Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 7.


__ADS_3

Semakin pria itu mendekat, wajah Maura semakin panik. Kakinya berangsur mundur dengan tetesan keringat dingin yang mulai mengalir di dahinya.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Maura meninggikan suaranya.


Pria itu menyunggingkan senyumannya, matanya berbinar memandangi betapa cantiknya gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"Kau mengingat ku?" tanya Dion, dia sangat senang karena Maura mengenali dirinya.


Dion semakin mendekat, ada dorongan kuat dari hatinya untuk berkenalan dengan gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama bertemu di bar malam itu.


"Jangan mendekat lagi, aku mohon!"


Maura mengangkat sebelah tangannya, mengacungkan lima jarinya menahan langkah Dion agar berhenti mendekatinya.


"Hei, apa yang terjadi denganmu? Aku tidak akan memakan mu di tempat ini." ucap Dion bingung.


"Menjauh lah dariku, jangan menggangguku!" pinta Maura dengan wajah pucat pasi.


Maura menekuk wajah cantiknya, kemudian berlari kecil meninggalkan Dion yang masih kebingungan melihat sikap anehnya.


"Hei tunggu dulu, jangan pergi! Aku hanya ingin berkenalan denganmu." teriak Dion lantang.


Maura tak menghiraukan ucapan Dion, langkah kakinya semakin bergerak cepat menjauhi pria tampan itu.


Penasaran dengan sikap aneh Maura, Dion kemudian mengikutinya dari belakang. Tak peduli Maura mau marah atau memukulnya, dia hanya ingin memastikan gadis itu selamat sampai di rumahnya.


Maura berjalan terburu-buru, perasaannya terganggu saat menyadari ada yang tidak beres di belakangnya. Saat menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang, tubuhnya kembali bergetar mendapati Dion yang ternyata membuntuti dirinya.


"Apa yang kau lakukan, kenapa mengikutiku?"


"Tolong jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri!"


"Aku mohon padamu, pergilah dari sini! Jangan membuatku takut!"

__ADS_1


Maura memohon dengan segala kerendahan hatinya, matanya berkaca-kaca menahan tangisannya. Dia bahkan menyatukan kedua telapak tangannya meminta Dion untuk tidak mendekatinya lagi.


Sikap Maura tersebut semakin membuat Dion kebingungan. Entah apa yang salah dengan dirinya sehingga gadis itu benar-benar takut melihatnya.


"Berikan satu alasan yang tepat padaku! Apa yang membuatmu takut melihat ku?" tanya Dion penasaran.


"Tidak perlu menjelaskan apapun padamu! Terkadang tidak semuanya bisa diungkapkan dengan kata-kata, apalagi kepada orang asing sepertimu." jawab Maura yang membuat darah Dion mengecut seketika.


Maura membalikkan tubuhnya dan kembali melanjutkan perjalanannya. Hal itu membuat Dion mati rasa setelah mendengar kata-kata Maura barusan.


Dion semakin tak mengerti jalan pikiran gadis itu. Belum pernah dia bertemu dengan gadis seperti Maura sebelumnya.


Dion menahan langkahnya dan membiarkan Maura lepas dari pandangannya. Sulit baginya memahami apa yang terjadi sebenarnya dengan gadis itu.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, Maura akhirnya tiba di rumah neneknya dengan selamat.


***************


Hari semakin petang, matahari mulai turun dan meredupkan cahayanya. Maura masih saja duduk di beranda rumah Nek Ida sembari menikmati secangkir teh di tangannya.


"Ini, makanlah!" ucap Nek Ida sembari menyodorkan buah anggur itu ke tangan Maura.


"Nenek, kenapa Nenek keluar? Apa Nenek tidak lelah setelah seharian berada di kebun?" tanya Maura mengkhawatirkan keadaan neneknya.


"Tidak perlu memikirkan Nenek, Nenek masih kuat. Harusnya Nenek yang bertanya sama kamu. Kata Bik An tadi kamu tersesat, apa itu benar?" tanya Nek Ida khawatir.


