Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 49.


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan sudah berganti bulan. Kini keduanya sudah kembali ke kediaman Dion.


Sejak kejadian itu, hubungan diantara keduanya kian harmonis. Tidak ada keraguan sedikitpun di hati Maura meskipun wanita ular itu masih datang menghantui rumah tangga mereka.


Malam ini, keduanya bersantai di ruang tengah usai menikmati makan malam. Di tengah-tengah kebersamaan yang semakin hari semakin hangat, tiba-tiba bel di depan berbunyi.


"Tap, tap..."


Belum sempat Nisa membukakan pintu, seorang gadis cantik sudah masuk sembari menarik sebuah koper, kemudian berdiri di sisi lemari pajangan.


Senyumannya mengambang memperlihatkan barisan giginya yang berjejer rapi dan putih. Postur tubuhnya sangat ideal dengan wajah begitu anggun. Matanya bulat seperti bola pingpong.


"Kak Dion," seru gadis itu sembari berlari kecil, kemudian memeluk Dion yang masih terpaku di sofa yang dia duduki.


"Deg, deg..."


Seketika, jantung Maura berdegup kencang sekencang kilat menyambar. Hatinya panas seakan terbakar di atas bara api, dadanya pun terasa sesak.


Maura mengepalkan tangannya erat, tatapannya sangat tajam setajam pedang yang baru diasah sang empunya.


"Kak Dion, aku bahagia bisa kembali ke Indonesia. Aku sangat merindukanmu beberapa bulan terakhir ini." ucap gadis itu mengungkapkan isi hatinya.


Melihat dan mendengar semua itu, Maura bangkit dari duduknya. Matanya memerah menahan cairan bening yang sudah menumpuk di kelopak matanya.


Ingin sekali dia menjambak gadis itu dan mencincang nya hidup-hidup, namun niat itu kembali dia urungkan. Dia lebih memilih untuk menjauh dan berlari meninggalkan ruangan itu.


"Sudah, lepaskan! Pelukanmu membuat Kakak sesak." pinta Dion, lalu menuntun tangan gadis itu lepas dari tubuhnya.


Gadis itu tersenyum sumringah, wajahnya berbinar saking bahagianya. Setelah sekian lama, akhirnya dia bertemu kembali dengan Dion yang tak lain adalah kakak angkatnya. Lima tahun menetap di luar negeri membuatnya sangat rindu dengan Dion dan juga suasana rumah ini.

__ADS_1


"Bagaimana kuliahmu?" tanya Dion mencari tau.


"Sesuai keinginan Kak Dion, aku lulus dengan nilai terbaik. Aku ingin menetap di Indonesia dan bekerja di sini saja, jangan mengirim ku ke sana lagi!" jawab gadis itu dengan senyum yang masih mengambang di wajah cantiknya.


"Baguslah kalau begitu, setelah ini kamu bisa membantu Kakak di kantor. Kakak ingin melihat seberapa besar kemampuanmu itu." balas Dion yang membuat gadis itu kembali memeluknya.


"Ok, siapa takut." jawab gadis itu dengan penuh percaya diri.


Dion menggulingkan senyumannya, dia sangat senang melihat karakter adik angkatnya yang memiliki semangat juang dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Hal itu kembali mengingatkannya akan sesosok pria yang paling berjasa di dalam hidupnya.


"Oh iya Kak, apa wanita yang duduk di sini tadi Kakak ipar ku? Kenapa dia meninggalkan kita begitu saja, apa dia tidak suka dengan kedatangan ku?" tanya gadis itu merasa tidak enak hati.


Dion menautkan sepasang alisnya, dia dengan cepat menoleh ke arah Maura yang ternyata sudah tak ada lagi di sampingnya. Dia sangat yakin kalau Maura sudah salah paham terhadap dirinya.


"Tidak apa-apa, mungkin Kakak ipar mu merasa kesal melihatmu memelukku tadi. Aku belum sempat menceritakan tentangmu padanya. Sekarang masuklah ke kamarmu, aku juga mau ke atas!" ucap Dion, dia pun bangkit dari duduknya.


Meskipun tidak ada hubungan darah diantara keduanya, Dion sudah menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri, begitupun sebaliknya. Rasa yang ada diantara mereka berdua tidak lebih dari sebatas rasa sayang adik dan kakak.


