Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 70.


__ADS_3

Esok paginya, Andra menghubungi Miko dan meminta maaf atas kejadian semalam. Bukannya dia tidak datang, tapi ada insiden kecil yang membuatnya tak jadi menemui Miko.


Setelah mendengar penjelasan dari Andra, Miko mencoba memahaminya. Mungkin kesehatan pria itu agak sedikit terganggu, itu lah yang dipikir Miko saat ini.


Andra meminta Miko untuk bertemu kembali dengannya, namun Miko menolak dengan alasan banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Tentu saja Andra kecewa mendengar itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang hari, Maura mengajak Diona jalan ke sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari kantor.


Mungkin dengan sedikit hiburan, Diona bisa kembali seperti sedia kala. Anak manis yang mengerti kesibukan maminya, tidak pernah rewel jika ditinggal bersama Tuti dan opanya Doni.


Di sebuah kids area, Diona tampak riang memainkan segala jenis permainan. Gadis kecil itu berlarian sesuka hatinya dan mengacau apapun yang ada di depan matanya, tentu saja di bawah pengawasan Maura dan Tuti yang selalu ikut bersamanya.


Di tempat yang sama, Adila dan Andra juga tengah membawa putra mereka bermain di sana. Saat memasuki area mandi bola, Andra menemani putranya yang baru belajar berjalan.


Andra tak sengaja melihat Diona dari jarak yang cukup dekat. Entah kenapa, dia merasa pernah melihat gadis kecil itu sebelumnya.


"Halo cantik, siapa namanya Nak?" sapa Andra sembari mencubit pipi Diona gemas.


"Diona Om," jawab Tuti.


"Nama yang indah, sama seperti orangnya." ucap Andra.


Diona menggapai tubuh Andra, lalu duduk di pangkuannya dan memeluk pria itu. Dia tampak nyaman bersama Andra. Tuti jadi kebingungan, tidak biasanya Diona sedekat itu dengan orang yang baru ditemuinya.


"Maaf ya Tuan," Tuti mengambil Diona dari pangkuan Andra, gadis kecil itu malah menangis sekencangnya.


"Pi, Pi," rengek Diona.


Tuti kelimpungan melihat tingkah Diona. Karena gadis kecil itu tak mau diam, Tuti membawanya ke toilet menyusul Maura.


"Diona, sayang Mami kenapa nangis?" tanya Maura yang baru saja keluar dari toilet.


"Maaf Bu, Diona tidak mau sama saya. Dia malah nempel sama orang lain." jawab Tuti.


"Nempel sama orang lain bagaimana?" tanya Maura meninggikan nada bicaranya.


Tuti menceritakan semuanya, hal itu membuat Maura terkejut. Diona bukanlah anak yang mudah dekat dengan orang lain, apa lagi orang yang tak pernah dia jumpai sebelumnya.

__ADS_1


"Siapa orang itu?" tanya Maura penasaran.


"Tidak tau Bu, aku tidak kenal." jawab Tuti sembari menggelengkan kepalanya.


Sesampainya di area bermain, Maura meminta Tuti menunjukkan siapa orang tersebut. Namun sayangnya, orang itu sudah tak ada lagi di sana. Maura pun memutuskan membawa putrinya kembali ke kantor.


Di perjalanan, tiba-tiba ponsel Maura berdering. Maura yang tengah menyetir meminta Tuti mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Saat ponsel itu sudah ada di genggaman Tuti, gadis itu tergugu menatap layar ponsel Maura yang masih menyala. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


"Siapa yang menelepon?" tanya Maura sembari melirik ke arah Tuti.


"Sudah mati Bu," jawab Tuti dengan tatapan tak biasa.


"Kenapa wajahmu jadi aneh begitu?" tanya Maura penasaran.


"Maaf Bu, kalau boleh tau ini foto siapa ya?" tanya Tuti sembari menyalakan ponsel itu kembali.


"Foto almarhum Papinya Diona, kenapa menanyakan itu?" jawab Maura dengan pertanyaan pula.


Tuti terlonjak kaget, bibirnya kelu untuk berkata. Raut wajahnya berubah dalam sekejap. Bagaimana mungkin itu fotonya almarhum papi Diona, sementara dia baru saja melihat pria itu di dalam kids area. Pria yang sama, yang membuat Diona rewel.


