
Kini Maura dan Dion sudah duduk di hadapan Dira. Sementara Miko, dia berlalu mengambil laporan keuangan bar yang disimpan di dalam laci.
Setelah mendapatkan laporan keuangan tersebut, Miko kembali menghampiri Dion dan berdiri tak jauh dari Dira duduk saat ini.
Miko memberikan laporan keuangan itu kepada Dion. Sesekali bola matanya menggelinding menatap Dira, dia tidak mengerti apa yang terjadi dengannya saat ini. Seperti ada dorongan dari hatinya untuk mengenal gadis itu.
"Bagus, sepertinya ada peningkatan." ucap Dion setelah memeriksa laporan keuangan bar bulan ini.
"Yes, jadi bonus ku cair kan Kak bulan ini?" tanya Miko, dia tampak kegirangan.
"Bonus, bonus. Apa cuma itu yang ada di otakmu saat ini?"
"Pergilah! Buatkan minuman untuk Kakakmu dan Dira. Untukku seperti biasa saja." perintah Dion, nada bicaranya sedikit meninggi.
"Jangan gitu sayang! Kasihan Miko, dia sudah berusaha keras membantumu di sini." sambung Maura, dia tidak suka mendengar cara bicara Dion yang seperti meremehkan Miko.
"Sssttt, diam saja sayang! Aku cuma menggertak nya, tidak serius." bisik Dion menahan tawanya.
Mendengar itu, Maura mengulum senyumannya. Tangannya bergerak mencubit pinggang Dion dari arah belakang.
"Au, sakit sayang. Cepat lepaskan tanganmu, atau aku akan menggendong mu ke lantai atas." gertak Dion yang membuat nyali Maura langsung ciut.
Maura menekuk wajahnya malu, dia segera melepaskan cubitan nya sebab tak ingin Dion benar-benar melakukannya.
"Kenapa wajahnya ditekuk, malu?" tanya Dion sembari melingkarkan tangannya di pinggang Maura.
"Sssttt, cukup! Sepertinya urat malu mu sudah putus." ketus Maura berbisik di telinga Dion.
Dion terkekeh mendengar ucapan Maura, dia sangat senang mengerjai istrinya. Apalagi melihat wajah Maura memerah, membuatnya benar-benar gemas hingga ingin melahap bibir ranum itu.
Miko mengambil kembali laporan keuangan yang ada di atas meja, dia berlalu meninggalkan tiga orang itu. Wajahnya terlihat lesu setelah mendengar ucapan Dion barusan.
"Huft, sabar Miko. Jangan dimasukkan ke dalam hatimu. Anggap saja dia radio rusak."
Setelah menyimpan laporan tadi di dalam laci, Miko melangkah ke arah belakang. Dia meminta karyawan bagian dapur membuatkan jus untuk Maura dan Dira.
Setelah itu Miko kembali ke depan mengambil sebotol wiski dan gelas, kemudian membawanya ke meja tempat Dion duduk saat ini.
"Ini minumlah! Bila perlu sampai mabuk." ketus Miko, dia meletakkannya di atas meja lalu berbalik badan hendak meninggalkan meja itu.
"Kau mau kemana?" tanya Dion, membuat langkah Miko terhenti seketika.
__ADS_1
"Mau tidur." ketus Miko kesal.
"Kau ini," geram Dion.
"Sudah jelas aku di sini hanya seorang pekerja, apalagi yang bisa ku lakukan selain melayani tamu?" bentak Miko, dia tak bisa lagi mengontrol emosinya.
Suara Miko yang tinggi membuat Maura dan Dion terkejut, tak terkecuali dengan Dira.
Dira yang sedari tadi cuek sembari memainkan ponselnya, segera menoleh ke arah Miko yang saat ini masih berdiri di samping sofa yang dia duduki.
Sesaat, tatapan Miko dan Dira saling bertemu. Dira menautkan sepasang alisnya, sementara Miko bergegas melempar pandangannya ke arah berlawanan.
"Duduklah di sini, temani aku minum!" ajak Dion tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Minum saja sendiri! Aku tidak punya uang untuk membayar minuman itu." ketus Miko dengan mata yang sudah memerah.
Mendengar itu, Dion terkekeh dengan sendirinya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Miko. Dia meraih pundak pria itu lalu memukulnya sedikit keras, kemudian berdiri di depan Miko.
"Kenapa sikapmu jadi seperti perempuan begini?" tanya Dion terkekeh.
"Terserah kau saja. Menyingkir lah dari hadapanku, aku harus bekerja!" ketus Miko.
Dion meraih kepala Miko dan mengacak-acak rambut adik angkatnya itu sembari terkekeh. Dia sampai kesulitan menahan tawanya melihat tingkah Miko yang seperti anak kecil tidak diberi coklat.
