
Usai melepaskan semuanya, Dion kembali membersihkan tubuhnya. Tidak lama, dia keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu dan duduk di sisi ranjang tepat di samping Maura duduk saat ini.
Tanpa berpikir panjang, Dion pun memeluk tubuh Maura dari arah samping, lalu menempelkan keningnya di pundak sang istri.
"Kak Dion kenapa?" tanya Maura khawatir.
Dion tak menyahut, dia menghela nafas berat kemudian menggigit bahu istrinya pelan. Membuat Maura terenyuh melihat keadaan sang suami yang harus tersiksa karena ketidaksiapan dirinya menerima keinginan suaminya sendiri.
"Maafkan aku, aku...,"
"Sssttt,,," Belum selesai Maura berbicara, Dion sudah lebih dulu menahan bibir sang istri dengan jari telunjuknya.
"Tidak perlu meminta maaf berulang-ulang kali, biarkan saja semuanya mengalir begitu saja!" ucap Dion, dia pun kembali mengecup bibir istrinya dengan lembut.
Setelah mengenakan pakaiannya, Dion kembali duduk di samping Maura dan mulai menyicipi makanan yang sudah sedari tadi menganga di atas troli.
Dan setelah sarapan mereka habis, mereka berdua berpindah ke sofa dengan posisi Maura yang duduk menyamping di atas kedua paha sang suami.
Keduanya tampak bahagia sembari bersenda gurau bersama. Bahkan Maura sampai terkekeh, sebab Dion selalu menggodanya dan menanyakan hal-hal aneh yang membuatnya tak sanggup menahan rasa geli yang menggelitik perutnya.
Melihat tawa sang istri yang begitu lepas, Dion pun menggulingkan senyumannya. Tidak ada lagi yang dia inginkan selain dari itu. Dia berharap kebahagiaan ini tidak akan sirna hingga maut memisahkan mereka berdua.
Siang harinya, suasana di kamar kembali sunyi. Maura sudah terlelap di atas dada sang suami. Sementara Dion, dia masih terjaga sambil memandang lekat wajah sang istri yang begitu polos.
Namun tak berselang lama, tiba-tiba Maura tersentak dari tidurnya. Wajahnya tampak pucat mengeluarkan keringat dingin, bahkan sekujur tubuhnya mulai bergetar menahan ketakutannya yang datang melalui sebuah mimpi.
"Maura, kamu kenapa?" tanya Dion panik, dia bergegas bangkit dari pembaringannya dan membawa sang istri ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Tubuh Maura masih berguncang, sementara air matanya mulai mengalir membasahi wajah cantiknya. Namun mulutnya terasa kelu, susah baginya berucap walaupun hanya sepatah kata.
"Maura, hei, Maura, lihat aku!" ucap Dion, dia pun menepuk nepuk pipi Maura pelan bermaksud menyadarkan sang istri.
Maura mendongak menatap wajah suaminya, air matanya terus menetes tiada henti. Bahkan tanpa dia sadari, tangannya mulai mencengkram punggung sang suami dengan kuat hingga menyebabkan sedikit goresan.
"Kak Dion, aku takut. Hiks, hiks," isak Maura lirih.
"Jangan takut, aku di sini!" sahut Dion, dia pun mengusap ujung kepala sang istri untuk menenangkannya.
Setelah Maura mulai terlihat tenang, Dion turun dari ranjang mengambil air mineral dan membantu sang istri meneguknya.
"Sudah, tidak apa-apa. Itu hanyalah mimpi, tidak usah dipikirkan!" ucap Dion, dia pun kembali memeluk tubuh sang istri dengan erat. Begitupun dengan Maura, tangannya melingkar erat di pinggang sang suami.
Setelah cukup lama saling memeluk, Dion melepaskan tangannya dari tubuh Maura. Dia kemudian menyandarkan punggung istrinya pada tampuk ranjang.
Maura menatap lirih wajah suaminya, lalu dia pun menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
Pelan-pelan, Maura mulai menceritakan semuanya kepada Dion. Bahkan bagaimana cara Adit memperlakukannya waktu itu, semua dia jelaskan tanpa ada yang dia tutupi sedikitpun.
