Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 10.


__ADS_3

"Nama gadis itu Maura, anak dari almarhumah Bu Sinta, cucu satu-satunya dari Nek Ida yang tak lain adalah majikan Ibu saat ini."


"Dia tinggal di Jakarta, dia juga merupakan anak semata wayang dari Doni Hardiansyah, seorang pebisnis sukses yang sangat disegani di kalangan pebisnis hebat lainnya."


"Beberapa tahun yang lalu, dia sempat mengalami tragedi yang memilukan. Hal itu membuatnya trauma, bahkan dia hampir saja mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menahan beban mental yang dipikulnya. Hingga pada akhirnya, Ayahnya mengirimnya kuliah ke luar negeri." jelas Miko panjang lebar.


Dion tersentak kaget dengan mata mengerinyam hebat, dimatikan nya rokok yang masih menyala di tangannya. Kemudian berjalan menghampiri Miko yang masih berdiri di sisi pagar. Penjelasan yang keluar dari mulut Miko barusan masih belum bisa dia cerna dengan sempurna.


"Apa yang terjadi dengannya waktu itu?" tanya Dion yang semakin penasaran.


"Saat perjalanan sekolah, salah seorang teman pria nya nyaris saja melecehkan dirinya. Untuk membela diri, dia tak sengaja menusuk temannya itu hingga sekarat. Untung saja Ayahnya bisa menutup kasus itu, jika tidak...,"


"Sudah cukup!" potong Dion menghentikan ucapan Miko.


Seketika Miko terlihat kebingungan, lagi-lagi Dion dengan seenak jidatnya memotong pembicaraannya yang belum selesai dia ucapkan.


"Apa yang terjadi dengan Kak Dion, bukankah tadi Kakak ingin tau semuanya. Kenapa menyuruhku berhenti?" ketus Miko saking jengkelnya.


"Tidak perlu diteruskan lagi! Kini aku sudah mengerti!" jawab Dion.


"Ya sudah kalau begitu. Oh ya, cuaca di sini semakin dingin saja. Apa di dalam ada makanan?" tanya Miko, perutnya mulai keroncongan ulah dingin yang menusuk hingga tulang.


"Masuklah, banyak makanan di dalam kulkas. Tapi masak sendiri saja, tidak ada pelayan di sini!" sahut Dion.


Sepeninggal Miko, Dion merebahkan tubuhnya di atas bangku panjang. Matanya menatap langit-langit beranda seiring tetesan hujan yang semakin malam semakin turun dengan lebat.


Dari penjelasan Miko barusan, akhirnya Dion bisa memahami keadaan Maura sebenarnya. Tidak ada yang salah dengan dirinya, namun jejak masa lalu gadis itulah yang membuat Maura selalu takut berhadapan dengan dirinya.


Pelan-pelan, Dion mencoba memejamkan matanya. Tubuhnya benar-benar lelah hingga tak perlu waktu yang lama baginya untuk tertidur.


**************


Pagi harinya, Miko bangun lebih awal. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Usai mandi, dia bergegas masuk ke dapur membuatkan sarapan untuk dirinya dan Dion.


Setelah semua beres, dia pun keluar menuju beranda dan membangunkan Dion lalu mengajaknya sarapan bersama.


Selesai sarapan, Miko berpamitan dengan Dion. Dia harus pulang sesegera mungkin karena hari ini dia sudah berjanji akan membantu Nek Ida di kebun.


Namun entah apa yang dipikirkan oleh Dion saat ini, dia pun memutuskan untuk ikut bersama Miko ke rumah Nek Ida dan ingin membantunya berkebun.


Sesampainya di rumah Nek Ida, Miko masuk ke dalam rumah disusul oleh Dion yang berjalan di belakangnya. Mereka berdua mendapati Nek Ida tengah sarapan di meja makan.


"Pagi Nek," sapa Miko ramah.


"Pagi Nek Ida, apa kabar?" sapa Dion yang kini sudah berdiri di samping meja makan.


Miko meraih tangan Nek Ida dan menciumi punggung tangan nenek itu. Dion pun tak sungkan melakukan hal yang sama hingga membuat Nek Ida tersenyum bahagia.


"Dion, ini kamu, kapan kamu pulang? Dan kamu Miko, bagaimana bisa kalian datang secara bersamaan?" tanya Nek Ida mencari tau.


