Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 52.


__ADS_3

Kini Dion dan Dira sudah tiba di Star Grup. Sebelum masuk ke ruangannya, Dion mengenalkan Dira kepada semua karyawan kantor. Termasuk kepada Samuel dan Silvi yang akan menjadi partner kerja Dira mulai hari ini.


"Pagi semuanya. Kenalkan, ini adikku Dira. Mulai hari ini dia akan membantu kalian semua di sini. Mohon kerja samanya membimbing Dira, dia masih baru. Jadi belum punya pengalaman apa-apa." seru Dion kepada semua karyawan.


"Selamat bergabung di Star Grup. Saya Samuel, semoga kamu betah di sini." ucap Samuel.


"Selamat datang Dira. Saya Silvi, sekretaris Tuan Dion." ucap Silvi memperkenalkan diri.


"Selamat bergabung bersama kami." ucap karyawan lainnya bersamaan.


Dira melempar senyum kepada semua orang. Dia sangat senang karena semua karyawan Star Grup sangat antusias menyambut kedatangannya.


"Terima kasih semuanya, mohon bimbingannya!" jawab Dira sembari menyatukan kedua telapak tangannya.


Setelah berkenalan dengan semua karyawan, Dira kemudian mengikuti Dion ke ruangannya. Untuk sementara waktu, Dira menetap di ruangan yang sama dengan Dion sembari mempelajari segala sesuatunya. Dia begitu semangat di hari pertamanya kerja.


"Kakak harap kamu bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Untuk sementara, kamu di ruangan ini dulu. Nanti setelah ruangan mu selesai di renovasi, kamu bisa pindah ke sana!" ucap Dion.


"Ok, Kak Dion tenang saja! Sepertinya aku akan betah di sini." jawab Dira penuh percaya diri.


Dira memang pintar dalam segala hal. Tidak butuh waktu lama baginya mempelajari semuanya, dia terlihat sangat terampil dan cekatan meskipun pekerjaan ini adalah pengalaman pertama baginya.


"Siang ini kamu bisa melanjutkan semuanya bersama Samuel, Kakak tidak bisa berlama-lama di kantor." ucap Dion setelah mempelajari sebuah dokumen penting bersama Dira.


"Emangnya Kak Dion mau kemana?" tanya Dira ingin tau.


"Entahlah, tapi yang jelas aku ingin menghabiskan waktuku bersama Kakakmu." jawab Dion.


"Gini banget ya kalau orang lagi kasmaran, bahkan pekerjaan sudah tidak penting lagi bagi Kakak." sindir Dira.


"Sekarang kamu belum mengerti apa-apa. Nanti saat kamu sudah menemukan belahan jiwamu, kamu pasti tau tujuan hidupmu yang sebenarnya. Bukan harta saja yang kita butuhkan dalam hidup ini." jelas Dion sembari mengusap kepala Dira.


"Iya, iya, aku paham. Kalau Kak Dion mau pulang sekarang, pergi saja!" ucap Dira.

__ADS_1


Tepat pukul 1 siang, Dion bangkit dari kursi kebesarannya. Dia bersiap untuk pulang sebab tak ada lagi yang bisa dia kerjakan. Semua sudah di handle oleh Samuel dan juga Silvi.


"Kakak pulang dulu, nanti kamu pulangnya bersama sopir kantor saja!" ucap Dion, dia pun berlalu dari ruangannya setelah memberikan sebuah dokumen kepada Dira.


Sepeninggal Dion, Samuel dan Silvi masuk ke ruangan itu. Keduanya mengajak Dira makan siang di luar sebelum melanjutkan pekerjaan mereka.


Kini mobil Dion sudah terparkir di garasi rumahnya. Dion bergegas turun, dia sudah tak sabar ingin bertemu Maura secepatnya. Semakin hari dia semakin menempel saja dengan istri kesayangannya.


Setibanya di dalam kamar, Dion tersenyum mendapati Maura yang tengah tertidur di atas kasur. Namun sebelum membangunkan Maura, dia melepaskan seragam kerjanya dan membuangnya ke dalam keranjang kain kotor.


Dion masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci wajahnya. Tidak lama, dia keluar menggunakan boxer kotak-kotak berwarna hitam.


Dion naik dan berbaring di samping Maura. Tangannya bergerak menyentuh lengan dan berakhir di perut istrinya. Hal itu membuat Maura terbangun, dia terkejut saat tangan Dion mengusap lembut perut tipisnya.


"Kak Dion, kamu sudah pulang?" tanya Maura dengan mata separuh terbuka.


Dion mengukir senyum di wajahnya melihat muka bantal Maura yang sangat menggemaskan. Dia kemudian mengusap mata Maura dan menyentuh pipi istrinya penuh kelembutan. Sebuah ciuman pun berlabuh di bibir Maura dengan cepat.


