Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 64.


__ADS_3

Setengah jam telah berlalu, kini Miko sudah tiba di rumah sakit Bhayangkara. Setelah mendapatkan informasi dari seorang suster, Miko berlari menuju ruang ICU.


"Permisi Pak, apa saya boleh menemui pasien yang ada di dalam?" tanya Miko memohon izin pada Polisi yang berjaga di depan pintu.


"Maaf, kondisi pasien masih kritis. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke dalam sana!" jawab Pak Polisi.


"Tapi Pak, saya ingin tau siapa korban kecelakaan ini. Sejak sore Kakak saya tidak bisa dihubungi, dia dan asistennya juga melewati jalan itu. Tolong ya Pak, sebentar saja! Saya hanya ingin memastikan,"


Miko menyatukan keduanya telapak tangannya, berharap Polisi itu mau memberinya izin untuk masuk ke dalam.


"Baiklah, tapi sebentar saja ya."


Pak Polisi membuka pintu ruangan, dia masuk lebih dulu. Miko menyusul di belakangnya.


Miko mengusap wajahnya kasar, tarikan nafasnya terdengar berat. Dia sebenarnya tidak sanggup melakukan ini, tapi apa lagi yang bisa dia buat.


Dengan langkah sedikit goyah, Miko memberanikan diri mendekat dan berdiri di samping ranjang pasien.


"Seeeer,"


Aliran darah Miko berpacu dengan detak jantungnya. Kakinya bergetar hebat, sekerat raganya terasa remuk tak bertenaga.


"Tidak mungkin, tidak...,"


Miko kesulitan berkata-kata. Cairan bening itu tumpah membasahi wajah tampannya. Dia terduduk lesu di kaki ranjang dengan pikiran yang bercabang kemana-mana.


"Maaf Tuan, anda sudah melihatnya bukan? Sekarang mari kita keluar!" ajak Pak Polisi.


Miko bangkit dari duduknya, separuh tenaganya hilang melihat keadaan Samuel yang tengah koma di atas ranjang. Berbagai macam alat bantu terpasang pada organ tubuh pria itu.


Setibanya di luar, Miko kembali terduduk lesu di atas lantai. Apa yang harus dia katakan pada Maura. Dia tak sanggup menatap wajah kakak angkatnya itu.


"Maaf Tuan, apa anda mengenali pria itu?" tanya Pak Polisi.


"Iya Pak, dia asisten Kakak saya. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Miko ingin tau.


"Mobil mereka mengalami kecelakaan, saya belum tau pasti penyebab dari kecelakaan tersebut. Orang-orang di TKP belum bisa memberikan informasi lebih lanjut. Menurut informasi dari seorang saksi, ada yang sengaja mencelakai mereka."

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaan Kakak saya Pak, dimana dia?" tanya Miko menuntut penjelasan.


"Maaf Tuan, anda harus ikhlas menerima kenyataan ini. Kakak anda tidak bisa diselamatkan, tubuhnya ikut terbakar bersama mobil tersebut."


"Seeeer,"


Darah Miko menggelegak mendengar itu, tubuhnya remuk bak ditusuk seribu paku. Sakit namun tak berdarah, bagaimana mungkin dia sanggup menghadapi semua ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 12 malam, Miko tiba di kediaman Dion. Langkah kakinya gemetar dengan wajah yang sudah sembab.


Sebelum pulang, Miko berniat kembali ke TKP. Namun Pak Polisi melarangnya, proses evakuasi sudah selesai. Tulang belulang Dion sudah dikumpulkan dan di bawa ke rumah sakit lain.


Sesampainya di lantai atas, Miko membuka pintu kamar Maura pelan. Saat mendapati Maura yang sudah terlelap, Miko kembali menutup pintu itu dan berjalan ke arah balkon.


Dira terkejut hingga terbangun saat mendengar suara kecohan pintu, dia bangkit dari sofa dan keluar menyusul Miko.


Melihat punggung Miko dari kejauhan, Dira berlari kecil mengejarnya. Dia penasaran dengan berita tersebut, berharap semua ini hanyalah mimpi dan bukan Dion lah korban dari kecelakaan tersebut.


"Kenapa Kak Dion meninggalkan kami begitu cepat? Apa yang harus ku katakan pada Kak Maura?"