"Iya Nek, ini Dion. Dion sudah beberapa hari di sini, hanya saja baru hari ini Dion sempat berkunjung. Kebetulan semalam Miko nginap di rumah, jadi anak ini mengajak Dion main ke sini!" sahut Dion mengukir senyuman di wajahnya.


"Woi, sejak kapan aku mengajak Kak Dion ke sini, bukannya Kakak yang tadi...,"


"Mmmmm,"


Ucapan Miko terhenti saat Dion membungkam mulutnya yang hampir saja keceplosan. Hal itu membuat Nek Ida terkekeh melihat tingkah kekanak-kanakan mereka berdua.


"Hahahaha, cukup Miko, Dion! Apa-apaan kalian ini." ucap Nek Ida dengan tawanya yang begitu lepas.


Mendengar keributan yang terjadi di luar sana, Maura pun penasaran. Dia bergegas keluar dari kamarnya karena takut sesuatu terjadi kepada neneknya yang sudah tua.


Setibanya di ruang makan, langkah Maura tiba-tiba terhenti. Apa yang dia pikirkan ternyata tidak sesuai dengan apa yang tengah terjadi. Suara keributan yang dia dengar ternyata hanyalah suara tawa beberapa orang sehingga menimbulkan kegaduhan.


Nek Ida langsung terdiam, begitupun dengan Dion dan Miko. Bahkan, Dion dengan cepat melepaskan tangannya yang masih menyumpal mulut Miko. Seketika, suasana di ruang makan itu pun kembali hening.

__ADS_1


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Maura dengan tatapannya yang sulit diartikan.


Semuanya diam, tidak ada yang berani bersuara. Kecuali Nek Ida yang merupakan tetua di rumah itu.


"Maura sayang, kamu sudah bangun? Ayo sini, duduk bersama Nenek!" ajak Nek Ida.


Maura menganggukkan kepalanya, dia melangkah menghampiri Nek Ida dan duduk di sebelahnya. Namun, pandangan matanya sedikit terganggu melihat pria asing yang tengah berdiri di hadapannya.


"Miko, Dion, apa yang kalian lihat? Ayo duduklah bersama kami!" tambah Nek Ida.


Dion mulai canggung, tatapan mata Maura yang sangat tajam membuatnya menjadi serba salah. Ingin sekali dia menolak ajakan Nek Ida, tapi dia juga tak ingin membuat nenek itu tersinggung.


"Apa yang Kak Dion pikirkan? Ayo duduklah! Kapan lagi kita bisa sarapan bersama seperti ini?" tambah Miko sembari menarik sebuah kursi.


Miko begitu leluasa, dia bahkan tidak ingin ambil pusing dengan tatapan Maura. Persetan gadis itu mau marah atau tidak. Yang penting perutnya kenyang.


"Kalian makan saja, aku sudah kenyang!" sahut Dion menolak secara halus.


Nek Ida melirik pria itu, raut wajahnya sedikit kecewa. Tidak biasanya Dion bersikap seperti itu di depannya.


"Kenapa, apa makanan di rumah ini tidak enak?" tanya Nek Ida.


"Tidak Nek, bukan begitu. Hanya saja...,"


"Kalau begitu duduklah, tidak ada alasan lagi untuk menolak!" tambah Nek Ida memaksa.


Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya Dion terpaksa menuruti permintaan Nek Ida dan duduk berhadap-hadapan dengan Maura.


Usai sarapan, mereka semua bersiap-siap untuk berangkat ke kebun. Dion sudah berjanji membantu Nek Ida hari ini. Wajahnya tampak begitu bersemangat.


Berbeda dengan Maura, dia justru terlihat sangat kesal. Tatapan matanya seperti bom atom yang bisa meledak kapan saja. Raut muka masam nya jelas sekali menghiasi wajah cantiknya.


"Jangan memandangi Kak Dion seperti itu. Hati-hati, nanti Kak Maura bisa terjerat!" bisik Miko menggoda Maura.

__ADS_1


"Terjerat apanya?" ketus Maura.


Maura berjalan lebih dulu meninggalkan 3 orang itu di belakangnya, dia tidak suka melihat orang asing berada diantara mereka.


__ADS_2