
Miko mengeluarkan ponselnya, kemudian menyimpan nomor itu lengkap dengan nama yang tertulis di sana.
Saat ingin menekan tombol hijau, dia tampak ragu dan kembali mematikan layar ponselnya.
"Apa kamu memiliki kekasih?" gumam Miko sedikit jengkel, entah kenapa dia merasa cemburu tanpa alasan yang jelas.
Miko meremuk kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Meskipun dia tau diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa, tapi perasaannya tak bisa dibohongi.
Dia sudah lama jatuh cinta kepada Dira, bahkan jauh sebelum Dion pergi meninggalkan mereka semua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di perusahaan lain, Maura kedatangan tamu tak diundang. Pria itu duduk di hadapannya sembari tersenyum lebar. Meskipun sudah memiliki anak, kecantikan Maura tak memudar sedikitpun. Dia malah terlihat semakin cantik dengan tubuh sedikit lebih berisi.
"Bagaimana kabarmu Maura?" tanya pria yang tak lain adalah David, mantan tunangannya.
"Seperti yang anda lihat. Ada keperluan apa mencari saya?" jawab Maura dengan pertanyaan pula.
"Rileks Maura, jangan terlalu kaku seperti ini!" ucap David.
"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, maka sebaiknya anda pergi saja! Saya sibuk," ketus Maura dingin.
"Tunggu sebentar Maura, aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja, tidak lebih." jawab David dengan tatapan tak biasa.
"Bukankah anda sudah melihatnya, lalu apa lagi yang anda harapkan?" tanya Maura.
David mengusap wajahnya kasar, dia tak habis pikir kenapa Maura tak bisa melihat niat baiknya sedikitpun.
"Aku turut berduka atas kejadian yang menimpa suamimu tempo hari, aku tidak menyangka hal ini terjadi kepadanya."
"Meskipun dia pernah menghancurkan kehidupanku, tapi aku tidak pernah menaruh dendam kepadanya. Aku sudah memaafkannya." ucap David berbelasungkawa.
"Memang seharusnya seperti itu kan? Perbuatan yang dia lakukan dimasa lalu tidak sebanding dengan dosa yang dilakukan Ayah anda." jawab Maura kasar.
"Apa maksudmu?" tanya David bingung.
Maura menghela nafas berat, lalu membuangnya kasar. Sudah saatnya David tau alasan Dion melakukan semua itu. Dia tak bisa lagi menyembunyikan kebenaran ini dari semua orang.
Bagaimanapun, menurutnya Dion sudah tenang di alam sana. Dia ingin menjernihkan nama suaminya kembali. Siapa tau, dengan ini Dion bisa bahagia di sisi Sang Pencipta.
__ADS_1
"Suami saya bukan orang jahat, dia mempunyai alasan tertentu melakukan semua itu. Anda pikir dia bahagia setelah itu hah?" Maura menjeda ucapannya sesaat.
"Tidak Tuan David, dia tidak bahagia. Dia juga tersiksa, hatinya hancur berkeping-keping." Mata Maura berkaca-kaca mengingat penderitaan suaminya.
"Jangan limpahkan kesalahan itu padanya, tapi tanyakan kebenarannya kepada Ayah anda!" Maura berusaha keras menelan tangisannya.
"Apa anda tau bagaimana menderitanya orang yang saya cintai selama ini? Apa anda tau bagaimana cara dia bertahan hidup?"
"Tidak Tuan, anda tidak akan pernah tau karena anda dihujani dengan kemewahan."
"Disaat anda makan dengan lahap, dia justru menahan rasa laparnya sendirian. Disaat anda tidur dengan nyenyak, dia bahkan tak bisa memejamkan matanya."
"Dari kecil dia menderita, Ibunya pergi disaat dia masih membutuhkan kasih sayang dari wanita itu. Wanita yang berjuang sendirian dalam ketidakberdayaan nya."
"Bahkan di akhir hayatnya, dia masih mengharapkan kedatangan pria yang sangat dicintainya. Apa anda tau bagaimana pahitnya suami saya menelan penderitaan ini?"
Maura tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, air matanya tumpah begitu saja. Bahkan di akhir hayat suaminya, Dion belum sempat merasakan kasih sayang dari ayahnya.
David terdiam seribu bahasa, dia mulai menyadari kenapa Dion melakukan semua ini kepadanya. Alasan yang selama ini menjadi tanda tanya di benaknya.
Tak terasa air mata David jatuh berguguran, kenapa dia baru mengetahui kenyataan ini setelah Dion pergi untuk selamanya.
