
Setelah semua dipersiapkan, mereka semua kemudian berangkat menuju hutan tempat Leona menghilang.
“Apa jadi Putri Leona menghilang? (kata Ran)
“Benar, dan dia mungkin sedang tersesat karena belum hafal jalan pulang. Itulah mengapa aku memanggilmu untuk ikut membantu, maaf jika aku tadi menggangu pembicaraanmu dengan Bella!
“Itu tidak ada yang penting, lagipula sudah tugasku membantu Pangeran!
“Hmm...terimakasih.
Selama beberapa jam berjalan, mereka akhirnya bertemu dengan persimpangan yang mengharuskan membagi diri untuk berpencar.
“Baiklah...untuk mempercepat pencarian, kita harus berpencar disini! Bagaimana? (kata Zen)
“Baiklah aku setuju, bagaimana kalau aku dan Rollen pergi bersama? (saran Jozen)
“Tapi kak? Eh iya...itu benar Zen lagipula kami lebih kompak jika bersama.
“Baiklah kalau begitu kami bertiga akan lewat jalan yang satunya, berhati-hatilah saudaraku! (kata Zen) Ayo kita pergi...
Setelah Zen, Beauty dan Ran berlalu. Jozen dan Rollen malah beralih ke arah lain.
“Loh kak! Kita kan harus jalan lewat sana...kenapa kita..
“Ssst....diamlah! Apa kau mau kita bertemu dengan beruang hutan itu lagi?
“Tentu tidak kak!
“Ya sudah, kenapa kita mau cari mati dengan itu?
“Iya tapi jika Ayah tahu bagaimana?
“Memang siapa yang ingin kembali ke istana dan melewatkan gadis-gadis desa yang cantik?
“Hmm...benar juga hahaha...
“Tapi sebelum itu kita harus menyamar agar tidak ada yang tahu kalau kita orang-orang kerajaan. Ayo...
Hari pertama pencarian masih belum menemukan hasil apapun akibat hutan yang lebat dan luas itu.
“Sebaiknya kita beristirahat disini, hari sudah mulai gelap. Akan berbahaya jika kita melanjutkan ini.
“Apa katamu? Adikku didalam sana sendirian dan kau bilang kita harus beristirahat? Tidak...kita tidak boleh beristirahat sekarang..dia pasti sangat ketakutan dan aku harus melanjutkan ini sendiri meski tanpa kalian.
“Putri Beauty...jangan bertindak gegabah! Kami disini juga merasakan hal yang sama, kau pikir kau saja yang merasa khawatir disini. Kami juga tahu ini tanggung jawab kami tapi kita juga harus melihat situasi dan keselamatan sendiri...bukankah itu salah satu prinsip seorang Panglima yang bijak?
“Jika bukan karena permintaan adikku waktu itu, aku tidak akan mau berada disituasi seperti ini dan mungkin adikku juga tidak akan mengalami hal buruk sekarang. (ucap Beauty, emosi)
“Aku minta maaf soal itu, tapi tidak baik menyesali apa yang sudah terjadi.
“Ingatlah Pangeran, sesuai kesepakatan kerajaan kita. Kami harus sudah kembali dengan selamat dan kau masih punya dua hari untuk itu sebelum semua kerjasama kita batal. (lalu kembali duduk didepan api unggun)
“Pangeran! Sebaiknya Pangeran beristirahatlah untuk besok...biarkan malam ini aku yang akan berjaga!
“Iya...kau juga. Kita akan bergiliran, bangunkan aku jika kau lelah dan ingin digantikan ya!
__ADS_1
“Siap Pangeran!
Malam begitu dingin dan Beauty kebetulan tidak membawa selimut untuk itu sehingga ia hanya melipat tubuhnya di dekat api unggun. Tiba bagi Pangeran Zen berjaga, melihatnya ia lalu memberikan selimut miliknya.
“Gadis yang pemberani, bagaimana bisa wajahnya terlihat bersinar seperti bulan? Hmm...apakah mungkin karena kebaikan dan ketulusannya itu...ah tidak mungkin, dia bukanlah Ella...
[Keesokan harinya]
“Selimut? (katanya mulai terbagun)
“Oh kau sudah bangun Putri? (kata Ran yang baru pulang mencari kayu bakar)
“Ran..., Pangeran kemana?
“Ehm...mm...Pangeran sedang mencari buah-buahan untuk dimakan? Apakah Putri memerlukan sesuatu?
“Tidak..., hanya saja aku ingin mandi dan aku tidak tahu dimana harus menemukan sungai!
“Kalau untuk itu, Putri bisa kesana...disana ada sungai yang cukup aman untuk mandi!
“Hm...baiklah terimakasih.
Beauty kemudian pergi berendam ke sungai dan dengan kebetulan Pangeran yang telah mengambil buah-buahan juga ingin mencuci mukanya yang kotor.
“Putri kau...!