Flashback...
Adit pria yang tampan, para siswi di sekolah banyak yang terpesona melihatnya. Namun dia tak merespon satupun dari mereka, dia justru melirik Maura yang sama sekali tidak menyukainya. Bagi Maura, Adit tidak lebih dari seorang teman.
Dua hari sebelum perjalanan, Adit mengutarakan isi hatinya kepada Maura. Namun Maura menolaknya mentah-mentah. Selain tak ada perasaan apa-apa, Maura juga tidak mau berpacaran, dia ingin fokus dengan pendidikannya.
Siang itu, mereka semua berada di sebuah bukit untuk menyelesaikan tugas sekolah. Semua bergembira setelah kemah mereka berdiri tegak satu persatu.
__ADS_1
Menjelang malam, semua berkumpul untuk menyelesaikan tugas kelompok. Namun Maura yang kala itu terluka di bagian kaki, memilih tetap di kemah, dia meminta Ayu dan Dinda menyelesaikan tugas mereka. Kebetulan jarak antara kemah dan tempat mereka berkumpul cukup jauh.
Sedang asik berbaring di dalam kemah berukuran besar itu, tiba-tiba Adit datang. Dia mendekati Maura hingga gadis itu ketakutan. Adit sepertinya kesal karena beberapa hari lalu cintanya di tolak oleh Maura.
Adit semakin mendekat dan mencoba mencium Maura, namun gadis itu menghindar dengan cepat. Kesal dengan penolakan, Adit emosi dan memukul wajah Maura hingga tersungkur dengan darah yang mengalir di ujung bibirnya.
Melihat tubuh Maura yang tergeletak, setan itu akhirnya datang merasuki jiwa Adit. Dia menenggelamkan wajahnya di leher Maura, saat itu juga Maura mendorong tubuhnya dengan kuat. Namun saat Maura berlari ke luar, Adit menarik bajunya hingga robek.
Adit kemudian mendorong tubuh Maura hingga tersungkur ke tanah, saat itu juga punggung Maura dihantam sebuah kayu runcing. Hingga darah segar mengalir dari permukaan punggungnya.
Saat Adit menindih tubuh Maura, saat itu juga Maura tak sengaja melihat sebuah pisau diantara tumpukan barang. Hingga pada akhirnya, terjadilah kecelakaan yang membuat Adit tersungkur tak berdaya. Bahkan tangan Maura saat itu penuh dengan darah yang membuatnya menjerit histeris.
Flashback Selesai...
Maura terisak sembari menekuk kedua kakinya. Dia masih mengingat semuanya dengan jelas, air matanya kembali menetes membasahi lututnya yang saat ini dia dekap dengan erat.
"Maura, hei, sayang, lihat aku!" pinta Dion, dia kemudian menarik istrinya ke dalam dekapannya. Tak terasa air matanya ikut menetes mendengar cerita sang istri.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi! Semua sudah berlalu, sekarang ada aku yang akan selalu menjagamu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi!" tekan Dion lirih, dia pun mengusap pelan pipi Maura yang masih basah, kemudian mencium kening sang istri dengan sayang.
"Aku takut, aku tidak berniat menusuknya. Aku hanya membela diri. Hiks Hiks," isak Maura pecah di dada sang suami.
"Sssttt, cukup sayang! Aku percaya padamu. Kamu sudah melakukan hal yang benar." ucap Dion membenarkan tindakan sang istri.
Tangisan Maura membuat Dion terenyuh, dia tak kuasa menahan hatinya yang ikut teriris membayangkan kejadian itu. Air matanya terjun bebas membasahi rambut Maura, bahkan mulutnya kelu untuk berkata-kata.
Setelah sang istri tenang, Dion melepaskan pelukannya dan memberanikan diri menyingkap punggung Maura.
__ADS_1
Seketika, mata Dion membulat menyaksikan punggung Maura yang menyisakan bekas luka, dia pun mencium bekas luka tersebut dengan lembut. Hatinya sakit, kesal, marah, juga sedih membayangi trauma yang dialami oleh istrinya.