"Dia tengah mengandung buah cinta kalian. Bagaimana perasaannya jika mengetahui semua ini? Dia pasti hancur, hancur Kak."


Miko larut dalam pemikirannya sendiri, dia tidak tau harus berbuat apa setelah ini. Anak yang tak berdosa itu harus kehilangan ayahnya sebelum dilahirkan ke dunia ini.


"Miko...,"


Lamunan Miko buyar saat Dira sudah berdiri di sampingnya. Dia berusaha keras menyembunyikan kesedihannya, namun dia malah semakin tak kuasa menahan tangisannya.


"Apa yang terjadi Miko? Katakan padaku!" pinta Dira menuntut penjelasan, kemudian ikut duduk di samping Miko.


Miko meraih tubuh Dira dan memeluknya erat, tangisannya pecah mengiringi kepergian Dion yang sangat tragis. Siapa yang kuat menerima kenyataan seperti ini.


"Apa yang harus ku lakukan Dira? Kenapa semua ini terjadi begitu cepat?"


"Kak Dion sudah pergi meninggalkan kita semua, bahkan anak yang belum lahir itu harus kehilangan ayahnya sebelum sempat melihat wajahnya. Apa yang harus ku katakan pada Kak Maura?"

__ADS_1


Dira terduduk lesu mendengar itu, dia tak sanggup berkata apa-apa. Air matanya tumpah begitu saja.


"Miko, apa yang kamu katakan? Jangan main-main dengan ucapan mu!" Dira masih berharap semua ini hanya candaan Miko saja.


"Dia sudah pergi untuk selama-selamanya, kita tidak akan pernah melihat wajahnya lagi." isak Miko.


Dira meraung sejadi-jadinya, seseorang yang selama ini dia sayangi seperti kakak kandungnya sendiri, telah pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


"Miko, katakan ini cuma mimpi! Ini tidak benar kan? Kak Dion tidak mungkin meninggalkan kita kan?"


Tanpa disadari, ternyata Maura sudah berdiri di belakang keduanya. Dia mendengar semuanya dengan sangat jelas. Tubuhnya berguncang hebat, dunianya seakan runtuh mendengar kenyataan pahit ini.


"Tidak mungkin, kamu bohong kan Miko? Kak Dion tidak mungkin meninggalkan aku begitu saja."


Maura menangis histeris, kemudian berlari ke dalam kamar dan menguncinya dengan cepat.


Miko dan Dira terkejut melihat reaksi Maura. Tangisan keduanya tiba-tiba hilang, kemudian berlari menyusul Maura ke kamarnya. Keduanya takut Maura tak bisa mengendalikan kesedihannya.


"Kak Maura, tolong buka pintunya!" teriak Miko lantang, lalu mengecoh pintu dengan kasar.


"Pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Kamu pembohong," teriak Maura tak kalah lantangnya.


"Kak, tolong buka dulu pintunya! Kita bisa membicarakan ini dengan baik." pinta Miko yang sudah kehilangan akal.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, suamiku pasti baik-baik saja. Dia akan pulang, dia pasti pulang. Dia sangat menginginkan bayi ini, mana mungkin dia meninggalkan kami begitu saja." isak Maura pecah, dia terduduk lesu di pintu kamar.


"Aku juga berharap seperti itu Kak, tapi Tuhan berkehendak lain. Apa yang bisa kita lakukan?" bujuk Miko.


"Cukup Miko, aku tidak ingin mendengar itu lagi! Suamiku masih hidup, dia masih hidup." teriak Maura.


Miko tak bisa lagi membujuk Maura, tangannya mengepal erat lalu melayangkan bogem mentahnya pada permukaan dinding.


Dira berusaha mencegahnya dan menahan tangan Miko sekuat tenaga. Dia tak sanggup melihat emosi keduanya yang sudah menjadi-jadi.


"Sabar Miko, jangan seperti ini! Jika kita rapuh, bagaimana caranya menguatkan Kak Maura?"


Dira memeluk Miko erat, tangisan keduanya pecah begitu saja. Kehilangan ini membuat mereka bertiga begitu terpukul, apalagi Maura yang sangat mengharapkan kedatangan suaminya. Bagaimana bisa dia melewati semua ini sendirian.

__ADS_1


__ADS_2