
Usai makan malam, Maura dan Dion berpamitan kepada Ela dan Nisa. Keduanya akan menginap di rumah Doni untuk beberapa hari.
"Oleh-olehnya jangan lupa dibawa!" ucap Dion mengingatkan Maura.
"Iya tenang saja, mana mungkin aku lupa." jawab Maura, kemudian mengambil 2 pack paper back yang terletak di atas meja.
Kini keduanya sudah duduk di dalam mobil. Setelah mobil itu melaju meninggalkan rumah, Ela bergegas menutup pintu gerbang dan menguncinya.
Sepanjang perjalanan, Maura tampak begitu bersemangat. Dia bahkan tak henti-hentinya mengoceh mengajak Dion mengobrol.
Sepertinya sejak pulang dari Bandung kemarin suasana hatinya sudah jauh lebih baik. Tidak ada lagi Maura yang pendiam dan jutek seperti biasanya. Perubahan sikap Maura itu membuat Dion benar-benar bahagia.
Setibanya di depan rumah Doni, Dion mematikan mesin mobil dan turun lebih dulu membukakan pintu untuk istrinya.
Bukannya membiarkan Maura turun, Dion justru mengikis jarak diantara mereka berdua.
Tangan Dion bertumpu pada jok hingga tubuh Maura terkunci di dalamnya. Hal itu membuat deru nafas keduanya saling bertabrakan satu sama lain.
Sebelum Dion sempat mengesap bibir merah jambu itu, jari jemari Maura sudah lebih dulu tiba di bibirnya.
"Jangan nakal!" tahan Maura sembari mengulum senyumannya, hal itu membuat Dion terkekeh dengan sendirinya.
Setelah Maura turun, Dion menutup pintu mobilnya kembali. Maura kemudian melingkarkan tangannya di lengan Dion, lalu keduanya melenggang bersama menuju pintu masuk.
"Malam Non, malam Tuan." sapa Bik Sam yang melihat kedatangan mereka.
"Malam juga Bik," sahut keduanya bersamaan.
"Ayah mana Bik?" tanya Maura, bola matanya menggelinding mencari keberadaan Doni.
"Ayah Non ada di kamar, baru saja masuk setelah makan malam." jawab Bik Sam.
Mendengar itu, Maura pun memberikan oleh-oleh yang dia bawa ke tangan Bik Sam. Lalu menarik tangan Dion dan berjalan menuju kamar ayahnya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Maura langsung saja mendorongnya hingga terbuka lebar.
__ADS_1
"Ayah," pekik Maura lantang.
Teriakan Maura tak hanya membuat Doni terlonjak kaget, namun Dion juga ikut terkejut dan terperangah mendengar suara istrinya yang seperti petasan kaleng, membuat telinganya benar-benar sakit.
Maura berlari menghampiri Doni dan melompati tubuh ayahnya penuh semangat. Hal itu membuat Doni terkekeh, hampir saja tubuhnya oleng menahan bobot anaknya yang tiba-tiba berbuai manja di dalam gendongannya.
"Maura sayang, kalian datang?" ucap Doni dengan senyumnya yang khas.
"Maura rindu Ayah," bisik Maura di telinga Doni lalu menenggelamkan wajahnya di pundak ayahnya itu.
"Sudah sayang, turunlah! Ayah tidak kuat menahan bobot tubuhmu." sambung Dion, dia kasihan melihat mertuanya.
Mendengar itu, Maura akhirnya turun dan memeluk tubuh ayahnya dengan erat untuk melepaskan kerinduannya. Dion pun ikut memeluk mertuanya setelah itu.
Setelah satu jam lebih bersenda gurau di sana, kini Maura dan Dion keluar dari kamar itu. Hari sudah larut, keduanya harus beristirahat dan masuk ke kamar mereka.
Usai mencuci wajahnya, Maura duduk di depan cermin sembari menyisir rambut panjangnya. Tidak lama, Dion datang dan memeluknya dari belakang. Maura mengukir senyum sembari menatap pantulan tubuh suaminya di depan cermin.
"Ada apa, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Maura sembari mengulum senyumannya.
