Beauty And The Wolf Prince

Beauty And The Wolf Prince
Chapter 57


__ADS_3

Keadaan sedikit hening ketika Bella mendengar pertanyaan dari Hugo, meski itu bukanlah pertanyaan yang baru dilontarkan untuknya.


“Sudahlah Hugo...aku sedang tidak ingin membahas hal seperti itu denganmu sekarang." Kemudian melangkah menjauh.


“Tidak bisakah...,tidak bisakah Putri peduli terhadap perasaanku juga!?


“Panglima, kumohon...tidak sekarang.”


“Maafkan aku Putri..., tapi aku tidak bisa menahan ini lagi. Kau tahu? Sejak kepergianmu aku merasa kalau kau sudah tidak menganggapku lagi...namun aku berusaha menepati janji untuk selalu melindungimu. Dan sekarang kau malah memilih orang lain setelah Ratu...


“Cukup Panglima...!


“Hah...itu kan Panglima Hugo dan Putri Beauty? Mereka kelihatannya sangat serius...” gumam Leona penasaran dengan perbincangan mereka dari kejauhan dibalik pohon rindang.


Leona dengan membawa perlengkapan penyamaran berniat pergi keluar istana untuk mengintai Pangeran bersaudara. Namun sebelum berhasil kabur ia sempat melewati jalur samping istana yang dirasanya aman dan tentu saja jalur tersebut ia melihat Putri Bella dan Panglima Hugo berbincang ditaman. Ingin berlalu namun lagi-lagi rasa penasarannya membuat ia sedikit menguping pembicaraan dan mendapati info yang sedikit membuatnya terkejut.


“Bukankah aku sudah sering mengatakan padamu kalau..."


“Kau hanya menganggapku sebagai teman saja!” sambung Hugo.


“Hmm...dengar Panglima, aku bahkan menganggapmu lebih dari sekedar teman selama ini. Kau adalah Panglimaku, pengawal pribadiku, teman, sahabat bahkan kau juga sudah seperti keluarga bagiku. Bukankah itu sudah cukup membuktikan seberaa peduli dan seberapa berharga dirimu untukku...?”


“Tapi aku masih ingin lebih dari itu...Putri. Kau tahu betapa sulitnya aku menahan diri untuk tidak menyukaimu...aku pernah mencoba bersikap layaknya seorang kakak untuk melindungimu dan menemanimu saat kau membutuhkan teman bermain. Namun sebaliknya saat dekat denganmu, perasaanku itu malah semakin tubuh hingga menjadi cinta..."


Leona yang mendengarnya hanya bisa diam tertegun dari kejauhan dibalik pepohonan. Dia sediki aneh dengan perasaannya, ia kemudian berbalik dan bergumam dalam batin sebelum akhirnya ia pergi setelah mendengar penjaga berteriak.


“Jadi begini yang dirasakan kak Beauty. Eh....tunggu dulu, kenapa aku mengatakan hal dewasa seperti ini? Seperti orang yang patah hati saja, huff....,” kemudian menampar pipinya agar bisa segera sadar dari lamungannya sendiri. “Sadar....sadar Leona, bangunkan dirimu. Kau baru saja mendengar sesuatu yang sensitif untuk seusiamu.”


“Hei siapa disana?” ucap Pengawal dari kejauhan yang melihat samar Leona dalam kegelapan seperti seorang penyusup.


“Gawat....aku harus segera pergi sekarang!” Desis Leona kemudian segera keluar istana tanpa sepengetahuan siapapun.


“Kau sebaiknya menanyakan ulang kedalam lubuk hatimu yang paling dalam Panglima, mungkin saja rasa sayangmu kepadaku itu sudah menutupi perasaan persaudaraan kita. Sungguh aku tidak ingin kau terjebak dengan perasaan yang tak seharusnya ada diantara kita itu..."


“Tapi..."


“Aku akan melaksanakan perintah Ibuku sekarang...Permisi, Panglima!” ucap Bella lalu pergi meninggalkan Hugo.


Bella sebenarnya tidak tahu, dan bimbang harus bagaimana. Rasanya ia mau lari dari kenyataan sekarang juga namun sesuatu terus saja menahannya. Dikepalanya sekarang, ia tengah memikirkan cara agar bisa membuat Pangeran Zen takluk kepadanya sesui peringatan perintah Ratu Ludo beberapa saat yang lalu.


[Di situasi Beauty]

__ADS_1


Beauty dan Zen terlihat sangat menikmati makan malam sambil berbincang-bincang mengenai semua topik kerjasama mereka. Rasa canggung beauty mungkin sudah mulai teratasi kali ini, sehingga ia memutuskan untuk membahas topik tentang pendapatnya selama mengenal Pangeran.


“Ini sepertinya waktu yang pas untuk menyatakan perasaanku. Tidak peduli bagaimana responnya nanti, setidaknya aku sudah berusaha mengatakan yang sebenarnya.” Batin beauty pun seketika berbisik agar segera mengakhiri ganguan terbesarnya itu.”Pangeran...,bolehkan aku berkata jujur mengenai perasaanku juga?”