"Ti, tidak Bu." Tuti bingung harus bicara apa.


"Bu, apa benar Papinya Diona sudah meninggal?" tanya Tuti memastikan.


"Iya, 2 tahun lalu dalam sebuah kecelakaan." jawab Maura dengan tatapan tak biasa, pertanyaan Tuti membuatnya sedih dan kembali teringat dengan suaminya.


"Apa Ibu yakin? Apa Ibu melihat sendiri jasad Papinya Diona?" Pertanyaan Tuti yang menyudutkan, membuat Maura menginjak pedal rem dan menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Apa maksud pertanyaan kamu ini Tuti?" tanya Maura dengan tatapan tajamnya.


"Maaf Bu, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin memastikan," jawab Tuti.


"Apa yang ingin kamu pastikan?" Maura menghela nafas berat.


"Jasad suami saya hangus bersama mobilnya, yang tersisa hanya tulang belulang nya saja."


Maura tak kuasa menahan kesedihannya, menceritakan itu membuatnya rapuh. Selama 2 tahun ini, dia tak pernah melupakan suaminya sedikitpun. Baginya, Dion masih hidup di dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku minta maaf Bu, aku tidak bermaksud membuat Ibu sedih." Tuti mencoba mengatur nafasnya.


"Pria yang aku ceritakan tadi, dia sangat mirip dengan Papinya Diona."


"Seeer"


Darah Maura tersirat mendengar itu, detak jantungnya berpacu dengan deru nafas yang kian memburu. Matanya memerah, tangan dan mulutnya tiba-tiba bergetar.


"Tuti, apa yang kamu katakan?" tanya Maura, emosinya jadi tidak stabil.


"Sekali lagi aku minta maaf Bu, tapi aku benar-benar melihatnya. Diona merengkuhnya, memeluknya dan duduk di pangkuannya. Karena itulah Diona menangis, dia tidak mau saya ambil. Dia merasa nyaman dengan pria itu." jelas Tuti dengan mata berkaca-kaca.


Maura menelan tangisannya, perasaannya berubah tak menentu. Apa semua ini adalah jawaban dari semua doa-doanya, keyakinannya timbul kembali mendengar penjelasan Tuti.


Tanpa menunggu lama, Maura mengusap wajahnya kasar. Dia bergegas melepas rem tangan dan menginjak pedal gas. Memutar mobilnya dan kembali ke mall tersebut.


Sesampainya di parkiran, Maura meminta Tuti menunggunya di mobil. Maura berlari seperti orang kesurupan, menyisir setiap sudut mall dengan harapan begitu tinggi.


"Sayang, apa itu kamu?" batin Maura penuh pengharapan. Air matanya terus saja menetes dan berlari ke sana kemari seperti orang gila.


Maura kembali masuk ke dalam kids area, bola matanya menggelinding mencari keberadaan pria yang diyakininya sebagai suaminya, orang yang sangat dicintainya.


Beberapa menit berlalu, Maura harus menelan kekecewaan. Dia tak menemukan batang hidung pria itu sama sekali.


Dalam keputusasaan nya, dia menghampiri karyawan kids area yang bertugas di depan pintu masuk. Mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto yang tersimpan di dalamnya.


"Permisi, boleh saya bertanya?" ucap Maura gundah gulana.


"Boleh Bu, ada yang bisa saya bantu?" jawab pria muda itu.


Maura menyodorkan layar ponselnya yang masih menyala, memperlihatkan foto Dion bersama dirinya.


"Apa anda melihat pria ini? Kata baby sister saya, dia baru saja dari dalam." tanya Maura.


Pria itu menatap layar ponsel Maura dengan seksama. Sembari berkacak pinggang, pria itu menganggukkan kepalanya.


"Iya Bu, pria ini barusan di sini. Tapi dia sudah keluar bersama seorang wanita dan anak kecil." jelas pria muda itu.


Bak disambar petir di siang bolong, hati Maura terguncang mendengar itu. Kakinya terasa lemas, dia terduduk lesu dengan air mata yang jatuh berderai. Ada sedikit harapan yang dia temukan dari penjelasan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2