"Jangan begitu Kak Dion! Geli,"
Tawa Maura yang begitu lepas, membuat penat di tubuh Dion lenyap seketika. Seakan menjadi penawar untuk lukanya yang belum mengering hingga detik ini. Rasa cinta itu kian hari kian bertambah hingga membuatnya selalu berbunga-bunga memandangi keindahan yang semesta ciptakan untuknya.
Ada kalanya dia merasa hidup ini tak adil baginya. Bertahan dalam kepahitan menyongsong masa depan yang tidak tau arah tujuan. Namun kini rasa itu seakan hilang begitu saja. Ada secercah harapan yang dia temukan di balik penantian panjangnya selama ini.
Dibawah cahaya lampu yang redup, Dion mendekap Maura di bawah kungkungan nya. Hawa nafas keduanya seakan menyatu dengan suhu tubuh yang mulai terasa panas. Gai-rah itu seperti magnet yang menarik keduanya untuk saling bercum-bu di malam nan syahdu ini.
Kini bibir keduanya kembali bertemu, deru nafas yang memburu menyatu dengan semilir nya angin yang berhembus sepoi-sepoi.
Keduanya saling menyesap dengan mata sesekali terpejam menikmati lembutnya penyatuan bibir mereka. Lidah keduanya mulai lincah menjelajahi rongga mulut satu sama lain. Lenguhan manja Maura membuat keduanya larut bersama waktu.
Kini perhatian Dion sudah teralihkan dengan bukit barisan yang menantang pandangannya. Tangannya bergerak meraih benda itu dan menggelitik biji kismis yang menghias di ujung sana.
Dion membuka mulutnya lebar, melahap habis benda itu bergantian. Sesekali lidahnya bergerak memutar dan menghisap nya dengan rakus hingga membuat Maura mende-sah manja.
__ADS_1
Mendengar des-a-han Maura yang serak-serak basah, junior Dion membatu seketika, membuat dadanya sesak dengan nafas yang kian memburu.
Kini Dion sudah tenggelam di bawah sana. Lidahnya semakin candu memainkan dan menghisap nya dalam.
Maura menjerit, tubuhnya menge-jang menikmati kegilaan suaminya, berkali-kali dia merasakan nikmat yang sungguh luar biasa.
Dion bangkit dan menyandarkan punggungnya pada tampuk ranjang. Kali ini dia ingin Maura mengambil alih tugasnya.
Maura melotot kan matanya saat Dion mengangkat tubuhnya. Posisinya nyaris sempurna hingga membuat Dion tersenyum dengan manisnya.
"Jangan begini! Aku tidak bisa." gumam Maura dengan wajah merah merona.
"Dicoba dulu sayang! Nanti kamu pasti ketagihan." jawab Dion.
Sementara Maura kebingungan di atas tubuh suaminya, Dion kembali mengesap bibir merekah Maura dan melu-matnya dalam. Tangannya bergerak menuntun senjatanya hingga tepat menunjuk sasarannya.
"Jleb,"
"Kak Dion, aku benar-benar tidak bisa."
Maura menyembunyikan wajahnya di pundak Dion. Dia benar-benar malu karena baru pertama kali mencoba posisi seperti ini.
Kini tangan Dion berada tepat di pinggang Maura. Dia menuntun pergerakan Maura hingga istrinya itu terbuai dengan pergerakannya sendiri.
Maaf terpaksa saya potong, review di tolak terus bikin saya geram.
Melihat istrinya yang sudah kelelahan, Dion dengan cepat mengambil alih kendali. Kini gilirannya berpacu dengan kekuatannya.
Dion mengerang hebat saat mencapai puncaknya hingga tubuhnya tumbang di atas tubuh istrinya.
"Terima kasih sayang, aku suka melihatmu seperti tadi. Lama-lama aku bisa gila karena mu."
Dion menghela nafas berat, dia kemudian mengecup kening, mata, hidung, dan berakhir di bibir Maura yang membuatnya semakin candu.
Maura mengukir senyum sembari menatap lekat wajah suaminya. Meskipun malu mengingat kegilaannya tadi, tapi dia sudah tak peduli dengan rasa itu. Dia sangat senang sudah berhasil memuaskan suaminya.
__ADS_1