Kini Dion sudah berdiri di depan pintu kamarnya, dia menghela nafas panjang dan membuangnya pelan sebelum meraih kenop pintu itu.


Setelah pintu terbuka, Dion melangkah masuk dan menutupnya kembali. Dia berjalan menghampiri Maura dan duduk di sisi ranjang.


"Sayang, kamu sudah tidur? Kenapa meninggalkanku sendirian di bawah?" tanya Dion sembari mengusap belakang kepala Maura dengan sayang.


Maura tak menyahut, dia bergeser dari posisinya lalu memunggungi suaminya. Hal itu membuat Dion merasa bersalah atas apa yang dilihat oleh istrinya barusan.


"Sayang, lihat aku! Apa yang kamu lihat tadi tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan." ucap Dion menjelaskan.


Lagi-lagi Maura tak menyahut, dia meraih selimut dengan ujung kakinya dan menutupi sekujur tubuhnya tanpa satupun yang tersisa.

__ADS_1


Dion menghela nafas berat, dia naik ke atas kasur dan menyandarkan punggungnya pada tampuk ranjang.


"Aku yang salah, aku belum sempat menceritakan semuanya padamu."


"Gadis itu bernama Dira, dia adik angkat ku. Aku menyayanginya, sama seperti aku menyayangi Miko. Tidak ada perasaan lain selain rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya."


"Kamu tau kan, suamimu ini tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Saat aku benar-benar terpuruk, hanya Dira dan almarhum Ayahnya yang bersedia menopang tubuhku yang rapuh. Hanya mereka berdua tempatku bersandar saat itu. Aku berhutang banyak pada Ayah angkat, dan aku sudah berjanji akan menjaga Dira sampai dia menemukan laki-laki yang tepat untuknya."


Dion menjelaskan semuanya dengan suara yang terdengar parau, matanya berkaca-kaca menahan tangisannya yang sudah hampir tumpah.


Mendengar itu, batin Maura ikut menangis. Hatinya hancur membayangkan perjuangan suaminya, tidak mudah bagi Dion mencapai titik kejayaan yang kini dia nikmati. Bahkan hal yang pernah diceritakan Dion tempo hari masih terngiang jelas di telinganya.


Tak sanggup menahan kesedihan yang teramat dalam di hatinya, Maura pun mengiraikan selimutnya dan bangkit dari pembaringannya. Air matanya semakin tak terkendali mendapati Dion yang tersandar lesu pada tampuk ranjang.


Maura bergeser dan duduk di atas pangkuan suaminya. Dia menyentuh pipi Dion dan menyeka air mata yang sudah berguguran di sana.


Maura kemudian meraih kepala Dion dan membawanya ke dalam dekapannya. Kini wajah Dion sudah tenggelam di belahan dada istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Kamu tidak bersalah, akulah yang salah. Aku terlalu mencintaimu sehingga rasa cemburu itu tiba-tiba datang menggerogoti hatiku. Maafkan aku, maafkan aku." ucap Maura mengakui kesalahannya.


Dion menangis meratapi nasibnya, seakan badai itu enggan berlalu dari hidupnya. Ada kalanya dia merasa begitu bahagia, namun ada juga saat dimana dia merasa sendirian dan kesepian di tengah gelap gulita.


"Sayang, jangan menangis lagi! Maafkan aku, aku percaya padamu."


"Kamu tidak sendirian di dunia ini, kamu masih punya aku istrimu. Ada ayah, ada nenek, ada Miko, ada Dira. Kamu punya kami semua, kamu tidak sendirian!"


Maura tak kuasa menahan kesedihannya, dia terisak sembari memeluk erat tubuh suaminya.


"Aku mencintaimu Maura, hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku."

__ADS_1


"Sssttt, sudah cukup! Aku tau perasaanmu padaku, aku juga sama. Maafkan aku ya, tadi aku sedikit cemburu melihat kedekatan kalian berdua. Aku pikir...,"


Belum selesai Maura berbicara, lidah Dion sudah menyusup di tengah-tengah bibir istrinya. Hal itu membuat Maura terdiam dan dengan spontan melu-mat bibir suaminya penuh kehangatan. Keduanya larut di dalam ciuman panas itu.


__ADS_2