Maura terisak mendengar itu, tangannya bergerak menutup mulutnya. Dia tak bisa membendung kesedihannya mengingat pria yang sangat dicintainya. Cairan bening itu mengalir deras tiada henti.
"Sekarang anda puas kan? Tidak perlu bersedih untuk suami saya. Tangisan anda tidak akan bisa merubah apapun. Dia sudah pergi membawa rasa sakitnya." isak Maura pecah memenuhi seisi ruangan.
"Aku tidak pernah mengharapkan ini terjadi. Jika aku tau dari awal, mungkin kejadiannya akan berbeda." lirih David penuh penyesalan.
"Tidak ada yang berbeda, sakit tetaplah sakit. Anda pikir rasa sakit itu bisa hilang dalam waktu satu dua hari saja?"
"Bertahun-tahun dia memendam luka itu sendirian, bertahun-tahun dia berjuang dan berusaha bangkit dari keterpurukannya. Bahkan kekuasaan yang dimilikinya itu berawal dari air mata dan keringat yang jatuh bercucuran."
"Dimana Ayah anda saat itu? Dimana dia saat seorang anak menahan rasa lapar di perutnya? Dimana dia saat suami saya kedinginan di tengah malam?"
Emosi Maura sudah tak bisa dikendalikan, dia berteriak dengan lantang mengungkap kesakitan ayah dari putrinya itu, penderitaan tiada ujung hingga akhir hayat suaminya.
David tak sanggup lagi mendengar semuanya, dia bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Maura sendirian.
Maura meraung sejadi-jadinya, dia tersungkur lesu di lantai dengan kepala bertumpu pada kaki meja.
__ADS_1
"Kak Dion, kenapa meninggalkan aku secepat ini? Kenapa tidak membawaku bersamamu? Aku tidak bisa hidup tanpamu!"
Maura berteriak kencang meluapkan perasaannya, tangisannya pecah. Dia tak sanggup menjalani hidup tanpa Dion di sampingnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di waktu yang bersamaan, Miko menyalakan ponselnya kembali. Hatinya belum tenang sebab masih penasaran dengan pria yang meninggalkan nomor HPnya kepada resepsionis kantor.
Miko menatap nomor tersebut dengan intens, kemudian memberanikan diri menekan tombol hijau pada layar ponselnya. Wajahnya terlihat gelisah menunggu jawaban dari pria itu.
"Halo," jawab pria itu dari ujung sana.
Miko membulatkan matanya lebar, dia tergugu tanpa kata. Suara itu, dia sangat mengenali suara itu. Aliran darahnya berpacu dengan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.
"Halo, siapa ini?" tanya pria itu.
Miko menghela nafas berat, dadanya sesak. Sulit baginya untuk berkata-kata.
"Halo, dengan siapa saya berbicara?" Nada bicara pria itu terdengar meninggi, persis seperti suara Dion jika sedang memarahi Miko.
"Kak Dion...," Hanya itu saja yang terucap dari mulut Miko.
"Dion? Siapa Dion?" tanya pria itu bingung.
Miko mengusap wajahnya kasar, dia bingung dengan apa yang tengah dia pikirkan. Mana mungkin itu Dion, dia sendiri yang memasukkan tulang belulang Dion ke dalam liang lahat dua tahun yang lalu.
"Ti, tidak, maaf kalau saya salah. Apa anda yang tadi datang ke perusahaan Star Group?" tanya Miko kembali pada tujuan awalnya.
"Oh iya, anda benar. Apa anda pimpinan perusahaan tersebut? Bisakah saya bertemu dengan anda?" Pria itu tampak kegirangan.
"Untuk apa? Jika ada keperluan, katakan saja di sini!" ucap Miko.
"Tidak bisa, ada banyak sekali yang ingin saya tanyakan. Tolong luangkan waktunya sebentar, saya mohon!"
Miko jadi kebingungan, dugaannya sepertinya salah. Pria itu bahkan tak menanyakan Dira sama sekali. Dia penasaran dengan pria itu, apa tujuannya ingin bertemu pimpinan Star Group. Suaranya juga mengingatkan Miko dengan sosok kakak angkatnya.
"Baiklah, nanti saya kirim lokasinya! Maaf untuk saat ini saya tutup dulu, masih banyak pekerjaan yang menanti saya!"
Miko mematikan sambungan telepon itu, entah kenapa dia meyakini suara itu sangat mirip dengan suara Dion. Apakah ada keajaiban yang akan datang menghampirinya.
__ADS_1