“Tentu saja..., aku sudah lebih dulu mengatakannya kan? Dan sekarang saatnya giliranmu.”


Pangeran juga sebenarnya sedikit penasaran dengan perasaan Beauty selama ini namun sifat pribadinya membuat ia mengurungkan niatnya untuk bertanya kembali, tapi kali ini ternyata Beauty sendiri yang meminta jadi ia sedikit terbantu.


“Hehehe....iya, mm....jadi aku ingin mengatakan kalau aku itu suka...”


Belum menyelesaikan kata terbaiknya, tiba-tiba seorang pelayan datang dan memberi tahu bahwa Putri Bella tadi sempat pingsan. Mendengarnya, Pangeran Zen sontak cemas dengan keadaan Bella. Melihat ekspresi Pangeran itu, membuat Beauty sedikit cemburu namun dengan pengertian ia tetap menyarankan Pangeran Zen untuk menengok Bella.


“Apa?


“Benar Pangeran, dan Putri juga mengatakan ingin bertemu dengan Pangeran. Katanya sesuatu yang penting ingin dibicarakan berdua saja,” Cerita si Pelayan istana.


Beauty pun menyarankan. “Sebaiknya Pangeran menemui Bella sekarang, siapa tahu itu tentang ingatannya yang mulai pulih kembali!”


“Tapi makan malamnya...”


“Tidak apa-apa, tinggalkan saja. Aku juga sudah kenyang!”


“Hmm...terimakasih. Aku akan menemuinya sekarang...maaf ya!”


[Situasi sebelumnya]


“Huff....sekarang bagaimana caranya aku mengalihkan perbincangan Panglima Beauty dan Pangeran Zen?”


Kemudian berpikir keras lalu menemukan sebuah ide, dan kebetulan seorang pelayan lewat. Ia pun mengambil kesempatan untuk berpura-pura pingsam dan meminta Pelayan untuk memberitahukan keadaanya kepada Zen. Pelayan yang panik pun segera meminta bantuan untuk membawa Bella ke kamar lalu kemudian memaksa diri untuk pergi menemui Pangeran dengan alasan menggangu Pangeran karena didesak Bella saat itu.


“Ah...


“Putri....Tuan Putri tidak apa-apa...


“T...tolong panggilkan Pangeran Zen!”


“Baik Putri..., tapi saya akan meminta bantuan terlebih dahulu...Putri mohon tahan sebentar!” ucap Pelayan lalu segera mencari bantuan sebelum akhirnya menemui Pangeran.


[Kembali ke situasi]


Zen dengan langkah kaki yang menjungkak itu tiba di kamar Bella, yang mana Bella sedang dirawat oleh tabib istana. Saat tiba, semua Pelayan termasuk tabib pun akhirnya keluar atas permohonan Bella kepada Zen.

__ADS_1


“Ada apa? Apakah kau pingsan setelah mengingat sesuatu?


Tanpa menjawab apapun, Beauty seketika menangis dipelukan Zen dan mengatakan kalau ia telah mengingat semuanya meski kenyataannya dia hanya pura-pura ingat.


“Maafkan aku...aku baru menyadari semuanya. Bagaimana bisa aku melupakan semua kenangan indah kita. Pangeran?”


“Sudahlah....jangan menagis lagi. Mendengarmu mengingat semuanya sudah cukup bagiku!”


“Apakah kau tidak marah padaku?”


“Tentu saja tidak, aku tidak memiliki alasan untuk itu. Sekarang kau istirahatlah, agar kepalamu tidak sakit lagi karena berusaha kerasa menginganya!”


“Kau benar, aku terlalu memaksakan diriku. Terimakasih!”


Dari luar pintu kamar, ternyata Ibu Ratu telah memperhatikan gerak gerik Beauty setelah tak sengaja menemukan gulungan kertas yang isinya tentang perintah Ratu Ludo untuk, pembalasan dendam . Tapi bukannya membongkar, Penyihir mendapatkan ide lain untuk memanfaatkan situasi tersebut yang tentunya akan sangat menguntungkannya.


“Kalian semua, kenapa berkumpul di depan Kamar ini?”


“Ampun Yang Mulia...Pangeran yang memerintahkannya sendiri!”


“Hmm...ya sudah kalian pergilah dan kerjakan tugas lainnya!”


“Baik..."


Setelah memerintah, Penyihir menyempatkan diri untuk melihat situasi Pangeran serigala dingin itu.


“Heh....gadis itu, ternyata licik juga!” desisnya sambil mengepal tangan yang berisi surat tersebut.


***Bersambung....


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Hai sobat Readers B&WP👋terimakasih telah mampir dan baca chapter ini ya😊 Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa tambahkan di list favorit kalian ya...biar bisa dapat notif setiap up chapter baru ok👌👍, dan dukung authornya dengan Like, vote dan comment ya temen-temen. Kenapa? karena dukungan kalian akan menjadi semangat untuk membuat karya yang lebih berkualitas***:)


__ADS_2