkin aku mabuk Ibu. Aku ini sebentar lagi akan menjadi calon Raja yang resmi, iya kan ayah!


"Iya benar!

__ADS_1


"Lain kali Rollen, kau jangan membuat Ibu cemas seperti itu, Ya!


"Iya kak, maaf!


"Ya sudah..., ayah kesini hanya ingin memberitahukan padamu, kalau hari ini kerajaan akan mengadakan rapat dengan Para Raja besar lainnya mengenai perjanjian perdamaian kita. Dan Ayah harap kau, sebagai Raja sementara kerajaan Zuma juga menghadiri rapat tersebut agar kau bisa belajar bagaimana cara menjalin kerjasama dengan kerajaan lain.


"Baik Ayah!


"Hmm..., cepatlah bersiap-siap! (Kata Raja menepuk pundak Jozen dan pergi)


Setelah Raja Zedan keluar, Moorim dan Rollen pun seketika bertanya-tanya karena bingung.


"Kak, kenapa kakak tiba-tiba ada di luar!


"Adikmu benar, bukankah barusan kau mabuk?


"Iya, itu karena tadi aku keluar waktu aku mendengar kalian sangat berisik. Karena sibuk bertengkar kalian mungkin tidak melihatku tapi untung saja Ibu kerajaan melihatku hampir jatuh dari tangga.


Cerita Jozen sambil membayangkan. Yang ternyata sebelum Raja datang, Penyihir kebetulan sempat melihat Jozen hampir terjatuh dari tangga. Tentu saja ia tahu hal itu akan membuat kekacauan jika Raja melihatnya dalam keadaan mabuk terlebih dia baru saja di nobatkan sebagai Raja sementara sehingga Penyihir(Ibu kerajaan) mengambil langkah cepat dengan membawa Jozen ke kamar Rollen dan memberinya ramuan agar pengaruh alkoholnya hilang.....


[Kejadian Sebelumnya]


...."Ayo cepat minumlah ini! (kata Penyihir saat itu)


"Aku tidak mau...(jawab Jozen, mabuk berat)


"Jika kau tidak segera meminum ini, maka kau akan kehilangan posisimu sebagai Raja sementara? Apa kau mau itu terjadi hah!


"Kalau begitu..., minum ini agar kau bisa bermain dengan mereka lagi. Ya! (bujuk si Penyihir)


"Benarkah?.....Baiklah...demi gadis-gadis cantik aku akan melakukan apapun...(kata Jozen, mabuk)


Saat itu Jozen benar-benar tidak sadar namun setelah meminum ramuan yang di berikan Penyihir tersebut ia seketika menjadi biasa kembali.


"Apa yang terjadi padaku!


"Kau barusan mabuk berat!


"Benarkah? Oh iya aku ingat, aku terlalu banyak minum di tempat itu!


"Kau sekarang bersiap-siaplah, bersihkan dirimu dan segera ke kamarmu!


"Memangnya ada apa?


"Raja Zedan sekarang mencarimu!


"Gawat! bagaimana kalau Ayah sampai tahu soal ini, dia akan marah besar padaku...


"Kau tidak usah khawatir, dia tidak akan tahu! Sekarang kau hanya perlu bersikap seolah kau bari bangun tidur dan katakan padanya kalau kau.....(bisik Penyihir)


"Baiklah!....(kata Jozen saat itu hingga mengakhiri ceritanya)


[Kembali ke cerita]

__ADS_1


....."Oh jadi begitu ceritanya! Pantas saja kau bisa terlihat baik-baik saja. (Kata Rollen)


"Huff...., untunglah penyihir bisa segera mengatasinya! (gumam Ratu Moorim). Sudah...sudah, hampir saja kita mendapat masalah karenamu. Sekarang jangan bicara lagi, segera bersiaplah untuk mengahadiri rapat penting itu sebelum Raja Zedan curiga lagi!


"Baik Ibu! (kata Jozen)


Semua orang sudah berkumpul di ruang rapat kerajaan termasuk Zen yang sudah dari tadi berada disana!


"Hei kenapa kau berada disini? (kata Jozen)


(senyum kecil) "Mungkin kau lupa, kalau aku sekarang adalah Panglima kerajaan ini! (kata Zen)


"Baiklah, semua sudah berkumpul. Mari kita mulai rapat ini!


Rapat di mulai dengan sangat baik, perdamaian yang di usulkan kemudian di sepakati oleh setiap pemimpin dari kerajaan besar lainnya termasuk kerajaan Ludo yang sekarang sudah menjadi kerajaan besar dan merupakan mantan musuh kerajaan juga telah menyepakati perdamaian itu.


"Akhirnya, perdamaian dunia telah terwujud. Aku harap tidak akan ada lagi peperangan di dunia ini! (kata Zen kepada Ran)


"Aku juga berharap demikian Pangeran! Aku juga berterimakasih karena berkatmu usulan ini bisa di terima.


"Kau tidak perlu berterimakasih padaku, karena sudah kewajibanku untuk mewujudkan tujuan kerajaan ini.


"Kau benar, dan itu sebabnya kau memilih untuk menggantikan posisi ayahku untuk sementara daripada menjadi Raja? Tapi aku masih heran, kenapa kau mau mengangkatku sebagai tangan kananmu!


"Bukan..., bukan karena itu. Raja juga bisa mengusulkan hal itu namun aku merasa ada hal yang lebih penting lagi dari itu! Selain sebagai tanda balas budiku kepada ayahmu dulu, aku juga berniat untuk melatihmu menjadi lebih kuat bahkan lebih dariku!


"Aku tidak tahu bagaimana cara berterimakasih kepadamu, jika bukan karena bantuanmu maka aku mungkin sekarang tidak akan berada disini!



Ran sebenarnya adalah anak tunggal dari Panglima yang sedikit lebih muda dari Pangeran, karena kesibukan Panglima mengurus keamanan istana dan untuk melatih Zen. Ia bahkan jarang pulang ke rumah dan melatih anaknya sendiri, pengabdiannya itu juga menjadi salah satu alasan Zen memilih di posisinya saat ini.


"Kau ini, aku yang berhutang pada ayahmu jadi kau tidak perlu menyanjungku seperti itu!


(tersenyum) "Kau tahu betapa sulitnya aku kala itu ketika ibuku meninggalkan kami dan ayahku sekarang tidak bisa melakukan apapun dan tiba-tiba kau datang seperti malaikat di saat aku benar-benar butuh bantuan dari seorang teman yang baik sepertimu Pangeran!


"Aku sangat tahu, makanya aku sangat ingin kau bisa menjadi kuat agar bisa menggantikan posisi ayahmu! Ini....(sambil memberikan sebuah pedang)



"Baiklah kalau begitu mari kita tunjukkan kemampuan kita! (Tambah Zen)


"Baik..


Ran dan Zen sudah akrab semejak Ibu Ran meninggal dan saat itu Pangeran Zen di perkenalkan oleh Panglima agar mereka bisa bersahabat dan sekarang mereka merasa lebih dari itu yaitu saudara. Berlatih bersama di waktu senggang mereka adalah hal yang rutin dilakukan untuk saling mengasah kemampuan masing-masing.


"Hmm..., sepertinya ini sudah cukup untuk hari ini! kita akan melanjutkannya esok hari.


"Baik!


"Ingatlah satu hal Ran, aku tidak akan melepaskan posisi ini kepada siapapu kecuali dirimu, bahkan jika itu saudaraku sekalipun.


"Hmm..., aku tidak akan mengecewakan mu Pangeran!

__ADS_1


__ADS_2