
Miko melangkah menghampiri Dion, tangannya bergerak menarik sebuah kursi rotan kemudian mendudukinya. Hamparan pepohonan nan menghijau ikut menemani keduanya mengisi waktu kosong di sore yang cerah ini.
Dion menaruh sebatang rokok pada permukaan bibirnya, lalu memantik sebuah korek dan menghisapnya dalam.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Dion memulai percakapan.
Tatapan Miko terlihat aneh, raut wajahnya mulai kebingungan. Bagaimana caranya memulai pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dia tanyakan.
"A, aku...," Miko terbata-bata.
"Tidak perlu dilanjutkan! Aku tau apa yang ingin kau tanyakan."
Miko melotot kan matanya, dia bahkan belum sempat berkata apa-apa. Namun, sepertinya Dion sudah bisa menebak isi hatinya sebelum dia bertanya.
"Tidak ada apa-apa diantara aku dan gadis itu, kami tidak saling mengenal satu sama lain. Kami pernah bertemu beberapa kali, itu pun tanpa disengaja. Hanya saja gadis itu sepertinya memiliki masalah yang tidak bisa aku uraikan. Lantas bagaimana denganmu, kenapa kau bisa bersama dengannya, apa dia itu pacarmu?"
Dion menautkan sepasang alisnya, mencoba menginterogasi Miko dengan pertanyaan yang sedikit membagongkan.
"Apa yang Kak Dion pikirkan tentang aku, bagaimana mungkin aku berpacaran dengannya. Lagian umurku masih muda darinya. Apa Kak Dion sudah gila?"
Nada bicara Miko terdengar sedikit tinggi, dia kesal menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Dion. Namun, dibalik pertanyaan itu dia bisa menangkap sesuatu yang terselip di dalamnya.
"Jika dia bukan pacarmu, lalu kenapa kau bisa dekat dengannya?" tanya Dion ingin tau.
Miko menggulingkan senyumannya, dia mulai paham dengan situasi yang tengah dia hadapi saat ini.
"Apa Kak Dion cemburu? Itu artinya...,"
"Diam kau! Apa yang kau bicarakan, untuk apa aku cemburu? Aku bahkan tidak mengenalinya sama sekali."
Dion memotong ucapan Miko, wajahnya bersungut-sungut. Bagaimana mungkin dia memiliki perasaan seperti itu terhadap gadis yang tidak dia kenal sama sekali.
__ADS_1
Dia kembali mengeluarkan sebatang rokok dan menyambungnya tanpa henti. Hal itu membuat Miko sangat yakin dengan dugaannya.
Miko memperhatikan meja yang ada di hadapannya, mencari tau apa saja yang tertata di atas meja tersebut. Sayangnya, hanya ada secangkir kopi dan makanan ringan saja di sana.
"Tenggorokanku sepertinya mulai kering, apa di sini tidak ada minuman?" tanya Miko, dia membutuhkan minuman untuk mencairkan suasana.
"Masuklah ke dalam, ambil saja minuman apa yang ingin kau minum!" jawab Dion.
Sementara Miko tengah mencari minuman di dalam rumah, Dion mematikan rokoknya yang hampir habis terbakar. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya pada tampuk kursi sembari memejamkan matanya yang mulai terasa lelah.
Di dalam sana, Miko tengah memperhatikan sebuah rak yang terdapat di ruang tengah. Banyak sekali minuman yang tertata rapi di dalam sana. Mulai dari bir, wine, sake, vodka, wiski dan berbagai macam minuman keras lainnya. Bahkan botol yang sudah kosong pun tampak berserakan di atas meja dan lantai ruangan itu.
"Apa dia sudah gila? Minuman sebanyak ini, apakah dia sanggup menghabiskan semua ini sendirian?" gumam Miko menggeleng-gelengkan kepalanya.
Miko sama sekali tidak menyangka, Dion yang dulu dia kenal kalem, pendiam, sekarang bisa berubah menjadi pria peminum yang mengkonsumsi alkohol berlebihan seperti ini.