"Tidur terus, nanti pipimu bisa gembung." goda Dion, dia pun membawa Maura ke dalam dekapannya.


"Hahahaha, kenapa aku bisa menyukai wanita bodoh sepertimu?" tanya Dion terkekeh.


"Entahlah, aku memang bodoh. Kak Dion sudah salah memilihku." jawab Maura dengan wajah cemberut nya.


Lagi-lagi Dion terkekeh mendengar ucapan istrinya. Maura terlalu polos untuk diajak bercanda. Hal itu membuat Dion semakin gemas.


"Hahahaha, wajah seperti inilah yang membuatku selalu ingin berada di sisimu. Aku ingin memakan mu kalau begini." goda Dion, dia mengangkat dagu Maura hingga tatapan keduanya saling bertemu.


"Kak Dion lapar?" tanya Maura dengan kepolosannya.


"Ya ampun sayang,"


Dion menggertakkan giginya, dia benar-benar gemas hingga tak bisa lagi berkata-kata.

__ADS_1


Dion melepaskan pelukannya, lalu menindih Maura dengan tangan yang bertumpu pada permukaan kasur. Hal itu membuat Maura terkunci di dalam kungkungan suaminya.


"Kamu benar. Aku lapar, sangat lapar hingga ingin melahap mu sekarang juga." gumam Dion dengan nafas yang berpacu dengan detak jantungnya.


"Maksudku bukan ini, tapi...,"


"Mmmm,"


Belum selesai Maura berbicara, Dion sudah mengecup bibir merah jambu itu dan melu-matnya penuh naf-su. Hal itu membuat Maura terpaku dengan jantung berdegup kencang.


"Jangan sekarang! Ini masih siang." tolak Maura, dia membuang mukanya menghindari ciuman Dion yang membuat tubuhnya panas.


"Kenapa kalau siang? Suami istri bebas melakukannya kapan saja bukan?" tanya Dion dengan wajah sendu menahan gejolak yang sudah memuncak di jiwanya.


Mendengar itu, Maura kembali menatap wajah Dion dengan intim. Seketika, senyumannya mengambang melihat raut wajah suaminya yang berubah dalam sekejap.


Maura menyentuh pipi Dion dengan lembut, dia kemudian mengecup bibir suaminya dan melu-matnya penuh gai-rah. Tidak hanya Dion yang menginginkannya, dia juga sangat ingin menjajal tubuh suaminya saat ini juga.


Tanpa menunggu lagi, Maura mendorong dada Dion hingga terjatuh di sampingnya. Dia bangkit dan melepas semua penghalang di tubuhnya. Deru nafasnya semakin memburu saat tubuhnya naik menghimpit tubuh kekar suaminya.


Hal itu membuat Dion tersenyum dan mengesap bibir merekah Maura penuh naf-su. Tangannya mulai bergerak menggerayangi lekuk tubuh Maura dan berakhir di dada istrinya yang kenyal.


Puas mengesap bibir yang menjadi candu nya itu, Dion mengecupi leher jenjang Maura dan membuat tanda merah di sana. Lalu turun dan ******* pegunungan kembar itu bergantian.


Kini tubuh Maura mulai bergetar menahan gejolak yang bersemayam di jiwanya. Dia mende-sah, deru nafasnya semakin memburu dengan dada naik turun menahan has-rat yang sudah memuncak.


Keduanya bangkit, kini posisi mereka saling menyilang satu sama lain. Lidah Dion menari-nari di V Maura, sementara Maura asik memainkan senjata Dion yang sudah mengeras, sesekali mengulumnya hingga Dion mengerang hebat. Permainan lidah Maura membuatnya kehilangan kendali.


Kini Maura kembali naik menindih tubuh Dion. Dalam hitungan detik, keduanya sudah menyatu di dalam penguasaan Maura.


Maura semakin lihai dengan posisi yang dia sukai, sudah tak ada lagi rasa malu atau canggung di dirinya.


Saat mencapai puncaknya, Maura rubuh di atas dada Dion. Dia menjilati biji semangka yang menempel di sana dan menggigitnya dengan kaki yang sudah bergetar.

__ADS_1


Dion memutar tubuhnya, kini posisi keduanya sudah berganti. Giliran Dion yang berpacu dengan kekuatannya. Gerakan Dion yang semakin menekan, membuat tubuh Maura mengejang dan bergetar hebat.


Maura mende-sah dan menggigit bibir bawahnya. Hal itu membuat Dion tak kuat lagi, kental manis itu meleleh menyebar benih Dion di dalam sana.


__ADS_2