“Hah...aaa...(kemudian berbalik sambil menutupi dadanya yang setenganya didalam air itu)
“Hmm...
[Kembali ke situasi]
“Pangeran...kau sudah kembali!
“Iya...ini ubi jalar liar. Tolong kau bakar untuk tuan Putri.
“Baik..
Setelah beberapa menit kemudian, Beauty pun kembali dari sungai dan ubinya juga sudah matang.
“Putri...silahkan dimakan ubinya! Maaf kami lupa mempersiapkan bekal yang cukup jadinya kita harus makan yang seadanya.
“Kau tidak perlu meminta maaf, karena aku sudah terbiasa setelah menjadi Panglima kerajaan, belajar bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungan seperti ini bukanlah hal yang asing lagi bukan?
“Iya kau benar Putri, dan kalau boleh jujur tuan Putri dan Pangeran kihatan sangat serasi jika bersama.
Mendengar perkataan Ran itu, membuat keduanya tersedak dan seketika mengambil minum bersamaan dan sempat bersentuhan tangan. Melihat itu, Ran hanya bisa tersenyum sembunyi-sembunyi karena keduanya menjadi salah tingkah.
Perjalanan pun tak lama mereka lanjutkan setelah itu, dan setelah mencari lebih keras. Mereka akhirnya menemukan beberapa jejak yang menunjukkan bahwa putri Leona sedang dalam masalah.
“Pangeran...Putri lihatlah kemari! (teriak Ran)
“Ada apa...apakah kau menemukan petunjuk? (tanya Zen)
__ADS_1
“Sepertinya begitu!
“Coba kulihat...ini...ini adalah potongan kain milik Leona!
“Apa kau yakin? (tanya Beauty)
“Hmm...aku yakin sekali, aku masih ingat terakhir kali aku memberikannya.
“Kalau begitu...dia pasti terjatuh setelah beruang itu mengejar mereka. Lihatlah jejak kaki itu sepertinya masih baru..
“Kau benar Ran dan ini bukan jejak kaki sembarangan melainkan sekelompok orang. Mungkin saja mereka menemukan Leona ketika tidak sadarkan diri.
“Ya tuhan adikku..
“Ayo...kita ikuti jejak ini.
Mereka kemudian mengikuti jejak kaki itu, namun sayangnya mereka hanya bisa mengikuti sampai dipersimpangan jalan yang belum diketahui pasti akibat jalanan yang ternyata barusaja di guyur hujan deras.
“Jejaknya berhenti sampai disini. (kata Ran) apa yang harus kita lakukan Pangeran?
“Sepertinya kita harus berpencar lagi disini. Ran sebaiknya kau bersama Putri Beauty biar aku yang...
“Tidak Pangeran...aku tidak yakin akan bisa melindungi Putri. Sebaiknya Pangeran saja..
“Hei kalian pikir aku selemah itu harus dijaga? Aku Panglima terbaik ketiga apa kalian lupa...? sudahlah aku akan lewat jalan itu. Jika kalian ingin memilih jalan lain silahkan saja...(kata Beauty lalu pergi)
“Hei Putri..., Ran jaga dirimu! (lalu menyusul Beauty)
“Hah...memang benar takdir akan menunjukkan jalannya. Aku harap mereka bisa saling menyadari perasaan mereka sendiri...(ucap Ran, menuju jalan lainnya)
[Situasi Ran]
Ran yang terpisah sendiri memutuskan mengambil jalan lain agar mempercepat pencarian mereka, setelah beberapa lama berjalan ia pun menemukan jejak.
“Darah? (gumam Ran , lalu menyentuh untuk memastikan) ini masih baru...sepertinya sempat terjadi pertarungan antar kelompok disini...Gawat sebaiknya aku harus segera....ah! (belum sempat bergegas ia langsung mendapat serangan)
Tak lama Ran jatuh pingsan seketika setelah mencabut sebuah senjata berupa busur bius menancap dilengan kanannya, ia sempat melihat dan mendengar suara dengan samar langkah beberapa kaki yang mendekati tubuhnya itu.
“Siapa mereka...(gumam Ran lalu tak sadarkan diri)
[Ke Situasi Zen dan Beauty]
“Putri Beauty...hei! Atas nama perdamaian tolong kerjasamanya..kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi disana.
“Kerjasama...heh...yang seharusnya mengatakan itu adalah aku. Dimana kerjasama mu sebagai Panglima keamanan hah? (Ucapnya setelah berhenti melangkah lalu berbalik)
“Hentikan itu Putri...
“Kenapa? Apa kau ingin marah dan berubah menjadi monster...
Pangeran Zen terlihat kesal, matanya mulai berubah memerah dan gigi terlihat memanjang.
“Gawat! Apa dia benar-benar marah dengan perkataanku barusan? (gumam Beauty)
Beauty mulai takut melihat pandangan dingin Zen dan perlahan ia melangkah mundur tanpa melihat kebelakang.
__ADS_1
“Ahh...(teriak Beauty)