"Iya Nek, maafin Maura ya. Harusnya tadi Maura mau mendengarkan kata-kata Bik An."


Maura menekuk wajahnya, meminta maaf atas kesalahan yang sudah dia lakukan.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Lain kali, kalau mau kemana-mana jangan sendirian lagi! Kamu bisa mengajak Bik An atau anaknya pergi bersama!" saran Nek Ida, dia tidak ingin cucunya mengalami hal ini lagi.


"Iya Nek, Maura mengerti. Oh iya, tadi Nenek bilang anaknya Bik An kan. Apa yang Nenek maksud itu Miko, bukankah dia bekerja di luar kota?" tanya Maura penasaran.

__ADS_1


"Kamu benar, tapi sekarang sudah tidak lagi. Mulai lusa dia akan membantu Nenek mengurus perkebunan kita. Untuk apa bekerja jauh-jauh kalau gajinya hanya cukup buat makan saja?" jelas Nek Ida.


Maura menganggukkan kepalanya pelan, dia mengerti maksud ucapan neneknya.


Hari semakin gelap, cuaca di luar sudah mulai terasa dingin. Maura menggandeng tangan neneknya dan membawanya masuk untuk beristirahat di dalam rumah.


Setelah makan malam selesai, Maura masuk ke dalam kamarnya. Tidak hanya tubuhnya saja lelah setelah kejadian tadi, namun pikirannya juga ikut terbawa memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia pikirkan.


Dalam pembaringannya malam ini, bayangan Dion tiba-tiba terlintas di benaknya. Dia mencoba menghalau nya, namun bayangan itu tetap menari-nari di pikirannya.


"Kenapa dunia ini terasa begitu sempit, apa yang dia lakukan di sini, apa dia mengikuti aku?" batin Maura mempertahankan semua ini.


Pada waktu yang bersamaan, Dion tengah termenung di halaman rumahnya. Kepalanya mendongak menghadap langit, tatapan matanya lirih mengikuti desiran angin yang menghantam tubuhnya. Cuaca yang dingin membuatnya tak lepas dari sebotol minuman yang ada di dalam genggamannya.


Niat hati ingin membebaskan diri dari berbagai masalah yang tengah dia hadapi, namun timbul lagi permasalahan baru yang datang mengganggu pikirannya.


Dion mengangkat botol minumannya dan menaruh mulut botol tersebut di permukaan bibirnya, kini jakunnya naik turun menikmati setiap tegukan nya.


Entah berapa banyak botol minuman yang sudah kosong di hadapannya, kali ini dia benar-benar di luar kendali. Hanya botol-botol itu lah yang selalu setia menemani hari-harinya yang hampa, hatinya kosong tak berpenghuni.


Kini sekujur tubuhnya mulai terasa panas, bahkan keringatnya sudah mengucur deras membasahi baju yang dia kenakan.


Dion melucuti bajunya hingga memperlihatkan dada bidang dan perut kotaknya yang selama ini digilai para wanita. Dadanya yang basah dibanjiri keringat benar-benar terlihat sangat menggoda.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri! Aku membutuhkanmu, aku membutuhkanmu." gumam Dion yang sudah tergeletak di atas rerumputan.


Entah siapa yang dia maksud di dalam mimpinya itu. Semua menyiratkan kalau dirinya tengah kesepian, dia membutuhkan seseorang yang bisa menggenggam tangannya dengan erat.


***************


Waktu terus berlalu, mentari pagi mulai terbit menyinari seisi dunia yang fana ini. Bias-bias sinar matahari pagi ini, membuat mata Dion mengerinyam menahan silau yang menusuk netra nya.


Dion membuka matanya perlahan, kedua tangannya bergerak mengucek sepasang mata itu hingga terbuka lebar.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku semalam? Bisa-bisanya aku tertidur di atas tanah seperti ini." gumam Dion sembari memperhatikan keadaan di sekelilingnya yang sudah berantakan.


__ADS_2