Miko kemudian mengambil sebotol minuman dan membawanya keluar. Ingin sekali dia membuat Dion mabuk, tapi niatnya itu kembali dia urungkan mengingat Dion yang selalu minum meskipun tak ada teman bersamanya.
Dion membuka matanya kembali, tangannya meraih gelas itu dan meneguk nya tak bersisa.
"Pelan-pelan saja! Untuk apa terburu-buru? Aku yang akan menemani Kak Dion minum malam ini sampai puas." ucap Miko memancing Dion.
Seketika mata Dion terbuka lebar, ditatapnya wajah pria yang sudah seperti adiknya itu dengan tajam.
"Jangan merusak hidupmu dengan minuman ini, ini tidak baik untuk kesehatanmu!" jawab Dion mencegah keinginan Miko.
"Lantas bagaimana dengan Kak Dion, apa semua ini baik untuk Kakak?" balas Miko membalikkan kata-kata Dion.
Seketika Dion pun terdiam hening tak bersuara. Apa lagi yang bisa dia katakan. Dia sanggup menasehati orang lain, tapi tidak sanggup menasehati dirinya sendiri.
"Kenapa Kak Dion diam saja, apa aku salah?" tambah Miko meninggikan suaranya.
__ADS_1
Lagi-lagi, Dion terdiam tanpa sepatah katapun. Ucapan Miko tadi bak bom bunuh diri yang melukai sekerat raganya.
Meskipun tidak ada hubungan darah diantara keduanya, namun Dion sudah terlanjur menyayangi Miko sejak mereka masih kecil.
Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, bahkan nasib yang hampir sama membuat hubungan diantara keduanya menjadi erat. Dion tak pernah sekalipun membiarkan Miko menangis. Jika sesuatu terjadi pada anak itu, dialah yang berdiri paling depan melindunginya.
Namun, Miko sedikit lebih beruntung. Dia masih sempat mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, meskipun pada akhirnya ayahnya pergi lebih dulu menghadap Sang Pencipta.
Berbeda dengan Dion, dia bahkan tak pernah tau raut wajah ayahnya seperti apa. Satu-satunya yang tersisa hanyalah sebuah foto usang yang ditinggalkan oleh almarhumah ibunya.
"Aku mohon, berhentilah sebelum terlambat! Jangan bertindak terlalu jauh! Kak Dion akan menyesal nantinya." pinta Miko menyadarkan Dion.
Miko merangkul pundak Dion, mengusap punggung Kakaknya itu dengan perasaan iba. Dia sangat mengerti dengan kemelut yang terjadi dalam hidup Dion. Bahkan, dia ingin sekali membantu Dion lepas dari jeratan masa lalunya yang cukup kelam.
Hari semakin gelap, rintik hujan mulai berjatuhan membasahi dedaunan di pekarangan rumah itu. Mereka berdua masih asik bercengkrama tanpa lelah.
"Jadi, katakan padaku! Siapa gadis itu sebenarnya?" tanya Dion yang kembali membahas tentang Maura.
"Kakak masih ingin membahas tentang gadis itu? Aku pikir...,"
"Katakan saja jika kau ingin mengatakannya, jika tidak masuklah ke dalam untuk beristirahat!" tegas Dion.
Kini wajah Dion terlihat lebih serius, sepertinya dia sangat tertarik untuk mengetahui seluk beluk gadis itu. Entah apa yang terjadi dengannya, dia benar-benar penasaran sebab Maura selalu menghindar darinya.
"Apa yang ingin Kak Dion ketahui tentang gadis itu?" tanya Miko mencari tau.
"Semuanya, katakan semua yang kau ketahui tentang dia!" pinta Dion.
Miko menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Perlahan, dia bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di sebuah pagar kayu sembari menumpukan sikunya pada permukaan pagar. Tetesan air dari genteng rumah tua itu pun mulai memercik menyentuh wajahnya.
Sementara Dion, dia masih menunggu jawaban dari Miko. Dia kembali mengambil sebatang rokok yang ada di atas meja dan mengapit nya diantara bibirnya yang tebal. Kepulan asap pun keluar dari mulutnya sesaat setelah memantikkan korek api pada ujung batang rokok itu.
__ADS_1