"Tertawa saja terus! Sukur-sukur sampai kencing di celana." olok Miko, dia nyaris saja ikut terkekeh, namun sekuat hati dia mencoba menahannya.
"Sudah, sudah! Apa-apaan kalian ini, apa kalian tidak malu dilihat semua orang?"
"Kamu juga, sudah tua tapi tingkah mu tak ubahnya seperti anak kecil. Sadar umur, sudah suami orang masih saja pecicilan seperti ini!" ketus Maura dengan tatapan tajamnya.
Mendengar omelan dari mulut istrinya, Dion langsung terdiam. Bisa-bisanya Maura memarahinya seperti itu dihadapan semua orang.
Membuatnya geram hingga ingin menghukum mulut Maura saat ini juga, namun niat itu kembali dia urungkan mengingat suasana bar sedang ramai-ramainya.
"Ayo duduklah! Kamu tidak dengar Ibu Negara sudah memarahiku." ajak Dion menahan kekesalan di hatinya.
Dion kembali duduk di samping Maura, sementara Miko tampak kebingungan mau duduk dimana. Tidak ada tempat kosong selain di samping Dira, sofa yang hanya muat untuk 2 orang saja.
Sadar akan kebimbangan Miko, Dira kemudian bergeser. Dia memberi ruang untuk Miko duduk di sampingnya.
"Kenapa bengong? Duduklah!" ucap Dira, kemudian menyibukkan diri dengan ponselnya kembali.
__ADS_1
Karena tidak ada pilihan lain, Miko akhirnya duduk di samping Dira. Tidak lama, minuman untuk kedua wanita cantik itu datang lengkap dengan cemilannya.
"Dira, pria yang duduk di sampingmu itu namanya Miko. Sama sepertimu, dia juga adiknya Kak Dion." ucap Maura memperkenalkan keduanya.
Dira tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Miko. Namun Miko terlihat begitu gugup, dia tertegun cukup lama menatap wajah cantik Dira yang begitu dekat dengannya.
"Kenalkan, aku Dira."
Miko menghela nafas panjang dan membuangnya pelan. Dia meraih tangan Dira, kemudian bersalaman dengan jantung berdegup kencang.
"Mi, Miko."
"Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku? Kenapa jantungku jadi seperti ini?"
Usai berjabat tangan, Miko bergegas menarik tangannya kembali. Dia tidak sanggup berlama-lama menyentuh tangan lembut Dira. Hal itu membuatnya semakin gugup.
" Apa wanita ini memiliki magnet di tubuhnya? Kenapa aku seperti ditariknya untuk mendekat?"
Miko mengusap dahinya yang mulai mengeluarkan keringat. Kemudian meraih botol wiski yang ada di atas meja dan menuangnya ke dalam gelas. Dia dengan cepat meneguk minuman itu untuk menghilangkan kecanggungan di dirinya.
"Woi, apa yang terjadi denganmu? Pelan-pelan saja!" ucap Dion heran.
Dion menyadari ada yang aneh dengan Miko, dia tak pernah melihat Miko seperti ini sebelumnya. Kalaupun mereka berdua minum, Miko biasanya selalu santai tidak seperti malam ini.
Miko kembali menuang minuman dan meneguknya tanpa jeda, sudah hampir setengah botol yang dia habiskan.
Kini Miko terlihat lebih santai, rasa gugupnya mulai hilang hingga tak ada lagi kecanggungan di dirinya meskipun duduk di samping gadis cantik yaitu Dira.
"Aku sempat tinggal di rumah Kak Dion, tapi aku tidak pernah melihatmu di sana. Dimana kamu selama ini?" tanya Miko, dia mulai percaya diri pengaruh minuman tadi.
"Aku baru pulang dari Jepang. Karena kuliahku sudah selesai, aku ingin tinggal di Indonesia lagi." jawab Dira.
"Oh, ternyata level mu lebih tinggi dariku." gumam Miko pelan, Dira bahkan tak mendengarnya sama sekali.
"Cukup berkenalan nya, jangan coba-coba mengganggunya! Ingat, Dira itu adikku." ucap Dion mengingatkan Miko.
"Lalu kenapa kalau dia adikmu, aku juga adikmu kan?" jawab Miko.
Dion terdiam mendengar pernyataan Miko, dia tidak ingin Miko mendekati Dira apalagi menyakitinya. Jika itu terjadi, Dion tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri sebab gagal menjaga amanah yang dititipkan ayah angkatnya.
"Sssttt, biarkan saja sayang! Jangan berlebihan seperti itu! Apa salahnya mereka saling mengenal?" ucap Maura, dia tidak suka melihat cara suaminya seperti itu. Seakan-akan Dion tidak rela Dira didekati pria lain.
__ADS_1